Senin, 28 September 2026
22:09 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto
Siger Lampung

Siger Lampung

Siger Lampung
250px-WikiBusanding_-_Siger_Pepadun_%282%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siger Pepadun, mahkota adat pengantin perempuan Lampung
JenisPenutup kepala tradisional / mahkota adat
BahanKuningan atau tembaga yang disepuh warna emas[1]
Tempat asalLampung, Asia Tenggara Maritim[2]
PemanufakturSuku Lampung, meliputi kelompok adat Saibatin dan Pepadun[3]

Siger Lampung (Abung:(60px-Lampung-sigokh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail), translit. Sigokh) adalah mahkota adat berbentuk melengkung menyerupai tanduk atau perahu yang dikenakan terutama oleh mempelai perempuan dalam prosesi pernikahan serta berbagai upacara adat lainnya pada masyarakat suku Lampung.[2] Umumnya dibuat dari lempengan kuningan, tembaga, atau logam lain yang disepuh warna keemasan, Siger Lampung bagi masyarakat adatnya bersifat sakral dan tidak sekadar berfungsi sebagai hiasan kepala, melainkan juga sebagai lambang kehormatan, status sosial, serta falsafah hidup Ulun Lampung (orang Lampung) yang dikenal dengan sebutan Piil Pesenggiri.[4] Bentuknya kini juga diadopsi secara luas sebagai ikon visual Provinsi Lampung, salah satunya melalui bangunan landmark Menara Siger di Bakauheni, Lampung Selatan.[5]

Secara sosial, masyarakat adat Lampung terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Saibatin (pesisir) dan Pepadun (pedalaman). Siger yang dikenakan oleh kedua kelompok ini berbeda bentuk, jumlah lekuk, dan makna simbolisnya, meskipun keduanya sama-sama berfungsi sebagai artefak pemersatu identitas kelampungan secara keseluruhan.[3]

Etimologi

Dalam bahasa Lampung, mahkota adat ini disebut sigokh, sigekh, atau sigeh, yang merupakan varian dialek dari istilah siger yang juga dikenal luas di beberapa rumpun bahasa Nusantara lain seperti bahasa Sunda, Jawa, dan Bali dengan makna serupa sebagai perhiasan kepala.[2] Khusus pada sub-etnis Abung, penyebutan sigokh dikenali secara tersendiri dalam bahasa Abung sebagai penanda identitas kelompok adat tersebut.[6] Penggunaan istilah ini pada masyarakat Lampung tidak terbatas pada satu golongan adat saja, melainkan digunakan baik oleh masyarakat beradat Saibatin maupun Pepadun, walaupun bentuk, jumlah lekuk, serta konteks pemakaiannya berbeda di antara keduanya.[2] Beberapa kajian etnosemantik membandingkan konsep siger Lampung dengan siger Sunda; salah satu perbedaan mendasar yang ditemukan terletak pada bahan pembuatnya, yaitu siger Lampung umumnya berwarna emas atau kuningan sedangkan siger Sunda lazim bercorak warna perak.[7]

Secara etimologis-filosofis, istilah "siger" juga ditafsirkan sebagai bentuk yang "mengurung" kepala penggunanya, sebuah simbolisasi bagi upaya menahan atau mengurung hawa nafsu duniawi, khususnya hasrat seksual, agar hanya disalurkan melalui jalan yang sah, yaitu pernikahan.[8] Tafsir ini menambahkan satu lapis makna pada siger sebagai penanda kesucian dan kesiapan seseorang memasuki jenjang pernikahan, sejalan dengan kedudukannya sebagai mahkota pengantin dalam adat Lampung.

Sejarah

Akar tradisi di Kerajaan Sekala Brak

Asal-usul tradisi siger pada masyarakat Lampung secara tradisional dikaitkan dengan Kerajaan Sekala Brak (disebut pula Sekala Beghak, Skala Brak, atau Segara Brak), salah satu kerajaan tertua yang pernah berdiri di Lampung dan dianggap sebagai cikal bakal peradaban Ulun Lampung.[9] Kerajaan ini diperkirakan berdiri sejak sekitar abad ke-3 Masehi di lereng Gunung Pesagi, dekat Danau Ranau, wilayah yang kini termasuk Kabupaten Lampung Barat, dan mula-mula dipimpin oleh Raja Buay Tumi, pemimpin Suku Tumi.[10] Riwayat kerajaan ini diwariskan lewat tambo, yakni catatan sejarah tradisional yang sebagian besar ditulis pada kulit kayu maupun kulit kerbau, di samping sejumlah peninggalan fisik prasejarah seperti menhir dan prasasti di sekitar Gunung Pesagi.[11]

Menurut tradisi lisan yang tertuang dalam naskah adat Kuntara Raja Niti, masyarakat Lampung meyakini leluhur mereka berasal dari Sekala Brak, yang pada masa itu dipimpin seorang penguasa perempuan bergelar Ratu Sekerumong (Umpu Sekekhummong) yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.[12] Pada abad ke-16, wilayah Sekala Brak didatangi empat pangeran dari Kerajaan Pagaruyung yang membawa ajaran Islam; setelah masa peralihan kekuasaan tersebut, kawasan itu terbagi menjadi empat kepaksian yang masing-masing meneruskan garis adat serta kelengkapan busananya sendiri, termasuk tradisi siger.[13] Bentuk siger tertua yang masih dikenal hingga kini, yaitu Siger Tuha, dipercaya berasal dari masa animisme dan pengaruh Hindu-Buddha tersebut, dan secara tradisional hanya disimpan di lingkungan Kesultanan Paksi Pak Sekala Bekhak.[14]

Dari perhiasan bangsawan menjadi mahkota pengantin

Pada masa lampau, siger dilaporkan dibuat dari emas asli dan dikenakan oleh perempuan bangsawan Lampung tidak hanya sebagai mahkota pengantin, tetapi juga sebagai perhiasan yang dipakai dalam keseharian.[1] Seiring waktu, penggunaannya berangsur mengerucut menjadi kelengkapan khusus prosesi adat, terutama pernikahan dan upacara pengambilan gelar, sementara bahan pembuatnya beralih ke logam yang lebih terjangkau seperti kuningan dan tembaga yang disepuh warna emas.[15]

Struktur Sosial dan Ragam Siger

Perbedaan bentuk siger pada masyarakat Lampung berakar dari perbedaan struktur sosial-adat antara kelompok Saibatin dan Pepadun. Sebuah kajian filosofis-antropologis menyimpulkan bahwa busana adat Saibatin, termasuk sigernya, cenderung berfungsi sebagai penanda strata sosial dan legitimasi adat yang menonjolkan "martabat dan kewibawaan", sedangkan busana Pepadun lebih berperan sebagai simbol kolektif yang menyampaikan nilai, sejarah, dan ikatan antarmarga.[16]

Terdapat empat jenis siger utama yang dikenal dalam masyarakat adat Lampung:

  • Siger Saibatin (sigokh lekuk pitu) — dikenakan oleh masyarakat adat Saibatin di wilayah pesisir, berbentuk segitiga dengan tujuh lekuk simetris, masing-masing dihiasi ornamen menyerupai batang pohon sekala. Ketujuh lekuk tersebut melambangkan tujuh gelar adat pesisir seperti Minak, Kimas, dan Radin, yang secara tradisional hanya boleh disandang oleh keturunan langsung keluarga bangsawan (adok).[17] Kelengkungannya yang condong ke belakang ditafsirkan menggambarkan watak masyarakat Saibatin yang dianggap lebih lembut dan harmonis.[17] Kajian pada marga Pugung Penengahan, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, turut menegaskan kedalaman makna filosofis sigokh dalam praktik keseharian masyarakat Saibatin.[6]
    250px-Tari_Melinting_3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
    Pertunjukan Tari Melinting menggunakan Siger Melinting
  • Siger Pepadun / Siger Abung (sigekh lekuk siwo) — dikenakan oleh masyarakat adat Pepadun, termasuk sub-etnis Abung Siwo Megou, berbentuk menyerupai buah sekala dengan sembilan lekuk. Kesembilan lekuk ini melambangkan sembilan marga yang membentuk kelompok Abung Siwo Megou, menunjukkan hierarki sosial, persatuan, dan solidaritas antarmarga, sekaligus mencerminkan watak masyarakat Pepadun yang dianggap lebih tegas dan kuat.[17] Kajian lain menekankan bahwa mahkota ini bukan sekadar benda hias, melainkan simbol budaya yang mewakili nilai moral, struktur sosial, dan kedalaman spiritual masyarakat Pepadun, termasuk nilai Piil Pesenggiri serta unsur ajaran Islam yang terintegrasi di dalamnya.[18]
  • Siger Tuha — dianggap sebagai bentuk siger tertua, dipercaya telah ada sejak masa animisme serta masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Lampung. Bentuknya menyerupai buah sekala dengan tambahan hiasan pohon sekala di bagian atasnya, dan secara tradisional hanya disimpan di lingkungan Kesultanan Paksi Pak Sekala Bekhak; hanya keturunan bangsawan Saibatin yang berhak mengenakannya.[14]
  • Siger Melinting — varian khas masyarakat adat Lampung Melinting di Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, berbentuk bercabang lima, dengan setiap cabang berumbai yang menutupi wajah mempelai perempuan layaknya cadar tipis.[19]

Bahan dan Proses Pembuatan

Siger tradisional umumnya dibuat dari lempengan kuningan atau tembaga yang dicat maupun disepuh warna emas; pada masa lampau bahan yang dipakai adalah emas asli.[1] Dalam perkembangannya, replika siger untuk kebutuhan pertunjukan atau suvenir juga mulai dibuat dari bahan yang lebih ringan seperti aluminium atau resin agar lebih praktis digunakan.[20]

Proses pembuatan siger secara tradisional dikerjakan oleh pengrajin logam secara manual, dimulai dari pembuatan pola di atas lempeng kuningan, pembentukan lekukan dan cabang, hingga tahap pemberian ukiran dan hiasan agar tampak lebih indah.[21] Sebagai gambaran, sejumlah perajin di Bandar Lampung memproduksi satu set siger dengan harga berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitan dan detail pesanan, dengan bahan baku logam yang sebagian besar masih didatangkan dari luar Lampung.[1] Sebagai pelengkap, di atas siger biasanya dipasang ornamen kecil bernama serenja bulan, yaitu mahkota mini berbahan kuningan dengan motif bunga yang menjadi puncak hiasan siger.[22]

Filosofi dan Makna Simbolik

Secara filosofis, siger dipahami sebagai representasi dari falsafah hidup Ulun Lampung, bukan sekadar lambang daerah maupun benda hias semata.[4] Bentuk, warna, dan ornamen pada siger memiliki makna simbolik yang mencerminkan nilai kebudayaan dan identitas masyarakat adat setempat: kilau keemasannya melambangkan keagungan dan kehormatan, tingkatan pada mahkota dikaitkan dengan makna kesuburan dan kemakmuran, sementara ornamen bunga di beberapa bagian dimaknai sebagai lambang kemurnian, kebaikan, dan penghormatan terhadap perempuan.[23] Nilai-nilai seperti cinta, kehormatan, dan kesopanan yang terkandung dalam simbol ini dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung, sebagaimana ditemukan dalam kajian tentang identitas budaya pascakonflik etnis di Lampung Selatan.[14]

Nilai inti yang paling sering dikaitkan dengan siger adalah Piil Pesenggiri, falsafah hidup yang menjunjung harga diri dan kehormatan, dengan unsur-unsur pendukung seperti bejuluk beadok (memiliki gelar dan identitas), nemui nyimah (keramahan dan sikap dermawan dalam menerima tamu), nengah nyampur (keterbukaan bergaul dalam masyarakat majemuk), serta sakai sambayan (semangat gotong royong).[24] Siger, dalam kerangka ini, menjadi wujud visual dari falsafah tersebut yang dikenakan pada momen-momen sosial paling terhormat dalam kehidupan adat, yaitu pernikahan dan pengambilan gelar.[18] Makna ini berkelindan dengan tafsir etimologis siger sebagai penanda "pengurungan" hawa nafsu duniawi yang hanya boleh disalurkan lewat pernikahan sah, sehingga siger sekaligus berfungsi sebagai simbol kesucian dan kesiapan perempuan memasuki babak kehidupan berumah tangga.[8]

Penggunaan dalam Upacara Adat

Siger paling umum dikenakan oleh mempelai perempuan dalam prosesi pernikahan adat Lampung, baik pada tradisi Pepadun maupun Saibatin, meski dengan bentuk dan tata warna busana yang berbeda; busana Pepadun umumnya berwarna putih dengan siger sembilan lekuk, sementara busana Saibatin identik dengan warna merah berornamen emas dengan siger tujuh lekuk.[25] Mempelai laki-laki pada kedua tradisi umumnya mengenakan kopiah emas sebagai padanan siger yang dikenakan mempelai perempuan.[26]

Terdapat pantangan adat yang cukup dikenal, yaitu perempuan yang sudah menikah pada dasarnya tidak diperkenankan lagi memakai siger, kecuali ketika ia kembali menjalani prosesi adat pernikahan atau pengambilan gelar yang disebut cakak pepadun.[22] Prosesi cakak pepadun atau begawi ini merupakan upacara pengambilan gelar adat yang pada masyarakat Pepadun dapat berlangsung hingga tujuh hari tujuh malam dengan biaya yang besar, sehingga tidak semua keluarga mampu menyelenggarakannya sesuai tingkat kemewahan penuh.[26] Pada tradisi Lampung Melinting, siger bercabang lima yang dikenakan mempelai perempuan turut disertai rumbai penutup wajah, dan prosesi pemberian gelar adat memberikan gelar Adoq kepada mempelai pria serta Inai kepada mempelai perempuan.[19]

Di luar konteks pernikahan, varian ringan berupa sigeh pengunten juga dikenakan penari perempuan dalam Tari Sigeh Pengunten, tarian penyambutan tamu kehormatan yang menjadi salah satu representasi paling dikenal luas dari busana adat Lampung di panggung nasional maupun internasional.[27]

Siger sebagai Ikon Kontemporer

250px-Menara_Siger.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Menara Siger di Bakauheni, Lampung Selatan

Bentuk siger telah diadaptasi secara luas ke dalam berbagai penanda identitas visual Provinsi Lampung, mulai dari motif batik, bangunan tugu, gapura, hiasan rumah dan pagar, hingga logo dan suvenir.[15] Adaptasi paling dikenal adalah Menara Siger, bangunan landmark yang berdiri di Bukit Gamping, Bakauheni, Lampung Selatan, tepat menghadap gerbang masuk Pelabuhan Bakauheni.[28] Pembangunannya dimulai pada awal tahun 2000-an dan diresmikan oleh Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. pada 30 April 2008, sebagai bagian dari upaya menghadirkan landmark yang merepresentasikan kekayaan budaya Lampung sekaligus menandai titik nol jalur lintas selatan Sumatra.[5] Arsitekturnya dirancang oleh arsitek asal Lampung, Anshori Djausal, menggunakan teknik konstruksi ferrocement dengan rangka menyerupai jejaring laba-laba agar tahan guncangan dan terpaan angin; menara ini berdiri pada ketinggian 110 meter di atas permukaan laut dengan sembilan kerucut keemasan berderet, di mana kerucut di bagian tengah dibuat lebih besar dan tinggi, sementara jumlah sembilan kerucut tersebut disimbolkan mewakili sembilan variasi bahasa yang ada dalam masyarakat Lampung.[28]

Selain di dalam provinsi, simbol siger turut ditemukan di kawasan-kawasan kantong transmigrasi asal Lampung yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, menjadikannya lambang keagungan budaya yang dibawa serta oleh diaspora Lampung ke tempat tinggal baru mereka.[8]

Pengaruh pada budaya sekitar

Popularitas bentuk siger Lampung turut memengaruhi kesenian di wilayah tetangga. Pada masyarakat Basemah di Pagar Alam, Sumatra Selatan, sebuah bentuk siger yang diadaptasi dari siger khas Lampung dikenakan dalam pertunjukan Tari Kebagh, meski siger bukan unsur yang secara historis inheren dalam kebudayaan Basemah itu sendiri.[8] Fenomena ini menunjukkan jangkauan pengaruh estetika siger Lampung yang melampaui batas wilayah etnis Lampung, sekaligus menegaskan pentingnya siger Lampung sebagai rujukan bentuk bagi ragam mahkota adat lain di Sumatra bagian selatan.

Pelestarian dan Perlindungan Hukum

Sebagai warisan budaya takbenda yang bernilai ekonomi, Siger Lampung turut menjadi perhatian pemerintah daerah dalam agenda perlindungan kekayaan intelektual. Pemerintah Provinsi Lampung, melalui kerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Lampung, pernah mengajak berbagai pihak untuk mendaftarkan kekayaan intelektual daerah, termasuk memasukkan Siger Lampung ke dalam inventarisasi bersama komoditas khas lain seperti Seruit, sebagai langkah memperkuat perlindungan hukum dan daya saingnya.[29] Secara umum, kerangka hukum yang relevan bagi pelindungan simbol budaya semacam ini di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang membuka kemungkinan pendaftaran indikasi geografis maupun kekayaan intelektual komunal atas ekspresi budaya tradisional daerah.[30]

Di jalur perlindungan yang berbeda, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan sigeh penguten sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2014,[27] disusul dengan penetapan sigeh pengunten pada tingkat Kabupaten Pringsewu pada tahun 2015.[31] Penetapan berjenjang ini melengkapi upaya pendaftaran kekayaan intelektual di atas, sehingga siger Lampung memperoleh perlindungan dari dua jalur hukum yang berbeda: pengakuan sebagai warisan budaya takbenda di tingkat kebudayaan, serta pendaftaran indikasi geografis atau kekayaan intelektual komunal di tingkat ekonomi kreatif.

Di sisi lain, sejumlah kajian budaya mengingatkan adanya risiko pergeseran makna akibat komersialisasi bentuk siger, misalnya perubahan desain untuk menarik konsumen suvenir yang berpotensi menjauhkannya dari bentuk aslinya dan mengikis esensi filosofis yang dikandungnya.[23] Minimnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan makna Siger Lampung turut menjadi kekhawatiran bersama, sehingga berbagai komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah terus mendorong edukasi serta pelestarian nilai-nilai yang terkandung dalam simbol ini agar identitas budaya Lampung tetap terjaga di masa depan.[23]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 "Bisnis pembuatan Siger Lampung di tengah pandemi COVID-19". lampung.antaranews.com. ANTARA News Lampung. 2020. Diakses tanggal 2026-09-15.
  2. 1 2 3 4 "Mengenal Siger Lampung: Fungsi, Jenis, dan Maknanya bagi Suku Lampung". detik.com. Detikcom. 2023. Diakses tanggal 2026-09-15.
  3. 1 2 Ciciria, Deri (2015-09-03). "Siger Sebagai Wujud Seni Budaya Pada Masyarakat Multietnik di Provinsi Lampung". Panggung. 25 (2). doi:10.26742/panggung.v25i2.8. ISSN 2502-3640. Diakses tanggal 2026-09-15.
  4. 1 2 Berlia, O.; Bangsawan, R. (2021). "Historisitas dan Filosofi Siger pada Masyarakat Lampung". Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy. 3 (1). doi:10.24042/ijitp.v3i1.9308. Diakses tanggal 2026-09-15.
  5. 1 2 "Sejarah dan Makna Menara Siger Lampung, Destinasi Ikonik yang Wajib Dikunjungi". detik.com. Detikcom. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
  6. 1 2 Handirzon, Mirzon (2017). "Makna Filosofis Sigokh Pada Masyarakat Adat Lampung Saibatin (Studi Pada Marga Pugung Penengahan Kecamatan Lemong Kabupaten Pesisir Barat)". Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.{{cite journal}}: |access-date= memerlukan |url=; Kutipan journal memerlukan |journal=
  7. ↑ "Makna Konseptual Siger Sunda dan Lampung dalam Etnosemantik: Sebuah Perbandingan". ResearchGate. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  8. 1 2 3 4 "Siger". id.wikipedia.org. Wikipedia Bahasa Indonesia. Diakses tanggal 2026-09-15.
  9. ↑ "Sejarah dan Pengaruh Kerajaan Sekala Brak dalam Budaya Lampung". goodnewsfromindonesia.id. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
  10. ↑ "Mengenal Kerajaan Sekala Brak di Lampung, Berdiri Sejak Abad ke-3 Masehi". liputan6.com. Liputan6. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  11. ↑ "Kerajaan Sekala Brak di Lampung: Sejarah, Lokasi, dan Bukti Peninggalan". detik.com. Detikcom. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  12. ↑ "Mengenal Prosesi Pernikahan Adat Lampung dan Maknanya". orami.co.id. Orami. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  13. ↑ "Mengenal Kerajaan Sekala Brak sebagai Leluhur Lampung". tirto.id. Tirto.id. 2022. Diakses tanggal 2026-09-15.
  14. 1 2 3 "Mengenal Siger Lampung, Mahkota Kepala yang Jadi Ikon Lampung". detik.com. Detikcom. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  15. 1 2 "Siger Lampung, Simbol Khas Lampung: Bentuk, Makna, dan Penggunaan". regional.kompas.com. Kompas.com. 2023. Diakses tanggal 2026-09-15.
  16. ↑ "Filosofi dan Estetika Busana Adat Lampung: Simbol Identitas" (PDF). pgmi.tarbiyah.radenintan.ac.id. UIN Raden Intan Lampung. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  17. 1 2 3 "Siger Sebagai Simbol Kultural: Analisis Bentuk dan Filosofi pada Tradisi Adat Lampung". Jurnal Manajemen Pendidikan. STKIP Pesisir Selatan. Diakses tanggal 2026-09-15.
  18. 1 2 "Mahkota Siger Masyarakat Adat Lampung Pepadun: Simbol Identitas, Spiritualitas, dan Pergeseran Makna Sosial di Era Kontemporer". El Tarikh: Journal of History, Culture and Islamic Civilization. UIN Raden Intan Lampung. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  19. 1 2 "Pesona Pernikahan Adat Lampung Melinting yang Sarat Makna". indonesiakaya.com. Indonesia Kaya. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  20. ↑ "Siger Lampung: Mahkota Adat yang Memancarkan Keagungan dan Filosofi Kehidupan". eksplora.id. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  21. ↑ "Melihat Pembuatan Siger yang Tetap Produktif di Tengah Pandemi". kompas.tv. Kompas TV. 2022. Diakses tanggal 2026-09-15.
  22. 1 2 "Nama Perhiasan pada Pakaian Pengantin Adat Lampung yang Perlu Kamu Ketahui". teraslampung.com. Teras Lampung. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  23. 1 2 3 "Wacana Sosial dalam Penggunaan Siger Lampung: Antara Pelestarian Tradisi dan Adaptasi Budaya". Jurnal Federalisme. Asosiasi Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional (APPIHI). 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  24. ↑ "Sistem Pernikahan dalam Hukum Adat Lampung Pepadun". JIPM. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  25. ↑ "Kenali 11 Prosesi Pernikahan Adat Lampung, Kaya Makna Filosofis". bridestory.com. Bridestory Blog. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  26. 1 2 "Tradisi Unik Pernikahan Adat Lampung, Ada Pesta 7 Hari". lampung.idntimes.com. IDN Times Lampung. 2022. Diakses tanggal 2026-09-15.
  27. 1 2 "Sigeh Penguten". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2014. Diakses tanggal 2026-09-15.
  28. 1 2 "Menara Siger, Simbol Identitas di Ujung Tenggara Lampung". indonesiakaya.com. Indonesia Kaya. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
  29. ↑ "Gubernur Arinal Ajak Semua Pihak Daftarkan Kekayaan Intelektual untuk Perlindungan dan Daya Saing, Siger Lampung dan Seruit Masuk Inventarisasi". biroadpim.lampungprov.go.id. Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung. Diakses tanggal 2026-09-15.
  30. ↑ "Optimalisasi Perlindungan Hukum Indikasi Geografis terhadap Produk Potensi Indikasi Geografis Terdaftar dan Tidak Terdaftar". etd.repository.ugm.ac.id. Universitas Gadjah Mada. Diakses tanggal 2026-09-15.
  31. ↑ "Sigeh Pengunten - Pringsewu". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2015. Diakses tanggal 2026-09-15.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan