Senin, 19 Oktober 2026
18:46 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global

Pratardana

Bagikan:
Pratardana
प्रतर्दन
Tokoh dalam mitologi Hindu
NamaPratardana
Ejaan Dewanagariप्रतर्दन
Ejaan IASTPratardana
Nama lain
  • Dyuman
  • Satrujit
  • Watsa
  • Retadwaja
  • Kubalayaswa
Kitab referensiPurana, Ramayana, Mahabharata
AsalKerajaan Kashi
Kastakesatria
DinastiCandra
AyahDiwodasa
IbuMadawi
AnakAstaka

Pratardana (Dewanagari: प्रतर्दन; ,IAST: Pratardana, प्रतर्दन) adalah seorang raja dari kalangan Dinasti Candra yang termaktub dalam Sastra Hindu. Dia merupakan putra Diwodasa dari Kashi dan Madawi, putri Raja Yayati. Dia memiliki putra bernama Astaka.[1]

Legenda

Ramayana

Pratardana digambarkan sebagai sekutu Rama (awatara Dewa Wisnu) dalam Ramayana, dan dikisahkan memperoleh pujian dari Sang Awatara karena telah membantu Bharata dalam mengatur upacara penobatannya.[2]

Sebuah kisah berdasarkan kitab Ramayana menyatakan bahwa suatu ketika, Pratardana bersiap untuk pergi ke Ayodhya untuk memberi penghormatan kepada Raja Rama. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan Resi Narada. Narada meminta sang raja untuk tidak memberi hormat kepada Resi Wiswamitra saat berada di istana Rama. Pratardana pun bertindak demikian ketika tiba di istana. Wiswamitra menjadi marah karena tindakan Pratardana dinilai tidak sopan, dan mengadu kepada Rama.

Rama marah lalu mengeluarkan tiga anak panah dan bersumpah untuk mencabut nyawa Pratardana sebelum matahari terbenam. Karena takut akan akibatnya, Pratardana meminta perlindungan Narada, yang kemudian mengarahkannya kepada Anjani, ibu Hanoman. Anjani pun menyuruh putranya untuk membantu Pratardana. Hanoman menerbangkan Pratardana ke tepi sungai Sarayu, dan menyuruhnya untuk mengarungi air setinggi pinggang dan tetap di sana sambil mengulang nama Rama. Setelah itu, Hanoman terbang menemui Rama, dan memohon: Siapa pun yang mengucapkan nama Rama akan dilindungi oleh-Nya, dan tidak ada kekuatan di alam semesta―bahkan kekuatan para dewa sekalipun―yang mampu menyakiti orang tersebut. Rama dengan senang hati mengabulkannya. Maka dari itu, ketika Rama menembakkan tiga anak panahnya ke arah Pratardana, ia selamat berkat kecerdasan Hanoman yang menyuruhnya mengucapkan nama Rama. Ketika Pratardana terus mengucapkan nama Rama di hadapan Wiswamitra, sang resi terkesan oleh kesalehannya dan menyuruh Rama untuk menarik sumpahnya.[3]

Mahabharata

Pada upacara aswamedha (pengorbanan kuda), Astaka, Pratardana, Basuman, dan Sibi, bertanya kepada resi suci Narada, siapa di antara mereka yang akan meninggalkan Swarga (kediaman para dewa) terlebih dahulu setelah menikmatinya pascakematian. Narada memberi tahu mereka bahwa Astaka akan pergi terlebih dahulu karena kesombongannya, dan ketika ditanya lagi, dia menyatakan bahwa Pratardana akan menjadi yang kedua. Saat alasannya ditanyakan, sang resi menyatakan bahwa ia pernah tinggal di kediaman Pratardana untuk sementara waktu, dan menceritakan sebuah kejadian saat seorang Brahmana meminta kuda dari raja ketika keduanya sedang menaiki kereta. Mulanya raja ingin memberi pria itu kuda setelah ia kembali dari perjalanannya, tetapi pria itu bersikeras agar raja memberikannya kuda saat itu juga. Pratardana pun memberikan salah satu kuda yang menarik keretanya kepada Brahmana tersebut. Tak lama kemudian, beberapa Brahmana lainnya muncul untuk meminta sisa kuda raja. Setelah raja memberikan semua kuda penarik keretanya kepada para brahmana, ia pun menarik kereta dengan tenaganya sendiri sambil melontarkan keluhan yang meremehkan para brahmana tersebut. Narada menyatakan bahwa inilah alasan mengapa ia akan meninggalkan Swarga di urutan kedua.[4]

Dalam Adiparwa bagian Sambhawaparwa, Pratardana dan tiga putra Madawi kemudian hidup sebagai pertapa di hutan. Di sana, mereka menyaksikan Raja Yayati, kakek mereka sendiri yang sedang jatuh dari surga karena kesombongan. Namun Yayati melayang-layang dan tidak menyentuh bumi. Di saat itulah, Pratardana menawarkan pahala dari kebajikannya agar Yayati dapat kembali ke surga.[5] Karena kemurnian hatinya, ia tidak hanya berhasil membantu Yayati kembali ke tempat yang mulia, tetapi ia sendiri mendapatkan tempat tertinggi di sisi para dewa.[6]

Referensi

  1. ↑ www.wisdomlib.org (2015-08-17). "Pratardana: 9 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-26.
  2. ↑ Books, Kausiki (2021-12-21). Valmiki Ramayana: Uttara Kanda: English translation only without Slokas (dalam bahasa Inggris). Kausiki Books. hlm. 167.
  3. ↑ Lutgendorf, Phillip. Hanuman's Tale: The Messages of a Divine Monkey. hlm. 162–164.
  4. ↑ Valmiki; Vyasa (2018-05-19). Delphi Collected Sanskrit Epics (Illustrated) (dalam bahasa Inggris). Delphi Classics. hlm. 3456–3457. ISBN 978-1-78656-128-2.
  5. ↑ Adi Parva: Section XCII. The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa by Kisari Mohan Ganguli.
  6. ↑ Adi Parva: Section XCIII. The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa by Kisari Mohan Ganguli.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan