Senin, 21 September 2026
00:46 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Kweiya

Kweiya adalah cerita rakyat Indonesia dari daerah Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.[1]

Cerita Kweiya

Alkisah, seorang perempuan dan anjingnya menemukan buah merah yang terlihat lezat di Pegunungan Fak Fak. Ketika buah itu dibuka, ternyata ada seorang bayi di dalamnya. Perempuan itu memberi nama bayi itu, Kweiya dan merawatnya seperti anaknya sendiri. Kweiya tumbuh besar menjadi anak yang suka menolong dan rajin bekerja. Tak lama perempuan tersebut juga menikah dengan seorang laki-laki. Mereka memiliki 2 anak kembar yang bernama, Pohak dan Nggein.

Pohak dan Nggein iri hati dengan Kweiya dan memukulinya saat Bapak dan Mama mereka tidak ada di honai. Kweiya yang sedih, diam-diam memintal kulit pohon dan membuat sayap dari pintalan tali. Ketika Bapak dan Mama sudah pulang, Kweiya naik ke atas honai dan mengenakan sayap yang sudah dibuatnya. Mendadak, secara ajaib Kweiya berubah menjadi seekor burung yang sangat cantik. Pohak dan Nggein sangat menyesal dan mereka berkelahi menggunakan abu tungku api yang kehitaman. Tubuh mereka menghitam dan mendadak mereka berubah menjadi burung hitam yang buruk rupa.

Pohak dan Nggein yang sudah berubah menjadi burung hitam mencari Kweiya untuk meminta maaf. Kweiya ternyata ditangkap pemburu dan akhirnya dilepaskan oleh Pohak dan Nggein. Pohak dan Nggein meminta maaf kepada Kweiya dan secara ajaib mereka berubah menjadi burung berwarna-warni. Lalu mereka pun terbang menari-nari.

Hubungan Kweiya dan Cenderawasih

Dalam cerita Kweiya ini, sesungguhnya tidak ada kata yang mendeskripsikan bahwa nama burung cantik itu adalah Cenderawasih. Namun deskripsi "cantik," dan "terbang menari-nari" ini memang diketahui merupakan salah satu ciri khas burung Cenderawasih[2] dan diilustrasikan secara indah sebagai Cenderawasih di dalam buku Kweiya karya Sefilianto Ahmad Darmansyah.

Referensi

  1. "Let's Read | Children's Books | Free to Read Download Translate". Let's Read (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-02-22.
  2. "Tanah Papua: A Paradise for Birds - YouTube". www.youtube.com. Diakses tanggal 2021-02-22.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan