Minggu, 18 Oktober 2026
11:03 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Neurosis

Bagikan:
60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel bertopik psikiatri atau psikologi ini tidak dimaksudkan sebagai acuan analisa atau penentuan pengobatan atas kondisi diri sendiri atau orang lain. Silakan berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis yang berwenang melakukan hal tersebut. Silakan baca juga halaman mengenai sangkalan medis

Neurosis adalah istilah umum yang merujuk pada gangguan jiwa karena adanya stress jangka panjang, tetapi tidak seperti psikosis yang melibatkan delusi atau halusinasi. Neurosis tidak memengaruhi pemikiran rasional, sehingga beberapa pasien yang mengalami neurosis masih dapat bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan wajar tanpa terlihat bermasalah.

Istilah ini telah dihapuskan dari DSM sejak diterbitkannya DSM-III pada tahun 1980, dimana istilah payung "neurosis" mulai ditinggalkan dan dipecah ke diagnosis yang lebih spesifik dan berbasis gejala empiris, seperti gangguan kecemasan dan fobia.[1] Sejak itu, istilah neurosis tidak digunakan lagi oleh komunitas psikiater di Amerika Serikat meskipun masih terdapat beberapa kontroversi terkait hal tersebut. Di sisi lain, istilah neurosis masih dipakai dalam ICD-10 serta komunitas psikolog di Indonesia. Hal itu dilakukan psikolog untuk membedakan penanganan pasien neurosis dengan pasien psikosis yang membutuhkan pengobatan dari psikiater untuk mengurangi gejala psikotik khususnya halusinasi.

Gejala Neurosis

[2]Diagnosis neurosis dipertimbangkan dengan munculnya salah satu gejala atau ciri berikut:

  • Kecemasan atau ketakutan tanpa alasan yang jelas.
  • Kekhawatiran dan rasa bersalah yang berlebihan.
  • Kecenderungan terhadap emosi dan reaksi negatif.
  • Marah dan mudah tersinggung.
  • Kesadaran diri dan harga diri yang rendah.
  • Reaksi yang buruk terhadap stres.
  • Depresi.
  • Ketidakstabilan emosi.

Sejarah

Istilah neurosis berasal dari kata Yunani νεῦρον (neuron, "saraf") dan -ωσις -osis (kondisi sakit atau abnormal). Istilah neurosis diciptakan oleh dokter Skotlandia bernama William Cullen pada 1769 untuk merujuk pada "gangguan indera dan gerak". Cullen menggunakan istilah ini untuk menggambarkan berbagai gangguan dan gejala saraf yang tidak dapat dijelaskan secara fisiologis. Arti istilah ini didefinisikan ulang oleh Carl Jung dan Sigmund Freud pada awal dan pertengahan abad ke-20. Istilah ini terus digunakan dalam psikologi dan filsafat.[3]

Referensi

  1. ↑ Frances, Allen (1990-01-01). "Classification of anxiety disorders: From Freud to DSM-IV". Journal of Psychiatric Research. 24: 9–10. doi:10.1016/0022-3956(90)90068-2. ISSN 0022-3956.
  2. ↑ "Neurosis: Gejala, Penyebab, Jenis dan Pengobatan | Rumah Sakit Apollo". www.apollohospitals.com. Diakses tanggal 2026-09-26.
  3. ↑ Russon, John (2003). Human Experience: Philosophy, Neurosis, and the Elements of Everyday Life. State University of New York Press. ISBN 0-7914-5754-0.


Ikon rintisan

Artikel bertopik psikologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan