Jumat, 06 November 2026
03:35 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Delusi

Hal-hal berkaitan tentang delusi atau waham

Bagikan:

Delusi[a] atau waham adalah keyakinan tetap yang tidak dapat diubah meskipun terdapat bukti yang bertentangan.[2] Sebagai suatu patologi (gangguan delusi), delusi berbeda dari keyakinan yang didasarkan pada informasi palsu atau tidak lengkap, konfabulasi, dogma, ilusi, halusinasi, atau efek menyesatkan lainnya dari persepsi, karena individu dengan keyakinan-keyakinan tersebut dapat mengubah atau menyesuaikan kembali keyakinan mereka setelah meninjau bukti yang ada. Namun:

"Pembedaan antara delusi dan gagasan yang dipegang teguh terkadang sulit dilakukan dan sebagian bergantung pada tingkat keyakinan yang dipertahankan meskipun terdapat bukti kontradiktif yang jelas atau masuk akal mengenai kebenarannya."[2]

Delusi terjadi dalam konteks banyak kondisi patologis (baik fisik maupun mental secara umum) dan memiliki kepentingan diagnostik khusus dalam gangguan psikotik termasuk skizofrenia, parafrenia, episode manik dari gangguan bipolar,[3][4] dan depresi psikotik.

Jenis

Delusi dikategorikan ke dalam empat kelompok yang berbeda:

Delusi aneh
Delusi dianggap aneh jika jelas-jelas tidak masuk akal, tidak dapat dipahami oleh rekan sesama budaya, serta tidak berasal dari pengalaman hidup sehari-hari.[5] Contoh yang disebutkan oleh DSM-5 adalah keyakinan bahwa seseorang telah mengganti seluruh organ dalam seseorang dengan organ orang lain tanpa meninggalkan bekas luka, tergantung pada organ yang dimaksud.
Delusi tidak aneh
Delusi yang, meskipun palsu, mencerminkan situasi kehidupan nyata dan setidaknya secara teknis mungkin terjadi; ini dapat mencakup perasaan diikuti, diracuni, dijangkiti infeksi, dan sebagainya.[6] misalnya, orang yang terdampak secara keliru percaya bahwa mereka berada di bawah pengawasan polisi secara terus-menerus.
Delusi kongruen suasana hati
Delusi apa pun dengan isi yang konsisten dengan kondisi depresif atau manik, misalnya seseorang yang mengalami depresi percaya bahwa pembaca berita di televisi sangat tidak menyukai dirinya, atau seseorang dalam kondisi manik mungkin percaya bahwa ia adalah dewa yang berkuasa.
Delusi netral suasana hati
Delusi yang tidak berkaitan dengan kondisi emosional pasien; misalnya, keyakinan bahwa ada anggota tubuh tambahan yang tumbuh di bagian belakang kepala bersifat netral, baik terhadap depresi maupun mania.[7]

Meskipun demikian, psikiatri Prancis (yang dipengaruhi oleh psikoanalisis) juga membedakan antara delusi "paranoid" (paranoïde) dan "paranoiak" (paranoïaque).[8][9] Delusi paranoid, yang teramati pada skizofrenia, tidak tersistematisasi serta ditandai oleh struktur yang tidak terorganisasi dan tuturan serta pikiran yang bingung.[10] Sementara itu, delusi paranoiak, yang teramati pada parafrenia, sangat tersistematisasi (artinya sangat terorganisasi dan jelas) serta berfokus pada satu tema tunggal.

Tema

Selain kategori-kategori ini, delusi sering kali bermanifestasi sesuai dengan tema yang konsisten. Meskipun delusi dapat memiliki tema apa pun, tema-tema tertentu lebih umum terjadi. Beberapa tema delusi yang lebih umum meliputi:

  • Waham kendali: Keyakinan palsu bahwa orang lain, sekelompok orang, atau kekuatan luar mengendalikan pikiran, perasaan, impuls, atau perilaku seseorang secara umum.[7]
  • Waham cemburu: Keyakinan palsu bahwa pasangan atau kekasih berselingkuh, tanpa adanya bukti yang mendukung klaim tersebut.[7]
  • Waham dosa atau rasa bersalah (atau waham tuduhan diri): Perasaan menyesal atau bersalah yang tidak berdasar dengan intensitas delusional.[7]
  • Penyiaran pikiran: Keyakinan palsu bahwa orang lain dapat mengetahui pikiran seseorang.[7]
  • Waham sisipan pikiran: Keyakinan bahwa orang lain berpikir melalui pikiran seseorang atau memproyeksikan pikiran ke dalam pikiran orang tersebut.[7]
  • Waham kejaran: Keyakinan palsu bahwa seseorang sedang dianiaya.
  • Waham rujukan: Keyakinan palsu bahwa ucapan, peristiwa, atau objek yang tidak signifikan di lingkungan seseorang memiliki makna atau signifikansi pribadi. "Biasanya makna yang dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa ini bersifat negatif, tetapi 'pesan-pesan' tersebut juga dapat memiliki kualitas kebesaran."[7]
  • Erotomania: Keyakinan palsu bahwa orang lain mencintai dirinya, biasanya tokoh yang kaya, terkenal, atau berkuasa [Contoh: Raja Inggris].[7]
  • Waham agama: Keyakinan bahwa orang yang terdampak adalah dewa atau dipilih untuk bertindak sebagai dewa.[11]
  • Waham somatik: Delusi yang isinya berkaitan dengan fungsi tubuh, sensasi tubuh, atau penampilan fisik. Biasanya keyakinan palsu tersebut berupa tubuh yang secara tertentu berpenyakit, tidak normal, atau berubah.[7] Contoh spesifik dari delusi ini adalah parasitosis delusional: delusi ketika seseorang merasa dihinggapi oleh serangga, bakteri, tungau, laba-laba, kutu, pinjal, cacing, atau organisme lainnya.
  • Waham kemiskinan: Seseorang sangat percaya bahwa dirinya tidak mampu secara finansial. Meskipun jenis delusi ini kurang umum sekarang, delusi ini sangat meluas pada masa-masa sebelum adanya bantuan negara.[12]

Waham kebesaran

Waham kebesaran utamanya merupakan salah satu subtipe gangguan delusi, tetapi dapat juga muncul sebagai gejala skizofrenia dan episode manik dari gangguan bipolar.[13] Waham kebesaran ditandai oleh keyakinan fantastis bahwa seseorang itu terkenal, mahakuasa, atau sangat berkuasa. Delusi ini umumnya bersifat fantastis, sering kali bercorak supranatural, fiksi ilmiah, atau keagamaan. Dalam penggunaan sehari-hari, seseorang yang menilai terlalu tinggi kemampuan, bakat, perawakan, atau situasinya sendiri terkadang dikatakan memiliki "delusi kebesaran". Hal ini umumnya disebabkan oleh rasa bangga berlebihan, alih-alih delusi yang sebenarnya. Waham kebesaran juga dapat dikaitkan dengan megalomania.[14]

Waham kejaran

Artikel utama: Waham kejaran

Waham kejaran merupakan jenis delusi yang paling umum terjadi dan melibatkan tema seperti diikuti, diganggu, ditipu, diracuni atau diberi obat-obatan, diincar oleh persekongkolan, diintai, diserang, atau dihalangi dalam berusaha mencapai tujuan. Orang yang terdampak oleh waham kejaran secara keliru percaya bahwa mereka sedang dipersekusi. Secara khusus, agar delusi seseorang dapat didefinisikan sebagai waham kejaran, mereka harus meyakini dua elemen sentral berikut:[15][halaman dibutuhkan]

  • bahaya sedang terjadi, atau akan terjadi
  • para pelaku memiliki niat untuk menyebabkan bahaya

Berdasarkan DSM-IV-TR, waham kejaran merupakan bentuk delusi yang paling umum pada skizofrenia, ketika penderita percaya bahwa mereka "sedang disiksa, diikuti, disabotase, ditipu, diintai, atau diolok-olok".[16] DSM-IV-TR juga mengidentifikasi waham kejaran sebagai ciri utama dari gangguan delusi tipe kejaran. Ketika fokusnya adalah memulihkan ketidakadilan melalui tindakan hukum, kondisi ini terkadang disebut sebagai "querulous paranoia".[17]

Penyebab

Meskipun menjelaskan penyebab delusi masih menjadi tantangan, para peneliti telah mengemukakan beberapa teori.[18][19] Teori genetik atau biologis menyatakan bahwa kerabat dekat dari penderita gangguan delusi memiliki peningkatan risiko untuk mengembangkan sifat-sifat delusional. Teori lainnya adalah pemrosesan kognitif yang disfungsional, yang berpandangan bahwa delusi muncul dari cara-cara yang terdistorsi saat individu memandang diri mereka sendiri. Teori ketiga adalah delusi bermotif atau defensif, yang menyatakan bahwa individu yang memiliki predisposisi terhadap gangguan delusi dapat mengembangkannya pada saat mereka berjuang untuk mengatasi kesulitan hidup dan mempertahankan harga diri yang tinggi. Dalam hal ini, penderita memandang orang lain sebagai penyebab kesulitan pribadinya demi mempertahankan konsep diri yang positif.[20]

Pemikiran delusional lebih umum terjadi pada orang-orang yang memiliki gangguan pendengaran atau penglihatan. Probabilitas berkembangnya delusi juga lebih tinggi ketika terdapat pemicu stres yang berlangsung terus-menerus, seperti imigrasi, status sosial ekonomi rendah, dan kemungkinan akumulasi dari perjuangan harian yang lebih kecil.[21]

Waham spesifik

Dua faktor terbesar dalam pembentukan waham adalah gangguan fungsi otak dan pengaruh latar belakang temperamen serta kepribadian.[22]

Tingkat dopamin yang lebih tinggi merupakan tanda gangguan fungsi otak. Sebuah studi awal pada tahun 2002 mengenai gangguan delusi (suatu sindrom psikotik) meneliti peran peningkatan kadar dopamin dalam mempertahankan waham tertentu, untuk memastikan apakah skizofrenia berkaitan dengan kelainan dopamin.[23] Hasil penelitian tersebut mengonfirmasi teori ini, yang menunjukkan bahwa individu dengan waham cemburu dan waham kejaran memiliki kadar metabolit dopamin HVA dan alkohol homovanilil yang berbeda; penyebab hal ini pada gilirannya mungkin bersifat genetik. Para penulis mengingatkan bahwa hasil tersebut masih bersifat awal dan menyerukan penelitian lebih lanjut dengan populasi yang lebih besar. Selain itu, faktor-faktor di luar dopamin juga memengaruhi perkembangan waham spesifik; penelitian menunjukkan bahwa usia[24][25] dan jenis kelamin berpengaruh, serta kadar HVA kemungkinan berubah sepanjang perjalanan hidup beberapa sindrom.[26]

Mengenai pengaruh kepribadian, Andrew Sims menulis: "Jaspers menganggap terdapat perubahan halus dalam kepribadian akibat penyakit itu sendiri; dan hal ini menciptakan kondisi bagi berkembangnya atmosfer delusional tempat intuisi delusional itu muncul."[27]

Faktor budaya memiliki "pengaruh yang menentukan dalam membentuk waham".[28] Sebagai contoh, waham dosa/rasa bersalah dan hukuman sering terjadi di Austria (sebuah negara Barat yang mayoritas beragama Kristen), tetapi tidak di Pakistan, yang wahamnya lebih sering mengenai penganiayaan/kejaran.[29] Demikian pula, dalam serangkaian studi kasus, waham dosa dan hukuman ditemukan pada pasien Austria penderita Penyakit Parkinson yang dirawat dengan L-DOPA, sebuah agonis dopamin.[30]

Patofisiologi

Model dua faktor dari waham mengajukan hipotesis bahwa disfungsi pada sistem pembentukan keyakinan maupun sistem evaluasi keyakinan diperlukan bagi munculnya waham. Studi pemindaian saraf mendukung pandangan bahwa disfungsi pada sistem evaluasi terlokalisasi pada korteks prafrontal lateral kanan, terlepas dari isi waham, dan hal ini sejalan dengan perannya dalam pemantauan konflik pada orang yang sehat. Aktivasi abnormal dan penurunan volume di wilayah ini terlihat pada orang dengan waham, serta pada gangguan yang terkait dengan waham seperti demensia frontotemporal, psikosis, dan demensia badan Lewy. Selain itu, lesi pada korteks prafrontal lateral kanan dikaitkan dengan perilaku "langsung mengambil kesimpulan" (jumping to conclusions), kerusakan pada wilayah ini dikaitkan dengan waham pascastrok, dan hipometabolisme di wilayah ini dikaitkan dengan strok kaudatus yang menyertakan gejala waham.[butuh rujukan]

Model saliensi penyimpangan (aberrant salience) menunjukkan bahwa waham merupakan hasil dari seseorang yang memberikan kepentingan berlebihan pada stimulus yang tidak relevan. Untuk mendukung hipotesis ini, wilayah yang biasanya dikaitkan dengan jaringan saliensi menunjukkan penurunan substansi abu-abu pada orang dengan waham, dan neurotransmiter dopamin, yang secara luas terlibat dalam pemrosesan saliensi, juga terlibat secara luas dalam gangguan psikotik.[31][32]

Kelainan di wilayah spesifik telah dikaitkan dengan jenis waham tertentu. Volume hipokampus dan parahipokampus berkaitan dengan waham paranoid pada penyakit Alzheimer, dan telah dilaporkan abnormal secara pascamati (post-mortem) pada seseorang dengan waham. Waham Capgras telah dikaitkan dengan kerusakan oksipito-temporal dan mungkin berkaitan dengan kegagalan untuk memicu emosi atau ingatan normal sebagai respons terhadap wajah.[33]

Definisi dan diagnosis

250px-Airloom.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
James Tilly Matthews mengilustrasikan gambar mesin yang disebut "air loom" ini, yang ia yakini digunakan untuk menyiksa dirinya dan orang lain demi tujuan politik.

Meskipun konsep nonspesifik mengenai kegilaan telah ada selama beberapa ribu tahun, psikiater dan filsuf Karl Jaspers adalah orang pertama yang mendefinisikan empat kriteria utama agar suatu keyakinan dianggap sebagai delusi dalam bukunya tahun 1913, General Psychopathology.[34] Kriteria-kriteria tersebut yaitu:

  1. kepastian (dipegang dengan keyakinan mutlak)
  2. ketidakterubahan (tidak dapat diubah oleh argumen tandingan yang meyakinkan atau bukti yang bertentangan)
  3. ketidakmungkinan atau kepalsuan isi (tidak masuk akal, aneh, atau jelas-jelas tidak benar)[35]
  4. tidak dapat dipahami (artinya keyakinan tersebut tidak dapat dijelaskan secara psikologis)[36]

Selain itu, ketika keyakinan melibatkan penilaian nilai, hanya keyakinan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya yang dianggap sebagai delusi. Sebagai contoh: seorang pria yang mengklaim bahwa ia terbang ke Matahari lalu terbang kembali ke rumah. Hal ini akan dianggap sebagai delusi,[37] kecuali jika ia berbicara secara kiasan, atau jika keyakinan tersebut berasal dari sumber budaya atau agama. Hanya tiga kriteria pertama yang tetap menjadi landasan definisi delusi saat ini dalam DSM-5.

Robert Trivers menulis bahwa delusi adalah diskrepansi dalam hubungannya dengan realitas objektif, tetapi dengan keyakinan yang teguh pada realitas gagasan delusional, yang diwujudkan dalam "dasar afektif delusi".[38]

Perdebatan mengenai definisi

Definisi modern dan kriteria asli Jaspers telah dikritik, karena contoh tandingan dapat ditunjukkan untuk setiap fitur penentunya.

Studi terhadap pasien psikiatri menunjukkan bahwa delusi bervariasi dalam hal intensitas dan keyakinan dari waktu ke waktu, yang mengindikasikan bahwa kepastian dan ketidakterubahan bukanlah komponen wajib dari keyakinan delusional.[39]

Delusi tidak selalu harus berupa kesimpulan yang palsu atau "tidak tepat mengenai realitas eksternal".[40] Beberapa keyakinan agama atau spiritual menurut sifatnya mungkin tidak dapat difalsifikasi, sehingga tidak dapat dijelaskan sebagai palsu atau tidak tepat, terlepas dari apakah orang yang memegang keyakinan tersebut didiagnosis mengalami delusi atau tidak.[41] Dalam situasi lain, delusi tersebut terbukti merupakan keyakinan yang benar.[42] Sebagai contoh, pada waham cemburu, ketika seseorang percaya bahwa pasangannya tidak setia (dan bahkan mungkin mengikutinya ke kamar mandi karena percaya bahwa pasangannya menemui kekasihnya bahkan dalam perpisahan yang singkat sekalipun), sebenarnya mungkin saja benar bahwa pasangannya melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Dalam kasus ini, delusi tersebut tidak berhenti menjadi delusi hanya karena isinya kemudian terbukti benar atau pasangannya memang memilih untuk melakukan perilaku yang dituduhkan.[butuh rujukan]

Dalam kasus lain, keyakinan tersebut mungkin secara keliru dianggap palsu oleh dokter atau psikiater yang menilainya, hanya karena keyakinan itu tampak tidak mungkin terjadi, aneh, atau dipegang dengan keyakinan yang berlebihan. Psikiater jarang memiliki waktu atau sumber daya untuk memeriksa keabsahan klaim seseorang, yang menyebabkan beberapa keyakinan yang benar secara keliru diklasifikasikan sebagai delusional.[43] Hal ini dikenal sebagai Efek Martha Mitchell, yang dinamai dari istri jaksa agung yang mengklaim bahwa kegiatan ilegal sedang terjadi di Gedung Putih. Pada saat itu, klaimnya dianggap sebagai tanda penyakit mental, dan baru setelah Skandal Watergate terkuak, ia terbukti benar (dan karenanya berakal sehat).[44]

Faktor-faktor serupa telah memicu kritik terhadap definisi delusi sejati menurut Jaspers yang dianggap pada akhirnya "tidak dapat dipahami". Para pengkritik (seperti R. D. Laing) berpendapat bahwa hal ini menyebabkan diagnosis delusi didasarkan pada pemahaman subjektif psikiater tertentu, yang mungkin tidak memiliki akses ke seluruh informasi yang dapat membuat suatu keyakinan dapat ditafsirkan secara lain. Hipotesis R. D. Laing telah diterapkan pada beberapa bentuk terapi proyektif untuk "memperbaiki" sistem delusional sehingga tidak dapat diubah oleh pasien. Peneliti psikiatri di Universitas Yale, Universitas Negeri Ohio, dan Community Mental Health Center of Middle Georgia telah menggunakan novel dan film layar lebar sebagai fokus utama. Teks, alur cerita, dan sinematografi didiskusikan, serta delusi didekati secara tangensial.[45] Penggunaan fiksi untuk mengurangi kelentukan (malleability) suatu delusi ini diterapkan dalam proyek bersama oleh penulis fiksi ilmiah Philip José Farmer dan psikiater Yale A. James Giannini. Mereka menulis novel Red Orc's Rage, yang secara rekursif membahas remaja delusional yang ditangani dengan bentuk terapi proyektif. Dalam latar fiktif novel ini, novel-novel lain yang ditulis oleh Farmer didiskusikan dan karakter-karakternya diintegrasikan secara simbolis ke dalam delusi pasien fiktif. Novel khusus ini kemudian diterapkan pada latar klinis kehidupan nyata.[46]

Kesulitan lain dalam diagnosis delusi adalah bahwa hampir semua ciri ini dapat ditemukan dalam keyakinan "normal". Banyak keyakinan agama yang memiliki ciri-ciri yang persis sama, namun tidak dianggap sebagai delusi secara universal. Sebagai contoh, jika seseorang memegang keyakinan yang benar, ia tentu saja akan tetap berpegang padanya. Hal ini dapat menyebabkan gangguan tersebut salah didiagnosis oleh psikiater. Faktor-faktor ini membuat psikiater Anthony David mencatat bahwa "tidak ada definisi delusi yang dapat diterima (alih-alih diterima secara umum)."[47] Dalam praktiknya, psikiater cenderung mendiagnosis suatu keyakinan sebagai delusional jika keyakinan tersebut jelas-jelas aneh, menyebabkan penderitaan yang signifikan, atau menyita perhatian pasien secara berlebihan, terutama jika orang tersebut selanjutnya tidak tergoyahkan keyakinannya oleh bukti tandingan atau argumen yang masuk akal.[butuh rujukan]

Psikiater Joseph Pierre menyatakan bahwa salah satu faktor yang membantu membedakan delusi dari jenis keyakinan lainnya adalah bahwa pengalaman subjektif yang anomali sering digunakan untuk membenarkan keyakinan delusional. Meskipun isi yang idiosinkratis dan merujuk pada diri sendiri sering membuat delusi tidak mungkin dibagikan kepada orang lain,[48] Pierre menyarankan bahwa mungkin lebih berguna untuk menekankan tingkat keyakinan, keterpakuan (preoccupation), dan jangkauan keyakinan daripada isi keyakinan tersebut ketika mempertimbangkan apakah suatu keyakinan bersifat delusional.[49]

Sangat penting untuk membedakan delusi sejati dari gejala lain seperti kecemasan, rasa takut, atau paranoia. Untuk mendiagnosis delusi, pemeriksaan status mental dapat digunakan. Tes ini mencakup penampilan, suasana hati, afek, perilaku, kecepatan dan kontinuitas tuturan, bukti adanya halusinasi atau keyakinan abnormal, isi pikiran, orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang, perhatian dan konsentrasi, daya nilai dan pertimbangan, serta memori jangka pendek.[50]

Johnson-Laird mengemukakan bahwa delusi dapat dipandang sebagai konsekuensi alami dari kegagalan dalam membedakan relevansi konseptual. Artinya, informasi yang tidak relevan akan dibingkai sebagai pengalaman yang terpisah, yang kemudian dianggap relevan sedemikian rupa sehingga menunjukkan hubungan kausal yang palsu. Lebih jauh lagi, informasi yang relevan akan diabaikan sebagai contoh tandingan.[51]

Pengobatan

Delusi dan gejala positif psikosis lainnya sering kali diobati dengan obat antipsikotik, yang mengurangi gejala dengan ukuran efek sedang berdasarkan sebuah meta-analisis.[52] Terapi perilaku kognitif (CBT) memperbaiki delusi relatif terhadap kondisi kontrol menurut sebuah meta-analisis.[53] Sebuah meta-analisis dari 43 penelitian melaporkan bahwa pelatihan metakognitif (MCT) mengurangi delusi pada ukuran efek sedang hingga besar relatif terhadap kondisi kontrol.[54]

Kritik

Beberapa psikiater mengkritik praktik mendefinisikan keyakinan yang sama persis sebagai hal yang normal dalam satu budaya dan patologis dalam budaya lain, dengan berargumen bahwa praktik tersebut didasarkan pada esensialisme budaya. Mereka berpendapat bahwa tidak dibenarkan untuk mengasumsikan bahwa budaya dapat disederhanakan menjadi beberapa faktor yang dapat dilacak, dibedakan, dan dikuantifikasi secara statistik, serta bahwa segala sesuatu di luar faktor-faktor tersebut pasti bersifat biologis; sebaliknya, pengaruh budaya bersifat campuran, yang tidak hanya mencakup orang tua dan guru, tetapi juga teman sebaya, sahabat, dan media, serta pengaruh budaya yang sama dapat memiliki efek yang berbeda tergantung pada pengaruh budaya sebelumnya. Psikiater kritis lainnya berpendapat bahwa hanya karena keyakinan seseorang tidak tergoyahkan oleh satu pengaruh tidak membuktikan bahwa keyakinan tersebut akan tetap tidak tergoyahkan oleh pengaruh lain. Sebagai contoh, seseorang yang keyakinannya tidak diubah oleh koreksi verbal dari psikiater, yang merupakan cara delusi biasanya didiagnosis, mungkin masih dapat mengubah pikirannya ketika mengamati bukti empiris; para pengkritik menyatakan bahwa psikiater jarang, atau bahkan tidak pernah, menyajikan bukti semacam itu kepada pasien.[55][56]

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Dari Latin delusio terj. har. 'menipu', dari deludere 'mengejek, menipu'[1]

Referensi

  1. ↑ Harper, Douglas. "delusion". Online Etymology Dictionary.
  2. 1 2 Bortolotti L (7 Juni 2013). "Delusions in the DSM 5". Imperfect Cognitions.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Dunayevich, Eduardo; Keck, Paul E. (2000). "Prevalence and description of psychotic features in bipolar mania". Current Psychiatry Reports. 2 (4): 286–290. doi:10.1007/s11920-000-0069-4. ISSN 1523-3812. PMID 11122970.
  4. ↑ Bergen, Annet H. van; Verkooijen, Sanne; Vreeker, Annabel; Abramovic, Lucija; Hillegers, Manon H.; Spijker, Annet T.; Hoencamp, Erik; Regeer, Eline J.; Knapen, Stefan E.; Lek, Rixt F. Riemersma-van der; Schoevers, Robert; Stevens, Anja W.; Schulte, Peter F. J.; Vonk, Ronald; Hoekstra, Rocco (2019). "The characteristics of psychotic features in bipolar disorder". Psychological Medicine (dalam bahasa Inggris). 49 (12): 2036–2048. doi:10.1017/S0033291718002854. hdl:11370/ed90f778-6ca7-4ea5-b21d-fab888721e7b. ISSN 0033-2917. PMID 30303059.
  5. ↑ Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5. American Psychiatric Association. 2013.
  6. ↑ Chowdhury, Arabinda N. (2019). Bedside Psychiatry (dalam bahasa Inggris). Jaypee Brothers Medical Publishers. hlm. 102. ISBN 978-93-5270-985-4.
  7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Delusions". Encyclopedia of Mental Disorders. Advameg.com. Diakses tanggal 2018-04-22.
  8. ↑ "Paranoïa (histoire du concept)". Universalis (dalam bahasa French).{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  9. ↑ Pirlot, Gérard; Cupa, Dominique (2019). "Chapitre 22. Psychoses passionnelles et délires paranoïaques". Approche psychanalytique des troubles psychiques. Dunod. hlm. 218–243.
  10. ↑ "Paranoïde". Larousse.
  11. ↑ Raja M, Azzoni A, Lubich L. "Religious delusion" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 Maret 2012. Diakses tanggal 17 April 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Barker, p.. 1997. Assessment in Psychiatric and Mental Health Nursing in Search of the Whole Person. UK: Nelson Thornes Ltd. p. 241.
  13. ↑ Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth edition Text Revision (DSM-IV-TR) American Psychiatric Association (2000)
  14. ↑ Kunert HJ, Norra C, Hoff P (Maret 2007). "Theories of delusional disorders. An update and review". Psychopathology. 40 (3): 191–202. doi:10.1159/000100367. PMID 17337940.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ Freeman D, Garety PA (2004). Paranoia: The Psychology of Persecutory Delusions. Hove: PsychoIogy Press. ISBN 1-84169-522-X.
  16. ↑ Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-IV. Washington, DC: American Psychiatric Association. 2000. hlm. 299. ISBN 0-89042-025-4.
  17. ↑ Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-IV. Washington, DC: American Psychiatric Association. 2000. hlm. 325. ISBN 0-89042-025-4.
  18. ↑ Kiran C, Chaudhury S (Januari 2009). "Understanding delusions". Industrial Psychiatry Journal. 18 (1): 3–18. doi:10.4103/0972-6748.57851. PMC 3016695. PMID 21234155.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ McKenna, Peter (2017-07-25). Delusions: Understanding the Un-understandable (Edisi 1). Cambridge University Press. doi:10.1017/9781139871785. ISBN 978-1-139-87178-5.
  20. ↑ "Delusional Disorder". Diakses tanggal 6 Agustus 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. ↑ Kingston C, Schuurmans-Stekhoven J (Desember 2016). "Life hassles and delusional ideation: Scoping the potential role of cognitive and affective mediators". Psychology and Psychotherapy. 89 (4): 445–463. doi:10.1111/papt.12089. PMID 26846698.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Sims A (2002). Symptoms in the mind: an introduction to descriptive psychopathology. Philadelphia: W. B. Saunders. hlm. 127. ISBN 0-7020-2627-1.
  23. ↑ Morimoto K, Miyatake R, Nakamura M, Watanabe T, Hirao T, Suwaki H (Juni 2002). "Delusional disorder: molecular genetic evidence for dopamine psychosis". Neuropsychopharmacology. 26 (6): 794–801. doi:10.1016/S0893-133X(01)00421-3. PMID 12007750.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. ↑ Mazure CM, Bowers MB (Februari 1998). "Pretreatment plasma HVA predicts neuroleptic response in manic psychosis". Journal of Affective Disorders. 48 (1): 83–86. doi:10.1016/S0165-0327(97)00159-6. PMID 9495606.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ Yamada N, Nakajima S, Noguchi T (Februari 1998). "Age at onset of delusional disorder is dependent on the delusional theme". Acta Psychiatrica Scandinavica. 97 (2): 122–124. doi:10.1111/j.1600-0447.1998.tb09973.x. PMID 9517905. S2CID 39266698.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. ↑ Tamplin A, Goodyer IM, Herbert J (Februari 1998). "Family functioning and parent general health in families of adolescents with major depressive disorder". Journal of Affective Disorders. 48 (1): 1–13. doi:10.1016/S0165-0327(97)00105-5. PMID 9495597.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ Sims A (2002). Symptoms in the mind: an introduction to descriptive psychopathology. Philadelphia: W. B. Saunders. hlm. 128. ISBN 0-7020-2627-1.
  28. ↑ Draguns JG, Tanaka-Matsumi J (Juli 2003). "Assessment of psychopathology across and within cultures: issues and findings". Behaviour Research and Therapy. 41 (7): 755–776. doi:10.1016/S0005-7967(02)00190-0. PMID 12781244.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  29. ↑ Stompe T, Friedman A, Ortwein G, Strobl R, Chaudhry HR, Najam N, Chaudhry MR (1999). "Comparison of delusions among schizophrenics in Austria and in Pakistan". Psychopathology. 32 (5): 225–234. doi:10.1159/000029094. PMID 10494061. S2CID 25376490.
  30. ↑ Birkmayer W, Danielczyk W, Neumayer E, Riederer P (1972). "The balance of biogenic amines as condition for normal behaviour". Journal of Neural Transmission. 33 (2): 163–178. doi:10.1007/BF01260902. PMID 4643007. S2CID 28152591.
  31. ↑ Kapur, Shitij (2003). "Psychosis as a State of Aberrant Salience: A Framework Linking Biology, Phenomenology, and Pharmacology in Schizophrenia". American Journal of Psychiatry. 160 (1): 13–23. doi:10.1176/appi.ajp.160.1.13. PMID 12505794.
  32. ↑ "State-like changes in the salience network correlate with delusion severity in first-episode psychosis patients". NeuroImage: Clinical. 2022. Diakses tanggal September 1, 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  33. ↑ Naasan G. "The Anatomy of Delusions". Dalam Lehner T, Miller B, State M (ed.). Genomics, Circuits, and Pathways in Clinical Neuropsychiatry. Elsevier Science. hlm. 366–369.
  34. ↑ Jaspers K (1913). Allgemeine Psychopathologie: Ein Leitfaden für Studierende, Ärzte und Psychologen. Berlin: J. Springer.
  35. ↑ Jaspers 1997, hlm. 106
  36. ↑ Walker C (November 1991). "Delusion: what did Jaspers really say?". The British Journal of Psychiatry. Supplement. 159 (14): 94–103. doi:10.1192/S0007125000296566. PMID 1840789. S2CID 43018033.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  37. ↑ "Terms in the Field of Psychiatry and Neurology". Diarsipkan dari asli tanggal 19 Agustus 2010. Diakses tanggal 6 Agustus 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  38. ↑ Trivers R (2002). Natural Selection and Social Theory: Selected Papers of Robert Trivers. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-513062-1.
  39. ↑ Myin-Germeys I, Nicolson NA, Delespaul PA (April 2001). "The context of delusional experiences in the daily life of patients with schizophrenia". Psychological Medicine. 31 (3): 489–498. doi:10.1017/s0033291701003646. PMID 11305857. S2CID 25884819.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  40. ↑ Spitzer M (1990). "On defining delusions". Comprehensive Psychiatry. 31 (5): 377–397. doi:10.1016/0010-440X(90)90023-L. PMID 2225797.
  41. ↑ Young AW (2000). "Wondrous strange: The neuropsychology of abnormal beliefs". Dalam Coltheart M., Davis M. (ed.). Pathologies of belief. Oxford: Blackwell. hlm. 47–74. ISBN 0-631-22136-0.
  42. ↑ Jones E (1999). "The phenomenology of abnormal belief". Philosophy, Psychiatry, & Psychology. 6: 1–16.
  43. ↑ Maher BA (1988). "Anomalous experience and delusional thinking: The logic of explanations". Dalam Oltmanns T., Maher B. (ed.). Delusional Beliefs. New York: Wiley Interscience. ISBN 0-471-83635-4.
  44. ↑ Colman, Andrew M. (2015). A dictionary of psychology. Oxford quick reference (Edisi 4th). Oxford: Oxford University Press. hlm. 441. ISBN 978-0-19-965768-1.
  45. ↑ Giannini AJ (2001). "Use of fiction in therapy". Psychiatric Times. 18 (7): 56.
  46. ↑ Giannini AJ (1991). "Afterword". Dalam Farmer PJ (ed.). Red Orc's Rage. NY: Tor Books. hlm. 279–282.
  47. ↑ David AS (1999). "On the impossibility of defining delusions". Philosophy, Psychiatry, & Psychology. 6 (1): 17–20.
  48. ↑ Aftab A (2021). "There and Back Again: Joseph Pierre, M.D." Psychiatric Times. 38 (1).
  49. ↑ Pierre JM (Mei 2001). "Faith or delusion? At the crossroads of religion and psychosis". Journal of Psychiatric Practice. 7 (3): 163–172. doi:10.1097/00131746-200105000-00004. PMID 15990520. S2CID 22897500.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  50. ↑ "Diagnostic Test List for Delusions". Diakses tanggal 6 Agustus 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  51. ↑ Mujica-Parodi, L.R.; Sackeim, Harold A. (2001). "Cultural Invariance and the Diagnosis of Delusions". The Journal of Neuropsychiatry and Clinical Neurosciences. 13 (3). American Psychiatric Association Publishing: 403–409. doi:10.1176/jnp.13.3.403-a. ISSN 0895-0172. Lihat bagian "A New Definition of Delusional Ideation in Terms of Model Restriction".
  52. ↑ Huhn M, Nikolakopoulou A, Schneider-Thoma J, Krause M, Samara M, Peter N, et al. (September 2019). "Comparative efficacy and tolerability of 32 oral antipsychotics for the acute treatment of adults with multi-episode schizophrenia: a systematic review and network meta-analysis". Lancet (dalam bahasa English). 394 (10202): 939–951. doi:10.1016/S0140-6736(19)31135-3. PMC 6891890. PMID 31303314.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  53. ↑ Mehl S, Werner D, Lincoln TM (2019-08-28). "Corrigendum: Does Cognitive Behavior Therapy for psychosis (CBTp) show a sustainable effect on delusions? A meta-analysis". Frontiers in Psychology. 10 1868. doi:10.3389/fpsyg.2019.01868. PMC 6724716. PMID 31555162.
  54. ↑ Penney D, Sauvé G, Mendelson D, Thibaudeau É, Moritz S, Lepage M (Maret 2022). "Immediate and Sustained Outcomes and Moderators Associated With Metacognitive Training for Psychosis: A Systematic Review and Meta-analysis". JAMA Psychiatry. 79 (5): 417–429. doi:10.1001/jamapsychiatry.2022.0277. PMC 8943641. PMID 35320347.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  55. ↑ Double D (2006). Critical Psychiatry: The Limits of Madness. Springer. ISBN 978-0-230-59919-2.
  56. ↑ Davidson G, Campbell J, Shannon C, Mulholland C (Desember 2015). Models of mental health. Macmillan International Higher Education. ISBN 978-1-137-36591-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Teks dikutip

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Wikikutip memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Delusi.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan