Rabu, 21 Oktober 2026
09:17 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Sindrom Brugada

Sindrom Brugada

Bagikan:
60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Sindrom Brugada
Nama lainSindrom kematian malam mendadak yang tak dapat dijelaskan, bangungut, sindrom kematian pokkuri[1]
250px-Brugada_EKG_Schema.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
(A) Elektrokardiogram normal dari penyambung prekordial V1-3, (B) berubah pada sindrom Brugada (tipe B)
SpesialisasiKardiologi
GejalaPingsan, kematian jantung mendadak[2]
Awitan umumDewasa[2]
PenyebabGenetik, sejumlah obat[2]
Faktor risikoRiwayat keluarga, keturunan Asia, pria[1][2]
Metode diagnostikElektrokardiogram (EKG), pengujian genetik[2][3]
Diagnosis bandingSindrom Romano-Ward, kardiomiopati aritmogenik, distrofi otot Duchenne[3]
PengobatanMenunggu waspada, defibrilator kardioverter dapat tanam (ICD)[3][4]
Frekuensi5 per 10.000[1]
Kematian8% kematian jantung mendadak[2]

Sindrom Brugada (BrS) adalah kelainan genetik yang memiliki aktivitas listrik abnormal di dalam jantung. Sindrom ini meningkatkan risiko ritme jantung abnormal dan kematian jantung mendadak. Pengidap sindrom ini dapat mengalami episode pingsan.[2] Ritme jantung abnormal pada pengidap sindrom Brugada sering kali terlihat pada saat istirahat. Sindrom ini dapat dipicu oleh demam.[1][5]

Sekitar seperempat pengidap sindrom Brugada memiliki anggota keluarga yang mengalami kondisi yang sama.[2] Beberapa kasus dapat disebabkan oleh mutasi genetik baru atau sejumlah obat.[1] Kasus yang paling umum melibatkan gen SCN5A yang menyandikan saluran natrium jantung.[6] Diagnosis biasanya menggunakan elektrokardiogram (EKG), tetapi keabnormalan dapat tidak muncul secara konsisten. Pemberian obat seperti ajmalin dapat digunakan untuk mengungkapkan perubahan EKG.[2] Pola EKG serupa dapat dilihat pada sejumlah gangguan elektrolit atau ketika suplai darah ke jantung berkurang.[7]

Sindrom Brugada tidak dapat disembuhkan.[3] Pengidap yang berisiko lebih tinggi mengalami kematian jantung mendadak dapat diobati menggunakan defribilator kardioverter dapat tanam (ICD).[4] Pada pengidap tanpa gejala, risiko kematian lebih rendah, dan kurang jelas bagaimana mengobati kelompok ini.[3][8] Isoproterenol dapat digunakan pada jangka pendek untuk pengidap yang sering mengalami ritme jantung abnormal yang mengancam jiwa, sementara kuinidina dapat digunakan untuk jangka panjang.[3][9] Pengujian anggota keluarga mungkin direkomendasikan.[3]

Kondisi ini menyerang di antara 1 hingga 30 per 10.000 orang.[2] Kondisi ini lebih umum pada pria dibandingkan wanita dan pada orang keturunan Asia.[1][2] Awal gejala biasanya muncul pada saat dewasa.[2] Sindrom ini dinamai menurut ahli kardiologi Spanyol, Pedro dan Josep Brugada, yang mendeskripsikan kondisi ini pada 1992.[3][10] Saudara mereka, Ramon Brugada, merupakan orang pertama yang mendeskripsikan satu penyebab genetik potensial pada 1998.[11]

Tanda dan gejala

Meskipun banyak pengidap sindrom Brugada tidak memiliki gejala apa pun, sindrom Brugada dapat menyebabkan pingsan atau kematian jantung mendadak akibat ritme jantung abnormal yang serius seperti fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel polimorfik.[8] Hilang kesadaran dapat disebabkan oleh ritme jantung abnormal singkat yang kembali ke ritme normal secara spontan. Jika ritme jantung berbahaya tidak berhenti dengan sendirinya dan dibiarkan tanpa perawatan, orang tersebut dapat mengalami henti jantung yang fatal. Akan tetapi, hilang kesadaran dapat terjadi pada pengidap sindrom Brugada meskipun ketika ritme jantung normal akibat turunnya tekanan darah tiba-tiba, dikenal sebagai sinkop vasovagal.[2]

Ritme jantung abnormal pada pengidap sindrom Brugada sering kali terlihat pada saat istirahat, setelah makan berat, atau bahkan ketika tidur.[5] Situasi tersebut dikaitkan pada periode ketika saraf vagus teraktivasi, mengacu pada periode tonus vagus yang tinggi. Ritme jantung abnormal juga dapat terjadi ketika demam atau setelah mengonsumsi alkohol berlebih. Sejumlah obat juga dapat memperburuk kecenderungan ritme jantung abnormal pada pasien dengan sindrom Brugada dan harus dihindari oleh pasien ini.[12]

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 "Brugada syndrome". Genetics Home Reference. Maret 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Oktober 2017. Diakses tanggal 28 Oktober 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Polovina MM, Vukicevic M, Banko B, Lip GY, Potpara TS (Oktober 2017). "Brugada syndrome: A general cardiologist's perspective". European Journal of Internal Medicine. 44: 19–27. doi:10.1016/j.ejim.2017.06.019. PMID 28645806.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 "Brugada Syndrome". NORD (National Organization for Rare Disorders). 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Februari 2017. Diakses tanggal 28 Oktober 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 "Brugada syndrome". Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD) – an NCATS Program. 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Oktober 2017. Diakses tanggal 28 Oktober 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 Sarquella-Brugada G, Campuzano O, Arbelo E, Brugada J, Brugada R (Januari 2016). "Brugada syndrome: clinical and genetic findings". Genetics in Medicine. 18 (1): 3–12. doi:10.1038/gim.2015.35. PMID 25905440.
  6. ↑ Antzelevitch C, Patocskai B (Januari 2016). "Brugada Syndrome: Clinical, Genetic, Molecular, Cellular, and Ionic Aspects". Current Problems in Cardiology. 41 (1): 7–57. doi:10.1016/j.cpcardiol.2015.06.002. PMC 4737702. PMID 26671757.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Antzelevitch C, Viskin S (2013). "Brugada Syndrome: Cellular Mechanisms and Approaches to Therapy". Dalam Gussak I, Antzelevitch C, Wilde AA, Powell BD, Ackerman MJ, Shen WK (ed.). Electrical diseases of the heart. Basic foundations and primary electrical diseases. Vol. 1 (Edisi 2nd). London: Springer. hlm. 497–536. ISBN 978-1-4471-4880-7. OCLC 841465583.
  8. 1 2 Priori SG, Wilde AA, Horie M, Cho Y, Behr ER, Berul C, et al. (Desember 2013). "HRS/EHRA/APHRS expert consensus statement on the diagnosis and management of patients with inherited primary arrhythmia syndromes: document endorsed by HRS, EHRA, and APHRS in May 2013 and by ACCF, AHA, PACES, and AEPC in June 2013". Heart Rhythm. 10 (12): 1932–63. doi:10.1016/j.hrthm.2013.05.014. PMID 24011539.
  9. ↑ Belhassen B, Glick A, Viskin S (September 2004). "Efficacy of quinidine in high-risk patients with Brugada syndrome". Circulation. 110 (13): 1731–7. doi:10.1161/01.CIR.0000143159.30585.90. PMID 15381640.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ Brugada P, Brugada J (November 1992). "Right bundle branch block, persistent ST segment elevation and sudden cardiac death: a distinct clinical and electrocardiographic syndrome. A multicenter report". Journal of the American College of Cardiology. 20 (6): 1391–6. doi:10.1016/0735-1097(92)90253-J. PMID 1309182.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Brugada P (Maret 2016). "Brugada syndrome: More than 20 years of scientific excitement". Journal of Cardiology. 67 (3): 215–20. doi:10.1016/j.jjcc.2015.08.009. PMID 26627541.
  12. ↑ Postema PG, Wolpert C, Amin AS, Probst V, Borggrefe M, Roden DM, Priori SG, Tan HL, Hiraoka M, Brugada J, Wilde AA (September 2009). "Drugs and Brugada syndrome patients: review of the literature, recommendations, and an up-to-date website (www.brugadadrugs.org)". Heart Rhythm. 6 (9): 1335–41. doi:10.1016/j.hrthm.2009.07.002. PMC 2779019. PMID 19716089.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan