Jumat, 30 Oktober 2026
05:02 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Preskriptivisme (linguistik)

praktik menyusun norma dan pedoman penggunaan bahasa alami

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Preskriptivisme etis.

Dalam sosiolinguistik, preskriptivisme (bahasa Latin:praescribere – mempreskripsikan; memerintahkan; normativisme[1][2]) adalah istilah yang merujuk kepada praktik menyusun norma atau pedoman penggunaan bahasa alami dengan maksud memengaruhi penuturnya agar berpegang pada pedoman yang diusulkan.[1][2] Kaidah tersebut bisa mengatur berbagai-bagai aspek bahasa seperti pelafalan, infleksi, semantika, sintaksis, dan fraseologi, serta unsur ekstralinguistik seperti sistem ejaan dan pungtuasi.[3] Pendekatan ini sering kali menggolongkan bentuk-bentuk bahasa tertentu sebagai "bermutu rendah", "keliru" ataupun "tidak logis". Preskriptivisme berkaitan dekat dengan konsep salah-benar dalam penggunaan bahasa.[4][5]

Preskripsi linguistik sering bertujuan membentuk sebuah bahasa baku atau mengodifikasikan norma bahasa baku secara resmi. Pada hakikatnya, kehadiran bahasa baku dimaksudkan untuk memudahkan komunikasi antarmasyarakat di wilayah geografis yang luas.[5] Kepatuhan terhadap bahasa baku dianggap paling penting dalam situasi formal, yaitu konteks yang menuntut penggunaan jenis bahasa yang dianggap netral secara sosial.[6] Selain dari itu, praktik preskriptif dapat dilatarbelakangi keinginan menghambat proses perubahan bahasa.[7]

Pendekatan preskriptivis sering didikotomikan dengan deskriptivisme,[8] yaitu sikap yang menghindari penilaian normatif terhadap bahasa dan bertujuan mendeskripsikan bahasa secara netral. Deskriptivisme dijadikan sebagai dasar penulisan tata bahasa dalam linguistik modern,[9] sedangkan praktik normatif diterapkan dalam konteks pendidikan dan penerbitan.[10][11]

Beberapa peneliti mengartikan "preskriptivisme" sebagai praktik yang mempromosikan suatu ragam bahasa sebagai varietas yang lebih utama kedudukannya, sehingga menganggap ideologi bahasa standar sebagai elemen dasar preskriptivisme atau bahkan menyamakan preskriptivisme dengan sistem pandangan itu.[12][13] Sedangkan peneliti yang lain menggunakan istilah "preskriptivisme" untuk merujuk kepada segala jenis kegiatan yang bertujuan mengusulkan atau mendorong suatu cara penggunaan bahasa, tanpa menyiratkan bahwa praktik-praktik tersebut selalu terkait dengan ideologi bahasa standar.[14][15] Selain dua tersebut ada juga pengertian bahwa sikap preskriptif adalah pendekatan kodifikasi bahasa baku yang mementingkan pendapat si penyelidik, berbeda dengan bentuk-bentuk kodifikasi yang mendasarkan kegiatannya pada fenomena penggunaan bahasa yang sebenarnya;[16] walaupun begitu, pendekatan kedua tersebut pun bisa dikatakan mengandung sifat preskriptif karena masih berupaya mengatur penggunaan bahasa.[17]

Bentuk ekstrem dari preskriptivisme disebut dengan purisme bahasa.

Penerapan preskripsi

Preskripsi bahasa bisa diartikan sebagai tahap akhir dari pembakuan bahasa.[18] Proses tersebut terjadi di lingkungan suatu budaya dan bermotivasi politik, serta dapat dipahami sebagai bentuk kemajuan sosial dan penanaman budaya. Dalam masyarakat Barat, bahasa baku umumnya dipahami sebagai bentuk bahasa yang diterima sebagai bahasa penghubung (lingua franca) dan satu-satunya alat komunikasi untuk keperluan pendidikan dan pemerintahan. Selain itu, bahasa baku mengalami proses kodifikasi dan pembinaan.[18]

Tujuan utama dari preskripsi bahasa adalah menyebarkan aturan-aturan bahasa baku dalam pendidikan.[19] Selain dari itu, preskripsi juga mencakup upaya lain untuk memengaruhi praktik kebahasaan, seperti memberikan saran terkait gaya dan estetika berbahasa. Pendekatan preskriptif diterapkan secara praktis dalam pengajaran bahasa asing, yang bersifat normatif karena mendorong sebuah cara penggunaan bahasa (meskipun mungkin saja berlandaskan pada dokumentasi deskriptif yang telah dilakukan sebelumnya).[20][21] Tambahan pula, tata bahasa atau kamus deskriptif dalam praktik sering ditafsirkan sebagai publikasi preskriptif sehingga berfungsi sebagai pedoman berbahasa yang baik dan benar.[22]

Preskripsi dianggap berperan penting dalam memfasilitasi komunikasi antar daerah, karena memungkinkan penutur dari berbagai dialek untuk menggunakan satu standar bahasa yang lebih mudah dipahami daripada variasi lokal mereka. Meskipun bahasa penghubung antardaerah bisa berkembang secara alami,[23] keinginan untuk mengatur bahasa secara resmi telah menjadi umum di banyak belahan dunia.[18] Para penulis sering mementingkan kepatuhan kepada norma-norma preskriptif agar maksud yang ingin disampaikan lebih mudah dicerna dan bisa dipahami oleh khalayak luas. Di samping itu, stabilitas bahasa dalam waktu memudahkan pemahaman teks-teks dari masa lalu.

Sumber otoritatif

250px-Real_Academia_Espa%C3%B1ola%2C_Madrid_-_view_2.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Real Academia Española, Madrid

Preskripsi mengandaikan keberadaan sumber otoritatif yang menegakkan pedoman berbahasa sebagai tolok ukur bagi para penulis dan bahasawan lain. Di negara-negara berbahasa Inggris, pedoman berbahasa biasanya disebarkan melalui buku. Sepanjang sebagian besar abad ke-20, panduan Modern English Usage karya H. W. Fowler digunakan sebagai patokan pemakaian bahasa Inggris Britania;[24] sedangkan The Elements of Style karya William Strunk dan E. B. White menikmati reputasi yang serupa dalam soal bahasa Inggris Amerika. Tata bahasa Duden (pertama diterbitkan pada tahun 1880) berperan sebagai acuan bahasa Jerman baku. Meskipun para leksikograf sering menganggap karyanya deskriptif murni, kamus lazim diperlakukan sebagai sumber normatif.[22]

Kritik

Preskriptivisme sering kali menjadi sasaran kritik. Banyak ahli bahasa, seperti Geoffrey Pullum dan para penulis lain di Language Log, bersikap skeptis terhadap kualitas saran yang diberikan dalam banyak panduan penggunaan bahasa, termasuk buku-buku yang sangat dihargai seperti The Elements of Style karya Strunk dan White.[25] Para ahli bahasa menunjukkan bahwa buku-buku populer tentang penggunaan bahasa Inggris yang ditulis oleh jurnalis atau novelis (misalnya Strictly English: The Correct Way to Write ... and Why It Matters karya Simon Heffer) sering kali membuat kesalahan mendasar dalam analisis kebahasaan.[26][27]

Kritik yang sering dilontarkan adalah bahwa preskripsi memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan bahasa dari suatu wilayah atau kelas sosial tertentu dibanding yang lain, sehingga merintangi keanekaragaman bahasa.[28] Sering kali, dialek standar dikaitkan dengan kelas atas, misalnya Received Pronunciation (RP) di Britania Raya. RP kini telah kehilangan sebagian besar statusnya sebagai standar dunia berbahasa Inggris, dan standar-standar lain kini menjadi sistem alternatif untuk bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Walaupun standar-standar ini memiliki landasan yang lebih demokratis, mereka tetap mengecualikan sebagian besar masyarakat penutur bahasa Inggris: para penutur bahasa Inggris Skotlandia, bahasa Inggris Irlandia, bahasa Inggris Appalachia, bahasa Inggris Australia, bahasa Inggris India, bahasa Inggris Nigeria, atau bahasa Inggris Afrika-Amerika mungkin merasa bahwa standar tersebut dipilih secara sewenang-wenang atau berprasangka terhadap mereka.[29][30] Oleh karena itu, preskripsi memiliki konsekuensi politik; bahkan, preskripsi dapat, dan memang telah, digunakan secara sadar sebagai alat politik.[butuh rujukan]

Masalah kedua dengan preskriptivisme adalah kecenderungannya untuk secara eksplisit mendegradasi dialek non-standar. Ada pendapat bahwa preskripsi, selain merumuskan norma bahasa standar, sering kali berupaya memengaruhi penutur untuk menerapkan sarana kebahasaan yang dianjurkan tanpa pengecualian, tanpa mempertimbangkan keberadaan berbagai variasi dan laras bahasa yang berbeda. Walaupun beberapa ahli bahasa menyetujui peran praktis dari standardisasi bahasa dalam negara-bangsa modern,[13][9] model kodifikasi preskriptif tertentu dikritik karena melangkah jauh melampaui sekadar penetapan norma, yaitu dengan mempromosikan variasi bahasa yang disahkan sebagai satu-satunya sarana komunikasi yang sah dan menyajikannya sebagai satu-satunya tolok ukur kebenaran yang valid, sekaligus menstigma penggunaan non-standar sebagai "kesalahan".[31][32][13] Praktik semacam itu dinilai berkontribusi dalam mengabadikan anggapan bahwa bentuk bahasa yang tidak dikodifikasi secara alamiah lebih rendah, sehingga menciptakan stigma sosial dan diskriminasi terhadap penuturnya.[33][34] Sebaliknya, para ahli bahasa modern umumnya berpandangan bahwa semua bentuk bahasa, baik dialek vernakular maupun berbagai wujud dari variasi yang terstandardisasi, secara ilmiah memiliki kedudukan yang setara sebagai instrumen komunikasi, meskipun dapat dianggap tidak pantas secara sosial dalam konteks situasi tertentu.[35][36] Bermuara pada ideologi bahasa standar, praktik-praktik normatif juga dapat memicu keyakinan bahwa pengajaran formal secara eksplisit merupakan prasyarat mutlak untuk menguasai bahasa ibu dengan baik, sehingga menimbulkan rasa ketidakamanan berbahasa yang meluas.[37] Penyebaran sikap bahasa semacam ini menjadi ciri khas kaum preskriptivis di Eropa Timur, tempat gagasan normativis mengenai kebenaran bahasa bahkan dapat ditemukan di kalangan ahli bahasa profesional.[37][38][39]

Masalah serius lainnya dalam preskripsi adalah aturan-aturan preskriptif cepat menjadi tertanam kuat sehingga sulit diubah sewaktu bahasa mengalami perubahan. Oleh karena itu, terdapat kecenderungan bahwa preskripsi tertinggal di belakang bahasa vernakular. Pada tahun 1834, seorang penulis anonim menolak penggunaan infinitif terpisah dengan alasan bahwa konstruksi tersebut bukanlah ciri umum bahasa Inggris yang ia kenal. Saat ini, konstruksi tersebut berada dalam penggunaan sehari-hari dan secara umum dianggap sebagai penggunaan standar, namun larangan lama tersebut masih sering terdengar.[40]

Masalah berikutnya adalah kesulitan dalam menentukan kriteria yang dapat dipahami. Meskipun otoritas preskriptif mungkin memiliki alasan yang jelas mengenai pilihan tertentu yang mereka buat dan pilihan tersebut jarang sekali sepenuhnya sewenang-wenang, tidak ada ukuran yang dapat dipertahankan secara linguistik untuk memastikan bentuk bahasa mana yang harus dianggap standar atau lebih disukai. Penilaian yang bertujuan menyelesaikan ketaksaan atau meningkatkan kemampuan bahasa dalam membuat pembedaan halus lebih mudah dipertahankan, sedangkan penilaian yang didasarkan pada asosiasi subjektif suatu kata jauh lebih bermasalah.[butuh rujukan]

Akhirnya, terdapat masalah dogmatisme yang tidak tepat. Meskipun otoritas yang kompeten cenderung membuat pernyataan secara hati-hati, pandangan populer mengenai bahasa kerap kali menghakimi. Dengan demikian, saran preskriptif yang bijak, yang mengidentifikasi suatu bentuk sebagai bentuk kolokial atau non-standar dan menyarankan agar bentuk tersebut digunakan secara berhati-hati dalam beberapa konteks, ketika diterapkan di ruang kelas dapat berubah menjadi aturan bahwa bentuk yang tidak disukai tersebut secara otomatis tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun, sebuah pandangan yang ditolak oleh para ahli bahasa akademis.[41][42] (Para ahli bahasa mungkin menerima bahwa suatu konstruksi tidak tata bahasa atau salah dalam hubungannya dengan lek tertentu jika tidak sesuai dengan aturan inherennya, tetapi mereka tidak menganggapnya salah secara mutlak hanya karena menyimpang dari norma variasi bergengsi.)[9] Contoh klasik dari Inggris abad ke-18 adalah saran tentatif dari Robert Lowth bahwa preposisi di akhir pada klausa relatif terdengar kolokial. Saran ini kemudian berkembang menjadi aturan tata bahasa bahwa suatu kalimat tidak boleh diakhiri dengan preposisi.[butuh rujukan]

250px-Dr-Johnson.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Samuel Johnson, sekitar 1772

Karena alasan-alasan ini, beberapa penulis berpendapat bahwa preskripsi linguistik adalah hal yang konyol atau sia-sia. Samuel Johnson mengomentari kecenderungan sebagian preskripsi yang menentang perubahan bahasa:

Ketika kita melihat manusia tumbuh tua dan meninggal dunia pada waktu tertentu satu demi satu, dari abad ke abad, kita menertawakan eliksir yang berjanji memperpanjang hidup hingga seribu tahun; dan sama adilnya bila seorang leksikograf dicemooh, ia yang tidak mampu menunjukkan contoh satu pun bangsa yang berhasil menjaga kata-kata dan frasa mereka dari perubahan, tetapi membayangkan bahwa kamusnya dapat mengawetkan bahasanya serta melindunginya dari kerusakan dan kemerosotan, seolah-olah ada dalam kuasanya untuk mengubah kodrat fana dan membersihkan dunia seketika dari kebodohan, kesombongan, dan kepalsuan. Namun dengan harapan inilah akademi-akademi didirikan, untuk menjaga gerbang bahasa mereka, menahan kata yang melarikan diri, dan mengusir penyusup; tetapi kewaspadaan dan kegiatan mereka sejauh ini sia-sia belaka; bunyi-bunyi tetap terlalu mudah berubah dan halus untuk diikat oleh pembatasan hukum; membelenggu suku kata dan memecut angin adalah usaha kesombongan yang sama belaka, yang enggan mengukur keinginannya dengan kekuatannya. Bahasa Prancis secara nyata telah berubah di bawah pengawasan akademi; gaya terjemahan Amelot atas karya Romo Paolo disaksikan oleh Pierre François le Courayer telah un peu passé; dan tidak ada orang Italia yang akan menyatakan bahwa diksi dari penulis modern mana pun tidak berbeda secara nyata dari diksi Boccaccio, Machiavelli, atau Caro.

Badan pengatur formal

Di beberapa wilayah dunia, preskripsi kebahasaan dilaksanakan oleh badan resmi. Contoh lembaga pengatur bahasa adalah Académie française, yang rekomendasinya tentang bahasa Prancis dihormati secara luas di dunia berbahasa Prancis, walaupun tidak berkekuatan hukum. Di Jerman dan di Belanda, pembaruan ejaan terakhir, seperti reformasi ejaan Jerman pada tahun 1996, dikembangkan oleh tim spesialis yang ditugaskan oleh pemerintah masing-masing dan kemudian dilaksanakan secara formal. Sebagian pembaruan ejaan tersebut mengalami oposisi yang kuat.

Contoh badan dan inisiatif preskriptif:

Jenis-jenis preskriptivisme

Anne Curzan membedakan empat jenis preskriptivisme:[47]

  • preskriptivisme standardisasi (bahasa Inggris:standardising prescriptivism) – bertujuan menumbuhkan dan mempromosikan penggunaan bahasa baku; bisa melibatkan keinginan menyeragamkan praktik kebahasaan;[48]
  • preskriptivisme stilistik (bahasa Inggris:stylistic prescriptivism) – bertujuan memberikan saran soal penggunaan bahasa yang efektif, yaitu cara penggunaan bentuk dan struktur di dalam bahasa baku; penilaian ini didasarkan pada kriteria ketepatan, kelogisan, kejelasan, kegunaan, kekompakan, dan estetika;[49]
  • preskriptivisme restoratif (bahasa Inggris:restorative prescriptivism) – bertujuan mempromosikan bentuk dan struktur yang lebih lawas demi mempertahankan tradisi dan menjaga "kemurnian" bahasa;[50]
  • preskriptivisme responsif secara politis (bahasa Inggris:politically responsive prescriptivism) – bertujuan mempromosikan bentuk bahasa dan penyebutan yang dianggap tepat secara politis (politically correct) dan egaliter; berbeda dengan tiga lainnya, preskripsi jenis ini dianggap progresif dari segi sosial.[51]

Kriteria normatif

Preskripsi bahasa dapat didasarkan pada kriteria dan faktor berikut[52]:

  • kepatuhan terhadap kaidah ekonomi bahasa,
  • kegunaan dan presisi semantis satuan bahasa tertentu,
  • kesesuaian satuan bahasa tertentu dengan kaidah sintagmatis dan paradigmatis,
  • tingkat kelaziman satuan bahasa tertentu dalam bahasa warga berpendidikan,
  • etimologi kata atau istilah tertentu,
  • cakupan geografis satuan bahasa tertentu,
  • tingkat kelaziman satuan bahasa tertentu dalam tradisi bahasa
  • penggunaan bahasa dalam sastra.

Kodifikasi yang berbeda-beda cenderung mengakui bentuk bahasa yang berbeda-beda, misalnya dalam bahasa Spanyol:

Referensi

  1. 1 2 Maciej Adamski; et al. (2001). "normatywizm". Dalam Kamińska-Szmaj, Irena; (ed.). Słownik wyrazów obcych (Edisi 1). Wrocław: Europa. ISBN 838797708X. OCLC 46731315. {{cite book}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam: |author=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  2. 1 2 Scott Sadowsky; Ricardo Martínez (2009). El normativismo y el poder (dalam bahasa Spanyol) (Edisi 2). Uniwersytet w Concepción. hlm. 1.
  3. ↑ Andrzej Markowski (2010). "Poprawność językowa". Wielki słownik poprawnej polszczyzny PWN (dalam bahasa Polski). Warsawa. ISBN 978-83-01-14198-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  4. ↑ Iva Nebeská (2017). "Jazyková správnost". Nový encyklopedický slovník češtiny (dalam bahasa Ceko). {{cite book}}: Parameter tidak dikenal |redaktor= diabaikan
  5. 1 2 Nagyné Foki Lívia (2006). From Theoretical to Pedagogical Grammar: Reinterpreting the Role of Grammar in English Language (PDF) (dalam bahasa Inggris). Veszprém. hlm. 81–82.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  6. ↑ Kapović (2010), hlm. 55-74 harvp error: banyak target (2×): CITEREFKapović2010 (bantuan)
  7. ↑ Linda Pillière; Wilfrid Andrieu; Valérie Kerfelec; Diana Lewis (2018). "Norms and Margins of English". Dalam Linda Pillière; Wilfrid Andrieu; Valérie Kerfelec; Diana Lewis (ed.). Standardising English (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 6–7. doi:10.1017/9781108120470. ISBN 9781107191051.
  8. ↑ McArthur (1992), hlm. 286
  9. 1 2 3 John Lyons (1968). Introduction to Theoretical Linguistics (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 42–44. ISBN 9780521297752.
  10. ↑ Robert Lawrence Trask (1999). Key Concepts in Language and Linguistics (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 47–48. ISBN 9780415157414.
  11. ↑ Nils Langer (2013). Linguistic Purism in Action: How auxiliary tun was stigmatized in Early New High German (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. hlm. 223. ISBN 9783110881103.
  12. ↑ Annabelle Mooney; Betsy Evans (2019). Language, Society and Power: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 18. ISBN 9780429823398.
  13. 1 2 3 Mate Kapović (2013). "Jezik i konzervativizam". Dalam Tvrtko Vuković; Maša Kolanović (ed.). Komparativni postsocijalizam: slavenska iskustva (dalam bahasa Serbo-Kroasia). Zagrebačka slavistička škola. Diakses tanggal 2018-11-06. {{cite book}}: Parameter tidak dikenal |s= diabaikanPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link)
  14. ↑ Michael D. Kliffer. “Quality of language“: The changing face of Quebec prescriptivism (PDF) (dalam bahasa Inggris). McMaster University. hlm. 1. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-01-08. Diakses tanggal 2019-02-16.
  15. ↑ John McIntyre (2011-09-01). "Prescription for prescriptivists". Baltimore Sun (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-11-06.[pranala nonaktif permanen]
  16. ↑ Beata Jezierska (2016). Frazeologizmy w polskich przekładach współczesnej prozy francuskiej (na wybranych przykładach) (dalam bahasa Polski). Poznań: Wydział Filologii Polskiej i Klasycznej: Instytut Filologii Polskiej. hlm. 97–99.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  17. ↑ Andrzej Markowski. Językoznawstwo normatywne dziś i jutro: stan, zadania, szanse, zagrożenia (dalam bahasa Polski). Rada Języka Polskiego. Diakses tanggal 2018-11-21. {{cite book}}: |work= diabaikan
  18. 1 2 3 Carol Percy; Ingrid Tieken-Boon van Ostade (2016). "Prescription and Tradition: Establishing Standards across Time and Space". Dalam Carol Percy; Ingrid Tieken-Boon van Ostade (ed.). Prescription and Tradition in Language: Establishing Standards across Time and Space. Multilingual Matters (dalam bahasa Inggris). Multilingual Matters. hlm. 3. doi:10.21832/9781783096510-003. ISBN 9781783096527.
  19. ↑ Swann, Joan; Deumert, Ana; Lillis, Theresa; Mesthrie, Rajend (2004). A Dictionary of Sociolinguistics (dalam bahasa Inggris). Edinburgh: Edinburgh University Press. hlm. 249. doi:10.1515/9781474472968. ISBN 0-7486-1690-X. JSTOR 10.3366/j.ctvxcrv8w.
  20. ↑ Jeanette Sakel (2015). Study Skills for Linguistics. Understanding Language (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 20. doi:10.4324/9781315724157. ISBN 9781317530091.
  21. ↑ Harimurti Kridalaksana;. "Bahasa dan Linguistik". Dalam Kushartanti, Untung Yuwono, Multamia Lauder (ed.). Pesona bahasa: langkah awal memahami linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 13–14. ISBN 9789792216813. {{cite book}}: Parameter tidak dikenal |data= diabaikan (|date= disarankan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  22. 1 2 Benjamin Lyngfelt, Linnéa Bäckström, Lars Borin, Anna Ehrlemark, Rudolf Rydstedt (2018). "Constructicography at work: Theory meets practice in the Swedish constructicon". Dalam Benjamin Lyngfelt, Lars Borin, Kyoko Ohara, Tiago Timponi Torrent (ed.). Constructicography: Constructicon development across languages. Constructional Approaches to Language (dalam bahasa Inggris). Vol. 22. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. hlm. 59. doi:10.1075/cal.22.03lyn. ISBN 9789027201003.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  23. ↑ Starčević, Kapović & Sarić (2019), hlm. 31
  24. ↑ McArthur (1992), hlm. 414
  25. ↑ Pullum, Geoffrey (April 17, 2009), "50 Years of Stupid Grammar Advice", The Chronicle of Higher Education, diakses tanggal Juli 25, 2011{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. ↑ Pullum, Geoffrey (September 11, 2010), English grammar: not for debate, diakses tanggal Juli 25, 2011{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ Pullum, Geoffrey (November 15, 2010), Strictly incompetent: pompous garbage from Simon Heffer, diakses tanggal Juli 25, 2011{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. ↑ McArthur (1992), hlm. 984–985
  29. ↑ McArthur (1992), hlm. 850–853
  30. ↑ Fowler's Modern English Usage, edisi kedua, Ernest Gowers, ed., Oxford University Press: 1965, hlm. 505–506
  31. ↑ Kordić, Snježana (2008). "Purismo e censura linguistica in Croazia oggi" [Purism and censorship of language in Croatia nowadays]. Studi Slavistici (dalam bahasa Italia). 5: 281–297. ISSN 1824-761X. OCLC 835514860. SSRN 3445779. Templat:CROSBI. ZDB-ID 2182164-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 September 2013. Diakses tanggal 9 Mei 2019.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  32. ↑ Kordić, Snježana (2021) [1st pub. 2014]. Lengua y Nacionalismo [Language and Nationalism]. Bibliotheca Balcanica; 1 (dalam bahasa Spanyol). Diterjemahkan oleh Juan Cristóbal Díaz Beltrán. Doxa & Episteme. hlm. 553. ASIN B09NNTBYYP. [1st pub OL16814702W. ISBN978-84-936668-8-0. Templat:CROSBI.]
  33. ↑ Agha, Asif (2007). Language and Social Relations. Cambridge University Press. hlm. 146–147. ISBN 9780521576857.
  34. ↑ Book Review Digest. Vol. 83. H.W. Wilson Company. 1987. hlm. 1291.
  35. ↑ Vershawn Ashanti Young; Rusty Barrett; Y'Shanda Young-Rivera; Kim Brian Lovejoy (2013). Other People's English: Code-Meshing, Code-Switching, and African American Literacy. Teachers College Press. hlm. 20. ISBN 978-0-8077-5502-0.
  36. ↑ Tamasi, Susan; Antieau, Lamont (2014). Language and Linguistic Diversity in the US: An Introduction. Routledge. ISBN 978-1-136-57904-2.
  37. 1 2 Vaicekauskienė, Loreta (2012). "'Good Language' and Insecure Speakers: A Study into Metalinguistic Awareness of TV and Radio Journalists in the Context of Language Monitoring in Lithuania" (PDF). Multiple Perspectives in Linguistic Research on Baltic Languages. Cambridge Scholars Publishing. hlm. 78–80.
  38. ↑ Kordić, Snježana (2009). "Što je (ne)standardno za kroatiste?" [What is (non)standard for Croatists?] (PDF). Dalam Bierich, Alexander (ed.). Varietäten im Slavischen (PDF). Heidelberger Publikationen zur Slavistik, Linguistische Reihe, vol. 17 (dalam bahasa Serbo-Kroasia). Frankfurt am Main: Peter Lang. hlm. 313–330. ISBN 978-3-631-57010-4. LCCN 2009502912. OCLC 319695935. S2CID 149127460. SSRN 3439290. Templat:CROSBI. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 Juni 2012. Diakses tanggal 8 Agustus 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. ↑ Kontra, Miklós (2000). "Language contact in East-Central Europe". Multilingua. 19. Mouton Publishers: 193.
  40. ↑ Lynch, Jack (2009). The Lexicographer's Dilemma: The Evolution of 'Proper' English, from Shakespeare to South Park. Bloomsbury Publishing. ISBN 978-0-8027-1963-8.
  41. ↑ Kapović, Mate (2011). "Language, Ideology and Politics in Croatia" (PDF). Slavia Centralis. IV/2: 46–48. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-01-22. Diakses tanggal 2019-01-21.
  42. ↑ Kapović, Mate (2010). Čiji je jezik (PDF) (dalam bahasa Serbo-Kroasia) (Edisi 1st). Zagreb: Algoritam. hlm. 37–54. ISBN 978-953-316-282-9. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-01-15. Diakses tanggal 2019-01-21.
  43. ↑ Podstawowe informacje o Radzie (dalam bahasa Polski). Rada Języka Polskiego. Diakses tanggal 2024-12-05.
  44. ↑ Chłopicki, Władysław (2005). "Polish Under Siege?". Dalam Gunilla Anderman, Margaret Rogers (ed.). In and Out of English: For Better, for Worse?. Translating Europe (dalam bahasa Inggris). Multilingual Matters. ISBN 978-1-85359-787-9.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |s= diabaikan
  45. ↑ Dąbrowska, Joanna; (2012). "Ocena poprawności languageowej prac egzaminacyjnych uczniów III klasy gimnazjum: wewnętrznolanguageowe przyczyny trudności w ocenie, wyniki zastosowania skali egzaminacyjnej, zalecenia dla systemu egzaminacyjnego" (PDF). Edukacja (dalam bahasa Polski) (Edisi 2 (118)): 96–97. ISSN 0239-6858.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  46. ↑ Karaś, Halina. "Regionalizm". Leksykon terminów i pojęć dialektologicznych (dalam bahasa Polski). Diakses tanggal 2019-01-27.
  47. ↑ Curzan (2014), hlm. 24
  48. ↑ Curzan (2014), hlm. 28-32
  49. ↑ Curzan (2014), hlm. 33
  50. ↑ Curzan (2014), hlm. 36
  51. ↑ Curzan (2014), hlm. 38
  52. ↑ Grzegorz Krynicki. "Prescriptivism. Polish and English Dialects". ifa.amu.edu.pl (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-11-19. Diakses tanggal 2018-11-19. {{cite web}}: Parameter tidak dikenal |praca= diabaikan (|work= disarankan)
  53. ↑ Justo Fernández López. "CECEO y SESEO". hispanoteca.eu (dalam bahasa Spanyol). Diarsipkan dari asli tanggal 2016-06-11. Diakses tanggal 2018-11-19.
  54. ↑ "Voseo en la variedad rioplatense (Argentina, Paraguay y Uruguay)" (PDF). fondazionemilano.eu (dalam bahasa Spanyol). Diakses tanggal 2018-11-19.

Kepustakaan

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan