
Tari Melinting adalah tari tradisional masyarakat Lampung yang berkembang di wilayah Lampung Timur, terutama di kawasan Melinting dan Labuhan Maringgai. Tari ini berkaitan dengan masyarakat adat Melinting dan secara historis berhubungan dengan Keratuan Melinting.[1][2]
Pada awal perkembangannya, Tari Melinting merupakan bagian dari kegiatan adat di lingkungan Keratuan Melinting dan memiliki fungsi yang terbatas. Dalam perkembangannya, tari ini mengalami perubahan fungsi, bentuk penyajian, busana, iringan musik, serta unsur pertunjukan lainnya dan kemudian dipentaskan dalam berbagai kegiatan masyarakat.[1][2]
Tari Melinting ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2014 dengan nomor registrasi 201400115 dalam domain seni pertunjukan.[3][4]
Sejarah
- Asal-usul
Sejarah Tari Melinting berkaitan erat dengan sejarah masyarakat adat Melinting di Lampung Timur. Penelitian T. Dibyo Harsono menyebut bahwa tari ini berkembang dalam lingkungan Keratuan Melinting dan pada awalnya berfungsi sebagai bagian dari tata cara adat masyarakat Melinting.[1]
Sejumlah penelitian mengenai sejarah tari menyebut bahwa perkembangan awal Tari Melinting dikaitkan dengan masa pemerintahan Pangeran Panembahan Mas dalam silsilah Keratuan Melinting pada abad ke-16. Dalam beberapa sumber tradisi lokal, Pangeran Panembahan Mas disebut sebagai tokoh yang menciptakan atau mengembangkan tari tersebut untuk kepentingan upacara adat.[1][5]
Riwayat tersebut juga muncul dalam penelitian mengenai sistem pewarisan Tari Melinting. Penelitian tersebut mengaitkan tari dengan Ratu Melinting dan Pangeran Panembahan Mas, serta menyebut perubahan fungsi tari setelah berkembangnya Islam di lingkungan Keratuan Melinting.[6]
Karena sumber mengenai penciptaan tari sebagian bersumber dari tradisi lisan, silsilah adat, dan penelitian etnografis, keterangan mengenai tokoh pencipta dan waktu penciptaannya tidak selalu dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang telah diverifikasi secara independen. Penelitian modern lebih banyak membahasnya sebagai bagian dari sejarah dan ingatan budaya masyarakat Melinting.[1][2]
Perkembangan di masyarakat
Pada masa awal, Tari Melinting dipentaskan dalam lingkungan Keratuan Melinting dan berkaitan dengan pelaksanaan Gawi Adat. Penarinya berasal dari lingkungan tertentu yang mempunyai hubungan dengan keratuan.[1][5]
Perubahan sosial menyebabkan fungsi tari berkembang dari pertunjukan yang terbatas dalam lingkungan adat menjadi kesenian yang dapat dipertunjukkan kepada masyarakat umum. Perubahan tersebut juga memengaruhi bentuk koreografi, busana, iringan, pola lantai, serta tata penyajiannya.[2]
Perubahan fungsi tersebut tidak berarti seluruh unsur adatnya hilang. Sejumlah penelitian masih menemukan hubungan antara Tari Melinting dan identitas masyarakat adat Melinting, khususnya di Desa Wana dan kawasan Lampung Timur.[7]
Fungsi
Pada lingkungan adat, Tari Melinting berfungsi sebagai bagian dari upacara adat Keratuan Melinting. Penelitian mengenai aspek sosiologis tari menunjukkan bahwa fungsi tersebut merupakan bagian dari kedudukan Tari Melinting dalam kehidupan masyarakat Melinting.[5]
Dalam perkembangan berikutnya, Tari Melinting berfungsi sebagai seni pertunjukan dan hiburan. Tari ini dapat dipentaskan dalam kegiatan kebudayaan, acara masyarakat, dan penyambutan tamu.[2][1]
Perubahan fungsi tersebut merupakan salah satu bentuk perkembangan kesenian tradisional Lampung. Indra Bulan dan rekan-rekannya mencatat perubahan pada hampir seluruh unsur pertunjukan, termasuk penari, gerak, pola lantai, tata rias, busana, musik pengiring, dan hubungan dengan penonton.[2]
Bentuk pertunjukan
Penari
Dalam bentuk pertunjukan yang banyak didokumentasikan, Tari Melinting ditampilkan oleh delapan orang penari yang terdiri atas empat penari laki-laki dan empat penari perempuan.[8]
Jumlah penari dan susunan pertunjukan dapat mengalami perubahan bergantung pada konteks pementasan. Penelitian mengenai perkembangan Tari Melinting menunjukkan bahwa bentuk penyajiannya telah mengalami penyesuaian seiring perubahan fungsi dan lingkungan pertunjukan.[2]
Gerak
Koreografi Tari Melinting memiliki perbedaan gerak antara penari laki-laki dan perempuan. Gerak, teknik, pola lantai, serta penggunaan properti menjadi unsur penting dalam struktur pertunjukan.[8]
Penelitian mengenai simbol dan makna gerak Tari Melinting pada masyarakat adat Lampung Saibatin di Desa Wana mengaitkan berbagai gerak dengan nilai etika, karakter, dan harga diri dalam kebudayaan masyarakat Lampung.[7]
Penelitian lain mengenai nilai Piil Pesenggiri pada Tari Melinting juga menunjukkan bahwa tari tersebut dapat dipahami sebagai media representasi nilai budaya masyarakat Lampung.[9]
Properti
Kipas merupakan salah satu properti yang digunakan dalam pertunjukan Tari Melinting. Penggunaan kipas berkaitan dengan sejumlah ragam gerak dan menjadi salah satu unsur visual dalam koreografi tari.[8]
Busana
Busana Tari Melinting menggunakan unsur busana adat Lampung. Pada penari perempuan digunakan hiasan kepala yang dikenal sebagai siger Melinting, sedangkan penari laki-laki menggunakan perlengkapan kepala dan busana adat sesuai bentuk pertunjukan.[8]
Penelitian mengenai perkembangan tari menunjukkan bahwa busana Tari Melinting mengalami perubahan dari bentuk pertunjukan tradisional menuju bentuk pertunjukan panggung modern, meskipun unsur identitas budaya Lampung tetap dipertahankan.[2]
Musik pengiring
Musik merupakan bagian penting dari pertunjukan Tari Melinting. Penelitian mengenai bentuk musik pengiring mencatat adanya unsur musikal dan nonmusikal dalam penyajiannya, termasuk instrumen, tabuhan, tempat pertunjukan, pemain, tata letak, busana, dan unsur pendukung lainnya.[10]
Instrumen yang digunakan dalam penyajian musik Tari Melinting antara lain talo, kendang, canang, dan gong. Penelitian musikal juga mendokumentasikan berbagai bentuk tabuhan yang digunakan untuk mengiringi tari.[10]
Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat penggunaan musik pengiring berupa kolintang yang terbuat dari perunggu dalam deskripsi Tari Melinting.[4]
Perbedaan penyebutan instrumen dalam berbagai sumber dapat berkaitan dengan perubahan bentuk penyajian, istilah lokal, dan perkembangan ensambel pengiring. Karena itu, jenis instrumen sebaiknya dipahami berdasarkan konteks pertunjukan dan periode penelitian masing-masing sumber.[2][10]
Makna dan simbol
Tari Melinting tidak hanya dipelajari sebagai bentuk seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media ekspresi nilai budaya masyarakat Lampung. Penelitian di Desa Wana menemukan adanya hubungan antara simbol gerak dan nilai etika serta identitas masyarakat adat Lampung Saibatin.[7]
Penelitian mengenai Piil Pesenggiri menemukan bahwa nilai-nilai budaya tersebut dapat tercermin melalui gerak dan penyajian Tari Melinting. Nilai yang dibahas antara lain berkaitan dengan kehormatan, perilaku sosial, dan hubungan antarmanusia dalam masyarakat Lampung.[9]
Makna tersebut tidak bersifat terpisah dari konteks sosial tempat tari dipertunjukkan. Perubahan fungsi Tari Melinting dari lingkungan keratuan menuju panggung publik turut memengaruhi cara masyarakat memaknai dan menyajikannya.[2]
Perubahan bentuk dan fungsi
Tari Melinting mengalami perubahan dalam bentuk maupun fungsi pertunjukannya. Penelitian Indra Bulan menunjukkan perubahan tersebut terjadi pada aspek penari, gerak, pola lantai, tata rias, busana, musik, penonton, dan unsur pendukung pertunjukan.[2]
Perubahan tersebut berkaitan dengan proses pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional. Tari Melinting yang sebelumnya mempunyai fungsi adat yang terbatas kemudian dapat dipentaskan dalam kegiatan kebudayaan dan pertunjukan umum.[1]
Perubahan tersebut juga terlihat dalam proses pewarisan tari. Tari Melinting diajarkan kepada generasi baru melalui lembaga kebudayaan, sanggar, seniman, dan kegiatan pendidikan seni.[6]
Pewarisan dan pelestarian
Pelestarian Tari Melinting dilakukan melalui pewarisan keterampilan tari, pertunjukan, penelitian, dokumentasi, serta kegiatan pendidikan seni. Taman Budaya Provinsi Lampung menjadi salah satu lembaga yang berkaitan dengan proses pewarisan dan pengembangan seni pertunjukan Lampung.[6]
Penelitian mengenai Tari Melinting di Desa Wana juga menunjukkan bahwa keberadaan tari masih berkaitan dengan identitas masyarakat adat setempat.[7]
Pemerintah dan seniman Lampung turut berperan dalam pengembangan dan pelestarian Tari Melinting melalui berbagai kegiatan seni dan kebudayaan.[2]
Penetapan Tari Melinting sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014 merupakan salah satu bentuk pengakuan pemerintah terhadap keberadaan dan nilai budaya tari tersebut.[3]
Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Tari Melinting ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2014. Dalam katalog WBTB Indonesia, Tari Melinting tercatat dengan nomor registrasi 201400115, berasal dari Provinsi Lampung, dan termasuk dalam domain Seni Pertunjukan.[4]
Penetapan tersebut menempatkan Tari Melinting bersama sejumlah karya budaya Lampung lain yang ditetapkan sebagai WBTB pada periode yang sama, antara lain Lamban Pesagi, Gamolan, Muayak, dan Sigeh Penguten.[3]
Status tersebut merupakan pengakuan sebagai warisan budaya takbenda dan tidak berarti bahwa seluruh bentuk pertunjukan Tari Melinting harus tetap tidak berubah. Penelitian mengenai perkembangannya justru menunjukkan adanya perubahan bentuk dan fungsi dari waktu ke waktu.[2]
Tari Melinting dalam penelitian
Tari Melinting telah menjadi objek penelitian dalam berbagai bidang. Penelitian sejarah dan budaya membahas hubungan tari dengan masyarakat Melinting dan Keratuan Melinting, sedangkan penelitian seni membahas koreografi, musik, simbol, fungsi, dan perubahan bentuk pertunjukan.[1][2]
Kajian koreografi Rahma Fatmala membahas struktur gerak dan unsur pertunjukan Tari Melinting di Labuhan Maringgai.[8]
Kajian musik oleh Rizki Adi Suseno, Hasyimkan, dan Erizal Barnawi membahas struktur musik pengiring serta unsur musikal dan nonmusikal dalam pertunjukan Tari Melinting.[10]
Sementara itu, penelitian sosial dan budaya di Desa Wana membahas simbol, makna, dan nilai Piil Pesenggiri yang tercermin dalam tari tersebut.[7][9]
Lihat pula
- Lampung
- Lampung Timur
- Keratuan Melinting
- Taman Purbakala Pugung Raharjo
- Piil Pesenggiri
- Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Harsono, T. Dibyo (2014). "Tari Melinting: Seni Tari Tradisional Lampung Timur". Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research. 6 (1): 123–134. doi:10.30959/patanjala.v6i1.190.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bulan, Indra (2019). "Tari Melinting: Di Masa Lalu dan Masa Kini". Jurnal Seni Tari. 8 (1): 95–102. doi:10.15294/jst.v8i1.24899.
- 1 2 3 "Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2014". Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Direktorat Jenderal Kebudayaan.
- 1 2 3 Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018: Buku Dua. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2018. hlm. 61.
- 1 2 3 Windriana, Erni (2012). Tinjauan Sosiologis Tari Melinting di Desa Maringgai Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur (Skripsi). Universitas Negeri Yogyakarta.
- 1 2 3 Sistem Pewarisan Tari Melinting di Taman Budaya Provinsi Lampung (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia.
- 1 2 3 4 5 Prabowo, Ade; Imron, Ali; Susanto, Henry (2018). "Simbol dan Makna Tari Melinting pada Masyarakat Adat Lampung Saibatin di Desa Wana". PESAGI. 6 (4).
- 1 2 3 4 5 Fatmala, Rahma (2019). "Analisis Koreografi Tari Melinting Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur". Joged. 10 (1): 91–101. doi:10.24821/joged.v10i1.2810.
- 1 2 3 Juwita, Dwi Tiya; Cahyono, Agus; Jazuli, Muhammad (2017). "Nilai-nilai Piil Pesenggiri pada Tari Melinting di Desa Wana Lampung Timur". Catharsis. 6 (1). doi:10.15294/catharsis.v6i1.17035.
- 1 2 3 4 Suseno, Rizki Adi; Hasyimkan; Barnawi, Erizal (2025). "Analisis Bentuk Musik Pengiring Tari Melinting di Kabupaten Lampung Timur". Journal of Music Education and Performing Arts. 6 (1): 1–21. doi:10.23960/jmepa.v6i1.1764.