Selasa, 22 September 2026
08:03 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Siger

Siger

Siger
120px-Wedding_in_action.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siger Sunda
250px-Kvinnlig_serimpi--dansare_p%C3%A5_Java._Akvarell_med_accentuering_av_gouache._01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siger Jawa
60px-WikiBusanding_-_Siger_Pepadun_%282%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siger Lampung
250px-Indon%C3%A9sien%2C_Bali_Sanur_415.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siger Bali
JenisPenutup kepala tradisional / perhiasan kepala adat
BahanLogam (emas, perak, tembaga, kuningan, dsb.), terkadang dihiasi batu permata[1]
Tempat asalIndonesia; dikenal pada budaya Sunda, Jawa, Bali, Betawi, dan Lampung
PemanufakturSuku Sunda, Jawa, Bali, Betawi, dan Lampung[2]

Siger (bahasa Sunda:ᮞᮤᮌᮦᮁ, translit. sigeur; Abung:(60px-Lampung-sigokh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail), translit. sigokh) adalah perhiasan kepala khas Indonesia (yang lazimnya dikenakan oleh wanita) yang umumnya dibuat dari bahan logam (emas, perak, tembaga, kuningan, dsb), berbentuk melekuk dan terkadang menyerupai fauna (terutama kerbau dan burung), dan terkadang dihiasi dengan batu permata.[1] Siger dijumpai dalam berbagai tradisi busana adat di Nusantara—dari Sunda, Jawa, Bali, hingga Lampung—dengan bentuk, bahan, dan makna filosofis yang berbeda-beda menurut wilayah dan kelompok etnisnya, namun umumnya berfungsi sebagai penanda kehormatan, status sosial, dan kesucian bagi pemakainya, terutama pengantin wanita.

Terminologi

250px-Tari_Jurit_Ampil_Kridha_Warastra_%282%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Salah satu tipe siger khas suku Jawa

Istilah "siger" secara etimologinya merupakan sebuah kata serapan dalam bahasa Indonesia yang diserap dari pengistilahan bahasa bahasa Sunda:ᮞᮤᮌᮦᮁ, translit. siger (atau terkadang juga dieja sebagai sigeur), yang memiliki arti "batas" atau "pemosisian", yang mana sejatinya merupakan sebuah kata kependekan dari ᮞᮤᮔᮦᮌᮦᮁ (sineger), yang memiliki arti "sangkar", "jalan", "pengurung"; merujuk kepada siger yang 'mengurung' kepala, istilah tersebut sejatinya juga merujuk kepada sistem kearifan lokal masyarakat etnis Sunda dan Baduy[3]:1–17 yang menekankan kepada 'pengurungan' hawa nafsu duniawi (yang dimanifestasikan melalui pernikahan),[4]:57–73 jadi secara umum siger dapat dimaknai sebagai simbolisasi untuk 'mengurung' atau mencegah hawa nafsu seksual sembarangan (melalui perkawinan yang sah).[5]:106–116

Pengistilahan siger tersebut juga dapat ditemui dalam bahasa serumpunnya; yakni bahasa Jawa dan Bali (maupun Betawi), yang tentunya memiliki makna yang serupa. Dalam bahasa Jawa secara spesifik, ꦱꦶꦒꦼꦂ (siger) diturunkan dari istilah ꦱꦶꦤꦼꦁꦏꦼꦂ (sinengker) yang memiliki makna harfiah "tersembunyi", "tertutup", atau "rahasia" (pengistilahan untuk keris juga berhubungan dengan istilah ini),[6]:149–158 hal tersebut juga menjadikan siger terkadang dieja juga sebagai ꦱꦶꦁꦏꦼꦂ (singker) oleh masyarakat etnis Jawa, yang menariknya memiliki arti "sangkar" serupa dengan pengistilahan Sunda. Sedangkan masyarakat etnis Betawi lebih dikenali sebagai siangko dalam bahasa Betawi, yang juga memiliki makna serupa.

Pada masyarakat Lampung, istilah ini dikenal sebagai sigokh (60px-Lampung-sigokh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail), sigekh, atau sigeh dalam bahasa Lampung.[7] Penggunaan istilah tersebut tidak terbatas pada satu golongan adat saja, melainkan digunakan baik oleh masyarakat beradat Saibatin maupun beradat Pepadun, meskipun bentuk dan jumlah lekuknya berbeda antarkeduanya (lihat bagian Suku Lampung di bawah).[7]

Jenis siger

Secara umum, siger dikenakan dalam berbagai acara sakral yang menonjolkan segi kebudayaan, salah satunya yakni lazim digunakan dalam pertunjukan kebudayaan dan prosesi seremonial pernikahan.

Suku Sunda

Bagi masyarakat etnis Sunda, siger merupakan mahkota pengantin wanita yang menjadi salah satu unsur terpenting dari busana adat pernikahan. Menurut Kamus Basa Sunda karya R.A. Danadibrata, siger didefinisikan sebagai mahkota berbahan logam yang diberi tambahan ornamen dan dikenakan oleh pengantin wanita.[8]

Secara historis, penggunaan siger Sunda dapat ditelusuri hingga masa kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda, ketika perempuan bangsawan—termasuk ratu dan putri keturunan kerajaan—mengenakannya sebagai lambang kekuasaan, kemuliaan, dan kedudukan tinggi; pada masa itu pemakaiannya terbatas hanya bagi kalangan istana, sebelum akhirnya meluas dan dapat dikenakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam pernikahan adat Sunda, meski sifatnya kini opsional.[9][10] Bentuk siger Sunda terinspirasi dari sosok ksatria perempuan dalam tradisi pewayangan, yaitu Subadra dan Srikandi, yang dikenal akan ketangguhan sekaligus keanggunannya; dari sinilah lahir filosofi bahwa perempuan Sunda memiliki kekuatan dan kebijaksanaan yang berjalan beriringan.[8][10]

Secara fisik, siger Sunda umumnya berbentuk segitiga dengan bobot berkisar 1–2 kilogram, dan menurut sejumlah sumber turut mendapat pengaruh dari nilai-nilai Islam yang berkembang di Tatar Sunda: bentuk segitiga yang menghadap ke atas ini ditafsirkan melambangkan keesaan Tuhan serta keyakinan bahwa setiap kehidupan manusia akan kembali kepada-Nya.[11][12] Berbagai ornamen pelengkap pada siger Sunda juga sarat makna filosofis: di bagian belakang mahkota umumnya terdapat enam pasang kembang tanjung berbentuk hati yang melambangkan kesetiaan pengantin wanita kepada suaminya, sementara di atas sanggul terpasang kembang goyang yang biasanya berjumlah tujuh tangkai (lima menghadap depan, dua menghadap belakang) sebagai simbol rezeki dan harapan kebaikan, serta ronce bunga melati yang menjuntai di sisi kepala sebagai lambang kesucian dan kemurnian hati pengantin.[12][10]

Suku Jawa

Pada masyarakat etnis Jawa, siger—yang dalam konteks ini kerap disebut pula dengan istilah jamang atau jamaus—biasanya digunakan sebagai hiasan kepala dalam pertunjukan tari klasik keraton, seperti tari Srimpi dan Bedhaya, yang umumnya ditampilkan di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta serta sekitarnya.[13] Jamang biasanya dikenakan dengan cara dilingkarkan di kepala seperti ikat kepala. Hiasan tersebut menutupi bagian dahi hingga pelipis dan dipadukan dengan busana tari lengkap.[14]

Selain dalam pertunjukan tari, unsur siger juga terintegrasi ke dalam tata rias pengantin keraton Jawa yang dikenal sebagai paes ageng (Yogyakarta) dan padanannya di Surakarta. Salah satu aksesori penting dalam paes ageng adalah gunungan atau pethat gunungan, hiasan kepala berbentuk menyerupai gunung yang dalam kepercayaan Jawa dianggap sebagai tempat sakral tempat bersemayamnya para dewa; kehadirannya pada kepala pengantin wanita melambangkan bahwa perempuan tersebut harus dihormati oleh suaminya sebagaimana gunung dihormati oleh masyarakat di sekitarnya.[15][16] Riasan ini dahulu hanya diperkenankan bagi putri-putri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sebelum akhirnya dibuka untuk masyarakat umum pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX.[15]

Aksesori lain yang menyertai jamang atau paes adalah cunduk mentul, tusuk sanggul berjumlah ganjil (tiga, lima, tujuh, atau sembilan) yang masing-masing jumlahnya membawa makna filosofis tersendiri—tiga melambangkan Trimurti, lima melambangkan rukun Islam, tujuh melambangkan pitulungan (pertolongan), dan sembilan melambangkan Wali Songo—dan selalu dipasang menghadap ke belakang sebagai simbol bahwa kecantikan perempuan Jawa harus terpancar baik dari arah depan maupun belakang.[17]

Selain itu, siger juga kerap digunakan dalam adat maupun ritus pernikahan khas Jawa Timur; diantaranya adalah adat Malang Keprabon,[18] Malang Keputren,[19] Sidoarjo Putri Jenggolo,[20] Blitar Kartika Rukmi, Blitar Kresnayana, dan lain sebagainya.[21] Dalam bahasa Jawa dialek timur, istilah siger (atau terkadang juga dieja sebagai singker ataupun singkar) juga memiliki sinonim; diantaranya yakni jamang (ꦗꦩꦁ) ataupun jamaus (ꦗꦩꦲꦸꦱ꧀).[22]

Suku Bali

Pada masyarakat etnis Bali, hiasan kepala sejenis siger dikenal dengan istilah gelungan, dan umumnya digunakan dalam pertunjukan tari-tarian klasik Bali seperti tari Legong, tari Pendet, dan tari Manuk Rawa; siger yang digunakan dalam tari Manuk Rawa memiliki karakteristik khas berbentuk burung air. Gelungan dianggap sebagai bagian paling suci dari kostum tari, karena kepala dipandang sebagai bagian tubuh yang paling suci dalam kepercayaan masyarakat Bali; dahulu gelungan dibuat dari emas, namun kini umumnya dibuat dari kulit yang diukir dan dilapisi cat atau prada emas, dihiasi permata imitasi serta bunga segar seperti cempaka atau kamboja yang disebut srinata.[23][24]

Terdapat beberapa jenis gelungan sesuai jenis tarian yang dibawakan. Gelungan legong sambeh bintang, misalnya, dibuat dari janur atau daun ron dengan hiasan plendo dan daun puring, berbentuk menyerupai uang kepeng, diwarnai putih, hijau, dan merah, serta dilengkapi bunga sebagai pelengkap. Sementara itu, gelungan papundakan memiliki mahkota berbentuk segitiga pada bagian belakang dan umumnya dikenakan ketika pementasan tari Legong Keraton, sedangkan gelungan pepusungan ditandai dengan lipatan rambut pada bagian belakang yang dihiasi bunga kamboja.[25][26] Di sejumlah desa adat di Bali, gelungan yang digunakan dalam pertunjukan sakral bahkan disimpan di tempat tinggi dan dihormati di area pura, mencerminkan status gelungan bukan sekadar aksesori pertunjukan melainkan benda yang dianggap suci.[23]

Suku Lampung

Pada masyarakat suku Lampung, Siger Lampung (60px-Lampung-sigokh.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail/sigokh/sigekh) merupakan mahkota adat yang digunakan terutama oleh mempelai wanita dalam prosesi pernikahan serta dalam berbagai upacara adat lainnya. Siger Lampung umumnya dibuat dari lempengan tembaga, kuningan, atau logam lain yang disepuh warna keemasan—dan pada masa lampau kadang dari emas asli—dengan berat yang menurut sejumlah sumber dapat mencapai sekitar 3 kilogram tergantung jenis dan ukurannya.[27] Bagi masyarakat adat Lampung, benda ini bersifat sakral, bukan sekadar aksesori.[2]

Secara sosial, masyarakat adat Lampung terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Saibatin (pesisir) dan Pepadun (pedalaman), dan siger yang dikenakan oleh keduanya berbeda bentuk maupun makna simbolisnya, meskipun keduanya sama-sama berfungsi sebagai artefak pemersatu identitas kelampungan secara keseluruhan.[28] Secara filosofis, lekukan pada siger juga dikaitkan dengan sistem Juluk Adok atau tradisi pemberian gelar, salah satu unsur dari falsafah hidup Piil Pesenggiri yang dianut masyarakat Lampung; tiap lekuk menggambarkan posisi, peran, dan tanggung jawab penyandang gelar (penyimbang), dengan ukuran lekuk yang semakin memendek sesuai urutan tingkatan gelarnya.[29]

Terdapat tiga hingga empat jenis siger utama yang dikenal dalam masyarakat adat Lampung:[30][31]

  • Siger Saibatin dikenakan oleh masyarakat adat Saibatin di wilayah pesisir, berbentuk segitiga dengan tujuh lekuk simetris (sigokh lekuk pitu), masing-masing dihiasi ornamen menyerupai batang pohon sekala. Ketujuh lekuk tersebut melambangkan tujuh gelar adat pesisir—di antaranya disebutkan sebagai Minak, Kimas, Mas/Inton, Suttan/Dalom, Raja Jukuan/Dipati, Batin, dan Radin—yang secara tradisional hanya boleh disandang oleh keturunan langsung keluarga bangsawan (adok).[31][2][29] Kelengkungannya yang condong ke belakang juga ditafsirkan menggambarkan watak masyarakat Saibatin yang dianggap lebih lembut dan halus dibanding Pepadun, tercermin pula dari intonasi bicara yang cenderung lebih pelan.[31][32]
  • Siger Pepadun (Siger Abung) dikenakan oleh masyarakat adat Pepadun, termasuk sub-etnis Abung (Abung Siwo Megou), berbentuk menyerupai buah sekala dengan sembilan lekuk (sigekh lekuk siwo). Kesembilan lekuk ini melambangkan sembilan marga yang membentuk kelompok Abung Siwo Megou, menunjukkan hierarki sosial, persatuan, dan solidaritas antarmarga, sekaligus mencerminkan watak masyarakat Pepadun yang dianggap lebih tegas dan kuat; menurut tradisi lisan, bentuknya berasal dari Kerajaan Sekala Bekhak yang dipercaya sebagai cikal bakal masyarakat Lampung.[31][33]
  • Siger Tuha dianggap sebagai bentuk siger tertua, dipercaya telah ada sejak masa animisme serta pengaruh Hindu-Buddha di Lampung. Bentuknya menyerupai buah sekala dengan tambahan hiasan pohon sekala di bagian atasnya, dan secara tradisional hanya disimpan di lingkungan Kesultanan Paksi Pak Sekala Bekhak; hanya keturunan bangsawan Saibatin yang berhak mengenakannya, sebanding dengan mahkota para raja.[34]
  • Siger Melinting merupakan varian siger yang berkembang pada masyarakat adat Melinting di kawasan Lampung Timur, dan turut disebutkan sebagai salah satu ragam siger khas selain Siger Tuha, Saibatin, dan Pepadun.[35]

Siger Lampung juga menjadi ikon visual provinsi tersebut. Bentuknya diadaptasi menjadi Menara Siger di Bukit Gamping, Bakauheni, Lampung Selatan—bangunan setinggi 110 meter di atas permukaan laut yang dirancang oleh arsitek Ir. H. Anshori Djausal dan diresmikan pada 30 April 2008 oleh Gubernur Lampung saat itu, Sjachroedin Z.P.—sekaligus menjadi penanda titik nol Jalan Lintas Sumatera di sisi selatan.[36][37] Bentuk menara ini mengadaptasi mahkota pengantin wanita Lampung dengan sembilan kerucut kuning keemasan berderet, yang pucuknya melambangkan sembilan bahasa yang ada dalam masyarakat Lampung.[38] Selain itu, motif siger juga diaplikasikan pada batik Lampung, lukisan, gapura, logo pemerintah daerah, produk UMKM, hingga aksesoris fesyen modern.[39]

Referensi

  1. 1 2 Wibisana, Wahyu (1986). Arti Perlambang Dan Fungsi Tata Rias Pengantin Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Budaya Daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  2. 1 2 3 "Mengenal Siger Lampung: Fungsi, Jenis, dan Maknanya bagi Suku Lampung". detik.com. Detikcom. 2023. Diakses tanggal 2026-09-15.
  3. Alfrianto, Kristoforus (2020). "Makna Nilai Silas dalam Perkawinan Katolik Sunda" (dalam bahasa Inggris and Bahasa Indonesia). 15 (1). Sineger tengah sendiri artinya adalah jalan tengah. Orang Kenekes (Baduy) juga menyebutnya sebagai Siger Tengah.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  4. Djunatan, Stephanus (2009). "The Nuance of Affirmation: The Epistemological Foundation of Sundanese Wisdom" [Nuansa Penegasan: Landasan Epistemologi Kearifan Sunda] (dalam bahasa Inggris and Bahasa Indonesia). 25 (1). The term siger tengah, or 'comprehensive awareness', is the third feature, which maintains both sides and simultaneously causes them to correlate.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  5. Sumardjo, Jakob (2018). "Revitalisasi Kearifan Lokal Sunda". Jurnal Budaya Nusantara (dalam bahasa Inggris and Bahasa Indonesia). 1 (2).
  6. "Pelestarian Budaya Keris di Surakarta pada Era Masa Kini". Jurnal Seni Rupa dan Desain. 2021.{{cite web}}: |url= tidak ada atau kosong
  7. 1 2 Handirzon, Mirzon (2017). "Makna Filosofis Sigokh Pada Masyarakat Adat Lampung Saibatin (Studi Pada Marga Pugung Penengahan Kecamatan Lemong Kabupaten Pesisir Barat)". Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  8. 1 2 "Siger, Simbol Wibawa, Kehormatan dan Kesetiaan Pengantin Adat Sunda". rri.co.id. RRI. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  9. "Sejarah Siger Sunda, Mahkota untuk Pengantin Wanita". harapanrakyat.com. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  10. 1 2 3 "Sejarah dan Filosofi Siger Sunda, Mahkota Cantik dalam Pernikahan Adat Jawa Barat". zonabogor.com. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  11. "Sejarah dan Makna di Balik Siger Sunda yang Memesona". weddingmarket.com. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
  12. 1 2 "Sejarah dan Makna Siger Sunda untuk Pengantin Wanita". orami.co.id. Orami. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  13. "Fungsi Tari Serimpi, Warisan Budaya Adiluhung Keraton Jawa". liputan6.com. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  14. "Nilai Dan Filosofi Tari Bondan". magelangnews.com. 2023. Diakses tanggal 2026-09-15.
  15. 1 2 "Mengupas Tuntas Makna Paes Ageng Jogja. Riasan Cantik Pengantin ala Kraton Yogyakarta". weddingmarket.com. 2022. Diakses tanggal 2026-09-15.
  16. "Makna Filosofis Rias Paes Ageng Jogja". einvite.id. Diakses tanggal 2026-09-15.
  17. "Makna Riasan Pengantin Jawa, Setiap Detail Mengandung Filosofi". merdeka.com. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
  18. "Pakaian Pengantin Malang Keprabon". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2016.
  19. "Keanggunan Dalam Busana Pengantin Malang Keputren". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2016.
  20. "Pengantin Putri Jenggolo, Tatacara Perkawinan di Sidoarjo". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. 2019.
  21. "Jarang Terekspos, 6 Riasan Pengantin Adat Jawa Timur Ini Keren Parah". idntimes.com. Jawa Timur: IDN TIMES. 2020.
  22. "Adat Kemanten Malang". jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id. Malang: Dinas Perpustakaan & Kearsipan Jawa Timur. 2012.
  23. 1 2 "Tari Legong Khas Bali, Ini Sejarah, Gerakan, Makna Filosofi dan Keunikan Kostumnya". id.theasianparent.com. 2021. Diakses tanggal 2026-09-15.
  24. "Legong: Keagungan Tari Klasik Bali dalam Nuansa Merah Muda". guru.solusijodoh.com. Diakses tanggal 2026-09-15.
  25. "Sejarah Tari Legong dan Perkembangannya di Masa Kini". gramedia.com. Gramedia Literasi. Diakses tanggal 2026-09-15.
  26. "Tari Legong : Sejarah, Tujuan, Ciri, Makna & Properti". hotelier.id. 2024. Diakses tanggal 2026-09-15.
  27. "Pesona Mahkota Siger Lampung: Simbol Keagungan dan Rahasia di Balik Motifnya". eviindrawanto.com. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
  28. Ciciria (2015). "Siger Sebagai Wujud Seni Budaya Pada Masyarakat Multietnik di Provinsi Lampung". ResearchGate.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  29. 1 2 "Simbol Siger Sebagai Wujud Seni Budaya Pada Masyarakat Multietnik di Provinsi Lampung" (PDF). Waqaf Ilmu Nusantara. Diakses tanggal 2026-09-15.
  30. "Mengenal Siger Lampung, Mahkota Kepala yang Jadi Ikon Lampung". detik.com. Detikcom. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  31. 1 2 3 4 "Siger Sebagai Simbol Kultural: Analisis Bentuk Dan Filosofi Pada Tradisi Adat Lampung". Jurnal Manajemen Pendidikan. STKIP Pesisir Selatan.
  32. "5 Jenis Siger Lampung: Bentuk dan Maknanya". lampung.idntimes.com. IDN Times Lampung. Diakses tanggal 2026-09-15.
  33. "Mengenal Siger Lampung, Mahkota Kepala yang Jadi Ikon Lampung". detik.com. Detikcom. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  34. "Mengenal Lebih Jauh Siger – Mahkota Adat Khas Lampung". alyntapis.com. Kerajinan Tapis Lampung. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  35. "Mengenal Lebih Jauh Siger – Mahkota Adat Khas Lampung". alyntapis.com. Kerajinan Tapis Lampung. 2025. Diakses tanggal 2026-09-15.
  36. "Sejarah dan Makna Menara Siger Lampung, Destinasi Ikonik yang Wajib Dikunjungi". detik.com. Detikcom. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
  37. "Menara Siger". id.wikipedia.org. Wikipedia bahasa Indonesia. Diakses tanggal 2026-09-15.
  38. "Menara Siger, Simbol Identitas di Ujung Tenggara Lampung". indonesiakaya.com. Diakses tanggal 2026-09-15.
  39. "Siger Lampung: Sejarah, Makna, dan Filosofi Mahkota Ikonik dari Bumi Ruwa Jurai". intilampung.com. Inti Lampung. 2026. Diakses tanggal 2026-09-15.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan