Senin, 21 September 2026
02:16 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Reprogafi

Istilah reprografi mulai dikenal di kalangan dokumentalis pada sekitar tahun 1950-an, awalnya digunakan untuk mendeskripsikan teknologi reproduksi media komunikasi visual dua dimensi dalam kegiatan administratif, bisnis, dan kelembagaan, muncul secara sporadis dalam literatur dokumentasi pada pertengahan tahun 70-an, dan diperkenalkan secara internasional pada First International Congress of Reprography di Koln, Jerman, pada Oktober 1963; reprografi melibatkan tiga konsep utama yaitu copying, penggandaan, dan penyalinan mikro atau microcopying, di mana copying mencakup pembuatan salinan seukuran dokumen asli, awalnya dilakukan dengan mesin ketik menggunakan karbon atau tanpa karbon, dan penggandaan berbantuan karbon dengan mesin ketik tergantung pada ketebalan kertas, keras ketukan mesin tik, dan kualitas kertas karbon yang digunakan, sementara cara penggandaan tanpa karbon dapat menghasilkan sekitar 5 kopi menggunakan kertas NCR (No Carbon Required) yang dilengkapi dengan bahan khusus untuk menampilkan hasil ketikan pada keras berikutnya tanpa menggunakan karbon.[1]

Proses reprografi berdasarkan perubahan kimiawi atau fisik yang berlainan yang terjadi pada beberapa material akibat terpapar energi radian, kemudian membentuk citra yang kasat atau dapat dibuat kasat mata, dan bersifat permanen. Proses yang kini digunakan adalah tofografi, elektrofotografi dan thermografi, tergantung pada sistem kimiawi (seperti garam besi, halida perak, diazonium, fenomena listrik atau panas.[2]

Secara ringkas metode fotocopi dokumen dapat dikelompokkan menjadi 6 kategori, masing-masing ialah transfer difusi, transfer fisik, stabilisasi cepat, diazo, thermografi dan elektrostatografi.[3]

  1. Deliarnoor, Nandang Alamsyah; Gandasukmaya, Lalang (2014). Reprografi Arsip (PDF). Vol. 2. Jakarta: Universitas Terbuka. hlm. 1–35. ISBN 978-979-011-888-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. "Reprografi | DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI JAWA TIMUR". Diakses tanggal 2025-03-11.
  3. "Reprografi | DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI JAWA TIMUR". Diakses tanggal 2025-03-11.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan