Sabtu, 24 Oktober 2026
07:02 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Prasasti Dong Yen Chau

Prasasti Dong Yen Chau

bukti tertulis tertua dari rumpun bahasa Austronesia, dalam bahasa Cham Kuno

Bagikan:
Prasasti Đông Yên Châu
250px-%C4%90%C3%B4ng_Y%C3%AAn_Ch%C3%A2u_inscription.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Prasasti Đông Yên Châu
Bahan bakuBatu
Sistem penulisanAksara Brahmik Kuno[1]
Dibuatkira-kira 350 M[2]
Ditemukan1936
(90 tahun lalu)
 (1936)
Trà Kiệu barat laut (dekat Indrapura), Vietnam Prancis[3]
BahasaOld Champ

Prasasti Dong Yen Chau[4][5] adalah prasasti berbahasa Champa Kuno yang ditulis dalam aksara Brahmi Selatan Kuno,[6] yang ditemukan pada tahun 1936 di Đông Yen Châu, barat laut dari Trà Kiệu, tak jauh dari ibu kota lama Kerajaan Champa di Indrapura, yang saat ini termasuk wilayah negara Vietnam.[7] Prasasti ini ditulis dalam bentuk prosa, yang merupakan prasasti tertua dalam bahasa Champa, serta memperlihatkan adat kepercayaan dari orang-orang Cham zaman dahulu di kerajaan Champa.[5][8] Meskipun tidak bertanggal, ungkapan yang digunakan mirip dengan yang digunakan pada prasasti bertanggal dalam bahasa Sanskerta yang dikeluarkan oleh Raja Bhadravarman I dari dinasti kedua Champa, yang memerintah pada akhir abad ke-4 Masehi.[9] Isi prasasti adalah mantra seruan untuk menghormati 'naga suci kepunyaan raja', yang besar kemungkinan dipercayai sebagai hewan suci pelindung dari suatu mata air atau sumur. Penggunaan teks bahasa sehari-hari ini menunjukkan, bahwa pada abad ke-4, daerah yang sekarang merupakan Vietnam bagian tengah dihuni oleh populasi masyarakat yang berbahasa Austronesia.[7][10] Bukti-bukti monumen dan palaeografi juga menunjukkan bahwa agama Hindu adalah sistem kepercayaan yang dominan saat itu.[7][10]

Kemiripan tata bahasa dan kosakata yang digunakan dalam prasasti ini dengan prasasti-prasasti berbahasa Melayu,[11] menyebabkan beberapa peneliti berpendapat bahwa peninggalan ini dapat dipandang sebagai contoh tertua bentuk bahasa Melayu Kuno;[12][13][14] yang bahkan lebih tua tiga abad daripada prasasti terawal Sriwijaya yang ditemukan di Sumatra bagian tenggara.[11] Namun, sebagian besar peneliti berpendapat bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Cham Kuno.[5] Kesamaan tata bahasa dan kosakata dasar tidak mengherankan,[11] karena bahasa Chamik dan Melayik berkaitan erat dan merupakan dua subkelompok dari kelompok rumpun bahasa Malayik-Chamik,[15] sebagai cabang rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari keluarga bahasa Austronesia.

Teks prasasti

Bahasa yang dipergunakan dalam prasasti secara tata bahasa dan kosa katanya tidak terlalu berbeda dengan bahasa Cham dan Melayu modern. Kemiripan dengan tata bahasa Cham dan Melayu modern terlihat misalnya pada penggunaan penanda relatif yang dan ya, pemakaian kata dengan dan penanda lokatif di, sintaksis pada kalimat ekuatif Ni yang naga punya putauv yang artinya "inilah naga suci kepunyaan raja", pemakaian penanda genitif punya, dan lain-lain. Pengaruh India tampak pada terminologi Sanskerta Siddham, sebuah mantra seruan yang sering digunakan untuk keberuntungan; nāga "ular, naga"; svarggah "syurga", paribhū "menghina", naraka "neraka", dan kulo "keluarga".[16] Teks prasasti itu sendiri, yang berhubungan dengan sebuah sumur di dekat Indrapura, cukup singkat tetapi secara kebahasaan memperlihatkan sbb.:

Transliterasi[11]

Siddham! Ni yang nāga punyo putauv.
Ya urāng sepuy di ko, kurun ko jemā labuh nari svarggah.
Ya urāng paribhū di ko, kurun saribu thun davam di naraka, dengan tijuh kulo ko.

Terjemahan bahasa Melayu

Sejahtera! Inilah naga suci kepunyaan Raja.
Orang yang menghormatinya, turun kepadanya permata dari syurga.
Orang yang menghinanya, akan seribu tahun diam di neraka, dengan tujuh keturunan keluarganya.

Terjemahan bahasa Inggris[11]

Fortune! this is the divine serpent of the king.
Whoever respects him, for him jewels fall from heaven.
Whoever insults him, he will remain for a thousand years in hell, with seven generations of his family.
Dong Yen Chau Proto-ChamicMelayu - IndonesiaInggrisCatatan
ni *inĭ, *inɛyinithisBentuk ringkas ni masih ada. Dari Proto-Austronesia *i-ni.
nāga nagaserpent/dragonDari Sanskerta नाग (nāga).
punya punyapossess
urāng *ʔuraːŋorangperson/people
putavu *pataw,

*pɔtaw

raja king
labuh *labuhlabuhto drop
nari darifrom
svarggah syurga / surgaheavenDari Sanskerta स्वर्ग (svarga).
saribu *saribɔwseribuone thousand
thun *thuntahunyearDari Proto-Melayu-Polynesia *taqun.
davam diamto stay/remainJuga berarti 'hening'.
di *dĭdiin
naraka nerakahellDari Sanskerta नरक (naraka).
dengan *dəŋandenganwithDari Proto-Melayu-Polynesia *deŋan.
tijuh *tujuhtujuhseven
kulo keluargafamilyDari Sanskerta कुल (kula, keluarga; klan).

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ O'Reilly 2014, hlm. 18. sfn error: tanpa target: CITEREFO'Reilly2014 (bantuan)
  2. ↑ Thurgood 1999, hlm. 3.
  3. ↑ Coedès 1968, hlm. 48.
  4. ↑ Ngọc Chừ Mai: Văn hóa Đông Nam Á. Đại học quốc gia Hà Nội, 1999, p. 121; Anne-Valérie Schweyer: Viêt Nam: histoire, arts, archéologie. Olizane, 2011, p. 424.
  5. 1 2 3 Griffiths, Arlo. "Early Indic Inscriptions of Southeast Asia". Academia.edu. Diakses tanggal 20 Januari 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ O'Reilly 2014, hlm. 18 harvnb error: tanpa target: CITEREFO'Reilly2014 (bantuan)
  7. 1 2 3 Coedès 1968, hlm. 48
  8. ↑ O'Reilly 2006, hlm. 134–135
  9. ↑ Marrison 1975, hlm. 52–59
  10. 1 2 Bellwood & Glover 2004, hlm. 48
  11. 1 2 3 4 5 Thurgood 1999, hlm. 3
  12. ↑ Abdul Rashid Melebek & Amat Juhari Moain 2004, hlm. 27
  13. ↑ Abdul Rahman Al-Ahmadi 1991, hlm. 16
  14. ↑ Arkib Negara Malaysia 2014, hlm. 3
  15. ↑ "Malayo-Chamic", ethnologue.com
  16. ↑ Thurgood 1999, hlm. 3–4

Bahan bacaan

Cina
Filipina
India
Iran
Malaysia
Singapura
Thailand
Vietnam
Yerusalem
Lainnya
Italia
Jerman
Norwegia
Lainnya
Mesir
Australia
Meksiko
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan