Selasa, 20 Oktober 2026
22:37 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Nama Jawa

Bagikan:

Nama Jawa adalah cara penamaan yang digunakan baik oleh orang Jawa maupun suku lain yang dipengaruhi oleh budaya dan bahasa Jawa, misalnya Tionghoa-Jawa. Banyak di antara mereka yang hanya memiliki satu nama (nama depan), tetapi ada pula yang memakai nama ayah mereka di belakang nama mereka (nama patronimik) ataupun yang menggunakan nama keluarga.

Nama Jawa umumnya berasal dari bahasa Jawa; banyak di antaranya yang diturunkan dari bahasa Sanskerta. Nama dengan awalan "Su-" dan "Wa-" banyak ditemui di antara pemilik nama Jawa. Selain diambil dari bahasa Jawa, nama Jawa juga dipengaruhi oleh nama Arab, terutama di antara penduduk yang memiliki tradisi Islam yang kuat, seperti di pesisir utara Jawa. Perpaduan budaya Islam dan Jawa juga menghasilkan nama-nama yang merupakan bentuk Jawa dari nama Arab, misalnya Slamet (dari salam), Sarip (dari sharif), Saliki (dari salihin), dll.

Jenis-jenis tradisi penamaan

Nama tunggal

Banyak orang Jawa yang hanya memiliki nama tunggal, misalnya presiden Indonesia pertama dan kedua, Soekarno dan Soeharto. Rakyat biasa banyak yang hanya memiliki nama tunggal, sedangkan orang-orang yang memiliki pangkat atau kedudukan di masyarakat biasanya menggunakan lebih dari satu nama. Walaupun demikian, jarang di antara pemilik nama Jawa yang menggunakan nama keluarga.

Karena pengaruh kebudayaan luar, banyak orang yang menambahkan nama kepada nama tunggal mereka. Contoh: Albertus Soegijopranoto, uskup Indonesia pertama, menggunakan nama baptis Albertus di depan nama tunggalnya, Soegijopranoto.

Nama muda dan nama tua

Nama tua atau jeneng tuwa adalah nama yang diberikan ketika seseorang sudah menikah untuk menggantikan nama muda atau nama kecil pemberian orang tua. Seseorang akan mengganti namanya menjadi nama tua untuk menyambut jenjang kehidupan yang baru.[1][2] Beberapa contoh tokoh yang mempraktikkan penggantian nama ini adalah KRT Kusumabrata adalah nama tua yang diberikan oleh Sultan Hamengkubuwana X menggantikan nama muda pemberian orang tuanya, yakni Wahyuntono.[3]

Nama patronimik orang Jawa

Nama patronimik adalah nama depan ayah yang digunakan oleh anaknya. Contohnya adalah nama presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid, yang diturunkan dari Wahid Hasyim, ayahnya, yang diturunkan dari Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Demikian pula dengan nama presiden Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri, yang diturunkan dari nama ayahnya, Soekarno, presiden Indonesia yang pertama.

Walaupun orang Jawa menganut sistem patrilineal, tetapi bukan menjadi kebiasaan orang Jawa untuk menggunakan nama keluarga, kecuali keturunan orang Jawa di Suriname.

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ↑ "Ganti Jeneng Tuwo: Tradisi "Ganti Nama" sebelum Melepas Masa Lajang". Etnis - Warta Identitas Bangsa (dalam bahasa Inggris). 2021-02-28. Diakses tanggal 2022-09-10.
  2. ↑ Prasodjo, Darmawan (2021-03-03). Jokowi Mewujudkan Mimpi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-06-3796-9.
  3. ↑ Artha, Arwan Tuti (2009). Pak Boed, ekonom yang sederhana. Galangpress Group. ISBN 978-602-95394-1-7.

Referensi dan pranala luar

Nama pribadi
Berdasar urutan
Berdasar ciri
Berdasar situasi kehidupan
Pseudonim (Daftar)
Berdasar budaya
Berdasar agama
Gelar (Daftar)
otoritas/kehormatan
Gaya
Titel
Tradisi terkait
Topik terkait


Ikon rintisan

Artikel bertopik Jawa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan