Hidangan berkuah manis gurih dengan potongan daging ayam | |
| Tempat asal | Indonesia |
|---|---|
| Daerah | Gresik, Jawa Timur |
| Suhu penyajian | Suhu Hangat |
| Bahan utama | Daging Ayam, Daun Bawang, Jintan Putih, Gula Merah, Santan, Garam |
| Hidangan serupa | Opor Ayam |
Sanggring, atau yang dikenal sebagai Kolak Ayam Gumeno, merupakan tradisi kuliner khas Desa Gumeno, Gresik, yang memiliki nilai sejarah tinggi. Secara etimologi, namanya berasal dari kata "Sang" (Raja) dan "Gring" (Sakit), merujuk pada peristiwa kesembuhan Sunan Dalem (putra Sunan Giri) setelah mengonsumsi hidangan ini atas petunjuk Allah SWT. Tradisi ini dijaga keasliannya dengan aturan khusus: hanya boleh dimasak oleh laki-laki dalam keadaan suci (berwudhu) menggunakan tungku kayu bakar. Berkat nilai historis dan budayanya, Sanggring telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2019.[1]
Asal Mula Sanggring
Gresik dikenal kaya akan tradisi khas selama bulan suci, salah satunya adalah ritual Sanggring atau yang akrab disebut Kolak Ayam. Perayaan unik ini rutin diselenggarakan oleh masyarakat Desa Gumeno, Manyar, setiap memasuki malam ke-23 Ramadan.[2]
Secara etimologi, nama "Sanggring" berasal dari perpaduan kata Sang (penguasa/raja) dan Gring (sakit), yang secara harfiah bermakna "obat bagi raja yang tengah sakit". Kuliner tradisional ini tercatat mulai eksis sejak 22 Ramadan 946 H, atau tepatnya pada tanggal 31 Januari 1540 M.[2]
Tradisi ini bermula saat Sunan Ndalem, penguasa Giri Kedaton, menderita sakit yang tak kunjung sembuh meski telah mencoba berbagai penawar. Di tengah keputusasaan tersebut, putra Sunan Giri ini memperoleh petunjuk untuk membuat ramuan khusus berupa kolak dengan campuran daging ayam.[2]
Dalam proses pembuatannya, Sunan Ndalem menginstruksikan para santri laki-laki untuk meracik masakan tersebut. Hidangan ini tergolong sangat unik karena mengombinasikan bahan-bahan seperti ketan, santan, jinten, daun bawang, gula merah, serta penggunaan daging ayam kampung sebagai komponen utamanya.[2]
Setelah mengonsumsi Kolak Ayam tersebut, atas izin Allah, kesehatan Sunan Ndalem pun berangsur pulih. Sebagai bentuk rasa syukur dan upaya pelestarian, beliau kemudian meminta warga sekitar untuk terus menghidangkan kolak tersebut setiap malam ke-23 di bulan Ramadan.[2]
Bahan Sanggriang
- 1/2 kg gram daging ayam[3]
- 2 sdt jintan putih[3]
- 35 gram gula merah[3]
- 120 gram bawang daun[3]
- 800 ml santan encer[3]
- 1/2 sdt garam[3]
- 1 sdt penyedap rasa[3]
Pembuatan Sanggring
Panaskan jintan, tambahkan santan, dan didihkan. Masak ayam bersama gula merah dan kaldu hingga setengah matang. Beri garam dan daun bawang, lalu masak kembali sampai daging ayam empuk. Koreksi rasa dan sajikan.[3]
Referensi
- ↑ Gresik, Diskominfo. "Kolak Ayam (Sanggring) - Disparekrafbudpora". Diskominfo Gresik (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-01-23.
- 1 2 3 4 5 Anggoro, Yudhi Dwi. "Sejarah Tradisi Sanggring Kolak Ayam Gumeno Gresik Digelar Setiap 23 Ramadan - Radar Gresik". Sejarah Tradisi Sanggring Kolak Ayam Gumeno Gresik Digelar Setiap 23 Ramadan - Radar Gresik. Diakses tanggal 2026-01-23.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Fauziah, Putri Intan Nur (2023-05-16). "Resep Kolak Ayam Khas Gresik, Rasanya Autentik Banget". IDN Times. Diakses tanggal 2026-01-23.