Piil Pesenggiri (juga ditulis Pi'il Pesenggiri) merupakan falsafah hidup dan sistem nilai yang berkembang dalam masyarakat Lampung. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan prinsip mengenai kehormatan, harga diri, hubungan sosial, tanggung jawab, serta tata perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kajian mengenai masyarakat Lampung, Piil Pesenggiri dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang berfungsi sebagai pedoman etika sosial.[1][2]
Piil Pesenggiri tidak hanya berkaitan dengan harga diri dalam pengertian individual, tetapi juga dengan cara seseorang menempatkan dirinya dalam hubungan dengan keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lembaga adat. Kajian filsafat mengenai Piil Pesenggiri mengidentifikasi di dalamnya nilai ketuhanan, moralitas, individualitas, sosialitas, serta hubungan manusia dengan lingkungan.[2]
Dalam praktik sosial masyarakat Lampung, Piil Pesenggiri umumnya dibahas melalui empat unsur utama, yaitu Juluk Adok atau Bejuluk Beadok, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan. Keempat unsur tersebut saling berkaitan dalam membentuk perilaku sosial yang dianggap ideal dalam kehidupan masyarakat Lampung.[1][3]
Istilah dan pengertian
Istilah piil dalam konteks budaya Lampung berkaitan dengan kehormatan dan harga diri, sedangkan pesenggiri merujuk pada sikap mempertahankan martabat tersebut melalui perilaku yang sesuai dengan norma sosial. Karena itu, Piil Pesenggiri tidak semata-mata dipahami sebagai kebanggaan pribadi, melainkan sebagai seperangkat nilai yang menghubungkan kehormatan individu dengan tanggung jawab sosial.[2][3]
Penulisan istilah ini memiliki sejumlah variasi, antara lain Piil Pesenggiri, Pi'il Pesenggiri, dan bentuk pelafalan yang berbeda dalam sumber-sumber mengenai bahasa dan kebudayaan Lampung. Variasi tersebut berkaitan dengan perbedaan transliterasi, pelafalan, dan penulisan istilah Lampung dalam bahasa Indonesia.[3]
Unsur-unsur
Juluk Adok
Juluk Adok atau Bejuluk Beadok berkaitan dengan nama, gelar, kedudukan, dan identitas seseorang dalam lingkungan sosial serta adat. Dalam masyarakat Lampung, pemberian dan penggunaan gelar adat memiliki hubungan dengan kedudukan sosial dan tanggung jawab seseorang dalam lingkungan kekerabatan dan adat.[4]
Gelar dalam masyarakat Lampung tidak hanya menunjukkan identitas, tetapi juga dapat berkaitan dengan kewajiban sosial dan kedudukan seseorang dalam struktur adat. Oleh karena itu, unsur ini sering dikaitkan dengan upaya menjaga kehormatan pribadi dan keluarga dalam kehidupan bermasyarakat.
Nemui Nyimah
Nemui Nyimah berkaitan dengan sikap menerima, menghormati, dan memperlakukan orang lain dengan ramah serta terbuka. Nilai ini tercermin dalam hubungan bertamu, menerima tamu, menjalin silaturahmi, dan membangun hubungan sosial dengan anggota masyarakat lainnya.[1]
Dalam berbagai kajian mengenai masyarakat Lampung, Nemui Nyimah dipahami sebagai salah satu dasar hubungan sosial yang menekankan keramahan, penghormatan, dan kemurahan hati. Nilai tersebut juga dapat diterapkan dalam hubungan antara individu, keluarga, dan kelompok masyarakat.[5]
Nengah Nyappur
Nengah Nyappur berkaitan dengan keterlibatan seseorang dalam kehidupan sosial. Nilai ini mendorong seseorang untuk bergaul, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tanpa mengisolasi diri dari lingkungan sosialnya.[1]
Dalam konteks masyarakat yang mengalami mobilitas dan perubahan sosial, Nengah Nyappur juga digunakan dalam berbagai kajian sebagai konsep yang menjelaskan kemampuan masyarakat Lampung untuk berinteraksi dengan kelompok sosial lainnya. Penerapannya dapat terlihat dalam kegiatan kemasyarakatan, pendidikan, dan hubungan antarkelompok.[6]
Sakai Sambayan
Sakai Sambayan merupakan nilai yang berkaitan dengan kerja sama, saling membantu, dan gotong royong. Prinsip ini menekankan pentingnya kontribusi anggota masyarakat dalam menyelesaikan kepentingan atau persoalan bersama.[1]
Sakai Sambayan juga menjadi salah satu nilai yang sering dikaji dalam hubungannya dengan kehidupan sosial masyarakat Lampung, termasuk dalam pendidikan karakter dan hubungan antarmasyarakat.[7]
Piil Pesenggiri dan adat Lampung
Piil Pesenggiri berkaitan erat dengan sistem adat masyarakat Lampung, baik dalam lingkungan masyarakat adat Pepadun maupun Saibatin. Meskipun bentuk dan praktik adat kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan, berbagai penelitian menempatkan Piil Pesenggiri sebagai salah satu unsur penting dalam pembahasan mengenai falsafah hidup masyarakat Lampung secara umum.[3][8]
Dalam masyarakat adat, nilai-nilai tersebut tidak berdiri terpisah dari hubungan kekerabatan, gelar adat, lembaga penyimbang, upacara adat, dan berbagai bentuk sastra lisan. Karena itu, penerapan Piil Pesenggiri dapat berbeda menurut lingkungan adat, wilayah, dan konteks sosial masyarakat yang menggunakannya.[1]
Piil Pesenggiri dan Kuntara Raja Niti
Kuntara Raja Niti merupakan salah satu naskah atau kitab adat yang dibahas dalam penelitian mengenai sistem nilai dan hukum adat masyarakat Lampung. Sejumlah penelitian menghubungkan ajaran dalam Kuntara Raja Niti dengan prinsip Piil Pesenggiri dan nilai-nilai turunannya.[9]
Penelitian terhadap masyarakat adat Lampung di Pekon Marga Kaya menunjukkan bahwa Kuntara Raja Niti masih dikenal sebagai salah satu pedoman adat, sedangkan prinsip Piil Pesenggiri dan turunannya tetap digunakan dalam perilaku sosial masyarakat setempat. Hubungan antara keduanya, bagaimanapun, perlu dipahami dalam konteks tradisi adat dan sejarah pengetahuan masyarakat Lampung, bukan sebagai bukti bahwa seluruh bentuk Piil Pesenggiri modern berasal secara tunggal dari satu kitab.[10]
Kajian lain mengenai Kuntara Raja Niti juga menunjukkan penggunaannya sebagai sumber pembelajaran mengenai sejarah, adat, dan pendidikan karakter masyarakat Lampung.[11]
Piil Pesenggiri dalam sastra lisan
Nilai-nilai Piil Pesenggiri juga ditemukan dalam berbagai bentuk sastra lisan Lampung. Penelitian terhadap pepaccur masyarakat Lampung Pepadun, misalnya, menunjukkan adanya penyampaian nilai-nilai yang berkaitan dengan falsafah hidup dan norma sosial melalui tradisi lisan.[12]
Dalam masyarakat Lampung Saibatin, konsep Piil Pesenggiri juga dikaji melalui wawancan, yaitu salah satu bentuk sastra lisan yang digunakan dalam konteks adat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Piil Pesenggiri dapat muncul sebagai pesan etis dan sosial dalam karya sastra lisan.[13]
Fungsi sosial dan budaya
Piil Pesenggiri digunakan sebagai kerangka nilai dalam berbagai konteks kehidupan masyarakat Lampung. Penelitian mengenai mahasiswa Lampung di perantauan menunjukkan bahwa nilai tersebut tetap digunakan sebagai acuan perilaku sosial, meskipun penerapannya dapat menghadapi hambatan akibat perbedaan lingkungan sosial dan budaya.[1]
Dalam kajian resolusi konflik, Piil Pesenggiri juga dibahas sebagai sumber nilai yang dapat dipadukan dengan nilai agama dan Pancasila untuk membangun hubungan sosial dan menyelesaikan konflik di masyarakat. Penelitian mengenai konflik Semaka menunjukkan bahwa aktualisasi nilai tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan sosial dalam membangun perdamaian.[14]
Piil Pesenggiri juga menjadi objek penelitian dalam pendidikan. Sejumlah penelitian membahas integrasi nilai-nilainya dalam pembelajaran sejarah dan pendidikan karakter sebagai salah satu cara untuk mempertahankan pengetahuan mengenai kearifan lokal Lampung.[15]
Hubungan dengan agama dan nilai Pancasila
Hubungan antara Piil Pesenggiri dengan Islam menjadi salah satu tema dalam kajian filsafat dan kebudayaan Lampung. Himyari Yusuf berpendapat bahwa nilai-nilai Piil Pesenggiri dapat dibaca secara filosofis sebagai sesuatu yang koheren dengan sejumlah nilai Islam dan juga memiliki relevansi dengan nilai-nilai Pancasila.[3]
Penelitian lain mengenai Piil Pesenggiri dalam konteks moderasi beragama juga mengkaji hubungan antara falsafah tersebut dengan praktik keberagamaan masyarakat Lampung. Kajian tersebut menempatkan Piil Pesenggiri sebagai bagian dari hubungan antara nilai lokal, moralitas, dan kehidupan keagamaan masyarakat Lampung.[16]
Namun, hubungan tersebut merupakan hasil penafsiran dan kajian akademik terhadap nilai budaya Lampung. Oleh karena itu, hubungan antara Piil Pesenggiri, Islam, dan Pancasila tidak perlu dipahami sebagai satu sistem ajaran yang identik, melainkan sebagai kajian mengenai persinggungan nilai dalam kehidupan masyarakat.
Perubahan dan perkembangan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan dan penerapan Piil Pesenggiri mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Nilai-nilai tersebut tidak hanya digunakan dalam lingkungan adat, tetapi juga dibahas dalam pendidikan, kehidupan mahasiswa di perantauan, penyelesaian konflik, serta pembangunan kebudayaan daerah.[2][6][1]
Perubahan konteks sosial tersebut tidak serta-merta menghilangkan fungsi Piil Pesenggiri. Sebaliknya, sejumlah penelitian melihatnya sebagai sistem nilai yang terus ditafsirkan kembali sesuai dengan kebutuhan masyarakat Lampung pada masa kini.[5]
Dalam kebudayaan kontemporer
Piil Pesenggiri masih digunakan sebagai konsep dalam penelitian mengenai identitas budaya, sastra lisan, pendidikan, kehidupan masyarakat adat, dan hubungan sosial. Penelitian mengenai representasi falsafah hidup Lampung dalam karya sastra, misalnya, menunjukkan bahwa unsur Piil Pesenggiri dan tiga nilai turunannya dapat direpresentasikan melalui perilaku tokoh dan hubungan antarmanusia.[17]
Dengan demikian, Piil Pesenggiri tidak hanya menjadi konsep dalam sistem adat, tetapi juga menjadi objek kajian dalam ilmu sosial, filsafat, pendidikan, hukum adat, sastra, dan kebudayaan.
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Minandar, Camelia Arni (2018). "Aktualisasi Piil Pesenggiri sebagai Falsafah Hidup Mahasiswa Lampung di Tanah Rantau". Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi. 8 (2): 517–528. doi:10.17509/sosietas.v8i2.14594.
- 1 2 3 4 Yusuf, Himyari (2007). "Dimensi Aksiologis Filsafat Hidup Piil Pesenggiri dan Relevansinya terhadap Pengembangan Kebudayaan Daerah Lampung". Jurnal Filsafat. 17 (3): 282–295. doi:10.22146/jf.3423.
- 1 2 3 4 5 Yusuf, Himyari (2016). "Nilai-nilai Islam dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung". Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam. 10 (1): 167–192. doi:10.24042/klm.v10i1.340.
- ↑ Yusha, Fitria; Sinaga, Risma Margaretha; Widodo, Tri (2021). "Kedudukan Anak Perempuan dalam Sistem Pewarisan pada Adat Ulun Lampung Saibatin di Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat". Socia: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial. 18 (1): 1–13. doi:10.21831/socia.v18i1.39763.
- 1 2 Utari, Marza; Agustina, Dhita Aulia; Widodo, Mulyanto; Prayogi, Rahmat (2025). "Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Masyarakat Lampung sebagai Basis Ketahanan Budaya di Era Globalisasi". Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah. 10 (4): 1863–1871. doi:10.34125/jkps.v10i4.1054.
- 1 2 Fachruddin, Fachruddin (2007). "Falsafah Piil Pesenggiri sebagai Kearifan Kota Lampung Teraktualisasi melalui Pendidikan Non Formal". Perspektif Ilmu Pendidikan. 15 (8): 71–75. doi:10.21009/PIP.151.12.
- ↑ Bujuri, Dian Andesta; Muqowim, Muqowim; Baiti, Masnun; Handayani, Tutut; Saputra, Agra Dwi; Shawmi, Ayu Nur; Fidian, Abron (2023). "Environmental-Based Character Education: Implementation of Lampung Society Life Philosophy Values (Piil Pesenggiri) In Elementary School". International Journal of Elementary Education. 7 (2): 238–247. doi:10.23887/ijee.v7i2.59250.
- ↑ Irianto, Sulistyowati; Margaretha, Risma (2011). "Piil Pesenggiri: Modal Budaya dan Strategi Identitas Ulun Lampung". Makara Sosial Humaniora. 15 (2): 140–150.
- ↑ Isdiyanto, Ilham Yuli; Alwajdi, Muhammad Farid; Nur, Muhammad (2023). "The Existence of Kuntara Raja Niti Book in the Value System of Lampung Society in Pekon Marga Kaya". Sosial Budaya. 20 (1): 1–14. doi:10.24014/sb.v20i1.19599.
- ↑ Isdiyanto, Ilham Yuli; Alwajdi, Muhammad Farid; Nur, Muhammad (2023). "The Existence of Kuntara Raja Niti Book in the Value System of Lampung Society in Pekon Marga Kaya". Sosial Budaya. 20 (1): 1–14. doi:10.24014/sb.v20i1.19599.
- ↑ Utami, Indah (2018). "Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Sejarah Berbasis Kitab Kuntara Raja Niti". Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia. 1 (1): 63–74. doi:10.17977/um0330v1i1p63-74.
- ↑ Ratnaningsih, Dwi (2019). "Piil Pesenggiri dalam Sastra Lisan Pepaccur Masyarakat Lampung Pepadun". Jurnal Pesona. 5 (1): 1–9.
- ↑ Fakhrurozi, Jafar; Puspita, Eka (2021). "Konsep Piil Pesenggiri dalam Sastra Lisan Wawancan Lampung Saibatin". Jurnal Pesona. 7 (1): 1–13. doi:10.52657/jp.v7i1.1376.
- ↑ Kesuma, Tubagus Ali Rachman Puja; Cicilia, Deri (2017). "Piil Pesenggiri: Strategi Resolusi Konflik Menggunakan Nilai-Nilai Agama dan Pancasila". Jurnal Masyarakat dan Budaya. 19 (2): 237–254. doi:10.14203/jmb.v19i2.394.
- ↑ Meihan, Andre Mustofa (2023). "Pembelajaran Sejarah Terintegrasi Nilai-Nilai Falsafah Piil Pesenggiri sebagai Wujud Menjaga Eksistensi Kearifan Lokal Lampung". Socia: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial. 20 (2). doi:10.21831/socia.v20i2.65810.
- ↑ "Examining Piil Pesenggiri Philosophy of Life Concept in the Context of Religious Moderation". Analisis: Jurnal Studi Keislaman. 22 (1): 1–20. 2022. doi:10.24042/ajsk.v22i1.12445.
- ↑ Sunarsih, Sunarsih (2021). "Representasi Falsafah Hidup Masyarakat Lampung dalam Novel Kembara Rindu". Narasi: Jurnal Literasi, Media, & Budaya.
Bacaan lebih lanjut
- Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju, 1989.
- Iskandar Syah, Sejarah Kebudayaan Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung, 1999.
- Hilman Hadikusuma, Kuntara Raja Niti. Lampung, 1986.
- Sulistyowati Irianto dan Risma Margaretha, Piil Pesenggiri: Modal Budaya dan Strategi Identitas Ulun Lampung, 2011.
- Himyari Yusuf, Adat Lampung Pepadun dalam Tinjauan Filsafat Hukum. Yogyakarta: Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2004.