Kamis, 24 September 2026
20:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Prasena

Prasena

Prasena
प्रसेन
Ilustrasi dari Bhagawatapurana. Atas: Satrajit menyerahkan Syamantaka kepada Prasena. Bawah: Prasena pergi berburu sambil mengalungkan Syamantaka.
Ilustrasi dari Bhagawatapurana. Atas: Satrajit menyerahkan Syamantaka kepada Prasena. Bawah: Prasena pergi berburu sambil mengalungkan Syamantaka.
Tokoh Purana
NamaPrasena
Ejaan Dewanagariप्रसेन
Ejaan IASTPrasena
Kitab referensiBhagawatapurana, Hariwangsa
GolonganYadawa
Kastakesatria
AyahNigna
SaudaraSatrajit

Prasena (Dewanagari: प्रसेन; ,IAST: Prasena, प्रसेन), dalam mitologi Hindu, adalah seorang kesatria dari Wangsa Yadawa. Ia merupakan putra Nigna, dan adik Satrajit. Ia diceritakan dalam kitab Bhagawatapurana dan Wisnupurana dalam kasus permata Syamantaka. Dikisahkan bahwa ia tewas dalam keadaan memakai Syamantaka. Kerabat Prasena menuduh Kresna melakukan pembunuhan demi merebut permata tersebut, sehingga Kresna berusaha menyeliki kematian Prasena untuk membersihkan nama baiknya.

Musibah saat berburu

Dalam kitab Bhagawatapurana dikisahkan bahwa permata Syamantaka adalah permata berharga dari Dewa Surya yang diberikan kepada Satrajit, kakak Prasena. Kresna menyarankan agar Satrajit memberikan permata tersebut kepada Ugrasena, raja para Yadawa, tetapi ia menolak. Sebaliknya, ia menitipkan permata tersebut kepada Prasena.[1]

Saat berburu, Prasena mengalungkan permata tersebut di lehernya. Di tengah hutan, ia bertemu dengan seekor singa ganas. Singa itu membunuh Prasena dan kuda yang dikendarainya. Akhirnya permata Syamantaka yang dipakainya direbut oleh singa tersebut. Namun, singa itu dibunuh oleh seekor beruang bernama Jembawan. Permata Syamantaka pun jatuh ke tangan Jembawan.[2]

Pelacakan jejak

250px-Krishna_on_horseback.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Adegan dari naskah Bhagawatapurana, menggambarkan Kresna dan para Yadawa menemukan Prasena yang sudah tidak bernyawa. Ilustrasi buatan abad ke-18, periode Mughal.

Prasena yang tak kunjung pulang dari kegiatan berburu menimbulkan kecemasan di kalangan para Yadawa. Satrajit menuduh Kresna sebagai pembunuhnya dengan alasan bahwa Kresna menginginkan permata Syamantaka. Untuk mengakhiri desas-desus tersebut, Kresna mengikuti jejak Prasena.

Setelah menelusuri jejak Prasena sampai ke dalam hutan, Kresna mendapati Prasena sudah tak bernyawa. Saat mayatnya ditemukan, permata Syamantaka sudah hilang, tetapi ada jejak lain (jejak singa) di lokasi kejadian, yang kemudian diikuti oleh Kresna. Jejak tersebut berujung pada bangkai seekor singa, yang tampaknya dibunuh oleh beruang karena ada jejak beruang di sekitar lokasi kejadian. Jejak beruang tersebut diikuti oleh Kresna yang berujung ke sebuah gua kediaman Jembawan.

Setelah mendapati bahwa Syamantaka ada di tangan Jembawan, Kresna pun hendak mengambilnya kembali, tetapi Jembawan tidak mau menyerahkannya sehingga pertempuran pun terjadi, yang dimenangkan oleh Kresna. Akhirnya Jembawan memberikan permata Syamantaka kepada Kresna, dan juga mempersembahkan putrinya yang bernama Jembawati untuk dinikahi Kresna.[3][4]

Lihat pula

Referensi

  1. "Krishna and the Syamantaka Gem". Indiaparenting.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-08-27.
  2. "Jambavan and the Story of the Syamantaka Jewel". www.harekrsna.de. Diakses tanggal 2020-08-27.
  3. Mani, Vettam (2015-01-01). Puranic Encyclopedia: A Comprehensive Work with Special Reference to the Epic and Puranic Literature (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-0597-2.
  4. www.wisdomlib.org (2013-05-25). "The Jewel Syamantaka". www.wisdomlib.org. Diakses tanggal 2020-08-28.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan