Sabtu, 24 Oktober 2026
01:56 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Politik pascakebenaran

Bagikan:

Politik pascakebenaran (disebut juga politik pascafakta) adalah budaya politik yang perdebatannya lebih mengutamakan emosi dan keluar dari inti kebijakan.[1][2] Selain itu, poin topik pidato ditegaskan berkali-kali tanpa mendengarkan balasan yang berbobot. Pascakebenaran berbeda dengan kebiasaan menantang dan mencari kelemahan kebenaran.[3] Pascakebenaran justru menempatkan kebenaran di posisi kedua.[4] Meski pascakebenaran dianggap sebagai masalah modern, ada kemungkinan bahwa ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan politik, tetapi kurang terkenal sebelum kehadiran Internet. Dalam novel Nineteen Eighty-Four, George Orwell membayangkan sebuah negara yang mengganti catatan sejarah setiap hari agar pas dengan tujuan propaganda saat itu.

Komentator politik mengamati berkembangnya politik pascakebenaran di perpolitikan Amerika Serikat, Australia, Britania Raya, Cina, India, Jepang, Rusia, Katalunya, Spanyol, dan Turki, serta di berbagai bidang debat yang didorong oleh perpaduan siklus berita 24 jam, keseimbangan palsu dalam laporan berita, dan pemasyarakatan media sosial.[5][6][7][8][9][10] Pada tahun 2016, "post-truth" terpilih sebagai Oxford Dictionaries' Word of the Year[11] karena merebak semasa referendum Brexit dan liputan media mengenai pilpres A.S..[12][13]

Politik pasca-kebenaran (atau post-truth) disinyalir merupakan penyesuaian dari kata 'truthiness' yang kali pertama diciptakan Stephen Colbert dan terpilih sebagai Word of the Year tahun 2005 menurut American Dialect Society (ADS).[14] Kata truthiness sendiri memiliki arti yang hampir serupa, yakni informasi yang dianggap atau dirasakan sebagai sesuatu yang mendekati kebenaran --maka terdapat imbuhan '-y' dalam kata dasar 'truthy' atau '-ish' dalam kata 'truthish'. Penambatan partikel 'post-' di depan bukan dimaknai dalam dimensi waktu, melainkan bentuk pengikisan makna ortodoks atau 'kemurnian' kata yang dimaksud.

Referensi

  1. ↑ Harsin, Jayson (2023-12-29). Re-thinking Mediations of Post-truth Politics and Trust: Globality, Culture, Affect (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 1–33. ISBN 978-1-003-83593-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Harsin, Jayson (2018-12-20). Post-Truth and Critical Communication Studies (dalam bahasa Inggris). doi:10.1093/acrefore/9780190228613.013.757. ISBN 978-0-19-022861-3.
  3. ↑ Kalpokas, Ignas (2019). A political theory of post-truth. Palgrave pivot. Cham, Switzerland: Palgrave Macmillan. ISBN 978-3-319-97713-3.
  4. ↑ Cosentino, Gabriele (2020). Social media and the post-truth world order: the global dynamics of disinformation. Palgrave pivot. Cham, Switzerland: Palgrave Macmillan. ISBN 978-3-030-43005-4.
  5. ↑ "The post-truth world: Yes, I’d lie to you," The Economist Sept 10, 2016
  6. ↑ John Connor (14 Juli 2014). "Tony Abbott's carbon tax outrage signals nadir of post-truth politics". The Age. Diakses tanggal 11 Juli 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Gay Alcorn (27 Februari 2014). "Facts are futile in an era of post-truth politics". The Age. Diakses tanggal 11 Juli 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Amulya Gopalakrishnan (30 Juni 2016). "Life in post-truth times: What we share with the Brexit campaign and Trump". The Times of India. Diakses tanggal 11 Juli 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Ian Dunt (29 Juni 2016). "Post-truth politics is driving us mad". politics.co.uk. Diakses tanggal 11 Juli 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ "Free speech has met social media, with revolutionary results". New Scientist. 1 Juni 2016. Diakses tanggal 11 Juli 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Flood, Alison (15 November 2016). "'Post-truth' named word of the year by Oxford Dictionaries". The Guardian. Diakses tanggal 16 November 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Jonathan Freedland (13 Mei 2016). "Post-truth politicians such as Donald Trump and Boris Johnson are no joke". The Guardian. Diakses tanggal 11 Juli 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Daniel W. Drezner (16 Juni 2016). "Why the post-truth political era might be around for a while". The Washington Post. Diakses tanggal 11 Juli 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Zimmer, Ben (2010-10-13). "Truthiness". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2017-10-24.

Bacaan lanjutan

Jenis
Buku
Operasi
disinformasi
Lembaga
anti-disinformasi
Seri terkait: Penipuan • Manipulasi media • Propaganda
Di proyek wiki lain: Commons • Wikiquote • Wiktionary
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan