Minggu, 25 Oktober 2026
21:49 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Kardiologi

Kardiologi

cabang penyakit dalam yang menghadapi pengobatan penyakit yang mempengaruhi jantung dan pembuluh darah

Bagikan:
60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
250px-Heart_diagram_blood_flow_en.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diagram aliran darah melalui jantung manusia. Bagian biru menunjukkan darah dengan kadar oksigen lebih rendah, sedangkan bagian merah menunjukkan darah kaya oksigen.

Kardiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari struktur, fungsi, penyakit, serta gangguan jantung dan sistem kardiovaskular. Bidang ini mencakup pencegahan, penegakan diagnosis, pengobatan, rehabilitasi, dan penelitian mengenai penyakit jantung dan pembuluh darah. Dokter yang menjalankan praktik spesialis di bidang ini disebut kardiolog atau dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.[1][2]

Kardiologi berkaitan erat dengan ilmu penyakit dalam, pediatri, radiologi, neurologi, bedah jantung, bedah vaskular, dan kedokteran rehabilitasi. Akan tetapi, kardiologi dan bedah jantung merupakan bidang praktik yang berbeda. Kardiolog dapat melakukan tindakan melalui kateter seperti intervensi koroner perkutan, sedangkan prosedur pembedahan seperti bedah pintas arteri koroner umumnya dilakukan oleh dokter spesialis bedah jantung.[3][4]

Ruang lingkup

Kardiologi menangani kelainan bawaan maupun didapat yang memengaruhi otot jantung, pembuluh koroner, katup jantung, perikardium, sistem kelistrikan jantung, dan sirkulasi darah. Penanganannya meliputi penyakit akut yang mengancam nyawa, seperti infark miokard dan aritmia berat, serta kondisi kronis seperti hipertensi, gagal jantung, dan penyakit jantung bawaan.[1]

Cabang dan bidang peminatan

Seiring perkembangan ilmu dan teknologi, kardiologi mencakup berbagai bidang peminatan, antara lain:[5][2]

  • Kardiologi intervensi, yang menggunakan tindakan berbasis kateter untuk menangani gangguan kardiovaskular, termasuk penyempitan pembuluh koroner dan sebagian kelainan struktural jantung.
  • Aritmia dan elektrofisiologi jantung, yang mempelajari gangguan irama serta sistem penghantaran listrik jantung; bidang ini mencakup pemeriksaan elektrofisiologi, ablasi, dan penggunaan alat implan tertentu.
  • Pencitraan kardiovaskular, yang menggunakan ekokardiografi, tomografi komputer, pencitraan resonansi magnetik, dan metode pencitraan lain untuk menilai struktur dan fungsi jantung.
  • Gagal jantung dan perawatan jantung lanjut, yang menangani gangguan fungsi pompa jantung, termasuk terapi alat bantu sirkulasi pada pasien tertentu.
  • Kardiologi pediatrik dan penyakit jantung bawaan, yang berfokus pada kelainan jantung sejak lahir serta perawatan jangka panjangnya.
  • Kardiologi preventif dan rehabilitasi, yang mencakup pengendalian faktor risiko, pencegahan kejadian kardiovaskular berulang, peningkatan kapasitas fungsional, dan pemulihan setelah penyakit atau tindakan jantung.
  • Kardiologi akut dan intensif, yang berkaitan dengan kegawatdaruratan kardiovaskular dan perawatan pasien kritis.
  • Kedokteran vaskular, yang berfokus pada gangguan pembuluh darah di luar jantung dan beririsan dengan bidang kedokteran lain.
  • Kardio-onkologi, yang mempelajari pencegahan, deteksi, dan penanganan gangguan kardiovaskular pada pasien kanker, termasuk efek samping terapi kanker.

Pembagian subspesialisasi dan kewenangan klinis dapat berbeda menurut sistem pendidikan, sertifikasi, dan regulasi masing-masing negara.[5]

Penyakit dan kondisi yang ditangani

Penyakit jantung koroner

Penyakit arteri koroner terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terganggu, sering kali akibat aterosklerosis pada pembuluh koroner. Keluhan dapat berupa angina pektoris, sedangkan gangguan mendadak yang menyebabkan kerusakan otot jantung dapat menimbulkan sindrom koroner akut atau infark miokard. Diagnosis dan pilihan pengobatan bergantung pada gejala, risiko klinis, pemeriksaan penunjang, dan karakteristik penyempitan pembuluh darah.[6]

Gagal jantung dan penyakit otot jantung

Gagal jantung merupakan sindrom klinis akibat kelainan struktur atau fungsi jantung yang menyebabkan gangguan pengisian atau pemompaan darah. Penyebabnya antara lain penyakit koroner, hipertensi, kelainan katup, dan kardiomiopati. Kardiologi juga menangani beberapa penyakit inflamasi otot jantung, seperti miokarditis.[7]

Gangguan irama dan penghantaran listrik

Aritmia meliputi gangguan irama yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Contohnya adalah fibrilasi atrium, takikardia supraventrikular, dan aritmia ventrikel. Sebagian gangguan irama tidak menimbulkan keluhan, tetapi sebagian lainnya dapat menimbulkan pingsan, gangguan hemodinamik, maupun henti jantung.[8]

Penyakit katup dan kelainan bawaan

Penyakit katup jantung dapat menyebabkan penyempitan (stenosis) atau kebocoran (regurgitasi) katup. Penyakit jantung bawaan mencakup kelainan anatomi dan hubungan pembuluh darah yang telah ada sejak lahir. Penanganan dapat mencakup pemantauan, obat-obatan, tindakan melalui kateter, atau pembedahan, bergantung pada jenis dan derajat kelainan.[9]

Penyakit pembuluh darah dan kondisi lain

Bidang kardiovaskular juga mencakup penyakit arteri perifer, penyakit aorta, hipertensi pulmonal, perikarditis, serta penilaian dan pengendalian faktor risiko kardiometabolik. Penanganan beberapa kondisi tersebut melibatkan kerja sama lintas spesialisasi.[1]

Diagnosis dan pemeriksaan

Penegakan diagnosis dalam kardiologi diawali dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penilaian faktor risiko. Pemeriksaan tambahan ditentukan berdasarkan dugaan penyakit, keadaan klinis, dan manfaat serta risiko pemeriksaan.[6][10]

Pemeriksaan Kegunaan utama
Elektrokardiografi (EKG/ECG)Merekam aktivitas listrik jantung untuk membantu mendeteksi gangguan irama, penghantaran, serta tanda iskemia atau infark miokard.
Pemantauan Holter dan perekam kejadianMemantau irama jantung dalam jangka waktu lebih panjang, terutama bila keluhan muncul secara berkala.
EkokardiografiMenggunakan ultrasonografi untuk menilai ruang jantung, fungsi pompa, katup, dan sejumlah kelainan struktural.
Uji latih jantungMenilai respons terhadap aktivitas fisik, termasuk gejala, irama, tekanan darah, dan kapasitas fungsional pada indikasi tertentu.
Tomografi terkomputasi jantung dan pencitraan resonansi magnetik jantungMenilai anatomi pembuluh koroner, jaringan dan struktur jantung, atau karakteristik penyakit tertentu.
Angiografi koroner dan kateterisasi jantungMenggambarkan pembuluh koroner dan, pada pemeriksaan tertentu, mengukur tekanan atau aliran darah di dalam jantung.
Pemeriksaan laboratoriumTermasuk troponin untuk penilaian cedera miokard, peptida natriuretik pada kecurigaan gagal jantung, serta profil lipid dan glukosa untuk penilaian risiko.

Satu jenis pemeriksaan tidak dapat digunakan untuk memastikan atau menyingkirkan semua penyakit jantung. Contohnya, EKG istirahat yang tampak normal tidak dengan sendirinya meniadakan kemungkinan penyakit arteri koroner.[6][8][10][11]

Penanganan

Pencegahan dan pengobatan

Pencegahan penyakit kardiovaskular mencakup penghentian penggunaan tembakau, pola makan sehat, aktivitas fisik, pengendalian berat badan, serta penanganan tekanan darah tinggi, dislipidemia, dan diabetes melitus. Pendekatan pencegahan primer bertujuan mengurangi kemungkinan timbulnya penyakit, sedangkan pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi pada pasien yang telah mengalami penyakit kardiovaskular.[3][6]

Terapi farmakologis dapat mencakup obat penurun lipid, antihipertensi, antiplatelet, antikoagulan, obat antiaritmia, diuretik, serta obat-obatan khusus gagal jantung. Pilihan obat dan kombinasinya bergantung pada diagnosis, risiko, penyakit penyerta, dan penilaian klinis; tidak setiap golongan obat sesuai untuk seluruh pasien.[3][7]

Tindakan dan terapi berbasis alat

Pada kondisi tertentu, kardiolog melakukan intervensi koroner perkutan (PCI), yaitu tindakan melalui kateter untuk membuka penyempitan atau sumbatan pembuluh koroner, yang sering disertai pemasangan stent. Tindakan lain meliputi ablasi kateter, implantasi alat pacu jantung, defibrilator kardioverter implan, dan intervensi terhadap kelainan jantung struktural. Pembedahan seperti bedah pintas koroner atau penggantian katup secara terbuka dilakukan oleh tim bedah jantung sesuai indikasi.[6][8][4]

Rehabilitasi kardiovaskular

Rehabilitasi jantung merupakan program multidisiplin yang dapat mencakup latihan fisik terawasi, edukasi, perubahan perilaku, penatalaksanaan faktor risiko, serta dukungan psikososial. Program ini digunakan antara lain setelah infark miokard, tindakan revaskularisasi, operasi jantung, atau pada beberapa pasien gagal jantung dan angina stabil.[12]

Sejarah

Perkembangan kardiologi berkaitan dengan kemajuan pemeriksaan fisik, perekaman aktivitas listrik jantung, serta teknologi pencitraan dan kateterisasi. Pada 1816, dokter Prancis René Laennec mengembangkan stetoskop, yang membantu pemeriksaan bunyi jantung dan paru-paru.[13]

Pada awal abad ke-20, Willem Einthoven mengembangkan metode perekaman elektrokardiogram menggunakan galvanometer senar. Ia menerima Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 1924 atas kontribusinya dalam pengembangan elektrokardiografi.[14]

Pada 1929, Werner Forssmann melakukan kateterisasi jantung pada dirinya sendiri. Pengembangan kateterisasi selanjutnya memungkinkan pengukuran hemodinamika dan intervensi kardiovaskular. Forssmann bersama André Frédéric Cournand dan Dickinson W. Richards menerima Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1956 atas penelitian tentang kateterisasi jantung dan perubahan patologis dalam sistem peredaran darah.[15][16]

Pada 16 September 1977, Andreas Grüntzig melakukan angioplasti balon koroner pertama yang berhasil. Teknik tersebut menjadi salah satu landasan perkembangan kardiologi intervensi modern.[17]

Epidemiologi

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular merupakan kelompok penyebab kematian terbesar di dunia. Pada 2022, diperkirakan 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular, atau sekitar 32% dari seluruh kematian global. Sekitar 85% kematian kardiovaskular tersebut disebabkan oleh serangan jantung dan stroke. Lebih dari tiga perempat kematian kardiovaskular terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.[3]

Di Indonesia, laporan Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter sebesar sekitar 0,85% pada penduduk semua umur. Angka ini merupakan indikator survei penyakit jantung yang telah didiagnosis dokter, bukan estimasi seluruh penyakit kardiovaskular maupun semua kasus yang belum terdiagnosis.[18][19]

Pendidikan dan praktik kardiologi di Indonesia

Di Indonesia, pendidikan dan praktik spesialis yang berfokus pada penyakit jantung dan pembuluh darah memiliki jalur pendidikan profesi tersendiri. Lulusan program pendidikan dokter spesialis Jantung dan Pembuluh Darah menggunakan gelar Sp.JP. Salah satu penyelenggara pendidikan spesialis ini adalah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melalui Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular. FKUI juga menyelenggarakan pendidikan subspesialis jantung dan pembuluh darah.[2][20]

Kardiologi di Indonesia juga memiliki hubungan historis dan akademik dengan ilmu penyakit dalam. Dokter spesialis penyakit dalam yang menempuh pendidikan konsultan kardiovaskular dikenal antara lain dengan penulisan kualifikasi Sp.PD-KKV atau Sp.PD, K-KV. Jalur konsultan penyakit dalam tersebut tidak sama dengan pendidikan spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (Sp.JP). Dokter yang memperoleh pendidikan serta kualifikasi pada kedua jalur dapat memiliki lebih dari satu gelar, sesuai pendidikan yang diselesaikan.[21][2]

Dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular (Sp.BTKV) menjalani pendidikan bedah yang berbeda dari spesialis jantung dan pembuluh darah. Pembagian tugas antara kardiolog, dokter spesialis penyakit dalam, serta dokter bedah toraks dan kardiovaskular bergantung pada kompetensi, kewenangan klinis, dan kebutuhan pasien.[4]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 "Scientific Statements". European Society of Cardiology (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-09-29. Diakses tanggal 2026-10-20.
  2. 1 2 3 4 "Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI". Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-03-21. Diakses tanggal 2026-10-20.
  3. 1 2 3 4 "Cardiovascular diseases (CVDs)". Organisasi Kesehatan Dunia (dalam bahasa Inggris). 2025-07-31. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-10-13. Diakses tanggal 2026-10-20.
  4. 1 2 3 "Profil dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular". Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses tanggal 2026-10-20.
  5. 1 2 "Subspecialty Cardiology Education & Training". European Society of Cardiology (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-08-28. Diakses tanggal 2026-10-20.
  6. 1 2 3 4 5 "2024 ESC Guidelines for the management of chronic coronary syndromes". European Society of Cardiology (dalam bahasa Inggris). 2024-08-30. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-10-12. Diakses tanggal 2026-10-20.
  7. 1 2 "2023 Focused Update of the 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure". European Society of Cardiology (dalam bahasa Inggris). 2023-08-25. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-09-13. Diakses tanggal 2026-10-20.
  8. 1 2 3 "Common Tests for Arrhythmia". American Heart Association (dalam bahasa Inggris). 2024-10-10. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-10-12. Diakses tanggal 2026-10-20.
  9. ↑ "Heart Valve Disease Diagnosis and Testing". American Heart Association (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-01-23. Diakses tanggal 2026-10-20.
  10. 1 2 "Electrocardiogram (EKG or ECG)". American Heart Association (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-10-08. Diakses tanggal 2026-10-20.
  11. ↑ "Key Patient Messages: 2025 Acute Coronary Syndromes Guideline". American Heart Association (dalam bahasa Inggris). 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-04-21. Diakses tanggal 2026-10-20.
  12. ↑ "Core Components of Cardiac Rehabilitation Programs: 2024 Update". American Heart Association (dalam bahasa Inggris). 2024-09-24. Diakses tanggal 2026-10-20.
  13. ↑ "The Origins of the History and Physical Examination". Clinical Methods: The History, Physical, and Laboratory Examinations (dalam bahasa Inggris). Butterworths. 1990. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-12-07. Diakses tanggal 2026-10-20.
  14. ↑ "Willem Einthoven – Facts". NobelPrize.org (dalam bahasa Inggris). Nobel Prize Outreach. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-10-12. Diakses tanggal 2026-10-20.
  15. ↑ "Werner Forssmann – Biographical". NobelPrize.org (dalam bahasa Inggris). Nobel Prize Outreach. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-10-12. Diakses tanggal 2026-10-20.
  16. ↑ "Our History". American College of Cardiology (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-20.
  17. ↑ "Celebrating One Courageous Idea That Changed CV Medicine Forever". American College of Cardiology (dalam bahasa Inggris). 2026-09-17. Diakses tanggal 2026-10-20.
  18. ↑ "Survei Kesehatan Indonesia 2023 Dalam Angka, Tabel 7.29: Prevalensi Penyakit Jantung berdasarkan Diagnosis Dokter pada Penduduk Semua Umur" (PDF). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. hlm. 256. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2026-09-20. Diakses tanggal 2026-10-20.
  19. ↑ "Rencana Aksi Program Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit 2025–2029" (PDF). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2026-05-15. Diakses tanggal 2026-10-20.
  20. ↑ "Program Studi Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah". Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-10-31. Diakses tanggal 2026-10-20.
  21. ↑ "Profil Prof. Dr. dr. Refli Hasan, SpPD, K-KV, FINASIM, SpJP(K), FAsCC". Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses tanggal 2026-10-20.

Pranala luar

Spesialis
dan
subspesialis
Pendidikan kedokteran
Topik terkait
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan