Sabtu, 07 November 2026
04:56 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Skrupulositas

Skrupulositas

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025)
Lukisan Mezzotint tentang seorang lelaki dengan jubah dan rambut panjang. Dia berumur sekitar 50 tahun dengan ekspresi tenang di wajah bulatnya. Tangan kirinya memegang sandaran lengan kursinya, dan kanannya memegang lipatan salah satu jubahnya di dada.
John Moore (shown ca 1691–1703) adalah penemu Skrupel pertama kali, menyebutnya sebagai "melankolis religius".[1]

Skrupel (Scrupulosity) adalah sebuah penyakit jiwa yang terjadi ketika seseorang mengalami ketakutan, dengan sadar, namun dihantui sebuah perbuatan atau perasaan berdosa padahal ia sendiri tidak berdosa, atau melakukan dosa ringan (menurut Katolik pada zamannya) namun merasa menanggung dosa yang sangat berat.[2] Oleh karena itu, dalam tradisi Katolik, ia boleh dan seharusnya memercayakan dirinya kepada Tuhan (Bapa) dengan cara melakukan pengakuan dosa (biasanya di bilik pengakuan).[2] Skruple adalah sebuah kelainan psikologi patologis karena perasaan bersalah, terkait moral dan isu agama.[2] Gangguan ini merupakan tekanan yang dirasakan secara personal, mengakibatkan gangguan obyektif, dan sering mengganggu pergaulan sosialnya.[3] Kelainan tersebut termasuk dalam konsep sebagai sebuah gangguan moral dari bentuk dorongan obsesif dan kompulsif (obsessive–compulsive disorder: OCD),[4] Kategori tersebut tidak mutlak, atau secara empiris dapat dibantah.[3]

Istilah skrupel diambil dari bahasa Latin scrupulum, sebuah bantu tajam, identik dengan sebuah penderitaan yang menetap pada kesadaran.[3]

Penggunaan istilah ini diketahui pada abad 12.[5] Beberapa sejarawan dan pemuka agama mendapati keraguan akan dosa yang memengaruhi ekspresi diri, dalam hal penderitaan.[5] Salah satu tokoh Katolik terkenal, Ignasius Loyola pendiri ordo Yesuit pernah menulis, "Setelah aku memandang bentuk salib dari dua cara sederhana, saya mendpati perasaan keberdosaan yang muncul pada diri seseorang barangkali adalah skrupel, dan bisa saja itu datang dari musuh untuk mencobai kita."[6]

Rujukan

  1. ↑ López-Ibor JJ Jr, López-Ibor Alcocer MI.Religious experience and psychopathology[PDF].In:Verhagen P, Van Praag HM, López-Ibor JJ Jr, Cox J, Moussaoui D, editors.Religion and Psychiatry: Beyond Boundaries.Wiley;2010.ISBN 978-0-470-69471-8.p. 211–33.
  2. 1 2 3 (Indonesia)Hassan Shadily & Redaksi Ensiklopedi Indonesia (Red & Peny)., Ensiklopedi Indonesia Jilid 6 (SHI-VAJ). Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, hal. 3219
  3. 1 2 3 Miller CH, Hedges DW.Scrupulosity disorder: an overview and introductory analysis.J Anxiety Disord.2008;22(6):1042–58.doi:10.1016/j.janxdis.2007.11.004.PMID 18226490.
  4. ↑ Deacon B, Nelson EA.On the nature and treatment of scrupulosity[PDF].Pragmatic Case Stud Psychother.2008;4(2):39–53.
  5. 1 2 Taylor CZ.Religious addiction: obsession with spirituality.Pastoral Psych.2002;50(4):291–315.doi:10.1023/A:1014074130084.
  6. ↑ van Megen HJGM, den Boer-Wolters D, Verhagen PJ.Obsessive compulsive disorder and religion: a reconnaissance.In:Verhagen P, Van Praag HM, López-Ibor JJ Jr, Cox J, Moussaoui D, editors.Religion and Psychiatry: Beyond Boundaries.Wiley;2010.ISBN 978-0-470-69471-8.p. 271–82.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan