Kamis, 22 Oktober 2026
12:41 WIB
TERKINI
Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal
Surya Suryadi

Surya Suryadi

Bagikan:
Surya Suryadi
250px-Ajo_Suryadi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir
Surya Suryadi

15 Februari 1965 (umur 61)
AlmamaterUniversitas Andalas
Universitas Leiden
PekerjaanPengajar
Dikenal karenaAhli filologi
Pasangan menikahNurlismaniar Mustafa
Anak2

Surya Suryadi (lahir 15 Februari 1965) adalah pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara. Ia banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara dan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.[1][2]

Riwayat

Karier

Setelah lulus dari Universitas Andalas (Unand) pada tahun 1991, ia menjadi asisten dosen di almamaternya. Namun, karena tak kunjung diangkat menjadi dosen tetap setelah tiga tahun mengabdi, ia memutuskan pindah mengajar ke Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (UI). Empat tahun menunggu tanpa kepastian kapan diangkat sebagai dosen tetap, ia kembali memutuskan untuk pindah.

Bak kata pepatah Minang: "jikok nasib alun baubah, labiah elok rantau dipajauah.", ia mengikuti tawaran mengajar dari Universitas Leiden, Belanda. Sejak akhir tahun 1998, ia menjadi dosen tamu untuk penutur ibu bahasa Indonesia di Universitas Leiden dan terhitung tahun 2001 ia diangkat sebagai dosen tetap.[1]

Di Belanda, Suryadi menemukan 'dunia sunyinya' dengan menyelami masa lalu melalui penelitian naskah-naskah lama dan buku-buku klasik mengenai Nusantara yang banyak tersimpan di perpustakaan Leiden. Banyak hasil kajiannya yang telah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional dan mendapatkan berbagai tanggapan. Ia juga sering diundang sebagai pemakalah seminar di mancanegara, dan juga dipercaya memimpin proyek pernaskahan yang didanai The British Library.[1][2]

Salah satu karyanya, yaitu kajian terhadap surat-surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau kemudian dimasukkan dalam suatu proyek di Australian National University, Canberra, Australia dengan nama Malay Concordance Project. Beberapa kajiannya yang lain, di antaranya teks Melayu klasik Syair Lampung Karam, satu-satunya sumber pribumi nusantara tentang letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang mengakibatkan gelombang tsunami serta menghancurkan wilayah pantai selatan Sumatra dan pantai barat Jawa.[2]

Pendidikan

Suryadi mengenyam pendidikan hingga tamat SMA di kampung halamannya, Padang Pariaman. Pada tahun 1986, ia masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Andalas (Unand) dan tamat pada tahun 1991. Ia sempat menjadi asisten dosen di almamaternya dan sebagai asisten dosen di Universitas Indonesia sebelum ke Universitas Leiden, Belanda. Pada tahun 2002 ia mendapatkan gelar master (MA) dari Universitas Leiden, kemudian gelar doktor juga dari universitas yang sama pada 16 Desember 2014, dengan disertasi yang berjudul The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau.[3]

Kehidupan pribadi

Walaupun memakai nama Jawa, ia adalah orang Minang tulen. Ia lahir pada 15 Februari 1965 pasca-penumpasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Tengah oleh pemerintah pusat.[4]

Karya

  • Audible Locality: The Recording Industry in Indonesia and its Approach to Minangkabau Music and Oral Tradition (2020)[5]
  • Syair Lampung Karam (2010)[6]
  • Sejarah pengajaran Bahasa Minangkabau (2009)
  • Sepucuk Surat dari Seorang Bangsawan Gowa di Tanah Pembuangan[7]
  • Syair Sunur (2004)[8]
  • Naskah Tradisi Basimalin (1998)[9]
  • Dendang Pauah (1993)[10]
  • Rebab Pesisir Selatan (1993)[11]

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 3 Dr. Suryadi Leiden University Institute for Area Studies (LIAS). Diakses 11-01-2015.
  2. 1 2 3 "Suryadi, Pengelana dari Pariaman" Kompas.com, 20-10-2008. Diakses 11-01-2015.
  3. ↑ "Suryadi Raih Doktor di Universitas Leiden" Diarsipkan 2015-01-11 di Wayback Machine Singgalang, 18-12-2014. Diakses 12-01-2015.
  4. ↑ Abdulsalam, Husein. "Revolusi dan Perubahan Tipe Nama Orang Minangkabau". tirto.id. Diakses tanggal 2025-08-16.
  5. ↑ Beng, Tan Sooi (2022-11-10). "Audible Locality: The Recording Industry in Indonesia and its Approach to Minangkabau Music and Oral Tradition , by Suryadi". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. 178 (4): 542–544. doi:10.1163/22134379-17804013. ISSN 0006-2294.
  6. ↑ Suryadi (2010). Syair lampung karam: sebuah dokumen pribumi tentang dahsyatnya letusan Krakatau, 1883. Komunitas Penggiat Sastra Padang. ISBN 978-602-95502-0-7.
  7. ↑ https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1469&context=wacana
  8. ↑ Suryadi (2004). Syair Sunur: teks dan konteks 'otobiografi' seorang ulama Minangkabau abad ke-19. Citra Budaya Indonesia. ISBN 978-979-3458-05-2.
  9. ↑ Suryadi, Author (1998). "Naskah tradisi Basimalin : pengantar teks dan transliterasi". Universitas Indonesia Library (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-16.{{cite web}}: |first= memiliki nama generik
  10. ↑ Hasjim, Nafron (1993). Dendang Pauah: cerita orang Lubuk Sikaping. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-159-3.
  11. ↑ "Rebab pesisir selatan, Zamzami dan Marlaini, Editor, Suryadi | Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB". www.pusdantb.inlislitentb.com. Diakses tanggal 2025-08-16.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan