Rabu, 07 Oktober 2026
17:14 WIB
TERKINI
Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara
Sudamala

Sudamala

kisah sisipan dalam Mahabharata

Bagikan:
250px-Sudamala_Relief%2C_Candi_Sukuh_1245.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Relief Sudamala di Candi Sukuh. Dalam relief ini digambarkan Sadewa (kanan) sedang diancam Batari Durga alias Ra Nini (tengah, membawa pedang) agar mau meruwatnya.

Kakawin Sudamala (Jawa: ꦏꦏꦮꦶꦤ꧀ꦱꦸꦣꦩꦭ) adalah karya sastra berbahasa Jawa Kuno peninggalan Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14 hingga ke-16 Masehi.[1] Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa Batari Uma (Umayi), istri Batara Guru (Siwa), akibat durhaka terhadap suaminya. Untuk membebaskan dirinya dari kutukan tersebut, ia harus diruwat oleh putra bungsu Pandu yang bernama Sadewa (Sahadewa).

Penokohan

Kisah ini merupakan karya asli pujangga Jawa, tetapi nama para tokoh utama dalam naskah ini (Durga, Siwa, Sadewa) diambil dari cerita Hindu dan wiracarita Mahabharata dari India, sementara beberapa tokoh pendamping (Kalantaka, Kalanjaya) tidak diambil dari cerita Hindu India. Kisah ini merupakan suatu interpolasi (cerita sisipan) karya pujangga Jawa yang tidak akan ditemukan dalam naskah-naskah Hindu dari India.[2]

Kisah

250px-135_Uma_and_Sudamala%2C_Unknown%2C_15th_c_%2823121529749%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Relief Sudamala dari abad ke-15, kini disimpan di Museum Nasional Indonesia. Dalam relief ini ditampilkan Sadewa (kiri) yang dirasuki Batara Guru (tengah) sedang meruwat Dewi Uma yang berwujud Ra Nini (kanan).

Dikisahkan bahwa Uma (Umayi) berubah menjadi raksasi (raksasa wanita) bernama Batari Durga atau Ra Nini karena ia tidak setia kepada suaminya, Batara Guru (Siwa). Ia pun diusir bersama dua gandarwa yang dikutuk, bernama Kalantaka dan Kalanjaya, lalu tinggal di Kahyangan Setragandamayit (Setragandamayu) dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh putra bungsu Pandu, Sadewa. Durga pun pergi menemui Kunti, ibu Sadewa dan memohon agar ia menyerahkan anaknya untuk melancarkan proses ruwatan tersebut. Namun Kunti menolak sehingga Durga mencoba cara dengan perantara Batari Kalika, asisten setia Durga. Kalika masuk ke dalam raga Kunti, kemudian ia mengikat Sadewa di suatu pohon sampai proses ruwatan tiba.

Pada waktu yang ditentukan, Durga alias Ra Nini meminta agar Sadewa meruwatnya, tetapi Sadewa menolak karena merasa tidak mampu. Durga pun marah dan mengancam nyawa Sadewa. Peristiwa itu disaksikan oleh Batara Narada, yang segera melaporkannya kepada Batara Guru. Tidak ingin masalah itu berkelanjutan, akhirnya Batara Guru merasuki tubuh Sadewa. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Batari Durga.

Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna "menghilangkan penyakit" atau "pembersih dari kotoran dan kejahatan".[3] Atas petunjuk Batari Durga yang telah kembali menjadi Batari Uma, Sadewa pun pergi ke desa Pertapaan Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Begawan Tambrapetra. Gadis itu bernama Dewi Endang Predapa.

Pengaruh

250px-WIKITIRTA_-_PURA_TIRTA_SUDAMALA-86.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pura Tirta Sudamala di kabupaten Bangli, Bali.

Kisah dalam Kakawin Sudamala tersebut memberi pengaruh dan inspirasi dalam seni rupa di Indonesia, terutama dalam pembangunan candi. Kisah ini diabadikan dalam bentuk panel relief yang ditemukan di sejumlah candi di pulau Jawa, di antaranya Candi Ceto, Candi Sukuh, dan Candi Tegowangi. Beberapa relief yang menggambarkan kisah Sudamala kini disimpan dan dirawat di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Kisah ini menyebar ke Bali yang didominasi umat Hindu, dan istilah "sudamala" dalam kakawin tersebut menjadi identik dengan "pembersihan secara spiritual" dalam masyarakat Hindu Bali.[3] Di Kabupaten Bangli, terdapat sebuah pura bernama Pura Tirta Sudamala yang sering dipakai sebagai tempat melukat (pembersihan secara jasmani dan rohani) dan ruwatan.

Referensi

  1. ↑ Jan Mrazek, Morgan Pitelka (2008), What's the Use of Art?: Asian Visual and Material Culture in Context, University of Hawaii Press, ISBN 9780824830632
  2. ↑ Ann R. Kinney, Marijke J. Klokke, Lydia Kieven (2003), Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java, University of Hawaii Press, hlm. 257, ISBN 9780824827793{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  3. 1 2 Margaret J. Wiener (1995), Visible and Invisible Realms: Power, Magic, and Colonial Conquest in Bali, University of Chicago Press, hlm. 119, ISBN 9780226885827
Legenda dan cerita rakyat Nusantara
Aceh
Sumatera Utara
Riau
Sumatera Barat
Kepulauan Riau
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sulawesi Selatan
Papua
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan