
Retorika[note 1] adalah seni persuasi. Retorika merupakan satu dari tiga seni wacana kuno (trivium) pada zaman kuno klasik, bersama dengan tata bahasa dan logika/dialektika. Sebagai sebuah disiplin akademis dalam humaniora, retorika bertujuan untuk mempelajari teknik-teknik yang digunakan oleh pembicara atau penulis untuk menginformasikan, membujuk, dan memotivasi khalayak mereka.[2] Retorika juga menyediakan heuristik untuk memahami, menemukan, dan mengembangkan argumen dalam situasi-situasi tertentu.
Aristoteles mendefinisikan retorika sebagai "kemampuan untuk mengamati sarana persuasi yang tersedia dalam situasi apa pun", dan karena penguasaan seni ini sangat penting untuk memenangkan perkara hukum, mengesahkan usulan dalam majelis, atau memperoleh ketenaran sebagai pembicara dalam upacara kewargaan, ia menyebutnya sebagai "kombinasi dari ilmu logika dan cabang etika politik".[3] Aristoteles juga mengidentifikasi tiga imbauan persuasif kepada khalayak: logos, pathos, dan ethos. Lima kanon retorika, atau tahap-tahap dalam menyusun pidato persuasif, pertama kali dikodifikasikan di Romawi klasik: penemuan, penataan, gaya, ingatan, dan penyampaian.
Dari Yunani Kuno hingga akhir abad ke-19, retorika memainkan peran sentral dalam pendidikan Barat dan pendidikan Islam untuk melatih para orator, pengacara, penasihat, sejarawan, negarawan, dan penyair.[4][note 2]
Penggunaan
Cakupan
Para cendekiawan telah memperdebatkan cakupan retorika sejak zaman kuno. Walaupun beberapa di antaranya membatasi retorika pada ranah spesifik wacana politik, bagi banyak cendekiawan modern retorika mencakup setiap aspek kebudayaan. Studi retorika kontemporer membahas ranah yang jauh lebih beragam daripada pada zaman kuno. Jika retorika klasik melatih para pembicara untuk menjadi pemujuk yang efektif di forum-forum publik serta di lembaga-lembaga seperti ruang sidang dan majelis, retorika kontemporer menyelidiki wacana manusia secara luas. Para ahli retorika telah mempelajari wacana dalam berbagai macam bidang, termasuk ilmu pengetahuan alam dan sosial, seni murni, agama, jurnalistik, media digital, fiksi, sejarah, kartografi, dan arsitektur, di samping bidang-bidang yang lebih tradisional seperti politik dan hukum.[6]
Karena masyarakat Yunani Kuno sangat menghargai partisipasi politik publik, retorika muncul sebagai kurikulum penting bagi siapa saja yang ingin memengaruhi politik. Retorika masih diasosiasikan dengan asal-usul politiknya. Namun, bahkan pengajar awal seni berbicara Barat—kaum Sofis—menolak pandangan terbatas tentang retorika ini. Menurut kaum Sofis seperti Gorgias, seorang ahli retorika yang berhasil dapat berbicara secara meyakinkan mengenai topik di bidang apa pun, terlepas dari pengalaman mereka di bidang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa retorika dapat menjadi sarana untuk mengomunikasikan keahlian apa pun, bukan hanya politik. Dalam karyanya, Pujian kepada Helena, Gorgias bahkan menerapkan retorika pada fiksi dengan berusaha, demi hiburannya sendiri, membuktikan bahwa tokoh mitologis Helena dari Troya tidak bersalah atas meletusnya Perang Troya.[7]
Plato mendefinisikan cakupan retorika dengan mengesampingkan konotasi ritual keagamaan atau jampi-jampi magis. Ia mengambil istilah untuk persuasi yang dicapai melalui retorika, psychagogia, dalam arti harfiahnya, yaitu "membimbing jiwa" melalui kata-kata.[8] Ia mengkritik kaum Sofis karena menggunakan retorika untuk menipu alih-alih menemukan kebenaran. Dalam Gorgias, salah satu Dialog Sokratis karyanya, Plato mendefinisikan retorika sebagai persuasi terhadap massa yang tidak berpengetahuan di dalam ruang sidang dan majelis.[9] Menurut Plato, retorika hanyalah bentuk sanjungan dan berfungsi serupa dengan seni kuliner, yang menyamarkan makanan tidak sehat dengan membuatnya terasa lezat.[10] Plato menganggap pidato berwujud prosa panjang yang bertujuan untuk menyanjung berada dalam cakupan retorika. Namun, beberapa cendekiawan membantah gagasan bahwa Plato membenci retorika dan justru memandang dialog-dialognya sebagai dramatisasi dari prinsip-prinsip retoris yang kompleks.[11] Sokrates menjelaskan hubungan antara retorika dan sanjungan ketika ia menegaskan bahwa seorang ahli retorika yang mengajari siapa pun cara membujuk orang di majelis untuk melakukan apa yang mereka inginkan, tanpa pengetahuan tentang apa yang adil atau tidak adil, melakukan sejenis sanjungan (kolakeia) yang membentuk sebuah bayangan (eidolon) dari bagian seni politik.[12]
Aristoteles memulihkan nama baik retorika dari kritik Plato sekaligus mempersempit fokusnya dengan mendefinisikan tiga genre retorika—deliberatif, forensik atau yudisial, dan epidiktik.[13] Namun, kendati ia memberikan keteraturan pada teori-teori retorika yang ada, Aristoteles menggeneralisasi definisi retorika sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi sarana persuasi yang tepat dalam situasi tertentu berdasarkan seni retorika (technê).[14] Hal ini membuat retorika dapat diterapkan di semua bidang, bukan hanya politik. Aristoteles memandang entimem yang berbasis logika (terutama berbasis silogisme) sebagai dasar retorika.
Aristoteles juga menggariskan batasan-batasan generik yang memfokuskan seni retoris secara tepat pada ranah praktik politik publik. Ia membatasi retorika pada ranah hal-hal yang kontingen atau mungkin terjadi: yaitu masalah-masalah yang memungkinkan adanya berbagai pendapat atau argumen yang sah.[15]
Sejak zaman Aristoteles, logika telah mengalami perubahan. Sebagai contoh, logika modal telah mengalami perkembangan pesat yang turut mengubah retorika.[16]
Pandangan neo-Aristotelian dan neo-Sofistik kontemporer tentang retorika mencerminkan pembagian antara kaum Sofis dan Aristoteles. Kaum neo-Aristotelian umumnya mempelajari retorika sebagai wacana politik, sedangkan pandangan neo-Sofistik berpendapat bahwa retorika tidak dapat dibatasi sedemikian rupa. Pakar retorika Michael Leff mengarakterisasi konflik antara pandangan-pandangan ini sebagai pandangan retorika sebagai "sesuatu yang diwadahi" (thing contained) versus "wadah" (container). Pandangan neo-Aristotelian mengancam studi retorika dengan membatasinya pada bidang yang amat sempit, sehingga mengabaikan banyak penerapan krusial dari teori, kritik, dan praktik retorika. Pada saat yang sama, kaum neo-Sofis mengancam untuk memperluas retorika melampaui titik nilai teoritis yang koheren.
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti retorika cenderung memperluas objek kajiannya melampaui sekadar tuturan. Kenneth Burke menegaskan bahwa manusia menggunakan retorika untuk menyelesaikan konflik dengan mengidentifikasi karakteristik dan kepentingan bersama dalam simbol-simbol. Manusia melakukan identifikasi, baik untuk memosisikan diri sendiri maupun orang lain ke dalam suatu kelompok. Definisi retorika sebagai identifikasi ini memperluas cakupan dari persuasi politik yang strategis dan terbuka menjadi taktik identifikasi yang lebih tersirat yang ditemukan dalam berbagai macam sumber[perinci lagi].[17] Burke berfokus pada interaksi antara identifikasi dan pembagian, dengan berargumen bahwa identifikasi mengompensasi pembagian awal dengan mencegah pemisahan yang ketat antara objek, orang, dan ruang.[18] Hal ini dicapai dengan menautkan sifat-sifat bersama kepada hal-hal tersebut melalui simbol-simbol kebahasaan.[18]
Di antara banyak cendekiawan yang sejak saat itu mengikuti pemikiran Burke, James Boyd White memandang retorika sebagai ranah pengalaman sosial yang lebih luas dalam gagasannya tentang retorika konstitutif. Dipengaruhi oleh teori-teori konstruksi sosial, White berargumen bahwa kebudayaan "dikonstruksi ulang" melalui bahasa. Sebagaimana bahasa memengaruhi manusia, manusia pun memengaruhi bahasa. Bahasa dikonstruksi secara sosial dan bergantung pada makna yang dilekatkan manusia padanya. Karena bahasa tidak kaku dan berubah bergantung pada situasi, penggunaan bahasa itu sendiri bersifat retoris. Menurut White, seorang penulis selalu berusaha mengonstruksi dunia baru dan membujuk pembacanya untuk berbagi dunia tersebut di dalam teks.[19]
Manusia terlibat dalam retorika setiap kali mereka berbicara atau menghasilkan makna. Bahkan dalam bidang sains, melalui praktik-praktik yang dulunya hanya dipandang sebagai pengujian dan pelaporan pengetahuan secara objektif, para ilmuwan membujuk khalayak mereka untuk menerima temuan-temuan mereka dengan menunjukkan secara memadai bahwa studi atau eksperimen mereka dilakukan secara andal dan menghasilkan bukti yang cukup untuk mendukung kesimpulan mereka.[20]
Cakupan retorika yang amat luas sulit untuk didefinisikan. Wacana politik tetap menjadi contoh paradigmatis untuk mempelajari dan menteorisasikan teknik-teknik serta konsepsi persuasi atau retorika secara spesifik.[21] Secara lisan, istilah ini juga bermakna gaya penggunaan bahasa tertentu, yang sering kali memiliki konotasi pidato publik dan pembicaraan yang berlebihan.[22][23]
Sebagai seni kewargaan
Sepanjang Sejarah Eropa, retorika dimaknai sebagai persuasi dalam tatanan publik dan politik seperti majelis dan pengadilan.[butuh rujukan] Karena keterkaitannya dengan lembaga-lembaga demokratis, retorika umumnya dikatakan berkembang pesat dalam masyarakat yang terbuka dan demokratis yang menjamin hak kebebasan berbicara, kebebasan berkumpul, dan hak pilih politik bagi sebagian penduduknya.[butuh rujukan] Pihak-pihak yang mengklasifikasikan retorika sebagai seni kewargaan percaya bahwa retorika memiliki kekuatan untuk membentuk masyarakat, membentuk karakter warga negara, serta memengaruhi kehidupan kewargaan secara signifikan.
Beberapa filsuf kuno memandang retorika sebagai seni kewargaan. Aristoteles dan Isokrates merupakan dua tokoh pertama yang memandang retorika dari sudut pandang ini. Dalam Antidosis, Isokrates menyatakan, "Kita telah berkumpul dan mendirikan kota-kota serta membuat hukum dan menciptakan seni; dan secara umum, tidak ada lembaga yang dirancang oleh manusia yang tidak dibantu pembentukannya oleh kekuatan tutur kata."[24] Melalui pernyataan ini, ia berargumen bahwa retorika merupakan bagian mendasar dari kehidupan kewargaan di setiap masyarakat dan dibutuhkan dalam peletakan dasar semua aspek bermasyarakat. Ia lebih lanjut berargumen dalam Melawan Kaum Sofis bahwa retorika, meskipun tidak dapat diajarkan kepada sembarang orang, mampu membentuk karakter manusia. Ia menulis, "Menurut saya, studi wacana politik dapat membantu lebih dari hal apa pun untuk merangsang dan membentuk kualitas karakter seperti itu."[25] Aristoteles, yang menulis beberapa tahun setelah Isokrates, mendukung banyak argumennya dan membela retorika sebagai sebuah seni kewargaan.
Menurut Aristoteles dalam Retorika, retorika adalah "...kemampuan untuk mengamati sarana persuasi yang tersedia dalam situasi apa pun". Menurut Aristoteles, seni persuasi ini dapat digunakan dalam tatanan publik dengan tiga cara yang berbeda: "Seorang anggota majelis memutuskan peristiwa masa depan, seorang juri memutuskan peristiwa masa lalu; sementara mereka yang hanya menilai keterampilan sang orator adalah pengamat. Dari hal ini disimpulkan bahwa ada tiga pembagian oratori, yaitu (1) politik, (2) forensik, dan (3) oratori seremonial unjuk kebolehan".[26] Eugene Garver, dalam kritikannya terhadap Retorika karya Aristoteles, mengonfirmasi bahwa Aristoteles memandang retorika sebagai seni kewargaan. Garver menulis, "Retorika mengartikulasikan seni kewargaan dari retorika, menggabungkan sifat techne dan kesesuaian bagi warga negara yang hampir tidak serasi."[27] Setiap pembagian menurut Aristoteles ini memainkan peran dalam kehidupan kewargaan dan dapat digunakan dengan cara yang berbeda untuk memengaruhi polis.
Karena retorika adalah seni publik yang mampu membentuk opini, beberapa tokoh kuno, termasuk Plato, menemukan cela padanya. Mereka mengklaim bahwa meskipun retorika dapat digunakan untuk memperbaiki kehidupan kewargaan, seni ini juga dapat digunakan dengan sangat mudah untuk menipu atau memanipulasi. Masyarakat awam dianggap tidak mampu menganalisis atau memutuskan apa pun secara mandiri sehingga akan dengan mudah digoyahkan oleh pidato-pidato yang paling persuasif. Dengan demikian, kehidupan kewargaan dapat dikendalikan oleh siapa saja yang mampu menyampaikan pidato terbaik. Plato mengeksplorasi status moral retorika yang bermasalah ini sebanyak dua kali: dalam Gorgias dan dalam Phaidros, sebuah dialog yang paling dikenal karena ulasannya tentang cinta.
Lebih menaruh kepercayaan pada kekuatan retorika untuk mendukung suatu republik, orator Romawi Cicero berargumen bahwa seni tersebut membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kefasihan. Seorang orator yang baik juga harus menjadi pribadi yang baik dan memiliki pemahaman luas tentang berbagai topik kewargaan. Dalam De Oratore, yang dimodelkan berdasarkan dialog-dialog Plato, Cicero menekankan bahwa retorika yang efektif berasal dari kombinasi kebijaksanaan (sapientia) dan kefasihan (eloquentia).[28] Menurut Cicero, orator yang ideal tidak hanya harus menunjukkan keterampilan stilistika, tetapi juga integritas moral dan wawasan yang luas, sehingga menyatukan teori dan praktik demi kemajuan negara. Dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Aristoteles, Cicero memajukan tradisi ini dengan menyistematiskan lima kanon retorika, yaitu inventio (penemuan), dispositio (penataan), elocutio (gaya), memoria (ingatan), dan pronuntiatio (penyampaian), yang ia pandang sebagai kunci utama dalam merancang wacana yang persuasif.[29] Dalam pandangan ini, seorang orator yang terlatih dengan baik, yang menimba ilmu dari filsafat, hukum, dan disiplin ilmu lainnya, adalah sosok yang paling mampu menjawab tantangan kewargaan dan etika, sehingga mempertegas visi Cicero tentang retorika sebagai pencarian intelektual sekaligus etis.[28]
Karya-karya modern terus mendukung klaim para tokoh kuno bahwa retorika adalah sebuah seni yang mampu memengaruhi kehidupan kewargaan. Dalam Political Style, Robert Hariman mengklaim bahwa "masalah kebebasan, kesetaraan, dan keadilan sering kali diangkat dan ditangani melalui pertunjukan yang berkisar dari debat hingga demonstrasi tanpa kehilangan kandungan moral".[30] James Boyd White berargumen bahwa retorika tidak hanya mampu menangani isu-isu kepentingan politik, tetapi juga dapat memengaruhi kebudayaan secara keseluruhan. Dalam bukunya, When Words Lose Their Meaning, ia berargumen bahwa kata-kata persuasi dan identifikasi mendefinisikan kehidupan bermasyarakat dan kewargaan. Ia menyatakan bahwa kata-kata menghasilkan "metode-metode yang melaluinya kebudayaan dipertahankan, dikritik, dan ditransformasikan".[19]
Retorika tetap relevan sebagai sebuah seni kewargaan. Baik dalam pidato maupun dalam bentuk nonverbal, retorika terus digunakan sebagai sarana untuk memengaruhi masyarakat dari tingkat lokal hingga nasional.
Sebagai alat politik
Partai politik terkadang menerapkan "retorika manipulatif" untuk memajukan tujuan garis partai dan agenda lobi mereka. Mereka menggunakannya untuk menggambarkan diri mereka sebagai pejuang belas kasih, kebebasan, dan kebudayaan, sembari menerapkan kebijakan yang tampak bertentangan dengan klaim-klaim tersebut. Retorika ini berfungsi sebagai bentuk propaganda politik yang disajikan untuk memengaruhi dan mempertahankan opini publik demi keuntungan mereka, serta meraih citra positif, yang berpotensi mengorbankan atau menekan ketidaksetujuan dan kritik. Contoh dari hal ini adalah tindakan pemerintah[yang mana?] dalam membekukan rekening bank dan mengatur tuturan di internet, yang berdalih untuk melindungi pihak yang rentan dan menjaga kebebasan berekspresi, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai dan hak-hak dasar.[31][32][33]
Menilik kembali ke abad kelima SM, istilah retorika berasal dari Yunani Kuno. Pada periode ini, sebuah bentuk pemerintahan baru (demokrasi) telah dibentuk dan karena tuturan lisan merupakan metode utama penyampaian informasi, strategi komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan. Kaum Sofis, sekelompok intelektual dari Sisilia, mengajarkan seni berbicara persuasif kepada masyarakat Yunani Kuno agar mereka mampu membela diri dan berargumen di pengadilan dan senat.[34] Teknik baru ini kemudian digunakan sebagai metode penyampaian yang efektif dalam pidato-pidato politik dan di seluruh tingkatan pemerintahan. Akibatnya, masyarakat mulai khawatir bahwa tuturan persuasif akan mengalahkan kebenaran. Namun, Aristoteles berargumen bahwa retorika dapat digunakan sebagai keterampilan yang berguna untuk mengklasifikasikan, mempelajari, dan menginterpretasikan pidato-pidato. Aristoteles percaya bahwa teknik ini merupakan sebuah seni, dan bahwa tuturan persuasif dapat memuat kebenaran dan logika di dalamnya. Pada akhirnya, pidato retoris tetap populer dan digunakan oleh banyak cendekiawan serta filsuf.[34]
Sebagai bidang studi
Studi retorika melatih siswa untuk berbicara dan/atau menulis secara efektif, serta memahami dan menganalisis wacana secara kritis. Studi ini berkaitan dengan bagaimana manusia menggunakan simbol-simbol, khususnya bahasa, untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan terciptanya upaya yang terkoordinasi.[35]
Retorika sebagai bidang studi telah berkembang sejak awal kemunculannya pada zaman kuno, dan telah beradaptasi dengan kebutuhan spesifik pada berbagai zaman, tempat,[36] serta penerapan yang berkisar dari arsitektur hingga sastra.[37] Meskipun kurikulumnya telah mengalami berbagai transformasi, bidang ini secara umum tetap menekankan studi tentang prinsip dan aturan komposisi sebagai sarana untuk menggerakkan khalayak.
Retorika bermula sebagai seni kewargaan di Yunani Kuno tempat para siswa dilatih untuk mengembangkan taktik persuasi oratori, terutama dalam sengketa hukum. Retorika berasal dari mazhab filsuf pra-Sokrates yang dikenal sebagai kaum Sofis ca 600 SM. Demosthenes dan Lisias muncul sebagai orator utama pada periode ini, sementara Isokrates dan Gorgias menjadi pengajar yang terkemuka. Pengajaran modern terus merujuk para ahli retorika ini beserta karya-karya mereka dalam diskusi mengenai retorika klasik dan persuasi.
Retorika diajarkan di universitas-universitas pada Abad Pertengahan sebagai salah satu dari tiga seni kebebasan awal atau trivium (bersama dengan logika dan tata bahasa).[38] Selama periode abad pertengahan, retorika politik mengalami penurunan seiring matinya oratori republikan dan semakin besarnya kekuasaan para kaisar Romawi. Dengan bangkitnya para penguasa monarki Eropa, penerapan retorika beralih ke ranah istana dan keagamaan. Agustinus memberikan pengaruh yang kuat terhadap retorika Kristen pada Abad Pertengahan, dengan menganjurkan penggunaan retorika untuk membimbing khalayak menuju kebenaran dan pemahaman, khususnya di dalam gereja. Ia percaya bahwa studi seni kebebasan berkontribusi pada studi retoris: "Bagi pribadi yang tajam dan bersemangat, kata-kata yang indah akan lebih mudah diperoleh melalui membaca dan mendengarkan orang yang fasih daripada dengan menuruti aturan-aturan retorika."[39] Puisi dan korespondensi (penulisan surat) menjadi bagian sentral dalam studi retoris selama Abad Pertengahan.[40]: 129–47 Setelah runtuhnya Republik Romawi, puisi menjadi sarana pelatihan retoris karena makin terbatasnya kesempatan untuk menyampaikan pidato politik.[40]:131 Penulisan surat merupakan cara utama pelaksanaan urusan baik dalam pemerintahan maupun gereja, sehingga menjadi aspek penting dalam pendidikan retoris.[41]
Pendidikan retoris menjadi lebih terbatas seiring terpisahnya gaya dan substansi pada abad ke-16 di Prancis, ketika perhatian beralih ke metode ilmiah. Cendekiawan berpengaruh seperti Peter Ramus berargumen bahwa proses penemuan (inventio) dan penataan (dispositio) harus diangkat ke ranah filsafat, sementara pengajaran retoris harus terutama berfokus pada penggunaan majas dan bentuk-bentuk perhiasan bahasa lainnya. Cendekiawan seperti Francis Bacon mengembangkan studi "retorika ilmiah"[42] yang menolak gaya rumit yang menjadi ciri khas oratori klasik. Bahasa yang lugas ini berlanjut pada pengajaran John Locke, yang menekankan pengetahuan konkret dan menjauhi perhiasan dalam tuturan, sehingga membuat pengajaran retorika (yang saat itu diidentifikasikan sepenuhnya dengan perhiasan bahasa tersebut) semakin terasing dari pencarian pengetahuan.
Pada abad ke-18, retorika mengambil peran sosial yang lebih besar, yang mengarah pada pembentukan sistem pendidikan baru (terutama di Inggris): "Sekolah elokusi", tempat para anak perempuan dan perempuan dewasa menganalisis sastra klasik, utamanya karya-karya William Shakespeare, serta mendiskusikan taktik pelafalan.[43]
Studi retorika mengalami kebangkitan kembali seiring munculnya lembaga-lembaga demokratis pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Hugh Blair merupakan salah satu tokoh pemimpin awal gerakan ini. Dalam karyanya yang paling terkenal, Lectures on Rhetoric and Belles Lettres, ia menganjurkan studi retorika bagi warga masyarakat biasa sebagai sarana untuk mencapai keberhasilan sosial. Banyak perguruan tinggi dan sekolah menengah di Amerika Serikat yang menggunakan teks karya Blair ini sepanjang abad ke-19 untuk melatih siswa dalam retorika.[41]
Retorika politik juga mengalami pembaruan setelah Revolusi Amerika Serikat dan Revolusi Prancis. Studi retorika dari Yunani Kuno dan Romawi Kuno dihidupkan kembali ketika para pembicara dan pengajar merujuk kepada Cicero dan tokoh-tokoh lainnya untuk mengilhami pembelaan terhadap republik-republik baru tersebut. Teoretikus retorika terkemuka saat itu mencakup John Quincy Adams dari Harvard, yang membela kemajuan demokratis dari seni retoris. Pendirian Profesor Retorika dan Oratori Boylston di Harvard memicu pertumbuhan studi retorika di berbagai perguruan tinggi di seluruh Amerika Serikat.[41] Program retorika di Harvard menimba inspirasi dari sumber-sumber kesastraan untuk memandu penataan dan gaya, serta mempelajari retorika yang digunakan dalam komunikasi politik untuk mengilustrasikan cara tokoh-tokoh politik membujuk khalayak.[44] William G. Allen menjadi profesor retorika perguruan tinggi pertama di Amerika Serikat, di New-York Central College, dari tahun 1850 hingga 1853.
Perubahan pada abad ke-19 dalam pedagogi retorika dan komposisi mencakup fokus yang lebih besar pada pengembangan keterampilan siswa melalui komposisi. Profesor retorika seperti A. S. Hill, Barrett Wendell, dan John Franklin Genung merupakan penulis terkemuka pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.[45]
Klub-klub debat dan liseu (lyceum) juga berkembang sebagai forum tempat warga masyarakat dapat mendengarkan para pembicara dan mengasah keterampilan berdebat. Liseu Amerika secara khusus dipandang sebagai lembaga pendidikan sekaligus lembaga sosial, yang menghadirkan diskusi kelompok dan dosen tamu.[46] Program-program ini memupuk nilai-nilai demokratis dan mempromosikan partisipasi aktif dalam analisis politik.
Sepanjang abad ke-20, retorika berkembang sebagai bidang studi yang terfokus, dengan dibukanya mata-mata pelajaran retorika di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Mata kuliah seperti berbicara di depan umum dan analisis pidato menerapkan teori-teori dasar Yunani (seperti modus persuasi: ethos, pathos, dan logos) serta menelusuri perkembangan retoris sepanjang sejarah. Retorika memperoleh reputasi yang lebih dihormati sebagai bidang studi seiring bermunculannya departemen Studi Komunikasi serta program-program Retorika dan Komposisi di dalam departemen bahasa Inggris di universitas-universitas,[47] dan beriringan dengan tikungan linguistik dalam Filsafat Barat. Studi retoris telah meluas cakupannya, dan secara khusus digunakan dalam bidang pemasaran, politik, dan sastra.
Ruang kelas penulisan, yang mencakup bidang retorika dan studi komposisi,[48] bertujuan untuk mempersiapkan siswa dalam berpartisipasi di kehidupan publik.[49] Pemahaman retorika yang luas sangat diperlukan untuk terlibat secara bermakna di tengah masyarakat.[50] Meskipun demikian, para cendekiawan mengkritik kelas komposisi karena ketidakmampuannya dalam mengembangkan keterampilan retoris para siswa. Sharon Crowley berpendapat bahwa pendekatan retoris tradisional saat ini, yang umum dijumpai di banyak sekolah dewasa ini, telah terlalu menyederhanakan proses penulisan, sehingga mereduksi kelas komposisi menjadi "serangkaian latihan yang di dalamnya siswa hanya sekadar menunjukkan penguasaan mereka atas hal-hal sepele dari buku teks".[51] Banyak kurikulum juga berpusat pada argumentasi berorientasi kemenangan, yang dapat membatasi perkembangan pemikiran kritis dengan mendorong siswa untuk membela posisi yang telah ditentukan alih-alih mendalami kompleksitas suatu masalah.[52] Kritik-kritik ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas bahwa pendidikan retoris telah diabaikan demi pengajaran yang bersifat preskriptif. Sebagai tanggapan, para cendekiawan telah menyerukan perubahan pada pedagogi retorika dan komposisi, termasuk memperluas program penulisan untuk menggabungkan bentuk-bentuk retorika multimodal yang membantu siswa memahami bentuk-bentuk produksi retoris di luar karya tulis.[49]
Bidang retorika lainnya adalah studi retorika budaya, yaitu komunikasi yang terjadi antarkebudayaan serta studi tentang cara anggota suatu kebudayaan berkomunikasi satu sama lain.[53] Gagasan-gagasan ini[perinci lagi] kemudian dapat dipelajari dan dipahami oleh kebudayaan lain untuk menjembatani kesenjangan dalam modus komunikasi dan membantu kebudayaan yang berbeda untuk berkomunikasi secara efektif satu sama lain. James Zappen mendefinisikan retorika budaya sebagai gagasan bahwa retorika berkaitan dengan negosiasi dan mendengarkan, bukan persuasi, yang berbeda dari definisi kuno.[53] Beberapa retorika kuno sempat dicela karena teknik persuasifnya dapat digunakan untuk mengajarkan kepalsuan.[54] Komunikasi sebagaimana dipelajari dalam retorika budaya berfokus pada mendengarkan dan negosiasi, serta memiliki sedikit kaitan dengan persuasi.[53] Retorika budaya bukanlah suatu definisi tunggal atau satu hal saja, melainkan sebuah pendekatan terhadap retorika yang menyoroti keterkaitan antara kebudayaan dan retorika. Artikel "Interfacing Cultural Rhetorics: A History and a Call" berargumen bahwa kebudayaan dan retorika tidak boleh dipandang secara individual saja, karena keduanya sering kali tumpang-tindih. Kebudayaan dapat dipelajari baik sebagai proses maupun sebagai konteks, sementara retorika menyoroti bagaimana proses dan konteks budaya ini diungkapkan dan dinegosiasikan. Tema penting dari artikel tersebut adalah bahwa retorika budaya menekankan kegiatan mendengarkan dan bernegosiasi. Analisis Bacon tentang narasi coming out menyoroti bagaimana retorika tidak sekadar untuk persuasi, tetapi dapat membantu menciptakan makna dan "menuliskan wujud-wujud baru ke dalam kehidupan". Ahli retorika Asli (Pribumi), termasuk Malea Powell dan Angela Haas, menekankan pentingnya tempat, cerita, dan hubungan dalam retorika budaya, yang menyoroti sifat dekolonialnya.[55]
Kanon
Pendidikan retoris berfokus pada lima kanon. Lima Kanon Retorika berfungsi sebagai panduan untuk merancang pesan dan argumen yang persuasif:
- inventio (penemuan)
- proses yang mengarah pada pengembangan dan penyempurnaan suatu argumen.
- dispositio (disposisi atau penataan)
- digunakan untuk menentukan bagaimana suatu argumen harus diorganisasikan demi efek terbesar, biasanya dimulai dengan eksordium
- elocutio (gaya)
- menentukan cara menyampaikan argumen
- memoria (ingatan)
- proses mempelajari dan menghafal pidato serta pesan-pesan persuasif
- pronuntiatio (presentasi) dan actio (penyampaian)
- isyarat tubuh, pelafalan, nada, dan tempo yang digunakan saat menyampaikan argumen persuasif, yaitu Gaya Agung.
Ingatan ditambahkan jauh belakangan ke dalam empat kanon yang asli.[56]
Musik
Selama era Renaisans, retorika mengalami kebangkitan kembali, dan sebagai hasilnya hampir setiap penulis yang menulis tentang musik sebelum Era Romantik membahas retorika.[57] Joachim Burmeister menulis pada tahun 1601, "hanya ada sedikit perbedaan antara musik dan sifat orasi".[Pernyataan ini membutuhkan sumber] Christoph Bernhard pada paruh kedua abad itu menyatakan bahwa "...hingga seni musik telah mencapai puncaknya di zaman kita sendiri, sehingga memang dapat dibandingkan dengan retorika, mengingat banyaknya majas yang ada".Templat:Context inline[58]
Pengetahuan
Epistemologi dan retorika telah dibandingkan satu sama lain selama bertahun-tahun, tetapi rincian kesamaan keduanya masih belum terdefinisi. Sejak cendekiawan Robert L. Scott menyatakan bahwa "retorika bersifat epistemik",[59] para ahli retorika dan filsuf sama-sama berjuang untuk mendefinisikan secara konkret jangkauan implikasi dari kata-kata ini. Pihak-pihak yang mengidentifikasi ketidaksesuaian ini mempertahankan gagasan bahwa hubungan yang dikemukakan oleh Scott itu penting, tetapi memerlukan studi lebih lanjut.[60]
Akar masalahnya terletak pada penggunaan istilah retorika itu sendiri yang ambigu, serta istilah-istilah epistemologis seperti pengetahuan, kepastian, dan kebenaran.[60] Meskipun kontra-intuitif dan kabur, klaim Scott diterima oleh beberapa akademisi, tetapi kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan yang berbeda-beda. Sonja K. Foss, sebagai contoh, mengambil pandangan bahwa "retorika menciptakan pengetahuan",[61] sementara James Herrick menulis bahwa retorika membantu kemampuan manusia untuk membentuk kepercayaan, yang kemudian didefinisikan sebagai pengetahuan setelah meluas di tengah masyarakat.[62]
Tidak jelas apakah Scott menganggap bahwa kepastian merupakan bagian inheren dari pembentukan pengetahuan, karena rujukan-rujukannya terhadap istilah tersebut bersifat abstrak.[59][63] Ia bukanlah satu-satunya, karena bertahannya perdebatan ini di kalangan filsafat telah berlangsung jauh sebelum ia memasukkan retorika. Ada mayoritas besar yang mendukung konsep kepastian sebagai syarat bagi pengetahuan, tetapi pada definisi kepastian itulah berbagai pihak mulai berbeda pendapat. Satu definisi menyatakan bahwa kepastian bersifat subjektif dan berbasis perasaan, sedangkan definisi lainnya menyatakan bahwa kepastian merupakan hasil sampingan dari pembenaran.
Definisi retorika yang lebih umum diterima mengklaim bahwa retorika sinonim dengan persuasi. Untuk tujuan retoris, definisi ini, seperti halnya banyak definisi lain, terlalu luas. Salah satu definisi umum menggambarkan retorika sebagai seni persuasi. William D. Harpine (2004) berargumen bahwa definisi ini berguna ketika memeriksa apakah retorika berkontribusi pada pengetahuan karena sifatnya yang lebih spesifik daripada definisi yang mencakup segala bentuk bahasa atau komunikasi. Masalah yang sama juga muncul pada definisi yang terlalu sempit. Para ahli retorika yang mendukung pandangan epistemik tentang retorika belum mencapai kesepakatan dalam hal ini.[60]
Ajaran filsafat menyebut pengetahuan sebagai kepercayaan benar yang terjustifikasi. Menurut definisi ini, seseorang memiliki pengetahuan tentang sesuatu jika ia mempercayainya, kepercayaannya itu benar, dan ia memiliki alasan yang terjustifikasi untuk mempercayainya. Namun, Masalah Gettier mengeksplorasi ruang bagi kekeliruan dalam konsep ini dengan mengajukan andaian bahwa seseorang mampu memiliki kepercayaan benar yang terjustifikasi tanpa benar-benar memiliki pengetahuan.[64] Oleh karena itu, Masalah Gettier menghambat efektivitas argumen Richard A. Cherwitz dan James A. Hikins,[65] yang menggunakan sudut pandang kepercayaan benar yang terjustifikasi dalam argumen mereka mengenai retorika sebagai hal yang bersifat epistemik. Celeste Condit Railsback mengambil pendekatan yang berbeda,[66] dengan menimba dari sistem kepercayaan Ray E. McKerrow yang didasarkan pada validitas, alih-alih kepastian.[67]
William D. Harpine merujuk pada masalah definisi yang tidak jelas yang terjadi dalam teori-teori "retorika bersifat epistemik" dalam artikel tahun 2004 miliknya yang berjudul "What Do You Mean, Rhetoric Is Epistemic?".[60] Di dalamnya, ia berfokus untuk mengungkap definisi yang paling tepat bagi istilah "retorika", "pengetahuan", dan "kepastian". Menurut Harpine, kepastian bersifat objektif atau subjektif. Perbedaan ini dapat dikarakterisasikan melalui contoh, "Saya yakin bahwa dua tambah dua sama dengan empat," dan "Saya merasa yakin bahwa 2 + 2 sama dengan empat." Contoh pertama mengungkapkan kepastian objektif mengenai realitas, sementara contoh kedua menggambarkan perasaan kepastian subjektif dari individu. Meskipun teori Scott[59] serta teori Cherwitz dan Hikins[65] berkaitan dengan beberapa bentuk kepastian, Harpine percaya bahwa pengetahuan tidak diwajibkan untuk pasti secara objektif maupun subjektif.
Mengenai "retorika", Harpine berargumen bahwa definisi retorika sebagai "seni persuasi" merupakan pilihan terbaik dalam konteks pendekatan teoritis retorika sebagai hal yang bersifat epistemik. Ia berargumen bahwa definisi retorika yang lebih luas menjadikan klaim bahwa retorika bersifat epistemik sebagai hal yang terbukti dengan sendirinya, alih-alih klaim yang memerlukan pemeriksaan. Harpine kemudian melanjutkan dengan menyajikan dua metode pendekatan terhadap gagasan retorika sebagai hal yang bersifat epistemik berdasarkan definisi yang disampaikan. Satu metode berpusat pada pandangan Alston[68] bahwa kepercayaan seseorang terjustifikasi jika dibentuk oleh praktik doksastik normalnya, sementara metode lainnya berfokus pada teori kausal pengetahuan.[69] Kedua pendekatan tersebut berhasil menghindari masalah-masalah Gettier dan tidak mengandalkan konsepsi kepastian yang kabur.
Dalam artikel tahun 2004 miliknya yang berjudul What Do You Mean, Rhetoric is Epistemic?, William D. Harpine mempertanyakan apakah para cendekiawan terdahulu telah membuktikan secara memadai bahwa retorika menghasilkan pengetahuan. Ia mengkritik kebingungan antara kepastian objektif, yang berkaitan dengan apa yang benar-benar pasti, dan kepastian subjektif, yang berkaitan dengan perasaan kepastian seseorang. Harpine juga membahas masalah Gettier, yang menantang asumsi bahwa kepercayaan benar yang terjustifikasi secara otomatis menjadi pengetahuan. Ia menyarankan bahwa epistemologi retoris dapat diperiksa melalui teori praktik doksastik Alston atau Teori Kausal Pengetahuan. Pada akhirnya, Harpine berargumen bahwa wawasan paling berharga dari Scott mungkin bersifat etis daripada epistemologis, yang menekankan toleransi dan keterbukaan terhadap kepercayaan yang berbeda. Harpine lebih lanjut menyarankan bahwa argumen etis Scott dapat didukung dengan mengakui sifat manusia yang dapat keliru, tanpa harus membuktikan bahwa retorika itu sendiri menghasilkan pengetahuan.[70]
Harpine lebih lanjut menyarankan bahwa argumen etis Scott dapat didukung dengan mengakui sifat manusia yang dapat keliru, tanpa harus membuktikan bahwa retorika itu sendiri menghasilkan pengetahuan. Ia membedakan retorika dari dialektika dengan menjelaskan bahwa retorika berfokus pada persuasi, sementara dialektika melibatkan penyelidikan argumen melalui diskusi. Meskipun pendekatan-pendekatan ini memiliki tujuan yang berbeda, keduanya dapat berkontribusi pada cara individu memeriksa kepercayaan mereka dan merespons ketidakpastian. Harpine berargumen bahwa mengakui keterbatasan pengetahuan manusia dapat mendorong toleransi dan mengurangi dogmatisme tanpa memerlukan definisi baru tentang pengetahuan.[70]
Sejarah dan studi
Zaman kuno
Retorika, sebagai bentuk persuasi (pada awalnya lebih banyak dalam tutur lisan daripada tulisan) yang mengikat orang-orang pada tujuan bersama sehingga memfasilitasi tindakan kolektif, berakar dari Mesopotamia.[71] Beberapa contoh retorika paling awal dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Akkadia karya putri sekaligus pendeta Enheduanna (ca 2285–2250 SM).[72] Sebagai penulis bernama pertama dalam sejarah,[71][72] tulisan Enheduanna menunjukkan berbagai ciri retoris yang kelak menjadi kanon di Yunani Kuno. Karya Enheduanna yang berjudul "Pemuliaan Inanna" mencakup sebuah eksordium, argumen, dan perorasio,[71] serta unsur-unsur ethos, pathos, dan logos,[72] serta pengulangan dan metonimia.[73] Ia juga dikenal karena menguraikan proses penemuannya (inventio) dalam "Pemuliaan Inanna", dengan berpindah antara kata sapaan orang pertama dan ketiga untuk menceritakan proses penyusunannya bersama dewi Inanna,[72] yang mencerminkan sebuah entimem mistis[74] dalam melibatkan khalayak Kosmik.[72]
Contoh-contoh retorika awal selanjutnya dapat ditemukan dalam Kekaisaran Asiria Baru pada masa pemerintahan Sanherib (704–681 SM).[75]
Di Mesir kuno, retorika telah ada setidaknya sejak periode Kerajaan Pertengahan (ca 2080–1640 SM). Lima kanon kefasihan dalam retorika Mesir kuno adalah keheningan, ketepatan waktu, menahan diri, kelancaran, dan kebenaran.[76] Orang-orang Mesir sangat menjunjung tinggi kebolehan berbicara fasih. Aturan retorika Mesir menetapkan bahwa "mengetahui kapan tidak boleh berbicara adalah pengetahuan retoris yang esensial dan sangat dihormati", menjadikan retorika sebagai "keseimbangan antara kefasihan dan keheningan yang bijak". Mereka juga menekankan "kepatuhan pada perilaku sosial yang mendukung status quo konservatif" serta berpandangan bahwa "tuturan yang terampil harus mendukung, bukan mempertanyakan, tatanan masyarakat".[77]
Di Tiongkok kuno, retorika telah ada sejak masa filsuf Tionghoa, Konfusius (551–479 SM). Tradisi Konfusianisme menekankan penggunaan kefasihan dalam berbicara.[78]
Penggunaan retorika juga dapat ditemukan dalam tradisi Alkitabiah kuno.[79]
Yunani dan Romawi Kuno
Yunani Kuno, yang di kemudian hari menjadi bagian dari peradaban Romawi yang terus berkembang, menghasilkan karya-karya ilmiah awal terdokumentasi yang sangat luas mengenai retorika. Ahli-ahli retorika Yunani Klasik mencakup kaum Sofis, yaitu guru-guru retorika profesional pengembara, serta Isokrates (salah satu dari sepuluh orator Attika), filsuf Plato, dan muridnya Aristoteles. Ahli retorika paling terkenal dari zaman Republik Romawi adalah Cicero, sedangkan dari zaman Kekaisaran Romawi berikutnya adalah Kuintilianus. Semua cendekiawan ini menciptakan sistem formal serta klasifikasi atas strategi, sarana, atau modus retoris. Karya mereka memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap studi retoris pada masa Renaisans Eropa dan, sebagai hasilnya, terhadap Peradaban Barat, sehingga dianggap sebagai pendahulu langsung bagi retorika Barat modern di bawah label luas retorika klasik.
India Kuno
Buku India's Struggle for Independence menyajikan gambaran yang jelas mengenai kebudayaan yang tumbuh di sekitar surat kabar di pedesaan India pada awal tahun 1870-an:
Sebuah surat kabar akan sampai di desa-desa terpencil dan kemudian dibacakan oleh seorang pembaca kepada puluhan orang lainnya. Secara bertahap, gerakan perpustakaan bermunculan di seluruh negeri. Sebuah 'perpustakaan' lokal akan diorganisasikan di sekitar satu surat kabar tunggal. Sebuah meja, satu atau dua bangku, atau sebuah charpoy menjadi peralatan utamanya. Setiap berita atau komentar tajuk rencana akan dibaca atau didengar dan didiskusikan secara mendalam. Surat kabar tidak hanya menjadi pendidik politik; membaca atau mendiskusikannya menjadi salah satu bentuk partisipasi politik.[80]
Kegiatan membaca dan berdiskusi ini menjadi titik awal dari gerakan retoris India modern. Jauh sebelum ini, tokoh-tokoh kuno seperti Kautilya, Birbal, dan sejenisnya telah banyak melakukan diskusi dan persuasi.
Keith Lloyd berargumen bahwa sebagian besar pelantunan Weda dapat disamakan dengan pelantunan puisi Yunani kuno.[81] Lloyd mengusulkan untuk memasukkan Nyāya Sūtra ke dalam bidang studi retoris, mengeksplorasi metode-metodenya dalam konteks sejarahnya, membandingkan pendekatannya dengan silogisme logika tradisional, serta mengaitkannya dengan perspektif modern dari Stephen Toulmin, Kenneth Burke, dan Chaim Perelman.
Nyaya adalah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti "adil" atau "benar" dan merujuk pada "ilmu tentang penalaran yang benar dan salah".[82]: 356 Sutra juga merupakan kata Sanskerta yang berarti tali atau benang. Di sini sutra merujuk pada kumpulan aforisme dalam bentuk panduan. Setiap sutra adalah aturan singkat yang biasanya terdiri dari satu atau dua kalimat. Salah satu contoh sutra adalah: "Realitas adalah kebenaran, dan apa yang benar adalah demikian, terlepas dari apakah kita mengetahuinya, atau menyadari kebenaran tersebut." Nyāya Sūtra adalah teks Sanskerta India kuno yang disusun oleh Aksapada Gautama. Teks ini merupakan teks fondasional dari mazhab Nyaya dalam filsafat Hindu. Diperkirakan teks ini disusun antara Abad ke-6 SM dan Abad ke-2. Teks tersebut mungkin telah disusun oleh lebih dari satu penulis dalam kurun waktu tertentu.[83] Radhakrishnan dan Moore menempatkan asal-usulnya pada Abad ke-3 SM "meskipun beberapa konten Nyaya Sutra tentu berasal dari era pasca-Kristen".[82]:36 Mazhab kuno Nyaya berlangsung selama periode seribu tahun, dimulai dengan Gautama sekitar tahun 550 SM dan berakhir dengan Vatsyayana sekitar tahun 400.[84]
Nyaya memberikan wawasan mengenai retorika India. Nyaya menyajikan pendekatan argumentatif yang dengannya seorang ahli retorika dapat memutuskan suatu argumen. Selain itu, mazhab ini mengusulkan pendekatan untuk memikirkan tradisi budaya yang berbeda dari retorika Barat. Jika Toulmin menekankan dimensi situasional dari genre argumentatif sebagai komponen mendasar dari logika retoris apa pun, Nyaya memandang retorika situasional ini [meragukan].
Beberapa ahli retorika terkenal dari India mencakup Kabir Das, Rahim Das, Chanakya, dan Chandragupt Maurya.[butuh rujukan]
Abad Pertengahan hingga Pencerahan
Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, studi retorika tetap menjadi bagian sentral dalam studi seni verbal. Namun, studi seni verbal mengalami kemunduran selama beberapa abad, yang akhirnya diikuti oleh kebangkitan bertahap pendidikan formal yang berpuncak pada berdirinya universitas-universitas abad pertengahan. Selama periode ini, retorika bertransformasi menjadi seni korespondensi atau penulisan surat (ars dictaminis) dan penulisan khotbah (ars praedicandi). Sebagai bagian dari trivium, retorika menduduki posisi kedua setelah studi logika, dan studinya sangat bersifat skolastik; para siswa diberi latihan berulang dalam menyusun wacana tentang subjek sejarah (suasoriae) atau tentang pertanyaan hukum klasik (controversiae).
Meskipun umumnya tidak dianggap sebagai seorang ahli retorika, Santo Agustinus (354–430) pernah dilatih dalam bidang retorika dan sempat menjadi profesor retorika Latin di Milan. Setelah berpindah keyakinan ke agama Kristen, ia tertarik untuk menggunakan seni "pagan" ini demi menyebarkan agamanya. Ia mengeksplorasi penggunaan baru retorika ini dalam De doctrina Christiana, yang meletakkan fondasi bagi apa yang kelak menjadi homiletika, yaitu retorika khotbah. Agustinus mempertanyakan mengapa "kekuatan kefasihan, yang begitu manjur dalam membela perkara yang salah maupun yang benar", tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan yang benar.[85]
Salah satu kekhawatiran awal gereja Kristen abad pertengahan adalah sikapnya terhadap retorika klasik itu sendiri. Santo Hieronimus (m. 420) mengeluhkan, "Apa hubungannya Horatius dengan Mazmur, Vergilius dengan Injil, Cicero dengan para Rasul?"[86] Agustinus juga dikenang karena memperjuangkan pelestarian karya-karya pagan dan memupuk tradisi gereja yang mengarah pada konservasi berbagai tulisan retoris pra-Kristen.
Retorika tidak kembali mencapai puncak kejayaannya seperti pada masa klasik hingga era Renaisans, tetapi tulisan-tulisan baru tetap memajukan pemikiran retoris. Boethius (ca 480–524), dalam karya singkatnya Overview of the Structure of Rhetoric, melanjutkan taksonomi Aristoteles dengan menempatkan retorika di bawah argumen filosofis atau dialektika.[87] Pengenalan keilmuan Arab dari hubungan Eropa dengan kekaisaran Muslim (khususnya Al-Andalus) membangkitkan kembali minat terhadap Aristoteles dan pemikiran Klasik secara umum, yang mengarah pada apa yang disebutkan oleh beberapa sejarawan sebagai Renaisans Abad ke-12. Sejumlah buku tata bahasa serta studi tentang puisi dan retorika abad pertengahan pun bermunculan.
Tulisan-tulisan retoris abad pertengahan akhir mencakup karya-karya Santo Thomas Aquinas (ca 1225–1274), Matthew of Vendôme (Ars Versificatoria, ca 1175), dan Geoffrey of Vinsauf (Poetria Nova, 1200–1216). Ahli retorika perempuan pra-modern, di luar sahabat Sokrates Aspasia, tergolong langka; tetapi retorika abad pertengahan yang dihasilkan oleh perempuan, baik dalam ordo keagamaan seperti Julian of Norwich (m. 1415) maupun yang memiliki jaringan luas seperti Christine de Pizan (ca 1364–ca 1430), memang ada meskipun tidak selalu tercatat secara tertulis.
Dalam disertasi doktoral bahasa Inggris tahun 1943 di Universitas Cambridge, cendekiawan Kanada Marshall McLuhan (1911–1980) meneliti seni verbal mulai dari kira-kira masa Cicero hingga masa Thomas Nashe (1567–ca 1600).[88] Disertasinya tetap patut diperhatikan karena mengkaji sejarah seni verbal secara bersama-sama sebagai trivium, meskipun perkembangan yang ia teliti telah dipelajari secara lebih mendalam sejak ia melakukan studinya. Seperti yang dicatat di bawah ini, McLuhan menjadi salah satu teoretikus komunikasi paling terkenal pada abad ke-20.
Catatan menarik lainnya dari pemikiran retoris abad pertengahan dapat dilihat dalam berbagai puisi debat hewan yang populer di Inggris dan Benua Eropa selama Abad Pertengahan, seperti The Owl and the Nightingale (abad ke-13) dan Parliament of Fowls karya Geoffrey Chaucer.
Abad keenam belas
Humanisme Renaisans mendefinisikan dirinya secara luas dengan menolak logika dan dialektika skolastik abad pertengahan dan lebih menyukai studi gaya Latin klasik, tata bahasa, filologi, serta retorika.[89]
Salah satu tokoh berpengaruh dalam kebangkitan minat terhadap retorika klasik adalah Erasmus (ca 1466–1536). Karyanya pada tahun 1512, De Duplici Copia Verborum et Rerum (juga dikenal sebagai Copia: Foundations of the Abundant Style), diterbitkan secara luas (mencapai lebih dari 150 edisi di seluruh Eropa) dan menjadi salah satu teks sekolah dasar untuk subjek tersebut. Pembahasannya tentang retorika kurang komprehensif dibandingkan karya-karya klasik zaman kuno, tetapi menyajikan pembahasan tradisional mengenai res-verba (materi dan bentuk). Buku pertamanya membahas subjek elocutio, yang menunjukkan kepada siswa cara menggunakan skema dan tropus; buku kedua mencakup inventio. Penekanan utamanya terletak pada kelimpahan variasi (copia berarti "kelimpahan" atau "keberlimpahan"), sehingga kedua buku tersebut berfokus pada cara-cara untuk memasukkan variasi maksimum ke dalam wacana. Sebagai contoh, dalam satu bagian dari De Copia, Erasmus menyajikan 195 variasi dari kalimat "Surat Anda sangat menyenangkan saya" [Tuae litterae me magnopere delectarunt]. Karya lainnya yang sangat populer, Pujian atas Kebodohan, juga memiliki pengaruh besar terhadap pengajaran retorika pada akhir abad ke-16. Orasi-orasinya yang membela sifat-sifat seperti kegilaan melahirkan sejenis latihan yang populer di sekolah tata bahasa era Elizabeth, yang kelak disebut adoksografi, yang mengharuskan para murid menyusun karangan yang memuji hal-hal yang tidak berguna.
Juan Luis Vives (1492–1540) juga membantu membentuk studi retorika di Inggris. Sebagai orang Spanyol, ia diangkat pada tahun 1523 untuk menjabat posisi Dosen Retorika di Oxford oleh Kardinal Wolsey, dan dipercayakan oleh Henry VIII untuk menjadi salah satu tutor Mary. Vives tidak lagi disukai ketika Henry VIII menceraikan Katarina dari Aragon dan ia meninggalkan Inggris pada tahun 1528. Karyanya yang paling terkenal adalah sebuah buku tentang pendidikan, De Disciplinis, yang diterbitkan pada tahun 1531, dan tulisan-tulisannya tentang retorika mencakup Rhetoricae, sive De Ratione Dicendi, Libri Tres (1533), De Consultatione (1533), serta sebuah risalah tentang penulisan surat, De Conscribendis Epistolas (1536).
Kemungkinan besar banyak penulis terkenal Inggris yang mengenal karya-karya Erasmus dan Vives (serta karya-karya ahli retorika Klasik) selama masa sekolah mereka, yang diselenggarakan dalam bahasa Latin (bukan bahasa Inggris), sering kali mencakup studi bahasa Yunani, dan memberikan penekanan besar pada retorika.[90]
Pertengahan abad ke-16 menyaksikan munculnya retorika vernakular—yaitu retorika yang ditulis dalam bahasa Inggris alih-alih dalam bahasa-bahasa Klasik. Namun, adopsi karya-karya dalam bahasa Inggris berlangsung lambat karena kuatnya orientasi skolastik terhadap bahasa Latin dan Yunani. Karyanya Leonard Cox, The Art or Crafte of Rhetoryke (ca 1524–1530; edisi kedua diterbitkan pada 1532), merupakan teks retorika paling awal dalam bahasa Inggris; sebagian besarnya merupakan terjemahan dari karya Philipp Melanchthon.[91] Karyanya Thomas Wilson, The Arte of Rhetorique (1553), menyajikan pembahasan tradisional mengenai retorika, misalnya lima kanon standar retorika. Karya-karya terkenal lainnya mencakup The English Secretorie (1586, 1592) karya Angel Day, The Arte of English Poesie (1589) karya George Puttenham, dan Foundacion of Rhetorike (1563) karya Richard Rainholde.
Pada periode yang sama, sebuah gerakan dimulai yang kelak mengubah organisasi kurikulum sekolah di kalangan Protestan dan khususnya Puritan, serta menyebabkan retorika kehilangan posisi sentralnya. Cendekiawan Prancis, Petrus Ramus (1515–1572), yang merasa tidak puas dengan apa yang ia pandang sebagai organisasi trivium yang terlalu luas dan redundan, mengusulkan kurikulum baru. Dalam skemanya, lima komponen retorika tidak lagi berada di bawah payung utama retorika. Sebaliknya, penemuan (inventio) dan penataan (dispositio) ditetapkan menjadi bagian eksklusif dari dialektika, sementara gaya (elocutio), penyampaian (pronuntiatio), dan ingatan (memoria) adalah semua yang tersisa untuk retorika.[92] Ramus tewas sebagai martir selama Perang Agama Prancis. Ajaran-ajarannya, yang dipandang memusuhi Katolisisme, berusia singkat di Prancis tetapi menemukan lahan yang subur di Belanda, Jerman, dan Inggris.[93]
Salah satu pengikut Ramus dari Prancis, Audomarus Talaeus (Omer Talon), menerbitkan karya retorikanya, Institutiones Oratoriae, pada tahun 1544. Karya ini menekankan pada gaya dan menjadi begitu populer hingga disebut dalam karya John Brinsley (1612) Ludus literarius; or The Grammar Schoole sebagai teks yang "paling banyak digunakan di sekolah-sekolah terbaik". Banyak retorika Ramis lainnya menyusul dalam setengah abad berikutnya, dan pada abad ke-17, pendekatan mereka menjadi metode utama dalam pengajaran retorika di kalangan Protestan dan khususnya Puritan.[94] John Milton (1608–1674) menulis buku teks logika atau dialektika dalam bahasa Latin yang didasarkan pada karya Ramus.[95]
Ramisme tidak dapat memberikan pengaruh pada sekolah-sekolah dan universitas-universitas Katolik yang telah mapan, yang tetap setia pada Skolastisisme, maupun pada sekolah-sekolah dan universitas Katolik baru yang didirikan oleh anggota Serikat Yesus atau Oratorian, seperti yang dapat dilihat dalam kurikulum Yesuit (yang digunakan hingga abad ke-19 di seluruh dunia Kristen) yang dikenal sebagai Ratio Studiorum.[96] Meskipun pengaruh Cicero dan Kuintilianus meresap ke dalam Ratio Studiorum, hal tersebut terjadi melalui kacamata pengabdian dan militansi Kontra-Reformasi. Ratio memang dijiwai oleh rasa keilahian, tentang logos yang menjelma, yaitu retorika sebagai sarana yang fasih dan manusiawi untuk mencapai pengabdian lebih lanjut dan tindakan lebih lanjut di kota Kristen, yang tidak ada dalam formalisme Ramis. Ratio, dalam retorika, merupakan jawaban atas praktik "latihan rohani" Ignatius Loyola dalam pengabdian. Sistem pidato-doa yang kompleks ini tidak ditemukan dalam Ramisme.
Abad ketujuh belas
Di New England dan di Harvard College (didirikan tahun 1636), Ramus dan para pengikutnya memegang peranan dominan.[97][halaman dibutuhkan] Namun, di Inggris, beberapa penulis memengaruhi perjalanan retorika selama abad ke-17, dengan banyak di antara mereka meneruskan dikotomi[perinci lagi] yang telah dikemukakan oleh Ramus dan para pengikutnya pada dekade-dekade sebelumnya. Abad ini juga menyaksikan perkembangan gaya vernakular modern yang merujuk pada model-model bahasa Inggris, alih-alih bahasa Yunani, Latin, atau Prancis.
Francis Bacon (1561–1626), meskipun bukan seorang ahli retorika, memberikan kontribusi pada bidang ini melalui tulisan-tulisannya. Salah satu kekhawatiran pada era tersebut adalah menemukan gaya yang cocok untuk pembahasan topik-topik ilmiah, yang terutamanya membutuhkan pemaparan fakta dan argumen yang jelas, alih-alih gaya bahasa yang penuh perhiasan. Bacon dalam karyanya The Advancement of Learning mengkritik mereka yang terlalu sibuk dengan gaya bahasa alih-alih "bobot materi, nilai subjek, kesahihan argumen, daya cipta penemuan, atau kedalaman pertimbangan".[98] Mengenai masalah gaya bahasa, ia mengusulkan agar gaya tersebut disesuaikan dengan materi subjek dan khalayak, menggunakan kata-kata sederhana sejauh memungkinkan, serta hendaknya menyenangkan.[99][halaman dibutuhkan]
Thomas Hobbes (1588–1679) juga menulis tentang retorika. Di samping terjemahan ringkas dari Retorika karya Aristoteles, Hobbes juga menghasilkan sejumlah karya lain mengenai subjek tersebut. Sebagai sosok yang sangat kontrarian dalam banyak subjek, Hobbes, seperti halnya Bacon, juga mempromosikan gaya yang lebih sederhana dan alami yang menghemat penggunaan majas.
Mungkin perkembangan yang paling berpengaruh dalam gaya bahasa Inggris berasal dari kerja Royal Society (didirikan pada tahun 1660), yang pada tahun 1664 membentuk sebuah komite untuk membenahi bahasa Inggris. Di antara anggota komite tersebut adalah John Evelyn (1620–1706), Thomas Sprat (1635–1713), dan John Dryden (1631–1700). Sprat menganggap "cara bicara yang indah-indah" sebagai suatu penyakit, dan berpendapat bahwa gaya yang tepat harus "menolak semua amplifikasi, digresi, dan gaya bahasa yang berlebihan" serta sebaliknya "kembali pada kemurnian primitif dan kesingkatan".[100]
Meskipun kerja komite ini tidak pernah berlanjut melampaui perencanaan, John Dryden sering kali diakui sebagai pencipta sekaligus teladan bagi gaya bahasa Inggris baru dan modern. Prinsip utamanya adalah bahwa gaya tersebut harus sesuai "dengan kesempatan, subjek, dan orang yang dihadapi".[101] Oleh karena itu, ia menganjurkan penggunaan kata-kata bahasa Inggris sejauh memungkinkan alih-alih kata-kata asing, serta sintaksis vernakular alih-alih Latin. Prosa karyanya sendiri (dan puisinya) menjadi teladan bagi gaya baru ini.
Abad kedelapan belas
Boleh dikatakan salah satu mazhab retorika yang paling berpengaruh selama abad ke-18 adalah retorika Beletristik Skotlandia, yang diteladani oleh profesor-profesor retorika seperti Hugh Blair, yang karyanya Lectures on Rhetoric and Belles Lettres meraih kesuksesan internasional dalam berbagai edisi dan terjemahan, serta Lord Kames dengan bukunya yang berpengaruh, Elements of Criticism.
Tokoh terkenal lainnya dalam retorika abad ke-18 adalah Maria Edgeworth, seorang novelis dan penulis cerita anak-anak yang karyanya sering memparodikan strategi retoris berpusat pada laki-laki pada masanya. Dalam esainya tahun 1795 "An Essay on the Noble Science of Self-Justification", Edgeworth menyajikan sindiran terhadap sentrisme sains retorika Pencerahan dan Gerakan Beletristik.[102] Ia dijuluki "Maria yang Agung" oleh Sir Walter Scott, yang dengannya ia saling bersurat,[103] dan oleh para cendekiawan modern dicatat sebagai "pembaca yang transgresif dan ironis" terhadap norma-norma retoris abad ke-18.[104]
Era modern
Pada pergantian abad ke-20, terjadi kebangkitan kembali studi retoris yang diwujudkan melalui pembentukan departemen retorika dan pidato di lembaga-lembaga akademis, serta pembentukan organisasi-organisasi profesional tingkat nasional dan internasional.[105] Minat awal pada studi retoris ini merupakan gerakan menjauh dari elokusi sebagaimana yang diajarkan di departemen bahasa Inggris di Amerika Serikat, serta sebuah upaya untuk memfokuskan kembali studi retoris dari yang semula hanya mengenai penyampaian pidato menjadi keterlibatan kewargaan dan "kompleksitas yang kaya" dari hakikat retorika itu sendiri.[106]
Pada tahun 1930-an, kemajuan teknologi media massa mendorong kebangkitan kembali studi retorika, bahasa, persuasi, serta retorika politik dan konsekuensinya. Pembalikan linguistik dalam filsafat juga berkontribusi pada kebangkitan ini. Istilah retorika mulai diterapkan pada bentuk-bentuk media di luar bahasa verbal, misalnya retorika visual, "retorika temporal",[107] dan "tikungan temporal"[108] dalam teori dan praktik retoris.
Bangkitnya periklanan dan media massa seperti fotografi, telegrafi, radio, dan film membawa retorika semakin menonjol dalam kehidupan masyarakat. Disiplin retorika telah digunakan untuk mempelajari cara periklanan membujuk,[109] serta untuk membantu memahami penyebaran berita bohong dan teori konspirasi di media sosial.[110]
Teoretikus terkemuka
- Kenneth Burke
- Burke adalah seorang teoretikus retorika, filsuf, dan penyair. Banyak dari karyanya menjadi hal yang sentral bagi teori retoris modern: Counterstatement (1931), A Grammar of Motives (1945), A Rhetoric of Motives (1950), dan Language as Symbolic Action (1966). Di antara konsep-konsepnya yang berpengaruh adalah "identifikasi", "konsubstansialitas", dan "pentad dramatis". Ia menggambarkan retorika sebagai "penggunaan bahasa sebagai sarana simbolis untuk menginduksi kerja sama pada makhluk yang secara alami merespons simbol-simbol".[111] Berkenaan dengan teori Aristoteles, Aristoteles lebih tertarik untuk membangun retorika, sementara Burke tertarik untuk "membongkar"-nya.
- Groupe μ
- Tim interdisipliner ini berkontribusi pada pembaruan elocutio dalam konteks poetika dan linguistik modern, terutamanya melalui karya Rhétorique générale[112] dan Rhétorique de la poésie (1977).
- Marshall McLuhan
- McLuhan adalah seorang teoretikus media yang teori-teori serta pilihan objek studinya penting bagi studi retorika. Buku McLuhan The Mechanical Bride[113] merupakan kompilasi tampilan iklan dan materi lain dari kebudayaan populer yang dilengkapi esai-esai pendek berisi analisis retoris mengenai strategi persuasif pada setiap materi tersebut. McLuhan kelak mengalihkan fokus analisis retorisnya dan mulai mempertimbangkan bagaimana media komunikasi itu sendiri memengaruhi kita sebagai sarana persuasif. Diktum terkenalnya "medium adalah pesan" menyoroti signifikansi dari media itu sendiri. Pergeseran fokus ini mengarah pada dua bukunya yang paling luas dikenal, The Gutenberg Galaxy[114] dan Understanding Media.[115] Buku-buku ini mewakili pembalikan ke dalam untuk memperhatikan kesadaran seseorang, berlawanan dengan orientasi ke luar dari para ahli retorika lainnya yang lebih mengarah pada pertimbangan sosiologis dan interaksi simbolis. Tidak ada cendekiawan sejarah dan teori retorika lain yang dipublikasikan secara seluas McLuhan pada abad ke-20.
- Chaïm Perelman
- Perelman merupakan salah satu teoretikus argumentasi paling penting pada abad ke-20. Karya utamanya adalah Traité de l'argumentation—la nouvelle rhétorique (1958), bersama Lucie Olbrechts-Tyteca, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation.[116] Perelman dan Olbrechts-Tyteca memindahkan retorika dari pinggiran ke pusat teori argumentasi. Di antara konsep-konsep mereka yang paling berpengaruh adalah "disosiasi", "khalayak universal", "argumen kuasi-logis", dan "kehadiran" (presence).
- I. A. Richards
- Richards adalah seorang kritikus sastra dan ahli retorika. Karyanya The Philosophy of Rhetoric merupakan teks penting dalam teori retoris modern.[117] Dalam karya ini, ia mendefinisikan retorika sebagai "studi tentang kesalahpahaman dan cara mengatasinya", serta memperkenalkan konsep berpengaruh tenor dan vehicle untuk menggambarkan komponen-komponen metafora, yaitu gagasan utama dan konsep yang dibandingkan dengannya.[117]:97
- Stephen Toulmin
- Toulmin adalah seorang filsuf yang bukunya Uses of Argument merupakan teks penting dalam teori retoris modern dan teori argumentasi.[118]
- Richard M. Weaver
- Weaver adalah seorang kritikus retoris dan budaya yang dikenal atas kontribusinya pada konservatisme baru. Ia berfokus pada implikasi etis dari retorika dalam buku-bukunya Language is Sermonic dan The Ethics of Rhetoric. Menurut Weaver, terdapat empat jenis argumen, dan melalui jenis argumen yang terbiasa digunakan oleh seorang ahli retorika, seorang kritikus dapat mengenali pandangan dunia mereka. Pihak yang menyukai argumen dari genus atau definisi adalah kaum idealis. Pihak yang berargumen berdasarkan keserupaan, seperti para penyair dan kaum agamis, melihat keterkaitan antarhal. Argumen dari konsekuensi melihat hubungan sebab dan akibat. Terakhir, argumen dari keadaan (circumstance) mempertimbangkan rincian dari suatu situasi dan merupakan argumen yang disukai oleh kaum liberal.
Metode analisis
Kritik yang dipandang sebagai suatu metode
Retorika dapat dianalisis melalui berbagai macam metode dan teori. Salah satu metode tersebut adalah kritik. Ketika pihak yang menggunakan kritik menganalisis peristiwa retorika, apa yang mereka lakukan disebut kritik retoris (Lihat§ [[#Kritik|Kritik]],di bawah.). Menurut kritikus retoris Jim A. Kuypers, "Penggunaan retorika adalah sebuah seni, dan karena itu, retorika tidak terlalu cocok untuk metode analisis ilmiah. Kritik juga merupakan sebuah seni, dan karenanya sangat cocok untuk memeriksa ciptaan-ciptaan retoris."[119]: 14 Ia menegaskan bahwa kritik merupakan suatu metode untuk menghasilkan pengetahuan sebagaimana halnya metode ilmiah:[119]
Cara Ilmu Pengetahuan dan Humaniora mempelajari fenomena di sekitar kita sangat berbeda dalam hal sejauh mana kepribadian peneliti dibiarkan memengaruhi hasil penelitian. Sebagai contoh, dalam Ilmu Pengetahuan, para peneliti secara sengaja mematuhi metode yang ketat (metode ilmiah).... Secara umum, kepribadian, rasa suka dan tidak suka, serta preferensi keagamaan dan politik peneliti dianggap harus sejauh mungkin dijauhkan dari penelitian yang sebenarnya....
Sangat bertolak belakang, kritik (salah satu dari sekian banyak metode Humaniora dalam menghasilkan pengetahuan) secara aktif melibatkan kepribadian peneliti. Pilihan mengenai apa yang dipelajari, serta bagaimana dan mengapa mempelajari suatu artefak retoris, sangat dipengaruhi oleh kualitas pribadi peneliti.... Dalam Humaniora, metode penelitian juga dapat mengambil banyak bentuk, misalnya kritik dan etnografi, tetapi kepribadian peneliti merupakan komponen integral dari penelitian. Lebih mempersonalisasi kritik, kita menemukan bahwa para kritikus retoris menggunakan berbagai cara ketika memeriksa artefak retoris tertentu, dengan beberapa kritikus bahkan mengembangkan perspektif unik mereka sendiri untuk memeriksa artefak retoris secara lebih baik.[119]:14
— Jim A. Kuypers
Edwin Black menulis mengenai hal ini bahwa, "Dengan demikian, metode mengakui adanya tingkat kepribadian yang bervariasi. Dan kritik, secara keseluruhan, berada dekat dengan ujung skala metodologis yang tidak pasti, kontingen, dan personal. Sebagai konsekuensi dari penempatan ini, tidak mungkin dan tidak pula diinginkan agar kritik dibakukan ke dalam suatu sistem, agar teknik-teknik kritis diobjektifkan, agar kritikus dapat dipertukarkan untuk tujuan replikasi, atau agar kritik retoris berfungsi sebagai pelayan bagi teori kuasi-ilmiah."[120]: xi
Jim A. Kuypers merangkum gagasan kritik sebagai seni ini dengan cara berikut: "Singkatnya, kritik adalah sebuah seni, bukan sains. Kritik bukanlah sebuah metode ilmiah; kritik menggunakan metode argumen yang subjektif; kritik berdiri sendiri, bukan dalam kaitannya dengan metode lain dalam menghasilkan pengetahuan (yaitu, ilmu pengetahuan sosial atau ilmiah)... Wawasan dan imajinasi mengungguli penerapan statistik ketika mempelajari tindakan retoris."[119]:14–15
Strategi
Strategi retoris adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh penulis atau pembicara untuk membujuk atau menginformasikan khalayak mereka. Menurut James W. Gray,Templat:Importance inline terdapat berbagai strategi argumen yang digunakan dalam penulisan. Ia menguraikan empat di antaranya sebagai argumen dari analogi, argumen dari absurditas, eksperimen pikiran, dan inferensi menuju penjelasan terbaik.[121]
Kritik
Modern kritik retoris mengeksplorasi hubungan antara teks dan konteks; yaitu bagaimana suatu peristiwa retorika berkaitan dengan keadaan. Karena tujuan retorika adalah menjadi persuasif, sejauh mana retorika yang bersangkutan membujuk khalayaknya adalah hal yang harus dianalisis, dan kemudian dikritik. Dalam menentukan sejauh mana suatu teks bersifat persuasif, seseorang dapat mengeksplorasi hubungan teks tersebut dengan khalayak, tujuan, etika, argumen, bukti, penataan, penyampaian, dan gayanya.[122]
Dalam karyanya, Rhetorical Criticism: A Study in Method, Edwin Black menyatakan, "Tugas kritik bukanlah untuk mengukur... wacana secara dogmatis berdasarkan standar rasionalisme parokial tertentu, melainkan, dengan memperhitungkan jangkauan pengalaman manusia yang tak terukur luasnya, melihatnya sebagaimana adanya."[120]:131 Meskipun frasa "sebagaimana adanya" masih dapat diperdebatkan, para kritikus retoris menjelaskan teks dan pidato dengan menyelidiki situasi retoris keduanya, biasanya menempatkannya dalam kerangka pertukaran antara pembicara dan khalayak. Pandangan antitesis menempatkan ahli retorika sebagai pusat penciptaan dari apa yang dianggap sebagai situasi yang ada; yaitu agenda dan *spin*.[123]
Pendekatan teoretis tambahan
Menyusul pendekatan-pendekatan neo-Aristotelian terhadap kritik, para cendekiawan mulai menurunkan metode-metode dari disiplin ilmu lain, seperti sejarah, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial.[124]: 249 Pentingnya penilaian pribadi kritikus menurun dalam cakupan eksplisit[butuh klarifikasi] sementara dimensi analitis dari kritik mulai mendapatkan momentum. Sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an, pluralisme metodologis menggantikan metode neo-Aristotelian tunggal. Kritik retoris metodologis biasanya dilakukan secara deduksi, yang di dalamnya [meragukan] digunakan untuk memeriksa kasus retorika yang spesifik.[125] Jenis-jenis ini[butuh klarifikasi] mencakup:
- Kritik ideologis
- mengkaji retorika karena retorika tersebut menyiratkan kepercayaan, nilai, asumsi, dan interpretasi yang dipegang oleh ahli retorika atau kebudayaan yang lebih luas
- Kritik ideologis juga memperlakukan ideologi sebagai artefak wacana, yaitu sesuatu yang tertanam dalam istilah-istilah kunci (disebut "ideograf") serta sumber daya material dan perwujudan diskursif.
- Kritik kluster
- berusaha membantu kritikus memahami pandangan dunia ahli retorika (dikembangkan oleh Kenneth Burke)
- Ini berarti mengidentifikasi istilah-istilah yang "terkelompok" di sekitar simbol-simbol kunci dalam artefak retoris dan pola-pola kemunculannya.
- Analisis bingkai
- mencari tahu cara para ahli retorika mengonstruksi lensa interpretatif dalam wacana mereka
- Singkatnya, bagaimana mereka membuat fakta-fakta tertentu lebih mencolok daripada yang lain. Metode ini sangat berguna untuk menganalisis produk-produk media berita.
- Kritik genre
- mengasumsikan situasi tertentu menuntut kebutuhan dan ekspektasi yang serupa di kalangan khalayak, sehingga membutuhkan jenis retorika tertentu
- Metode ini mempelajari retorika dalam waktu dan lokasi yang berbeda, dengan melihat kesamaan dalam situasi retoris dan retorika yang menanggapinya. Contohnya meliputi eulogi, pidato pelantikan, dan deklarasi perang.
- Kritik naratif
- narasi membantu mengorganisasikan pengalaman guna memberikan makna pada peristiwa sejarah dan transformasi
- Kritik naratif berfokus pada cerita itu sendiri dan bagaimana konstruksi narasi tersebut mengarahkan interpretasi atas situasi yang ada.
Pada pertengahan 1980-an, studi kritik retoris mulai bergerak menjauh dari metodologi yang presisi menuju isu-isu konseptual. Kritik yang didorong secara konseptual[126] beroperasi lebih melalui abduksi, menurut cendekiawan James Jasinski, yang berargumen bahwa jenis kritik ini dapat dipikirkan sebagai proses bolak-balik antara teks dan konsep-konsep[perinci lagi], yang sedang dieksplorasi pada saat yang sama. Konsep-konsep tersebut tetap menjadi "karya yang sedang berkembang", dan pemahaman tentang istilah-istilah tersebut[butuh klarifikasi] berkembang melalui analisis suatu teks.[124]:256
Kritik dianggap bersifat retoris ketika berfokus pada cara beberapa jenis wacana bereaksi terhadap eksigensi situasional (masalah atau tuntutan) dan kendala-kendalanya. Kritik retoris modern berkaitan dengan bagaimana kasus atau objek retoris membujuk, mendefinisikan, atau mengonstruksi khalayak. Dalam istilah modern, retorika mencakup, tetapi tidak terbatas pada, pidato, wacana ilmiah, pamflet, karya sastra, karya seni, dan gambar. Kritik retoris kontemporer tetap mempertahankan aspek-aspek pemikiran neo-Aristotelian awal melalui pembacaan dekat (close reading), yang berupaya mengeksplorasi organisasi dan struktur stilistika dari suatu objek retoris.[127] Menggunakan analisis teks secara dekat berarti para kritikus retoris menggunakan sarana retorika klasik dan analisis sastra untuk mengevaluasi gaya dan strategi yang digunakan untuk mengomunikasikan argumen.
Tujuan kritik
Kritik retoris memiliki beberapa tujuan. Salah satunya, kritik retoris diharapkan dapat membantu membentuk atau meningkatkan selera publik. Kritik retoris membantu mengedukasi khalayak dan mengembangkan mereka menjadi penilai yang lebih baik terhadap situasi retoris dengan memperkuat gagasan tentang nilai, moralitas, dan kesesuaian. Dengan demikian, kritik retoris dapat berkontribusi pada pemahaman khalayak terhadap diri mereka sendiri dan masyarakat.
Menurut Jim A. Kuypers, tujuan kedua dari pelaksanaan kritik hendaknya untuk meningkatkan apresiasi dan pemahaman kita. "[K]ita ingin meningkatkan pemahaman kita sendiri maupun orang lain tentang tindakan retoris; kita ingin membagikan wawasan kita kepada orang lain, serta meningkatkan apresiasi mereka terhadap tindakan retoris. Ini bukanlah tujuan yang hampa, melainkan masalah kualitas hidup. Dengan meningkatkan pemahaman dan apresiasi, kritikus dapat menawarkan cara-cara baru dan berpotensi menarik bagi orang lain untuk melihat dunia. Melalui pemahaman, kita juga menghasilkan pengetahuan tentang komunikasi manusia; secara teori hal ini hendaknya membantu kita mengelola interaksi dengan orang lain secara lebih baik." Kritik merupakan kegiatan yang memanusiakan karena mengeksplorasi dan menyoroti kualitas-kualitas yang menjadikan kita manusia.[119]:13
Retorika hewan
Studi retorika pada umumnya berfokus pada persuasi dalam interaksi manusia. Namun, sejumlah akademisi berargumen bahwa perilaku komunikasi pada hewan sosial—seperti vokalisasi, peragaan kawin, dan penipuan—dapat dipandang sebagai tindakan retoris atau bentuk dasar retorika yang dimiliki bersama oleh manusia dan hewan.[128] Bidang kajian tentang retorika hewan ini dikenal dengan istilah "bioretorika".[129]
Tingkat kesadaran diri yang diperlukan untuk mempraktikkan retorika pada hewan menjadi subjek diskusi akademis. Menurut beberapa filsuf seperti Diane Davis, keberhasilan sejumlah spesies hewan dalam uji cermin menunjukkan adanya kesadaran diri dan kemampuan merepresentasikan diri, yang mendasari keterlibatan mereka dalam bentuk-bentuk bahasa dan praktik retoris.[130]
Kritik terhadap antroposentrisme menyoroti bagaimana pandangan dualistis memisahkan manusia dan hewan berdasarkan anggapan tentang rasionalitas, akal, dan pikiran. Pär Segerdahl berargumen bahwa dekonstruksi atas dikotomi manusia-hewan ini dapat membuka pemahaman baru mengenai komunikasi timbal balik antarspesies.[131] Selain itu, penamaan dan pengategorian hewan melalui pelabelan ilmiah maupun rakyat dipandang sebagai tindakan retoris manusia yang mendefinisikan hubungan manusia dengan dunia fauna.[132]
George A. Kennedy mengemukakan bahwa beberapa hewan memiliki bentuk dasar phrónēsis (kebijaksanaan praktis) yang memungkinkan mereka belajar dari petunjuk dan tanda. Ia berpendapat bahwa hewan dapat menerapkan unsur-unsur retorika deliberatif, yudisial, dan epidiktik serta mengodekan ethos, logos, dan pathos melalui gerakan tubuh dan vokal.[133] Peneliti seperti Debra Hawhee mengusulkan perlunya mengalihkan fokus dari bahasa verbal dan kesadaran murni guna memperluas studi retorika ke ranah komunikasi nonmanusia.[134]
Retorika komparatif
Retorika komparatif adalah sebuah praktik dan metodologi yang berkembang pada akhir abad ke-20 untuk memperluas studi retorika melampaui tradisi retoris dominan yang telah dikonstruksi dan dibentuk di Eropa Barat dan Amerika Serikat.[135][136] Sebagai praktik penelitian, retorika komparatif mempelajari kebudayaan masa lalu dan masa kini di seluruh dunia untuk mengungkap keanekaragaman penggunaan retorika serta menemukan perspektif, praktik, dan tradisi retoris yang secara historis kurang diwakili atau diabaikan.[135][137][138] Sebagai sebuah metodologi, retorika komparatif mengonstruksi perspektif, praktik, dan tradisi retoris suatu kebudayaan menurut istilah dan konteks mereka sendiri, bertolak belakang dengan penggunaan teori, terminologi, atau pembingkaian Eropa atau Amerika.[135]
Retorika komparatif bersifat komparatif dalam hal menyoroti bagaimana tradisi-tradisi retoris berhubungan satu sama lain, sembari berupaya menghindari penggambaran biner atau penilaian nilai (value judgment).[135] Hal ini dapat mengungkap isu-isu kekuasaan di dalam dan antarbudaya, serta cara-cara berpikir, bertindak, dan ada yang baru atau kurang diakui yang menantang atau memperkaya tradisi Euro-Amerika yang dominan dan memberikan gambaran studi retoris yang lebih lengkap.[139]
Robert T. Oliver diakui sebagai cendekiawan pertama yang menyadari pentingnya mempelajari retorika non-Barat dalam publikasinya tahun 1971 yang berjudul Communication and Culture in Ancient India and China.[137][140] George A. Kennedy diakui atas tinjauan lintas budaya pertama mengenai retorika dalam publikasinya tahun 1998, Comparative Rhetoric: An Historical and Cross-cultural Introduction.[140] Meskipun karya-karya Oliver dan Kennedy berkontribusi pada lahirnya retorika komparatif, mengingat masih barunya bidang ini, keduanya masih menggunakan istilah dan teori Euro-Amerika untuk menginterpretasikan praktik-praktik kebudayaan non-Euro-Amerika.[140][141]
LuMing Mao, Xing Lu, Mary Garrett, Arabella Lyon, Bo Wang, Hui Wu, dan Keith Lloyd telah banyak menerbitkan karya tentang retorika komparatif, yang membantu membentuk dan mendefinisikan bidang ini.[140] Pada tahun 2013, LuMing Mao menyunting edisi khusus tentang retorika komparatif dalam Rhetoric Society Quarterly,[142] yang berfokus pada metodologi komparatif pada era globalisasi. Pada tahun 2015, LuMing Mao dan Bo Wang menyunting bersama sebuah simposium[143] yang menampilkan esai-esai posisi dari sekelompok cendekiawan terkemuka di bidang tersebut. Dalam pengantar mereka, Mao dan Wang menekankan sifat retorika yang cair dan lintas budaya: "Pengetahuan retoris, seperti halnya pengetahuan lainnya, bersifat heterogen, multidimensi, dan selalu dalam proses diciptakan."[143]:241 Simposium tersebut mencakup "A Manifesto: The What and How of Comparative Rhetoric", yang menunjukkan upaya kolektif pertama untuk mengidentifikasi dan mengartulasikan definisi, tujuan, serta metodologi retorika komparatif.[138] Prinsip-prinsip manifesto ini diterapkan dalam banyak karya belakangan yang mempelajari atau menggunakan retorika komparatif.[140]
Deteksi otomatis majas retoris
Seiring berkembangnya pemrosesan bahasa alami, minat terhadap deteksi otomatis majas retoris pun meningkat. Fokus utamanya adalah mendeteksi majas-majas tertentu, seperti kiasmus, anafora, dan epifora[144] dengan menggunakan klasifikator yang dilatih menggunakan data berlabel. Kelemahan utama dalam mencapai akurasi tinggi pada sistem-sistem ini adalah kurangnya data berlabel untuk tugas-tugas tersebut; namun, sebuah studi tahun 2020 berargumen bahwa kemajuan dalam pemodelan bahasa seperti few-shot learning dapat memungkinkan deteksi lebih banyak majas retoris dengan data yang lebih sedikit.[145][butuh pemutakhiran]
Ringkasan Tradisi Retoris
"The Rhetorical Tradition", yang ditulis oleh W. Keith, membahas tentang bagaimana retorika sebagai suatu konsep dipandang dan digunakan dalam peristiwa sehari-hari. Beberapa di antara peristiwa tersebut dapat berupa debat, iklan, dan proses pengadilan. Retorika digunakan untuk membujuk orang tentang cara berpikir atau bertindak terhadap pidato, simbol, atau bahasa. Istilah ini didefinisikan dengan berbagai cara, tetapi secara keseluruhan berfokus pada penggunaan daya bujuk dan efektivitasnya. Persuasi adalah pengaruh yang dimiliki seseorang terhadap suatu topik. Terdapat pula wacana, konsep lain mengenai retorika. Wacana adalah tuturan lisan maupun tulisan yang digunakan. Retorika digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan senantiasa ada di sekitar kita.[146]
Lihat pula
- Artes liberales
- Humanisme kewargaan
- Studi komposisi
- Teori percakapan
- Demagogi
- Analisis wacana
- Glosarium istilah retorika
- Tata bahasawan (dunia Yunani-Romawi)
- Kishōtenketsu
- Bahasa dan pemikiran
- Daftar slogan politik
- Daftar pidato
- Multimodalitas
- Retorika baru
- Pedagogi
- Teknologi persuasi
- Propaganda
- Penulisan pidato
- Komunikasi teknis
Catatan
- ↑ Kata retorika berasal dari bahasa Yunani ῥητορικός rhētorikós, "oratoris", dari ῥήτωρ rhḗtōr, "pembicara publik".[1] Dilafalkan /ˈrɛtərɪk/, bentuk kata sifatnya, rhetorical, dilafalkan /rɪˈtɒrɪkəl/.
- ↑ Definisi retorika merupakan subjek yang kontroversial dalam bidang ini dan telah memicu perdebatan filologis mengenai maknanya di Yunani Kuno.[5]
Referensi
Kutipan
- ↑
- Liddell, Henry George; Scott, Robert (1940). "ῥητορ-ικός (rhetorikos)". A Greek-English Lexicon. Oxford: Clarendon Press.
- op. cit. at "ῥήτωρ (rhetor)"
- op. cit. at "ῥῆμα (rhema)"
- op. cit. at "ἐρῶ (ero)"
- ↑
- Corbett, E. P. J. (1990). Classical rhetoric for the modern student. New York: Oxford University Press. hlm. 1.
- Young, R. E.; Becker, A. L.; Pike, K. L. (1970). Rhetoric: discovery and change. New York: Harcourt Brace & World. hlm. 1.
- ↑
- Aristotle. "I.2§1359". Politics. Diterjemahkan oleh Roberts, W. Rhys. Diarsipkan dari asli tanggal 16 September 2008.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Aristotle. "I.2". Rhetoric. Diarsipkan dari asli tanggal 15 April 2012. Diakses tanggal 19 Oktober 2011.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
- Aristotle. "I.2§1359". Politics. Diterjemahkan oleh Roberts, W. Rhys. Diarsipkan dari asli tanggal 16 September 2008.
- ↑ Conley, Thomas (1991). Rhetoric in the European Tradition. University of Chicago.
- ↑ Parlor, Burkean; Johnstone, Henry W. (1996). "On schiappa versus poulakos". Rhetoric Review. 14 (2): 438–440. doi:10.1080/07350199609389075.
- ↑
- John S. Nelson, Allan Megill, and Donald N. McCloskey The Rhetoric of Human Sciences: Language and Argument in Scholarship and Public Affairs Diarsipkan 24 November 2009 di Wayback Machine, London: University of Wisconsin Press, 1987. "In the last ten years, many scholars have investigated exactly how rhetoric works within a particular field."[butuh klarifikasi]
- Polito, Theodora (2005). "Educational Theory as Theory of Culture: A Vichian perspective on the educational theories of John Dewey and Kieran Egan". Educational Philosophy and Theory. 37 (4): 475–494. doi:10.1111/j.1469-5812.2005.00136.x. S2CID 143830059.
- McCloskey, Deirdre N. (1998). The Rhetoric of Economics. Univ of Wisconsin Press. ISBN 978-0-299-15813-2.
- McCloskey, Donald N. (1983). "The Rhetoric of Economics". Journal of Economic Literature. 21 (2). American Economic Association: 481–517. ISSN 0022-0515. JSTOR 2724987.
- Nelson, John S. (1998). Tropes of Politics. University of Wisconsin Press. ISBN 978-0-299-15833-0.
- Brown, Richard Harvey (1987). Society as Text. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-07617-1.
- ↑ Gorgias (1972). "Encomium of Helen". Dalam Sprague, Rosamond Kent (ed.). The Older Sophists: A Complete Translations by Several Hands of the Fragments. Diterjemahkan oleh Kennedy, George (Edisi first). Columbia, South Carolina: University of South Carolina Press. hlm. 50–54. ISBN 0-87249-192-7.
- ↑ Cleary, John Joseph; Gurtler, Gary M. (2009). Proceedings of the Boston Area Colloquium in Ancient Philosophy: Volume XXIV (2008) (dalam bahasa Inggris). Leiden: BRILL. hlm. 236. ISBN 978-90-04-17742-0.
- ↑ Plato. Gorgias. Diterjemahkan oleh Jowett, Benjamin. The Classical Library.
- ↑ Hallsby, Atilla. "Reading Rhetorical Theory". University of Minnesota. Diakses tanggal 15 Agustus 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑
- Kastely, James (2015). The Rhetoric of Plato's Republic (dalam bahasa Inggris). Chicago UP.
- Bjork, Collin (2021). "Plato, Xenophon, and the Uneven Temporalities of Ethos in the Trial of Socrates". Philosophy & Rhetoric. 54 (3): 240–262. doi:10.5325/philrhet.54.3.0240. ISSN 0031-8213. JSTOR 10.5325/philrhet.54.3.0240. S2CID 244334227.
- Bengtson, Erik (2019). The epistemology of rhetoric: Plato, doxa and post-truth. Uppsala UP.
- ↑ Zuckert, Catherine H. (2009). Plato's Philosophers: The Coherence of the Dialogues (dalam bahasa Inggris). Chicago: University of Chicago Press. hlm. 40. ISBN 978-0-226-99338-6.
- ↑ Rapp, Christof (2022). "Aristotle's Rhetoric". Stanford Encyclopedia of Philosophy. §2 "The Structure of the Rhetoric".
- ↑ Rapp, Christof (2023), "Aristotle's Rhetoric", dalam Zalta, Edward N.; Nodelman, Uri (ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Winter 2023), Metaphysics Research Lab, Stanford University, diakses tanggal 2024-03-21
- ↑ Rapp, Christof (2023), "Aristotle's Rhetoric", dalam Zalta, Edward N.; Nodelman, Uri (ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Winter 2023), Metaphysics Research Lab, Stanford University, diakses tanggal 2024-03-14
- ↑ Kennedy, George A. (1991). Aristotle, On Rhetoric: A Theory of Civic Discourse. New York: Oxford University Press.
- ↑ Burke, Kenneth (1969). A Rhetoric of Motives. Berkeley: University of California Press.
- 1 2 Jensen, Kyle (2022). Kenneth Burke's Weed Garden: Refiguring the Mythic Grounds of Modern Rhetoric (dalam bahasa Inggris). Pennsylvania State University Press. ISBN 9780271092928.
- 1 2 White, James Boyd (1984). When Words Lose Their Meaning. Chicago: University of Chicago Press.
- ↑ Vernon, Jamie L (31 Januari 2014). "Leveraging rhetoric for improved communication of science: a scientist's perspective". Poroi. 10 (1): 3. doi:10.13008/2151-2957.1181.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Leff, Michael (1993). "The Habitation of Rhetoric". Dalam Lucaites, John Louis; et al. (ed.). Contemporary Rhetorical Theory: A Reader. New York: Guilford Press.
- ↑ "Rhetoric". Merriam-Webster Dictionary.
- ↑ Templat:Cite The Britannica Dictionary
- ↑ Henderson, Jeffrey (1929). "Antidosis". Loeb Classical Library (dalam bahasa Inggris): 327. doi:10.4159/DLCL.isocrates-discourses_15_antidosis.1929. Diakses tanggal 2025-04-24.
- ↑ Matsen, Patricia; Rollinson, Philip; Sousa, Marion (1990). Readings from Classical Rhetoric. United States of America: Southern Illinois University Press. hlm. 55. ISBN 0-8093-1593-9.
- ↑ Aristotle. Rhetoric. I.3.
- ↑ Garver, Eugene (1994). Aristotle's Rhetoric: An Art of Character. Chicago: University of Chicago Press.
- 1 2 Keith, William M. The Rhetorical Tradition: The Origins of Rhetoric, pp. 5–8.
- ↑ Crowley, Sharon, and Debra Hawhee. Ancient Rhetorics for Contemporary Students.
- ↑ Hariman, Robert (1995). Political Style: The Artistry of Power. Chicago: The University of Chicago Press.
- ↑ Netzer, Olek (2021-06-14). Person-Centered Political Party: A Blueprint for Organization Free of Power Corruption (dalam bahasa Inggris). LIT Verlag Münster. hlm. 13+. ISBN 978-3-643-91296-1.
- ↑ Cheminant, Wayne Le; Parrish, John M. (2010-09-22). Manipulating Democracy: Democratic Theory, Political Psychology, and Mass Media (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-99445-6.
- ↑ Saussure, Louis de; Schulz, Peter (2005-01-01). Manipulation and Ideologies in the Twentieth Century: Discourse, Language, Mind (dalam bahasa Inggris). John Benjamins Publishing. hlm. 213+. ISBN 978-90-272-2707-2.
- 1 2 Lundberg, C. O., & Keith, W. M. (2018). The essential guide to rhetoric. Bedford/St. Martin's.
- ↑ Hauser, Gerard (2002). Introduction to Rhetorical Theory. Illinois: Waveland Press. hlm. 2. ISBN 978-1-57766-221-1.
- ↑ Kennedy, George A. (1999). Classical Rhetoric & Its Christian and Secular Tradition. Chapel Hill: The University of North Carolina Press.
- ↑ Vickers, Brian. "Deconstruction's Designs on Rhetoric". Dalam Horner, Winifred Bryan; Leff, Michael (ed.). Rhetoric and Pedagogy: Its History, Philosophy, and Practice. hlm. 295–315.
- ↑
- Conley, T.M. (1990). Rhetoric in the European Tradition. University of Chicago Press.
- Kennedy, G.A. (1994). A New History of Classical Rhetoric. Princeton University Press.
- ↑ Augustine of Hippo. De doctrina Christiana. IV.
- 1 2 Prill, Paul E. (1987). "Rhetoric and Poetics in the Early Middle Ages". Rhetorica. 5 (2): 129–147. doi:10.1525/rh.1987.5.2.129.
- 1 2 3 "A Brief History of Rhetoric and Composition". The Bedford Bibliography for Teachers of Writing. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Mei 2010.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Zappen, James P. (1989). "Francis Bacon and the Historiography of Scientific Rhetoric". Rhetoric Review. 8 (1): 74–88. doi:10.1080/07350198909388879. JSTOR 465682.
- ↑ Edwards, Paul C. (1984). "Elocution and Shakespeare: An Episode in the History of Literary Taste". Shakespeare Quarterly. 35 (3): 305–14. doi:10.2307/2870367. JSTOR 2870367.
- ↑
- Roffee, J. A. (2016). "Rhetoric, Aboriginal Australians and the Northern Territory intervention: A socio-legal investigation into pre-legislative argumentation" (PDF). International Journal for Crime, Justice and Social Democracy. 5 (1): 131–47. doi:10.5204/ijcjsd.v5i1.285. S2CID 146941187. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 5 Februari 2017.
- Roffee, J. A. (2014). "Synthetic Necessary Truth Behind New Labour's Criminalisation of Incest". Social & Legal Studies. 23: 113–30. doi:10.1177/0964663913502068. S2CID 145292798.
- ↑ Berlin, James A. (1 Maret 1981). "John Genung and contemporary composition theory: The triumph of the eighteenth century". Rhetoric Society Quarterly (dalam bahasa Inggris). 11 (2): 74–84. doi:10.1080/02773948109390600. ISSN 0277-3945 – via Taylor and Francis Online.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ray, Angela G. (2005). The Lyceum and Public Culture in the Nineteenth-Century United States. East Lansing: Michigan State University Press. hlm. 14–15.
- ↑ Borchers, Timothy A. (2006). Rhetorical Theory: An Introduction (with InfoTrac). Canada: Wadsworth Publishing. hlm. 21. ISBN 978-0-534-63918-1.
- ↑ Horner, Bruce; Lu, Min-Zhan (2010). "Working Rhetoric and Composition". College English. 72 (5): 470–494. ISSN 0010-0994.
- 1 2 Sheridan, David M.; Ridolfo, Jim; Michel, Anthony J. (2012). The available means of persuasion: mapping a theory and pedagogy of multimodal public rhetoric. New media theory. Anderson, S.C: Parlor Press. ISBN 978-1-60235-309-1.
- ↑ Booth, Wayne C. (2004). The rhetoric of rhetoric: the quest for effective communication. Blackwell manifestos. Malden, MA: Blackwell Pub. ISBN 978-1-4051-1236-9.
- ↑ Crowley, Sharon (1990). The methodical memory: invention in current-traditional rhetoric. Carbondale: Southern Illinois University Press. ISBN 978-0-8093-1615-1.
- ↑ Grosskopf Lee, W. (2015). When Win-Argument Pedagogy is a Loss for the Composition Classroom. Argument (Kraków. 2011), V(1), 243–266.
- 1 2 3 Cobos, Casie; Raquel Ríos, Gabriela; Johnson Sackey, Donnie; Sano-Franchini, Jennifer; Haas, Angela M. (2018-04-03). "Interfacing Cultural Rhetorics: A History and a Call". Rhetoric Review. 37 (2): 139–154. doi:10.1080/07350198.2018.1424470. ISSN 0735-0198. S2CID 150341115.
- ↑ Lundberg, Keith (2008). The Essential Guide to Rhetoric (dalam bahasa English) (Edisi 1st). Bedford/St. Martin's. hlm. 5–8. ISBN 978-0-312-47239-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ Cobos, Casie, Gabriela Raquel Ríos, Donnie Johnson Sackey, Jennifer Sano-Franchini, and Angela M. Haas. "Interfacing Cultural Rhetorics: A History and a Call." Rhetoric Review, vol. 37, no. 2, 2018, pp. 139-154. doi:10.1080/07350198.2018.1424470
- ↑ Heinrichs, Jay (2017). Thank You for Arguing. hlm. 303.[tanpa ISBN]
- ↑ Haynes, Bruce (2007). The End of Early Music: A Period Performer's History of Music. Oxford University Press. hlm. 8. ISBN 978-0-19-804094-1. Diakses tanggal 6 Agustus 2019.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Bartel, Dietrich (1997). Musica Poetica: Musical-Rhetorical Figures in German Baroque Music. University of Nebraska Press. hlm. 57. ISBN 0-8032-3593-3.
- 1 2 3 Scott, Robert L. (1967). "On Viewing Rhetoric as Epistemic". Central States Speech Journal. 18 (1): 9–17. doi:10.1080/10510976709362856. ISSN 0008-9575.
- 1 2 3 4 Harpine, William D. (2004). "What Do You Mean, Rhetoric Is Epistemic?". Philosophy and Rhetoric. 37 (4): 335–352. doi:10.1353/par.2004.0026. ISSN 1527-2079. S2CID 53057130.
- ↑ Foss, Sonja K., ed. (1996). Rhetorical criticism: exploration & practice (Edisi 2nd). Prospect Heights, Ill: Waveland Press. ISBN 978-0-88133-873-7.
- ↑ Herrick, James A. (2017-09-22). The History and Theory of Rhetoric. doi:10.4324/9781315404141. ISBN 978-1-315-40414-1.
- ↑ Scott, Robert L. (Februari 2000). "The Forum". Quarterly Journal of Speech. 86 (1): 108–110. doi:10.1080/00335630009384281. ISSN 0033-5630. S2CID 147585248.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Is Justified True Belief Knowledge? (PDF). 2017-07-05. doi:10.4324/9781912281862. ISBN 978-1-912281-86-2.
- 1 2 Miller, Susan; Cherwitz, Richard A.; Hikins, James (Mei 1987). "Communication and Knowledge: An Investigation in Rhetorical Epistemology". College Composition and Communication. 38 (2): 216. doi:10.2307/357725. ISSN 0010-096X. JSTOR 357725.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Railsback, Celeste Condit (November 1983). "Beyond rhetorical relativism: A structural-material model of truth and objective reality". Quarterly Journal of Speech. 69 (4): 351–363. doi:10.1080/00335638309383662. ISSN 0033-5630.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ McKerrow, Ray E. (1992-12-31), "Chapter 16. Rhetorical Validity: an Analysis of three Perspectives on the Justification of Rhetorical Argument", Readings in Argumentation, DE GRUYTER, hlm. 297–312, doi:10.1515/9783110885651.297, ISBN 978-3-11-013576-3
- ↑ Alston, William P. (1989). Epistemic Justification: Essays in the Theory of Knowledge. Ithaca, NY: Cornell University Press. hlm. 153–171.
- ↑ Goldman, Alan H. (1988). Empirical Knowledge. Berkeley, CA: University of California Press. hlm. 22–23.
- 1 2 Harpine, William D. (2004). "What Do You Mean, Rhetoric Is Epistemic?". Philosophy and Rhetoric (dalam bahasa Inggris). 37 (4): 335–352. doi:10.1353/par.2004.0026. ISSN 1527-2079.
- 1 2 3 Hallo, William W. (2004). "The Birth of Rhetoric". Dalam Lipson, Carol S.; Binkley, Roberta A. (ed.). Rhetoric before and beyond the Greeks. State University of New York Press. hlm. 25–46. ISBN 978-0-7914-6099-3.
- 1 2 3 4 5 Binkley, Roberta (2004). "The Rhetoric of Origins and the Other: Reading the Ancient Figure of Enheduanna". Dalam Lipson, Carol S.; Binkley, Roberta A. (ed.). Rhetoric before and beyond the Greeks. State University of New York Press. hlm. 47–64. ISBN 978-0-7914-6099-3.
- ↑ Binkley, R. (2004). "Suggestions for Teaching Ancient Rhetorics: Mesopotamia—Problems of Origins and Reading Enheduanna". Dalam Lipson, C. S.; Binkley, R. A. (ed.). Rhetoric Before and Beyond the Greeks. SUNY Press. hlm. 227–29.
- ↑ Stark, R. J. (2008). "Some Aspects of Christian Mystical Rhetoric, Philosophy, and Poetry". Philosophy and Rhetoric. 41 (3): 260–77. doi:10.2307/25655316. JSTOR 25655316.
- ↑ Hoskisson, Paul Y.; Boswell, Grant M. (2004). "Neo-Assyrian Rhetoric: The Example of the Third Campaign of Sennacherib (704–681 BC)". Dalam Carol S. Lipson; Roberta A. Binkley (ed.). Rhetoric before and beyond the Greeks. State University of New York Press. hlm. 65–78. ISBN 978-0-7914-6099-3.
- ↑
- Fox, Michael V. (1983). "Ancient Egyptian Rhetoric". Rhetorica (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 9–22. doi:10.1525/rh.1983.1.1.9. ISSN 0734-8584.
- Glenn, Cheryl; Ratcliffe, Krista (2011-01-05). Silence and Listening as Rhetorical Arts. Carbondale: Southern Illinois University Press. ISBN 978-0-8093-3017-1.
- ↑ Hutto, David (Musim panas 2002). "Ancient Egyptian Rhetoric in the Old and Middle Kingdoms". Rhetorica. 20 (3): 213–33. doi:10.1525/rh.2002.20.3.213. S2CID 55717336.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Xu, George Q. (2004). "The Use of Eloquence: The Confucian Perspective". Dalam Lipson, Carol S.; Binkley, Roberta A. (ed.). Rhetoric before and beyond the Greeks. State University of New York Press. hlm. 115–30. ISBN 978-0-7914-6099-3.
- ↑ Metzger, David (2004). "Pentateuchal Rhetoric and the Voice of the Aaronides". Dalam Lipson, Carol S.; Binkley, Roberta A. (ed.). Rhetoric before and beyond the Greeks. State University of New York Press. hlm. 165–82. ISBN 978-0-7914-6099-3.
- ↑ Chandra, Bipan; Mukherjee, Mridula; Mukherjee, Aditya; Mahajan, Sucheta; Panikkar, K.N. (1987). India's Struggle for Independence. Penguin Random House. hlm. 103.
- ↑ Lloyd, Keith (2007). "Rethinking Rhetoric from an Indian Perspective: Implications in the Nyaya Sutra". Rhetoric Review. 26 (4). Informa UK Limited: 365–384. doi:10.1080/07350190701577892. ISSN 0735-0198. S2CID 43698162.
- 1 2 Radhakrishnan, Sarvepalli; Moore, Charles A. (1957). A Source Book in Indian Philosophy. Princeton University Press.
- ↑ Zimmer, Heinrich (2008). Philosophies of India. London: Routledge. ISBN 978-0-415-46232-7.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Sinha, Nandalal (1990-12-31). The Nyaya Sutras of Gotama. Delhi: Motilal Banarsidass Publ. ISBN 81-208-0748-0.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Augustine of Hippo. De doctrina Christiana. IV.2. Cum ergo sit in medio posita facultas eloquii, quae ad persuadenda seu prava seu recta valet plurimum, cur non bonorum studio comparatur, ut militet veritati, si eam mali ad obtinendas perversas vanasque causas in usus iniquitatis et erroris usurpant?
- ↑ Jerome of Stridon (1893) [384]. "To Eustochium, on the preservation of Virginity". Dalam Schaff, Philip; Wace, Henry (ed.). Letters of St. Jerome. Nicene and Post-Nicene Fathers, Second Series. Vol. VI. Diterjemahkan oleh Fremantle, W.H.; Lewis, G.; Martley, W.G. Buffalo, N.Y.: Christian Literature Publishing Co. §29.
- ↑ Bizzell, Patricia; Herzberg, Bruce (2001). The Rhetorical Tradition: Readings from Classical Times to the Present (Edisi 2nd). Boston: Bedford / St. Martins. hlm. 486.
- ↑ McLuhan, Marshall (2009) [1943]. The Classical Trivium: The Place of Thomas Nashe in the Learning of His Time. Gingko Press. ISBN 978-1-58423-235-3.
- ↑ Ong, Walter J. (1999). "Humanism". Faith and Contexts. Vol. 4. Scholars Press. hlm. 69–91.
- ↑ Baldwin, T.W. (1944). William Shakspere's Small Latine and Lesse Greeke. University of Illinois Press. (2 vols.)
- ↑ Ives Carpenter, Frederic (1898). "Leonard Cox and the First English Rhetoric". Modern Language Notes. 13 (5): 146–47. doi:10.2307/2917751. JSTOR 2917751.
- ↑ Ong, Walter J. (2004) [1958]. Ramus, Method, and the Decay of Dialogue: From the Art of Discourse to the Art of Reason. University of Chicago Press.
- ↑ Lihat Fumaroli, Marc (1980), Age de l'Éloquence. Untuk presentasi luas mengenai debat politik dan agama yang rumit mengenai retorika di Prancis dan Italia pada saat itu.
- ↑
- Ong, Walter J. (1958). Ramus and Talon Inventory. Cambridge, Mass.: Harvard University Press.
- Freedman, Joseph S. (1999). Philosophy and the Art Europe, 1500–1700: Teaching and Texts at Schools and Universities. Ashgate.
- ↑ Milton, John (1935) [1672]. Artis Logicae Plenior Institutio: Ad Petri Rami Methodum Concinnata. The Works of John Milton. Vol. XI. Diterjemahkan oleh Gilbert, Allan H. New York: Columbia University Press. OCLC 35848829.
- ↑ Pavur, Claude Nicholas, ed. (2005). The Ratio studiorum: The Official Plan for Jesuit Education. St. Louis, Mo.: Institute of Jesuit Sources. ISBN 978-1-880810-59-0. OCLC 58476251.
- ↑ Miller, Perry (1939). The New England Mind: The Seventeenth Century. Harvard University Press.
- ↑ Bacon, Francis (1605). Of the Advancement and Proficience of Learning or the Partitions of Sciences. I.4§2.
- ↑ Jardine, Lisa (1975). Francis Bacon: Discovery and the Art of Discourse. Cambridge University Press.
- ↑ Sprat, Thomas (1667). The History of the Royal Society of London, for the Improving of Natural Knowledge. T.R. for J. Martyn at the Bell. hlm. 112–13.
- ↑ Dryden, John (1797) [1681]. "Dedication". The Spanish Fryar. Bell's British Theatre. Vol. II. London: George Cawthorn. hlm. vii.
- ↑ Herrick, James A. (2013). The History and Theory of Rhetoric (Edisi fifth). Pearson. hlm. 183–84.
- ↑ Birch, D.; Hooper, K., ed. (2012). "Edgeworth, Maria". The Concise Oxford Companion to English Literature. Oxford University Press. hlm. 215–16.
- ↑ Donawerth, Jane (2000). "Poaching on Men's Philosophies of Rhetoric: Eighteenth- and Nineteenth-Century Rhetorical Theory by Women". Philosophy & Rhetoric. 33 (3): 243–258. doi:10.1353/par.2000.0017. S2CID 170719233.
- ↑
- Cohen, H. (1994). The history of speech communication: The emergence of a discipline, 1914–1945. Annandale, Va.: Speech Communication Association.
- Gehrke, P.J. (2009). The ethics and politics of speech: Communication and rhetoric in the twentieth century. Carbondale, Ill.: Southern Illinois University Press.
- ↑ Kuypers, Jim A.; King, Andrew (2001). Twentieth-Century Roots of Rhetorical Studies. Westpost, Conn.: Praeger.
- ↑ Bjork, Collin; Buhre, Frida (2021). "Resisting Temporal Regimes, Imagining Just Temporalities". Rhetoric Society Quarterly. 51 (3): 177–181. doi:10.1080/02773945.2021.1918503. ISSN 0277-3945. S2CID 235812222.
- ↑
- Mao, LuMing (18 Desember 2018). "In the Present and Importantly Present: Enacting a Temporal Turn for Asian American Rhetoric". Enculturation.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Houdek, Matthew; Phillips, Kendall R. (2020). "Rhetoric and the Temporal Turn: Race, Gender, Temporalities". Women's Studies in Communication. 43 (4): 369–383. doi:10.1080/07491409.2020.1824501. ISSN 0749-1409. S2CID 230637522.
- Mao, LuMing (18 Desember 2018). "In the Present and Importantly Present: Enacting a Temporal Turn for Asian American Rhetoric". Enculturation.
- ↑ Stern, Barbara B. (1990). "Pleasure and Persuasion in Advertising: Rhetorical Irony as a Humor Technique". Current Issues and Research in Advertising. 12 (1–2): 25–42. doi:10.1080/01633392.1990.10504942tidak aktif 3 Juli 2025. ISSN 0163-3392.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Diaz Ruiz, Carlos; Nilsson, Tomas (2023). "Disinformation and Echo Chambers: How Disinformation Circulates on Social Media Through Identity-Driven Controversies". Journal of Public Policy & Marketing (dalam bahasa Inggris). 42 (1): 18–35. doi:10.1177/07439156221103852. ISSN 0743-9156. S2CID 248934562.
- ↑ Borchers, Timothy A. (2006). Rhetorical theory: an introduction. Belmont, Calif.: Thomson/Wadsworth. ISBN 978-0-534-63918-1.
- ↑ Dubois, J.; Edeline, F.; Klinkenberg, J.-M.; Minguet, P.; Pire, F.; Trinon, H. (1981) [1970]. A General Rhetoric. Diterjemahkan oleh Burrell, Paul B.; Slotkin, Edgar M. Johns Hopkins University Press.
- ↑ McLuhan, Marshall (1951). The Mechanical Bride: The Folklore of Industrial Man. Vanguard Press.
- ↑ McLuhan, Marshall (1962). The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. University of Toronto Press.
- ↑ McLuhan, Marshall (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. McGraw-Hill.
- ↑ Perelman, Chaïm; Olbrechts-Tyteca, Lucie (1969) [1958]. The New Rhetoric: A Treatise on Argumentation. Diterjemahkan oleh Wilkinson, John; Weaver, Purcell. Notre Dame, Ind.: University of Notre Dame Press. ISBN 978-0-268-00446-0. LCCN 68-20440.
- 1 2 Richards, I. A. (1965). The Philosophy of Rhetoric. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-500715-2.
- ↑ Toulmin, Stephen (2003). The Uses of Argument. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-53483-3.
- 1 2 3 4 5 Kuypers, Jim A. (2009). "Rhetorical Criticism as Art". Dalam Kuypers, Jim A. (ed.). Rhetorical Criticism: Perspectives in Action. Lanham, Md.: Lexington Books. ISBN 978-0-7391-2774-2.
- 1 2 Black, Edwin (1978) [1965]. Rhetorical Criticism: A Study in Method. Madison, Wisc.: University of Wisconsin Press. ISBN 0-299-07550-8.
- ↑ Gray, James W. (Juni 2011). "Four Argument Strategies". Ethical Realism. Diakses tanggal 19 Februari 2016.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Ryan, David (2007). The Speaking/Writing Connection. Berkeley, Calif.: Parthenon West Books. hlm. 236. ISBN 978-0-9765684-9-0.
- ↑
- Bitzer, Lloyd F. (1968). "The Rhetorical Situation". Philosophy & Rhetoric. 1 (1): 1–14. JSTOR 40236733.
- Vatz, Richard E. (1974). "The Myth of the Rhetorical Situation". Philosophy & Rhetoric. 6 (3): 154–161. JSTOR 40236848.
- Vatz, Richard E. (2014). The Only Authentic Book of Persuasion. Kendall Hunt Publishing Company. ISBN 978-1-4652-5925-7.
- 1 2 Jansinski, James (2001). "The Status of Theory and Method in Rhetorical Criticism" (PDF). Western Journal of Communication. 65 (3): 249–270. doi:10.1080/10570310109374705. S2CID 151981343. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 29 Maret 2017. Diakses tanggal 5 Juni 2017.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Foss, Sonja (1989). Rhetorical Criticism: Exploration and Practice. Prospect Heights: Waveland Press, Inc.
- ↑ Grey, Stephanie Houston (2009). "Conceptually-Oriented Criticism". Dalam Kuypers, Jim A. (ed.). Rhetorical Criticism: Perspectives in Action. Lanham, Md.: Lexington Books.
- ↑ Leff, Michael (2001). "Lincoln at Cooper Union: Neo-Classical Criticism Revisited". Western Journal of Communication. 65 (3): 232–48. doi:10.1080/10570310109374704. S2CID 157684635.
- ↑ Kennedy, George A. (1998). Comparative Rhetoric: An Historical and Cross-Cultural Introduction. New York: Oxford University Press. hlm. 11–28. ISBN 978-0-19-510932-0.
- ↑ Kull, Kalevi (2001). "A note on biorhetorics". Sign Systems Studies. 29 (2): 693–704. doi:10.12697/SSS.2001.29.2.16.
- ↑ Davis, Diane (2011). "Creaturely Rhetorics". Philosophy and Rhetoric. 44 (1): 88–94. doi:10.5325/philrhet.44.1.0088. JSTOR 10.5325/philrhet.44.1.0088. [Mirror self-recognition] has long been used to test self-awareness in human children: researchers place a mark on the child's face, and if the child spontaneously uses the mirror to touch this otherwise imperceptible mark, she is considered self-aware. But these nonhuman creatures passed the test, too—as if such scientific evidence were necessary to confirm that certain animals represent themselves to themselves and others. . . . Any creature capable of even minimal self-reference is already in language, already responding; that is to say, it is both defined by its irreducible rhetoricity and, more importantly for our purposes, already practicing rhetoric .
- ↑ Segeerdahl, Pär (2015). "The rhetoric and prose of the human/animal contrast". Language & Communication. 42: 36–49. doi:10.1016/j.langcom.2015.03.001.
- ↑ Melzow, Candice Chovanec (Musim semi 2012). "Identification, Naming, and Rhetoric in The Sky, the Stars, the Wilderness and The Maine Woods". Interdisciplinary Studies in Literature and Environment. 19 (2): 356–74. doi:10.1093/isle/iss084.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Kennedy, George (1992). "A Hoot in the Dark The evolution of general rhetoric". Philosophy & Rhetoric. 25 (1): 1–21. JSTOR 40238276.
- ↑ Hawhee, D. (2011). "Toward a Bestial Rhetoric". Philosophy and Rhetoric. 44 (1): 81–87. doi:10.5325/philrhet.44.1.0081. JSTOR 10.5325/philrhet.44.1.0081.
- 1 2 3 4 Mao, LuMing (2020-06-10), "Redefining Comparative Rhetoric", The Routledge Handbook of Comparative World Rhetorics, Routledge, hlm. 15–33, doi:10.4324/9780367809768-3, ISBN 978-0-367-80976-8, S2CID 225672002
- ↑ Sharma, Shyam (2020-06-10), "Teaching World Rhetorics", The Routledge Handbook of Comparative World Rhetorics, Routledge, hlm. 353–362, doi:10.4324/9780367809768-39, ISBN 978-0-367-80976-8, S2CID 225769076
- 1 2 Mao, Luming (2015). "Thinking beyond Aristotle: The Turn to How in Comparative Rhetoric". Publications of the Modern Language Association of America. 129 (3): 448–455. doi:10.1632/pmla.2014.129.3.448. ISSN 0030-8129. S2CID 161874901.
- 1 2 Mao, LuMing; Wang, Bo; Lyon, Arabella; Jarratt, Susan C.; Swearingen, C. Jan; Romano, Susan; Simonson, Peter; Mailloux, Steven; Lu, Xing (2015-06-15). "Manifesting a Future for Comparative Rhetoric". Rhetoric Review. 34 (3): 239–274. doi:10.1080/07350198.2015.1040105. ISSN 0735-0198. S2CID 142944901.
- ↑ Mao, LuMing (2003). "Reflective Encounters: Illustrating Comparative Rhetoric". Style. 37 (4): 401–24. JSTOR 10.5325/style.37.4.401.
- 1 2 3 4 5 Lloyd, Keith (2021). The Routledge handbook of comparative world rhetorics: studies in the history, application, and teaching of rhetoric beyond traditional Greco-Roman contexts. New York: Routledge. ISBN 978-1-000-06623-4. OCLC 1162596431.
- ↑ Garrett, Mary; Sharon-Zisser, Shirley; Swearingen, C. Jan; Schiappa, Edward; Lares, Jameela; Skretkowicz, Victor; Abbott, Don Paul; Bator, Paul; Miller, Thomas (1998). "Short Reviews". Rhetorica. 16 (4). Project Muse: 431–454. doi:10.1525/rh.1998.16.4.431. ISSN 0734-8584.
- ↑ "Beyond Bias, Binary, and Border: Mapping out the Future of Comparative Rhetoric". Rhetoric Society Quarterly. 43 (3). 2013.
- 1 2 Mao, LuMing; Wang, Bo (2015). "Manifesting a Future for Comparative Rhetoric". Rhetoric Review. 34 (3): 239–274. doi:10.1080/07350198.2015.1040105. S2CID 142944901.
- ↑ Dubremetz, Marie (Mei 2018). "Rhetorical Figure Detection: Chiasmus, Epanaphora, Epiphora". Frontiers in Digital Humanities. 5 10. doi:10.3389/fdigh.2018.00010.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Madotto, Marie (Agustus 2020). "Language Models as Few-Shot Learner for Task-Oriented Dialogue Systems". arXiv:2008.06239 [cs.CL].
{{cite arXiv}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Keith, William (Februari 12, 2008). The essential guide to rhetoric. Bedford/St.Martin.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Sumber
Sumber primer
The locus classicus for Greek and Latin primary texts on rhetoric is the Loeb Classical Library of the Harvard University Press, published with an English translation on the facing page.
- Aristotle (1926) [ca 322 SM]. Rhetoric.
- Cicero (1902) [55 SM]. De Oratore (dalam bahasa Latin).
- Cicero (1984) [84 SM]. De Inventione (dalam bahasa Latin).
- Demosthenes (1939) [ca 322 SM]. Orations.
- disputed (1999) [ca 86 SM]. Rhetorica ad Herennium (dalam bahasa Latin). Diarsipkan dari asli tanggal 2005-02-27.
- Isocrates (1980) [ca 392 SM]. Against the Sophists.
- Peacham, Henry (1593). The Garden of Eloquence.
- Puttenham, George (1589). The Arte of English Poesie.
- Quintilian (1868) [ca 95 M]. Institutio oratoria.
- Susenbrotus, Johannes (c. 1540). Epitome troporum.
- Wilson, Thomas (1553). The Arte of Rhetorique. Diarsipkan dari asli tanggal 2006-08-30.
Sumber sekunder
- Bühren, Ralf van (1998). Die Werke der Barmherzigkeit in der Kunst des 12.–18. Jahrhunderts. Zum Wandel eines Bildmotivs vor dem Hintergrund neuzeitlicher Rhetorikrezeption. Studien zur Kunstgeschichte. Vol. 115. Hildesheim; Zürich; New York: Verlag Georg Olms. ISBN 3-487-10319-2.
- Duffy, Bernard K.; Jacobi, Martin (1993). The Politics of Rhetoric: Richard Weaver and the Conservative Tradition. Westport, Conn.: Greenwood Press. ISBN 0-313-25713-2.
- Jardine, Lisa (1975). Francis Bacon: Discovery and the Art of Discourse. Cambridge University Press.
- Larson, Charles U. (2012). Persuasion Reception and Responsibility (Edisi Twelfth). Wadsworth Cengage Learning.
- Rommill, Jacqueliney de (1992) [1988]. The Great Sophists in Periclean Athens. Clarendon Press/Oxford University Press.
- Rorty, Amelie Oksenberg (1996). Aristotle's Rhetoric. Philosophical Traditions 6. Los Angeles: University of California Press. ISBN 9780520202276. OCLC 32313023.
- Ross, Jill (2013). "The Dazzling Sword of Language: Masculinity and Persuasion in Classical and Medieval Rhetoric". Dalam Ross, Jill; Conklin-Akbari, Suzanne (ed.). The Ends of the Body: Identity and Community in Medieval Culture (Edisi 1st). Toronto; Buffalo, New York; London: University of Toronto Press. hlm. 153–174. doi:10.3138/9781442661387. ISBN 978-1-4426-6138-7. JSTOR 10.3138/9781442661387.11.
- Safire, William (2004). Lend Me Your Ears: Great Speeches in History. W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-05931-1.
Bacaan lanjutan
Rhetoric
- Andresen, Volker (2010). Speak Well in Public: 10 Steps to Succeed. CreateSpace Independent Publishing Platform. ISBN 978-1-4563-1026-4.
- Connors, Robert; Ede, Lisa S.; Lunsford, Andrea, ed. (1984). Essays on Classical Rhetoric and Modern Discourse. Festschrift in Honor of Edward P. J. Corbett. Carbondale, Ill.: Southern Illinois University Press.
- Cox, Leonard. The Art or Crafte of Rhetoryke di Proyek Gutenberg.
- Duffy, Bernard K.; Leeman, Richard, ed. (2005). American Voices: An Encyclopedia of Contemporary Orators. Westport, Conn.: Greenwood. ISBN 0-313-32790-4.
- Farnsworth, Ward (2010). Farnsworth's Classical English Rhetoric. David R. Godine. ISBN 978-1-56792-552-4.
- Garver, Eugene (1995). Aristotle's Rhetoric: On Art of Character. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-28425-5.
- Gunderson, Erik (2009). The Cambridge Companion to Ancient Rhetoric. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press.
- Howell, Wilbur Samuel (1971). Eighteenth-Century British Logic and Rhetoric. Princeton, N.J.: Princeton University Press.
- Jansinski, James (2001). Sourcebook on Rhetoric. SAGE Publications, Inc.
"Rhetoric" . Encyclopædia Britannica. Vol. 22 (Edisi 11). 1911. hlm. 233–237.- Kuypers, Jim A., ed. (2014). Purpose, Practice, and Pedagogy in Rhetorical Criticism. Lanham, Md.: Lexington Books. ISBN 978-0-7391-8018-1.
- MacDonald, Michael, ed. (2017). The Oxford Handbook of Rhetorical Studies. Oxford Handbooks. New York: Oxford University Press.
- Mateus, Samuel (2018). Introdução à Retórica no Séc. XXI (dalam bahasa Portugis). Covilhã: Livros Labcom. ISBN 978-989-654-438-6.
- Newall, Paul. "An introduction to Rhetoric and Rhetorical Figures". The Galilean Library. Diarsipkan dari versi asli pada 2005-11-18.
- Pernot, Laurent (2005). Rhetoric in Antiquity. Washington, D.C.: Catholic Univ. of America Press.
- Rainolde (or Rainholde), Richard. A booke called the Foundacion of Rhetorike di Proyek Gutenberg.
- Reames, Robin (2024). The Ancient Art of Thinking For Yourself: The Power of Rhetoric in Polarized Times. New York: Basic Books. ISBN 978-1-541-60397-4.
- Rorty, Amélie Oksenberg, ed. (1996). Essays on Aristotle's Rhetoric. Berkeley, Calif.: University of California Press. ISBN 978-0-520-20228-3.
- Sloane, Thomas O. (2001). Encyclopedia of Rhetoric. Oxford: Oxford University Press.
- Steel, Catherine (2006). Roman Oratory. Greece & Rome New Surveys in the Classics. Vol. 36. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press.
- Vickers, Brian (1998). In Defence of Rhetoric. Oxford: Clarendon Press.
- Vickers, Brian (2003) [1997]. "Rhetoric". Dalam Corns, Thomas N. (ed.). Cambridge Companion to English Poetry. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-42309-0.
Jurnal akademik
- Argumentation and Advocacy
- College Composition and Communication
- College English
- Enculturation
- Harlot
- Kairos
- Peitho
- Present Tense
- Relevant Rhetoric
- Rhetoric Review
- Rhetoric Society Quarterly (RSQ)
- XChanges
Pranala luar
- "Rhetoric". In Our Time. BBC Radio 4. 2004.
Buku audio domain publik Rhetoric di LibriVox