| Kerkhof Peutjut | |
|---|---|
Kerkhoff Poteu Tjoet | |
Kerkhof Peutjut, 2010 | |
![]() Peta interaktif Kerkhof Peutjut | |
| Rincian | |
| Didirikan | 1874 (penguburan militer); dikembangkan sebagai pemakaman permanen pada akhir abad ke-19 |
| Lokasi | |
| Negara | Indonesia |
| Koordinat | 5°32′51″N 95°19′14″E / 5.54744°N 95.32067°E / 5.54744; 95.32067 |
| Jenis | Pemakaman militer kolonial dan situs bersejarah |
| Luas | 3,25 hektare[1] |
| Jml. kuburan | sekitar 2.200 makam/nama militer; ditambah beberapa ratus warga sipil[2] |
| Find a Grave | Kerkhof Peutjut |
Kerkhof Peutjut (juga dieja Kerkhof Peucut, Kerkhoff Peutjoet, Kerkhoff Poetjoet, atau cukup Peutjut) adalah sebuah kompleks pemakaman militer kolonial di Banda Aceh, Aceh, yang terutama menjadi tempat pemakaman anggota Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), Korps Marsose, dan personel kolonial lainnya yang meninggal dalam Perang Aceh. Kompleks ini terletak di Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, tidak jauh dari Blang Padang dan Museum Tsunami Aceh.[3]
Sekitar 2.200 anggota militer dimakamkan atau dicatat sebagai dimakamkan di Peutjut, selain beberapa ratus warga sipil. Mereka tidak hanya terdiri atas orang Belanda atau Eropa, tetapi juga prajurit KNIL yang berasal dari Jawa, Ambon, Manado, serta daerah lain di Hindia Belanda.[2][3]
Kerkhof Peutjut secara luas disebut sebagai pemakaman militer Belanda terbesar di luar Belanda.[4] Penelitian Sudirman dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh menyebutnya sebagai kompleks makam tentara Belanda yang terluas di dunia.[3] Stichting Peutjut-Fonds menyebut kompleks tersebut sebagai peninggalan fisik terbesar yang masih tersisa dari Perang Aceh.[2]
Meskipun dalam beberapa publikasi Indonesia Peutjut pernah disebut sebagai "kuburan massal Belanda", kompleks ini secara fisik terutama terdiri atas ribuan makam individual dan sejumlah monumen peringatan kelompok, sehingga lebih tepat diklasifikasikan sebagai pemakaman militer atau military cemetery daripada sebuah kuburan massal dalam pengertian arkeologis.[3]
Di tengah kompleks terdapat pula makam Meurah Pupok atau Poteu Cut, putra Sultan Iskandar Muda, yang telah dimakamkan di kawasan tersebut lebih dari dua abad sebelum pemerintah kolonial mengembangkannya sebagai pemakaman militer.[5]
Pada 2021, kompleks Kerkhof Peutjut ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Banda Aceh melalui Keputusan Wali Kota Banda Aceh Nomor 616 Tahun 2021.[1]
Nama
Kata kerkhof berasal dari bahasa Belanda, secara harfiah terdiri atas kerk ("gereja") dan hof ("halaman"), dan kemudian digunakan secara umum untuk menyebut pekuburan atau halaman pemakaman.[3]
Unsur Peutjut atau Peutjoet berasal dari nama lama kawasan tersebut dan berkaitan dengan makam Meurah Pupok, putra Sultan Iskandar Muda.
Dalam ejaan lama Belanda ditemukan bentuk Poteu Tjoet atau Poteu Cut. Beberapa sumber menerjemahkannya sebagai "pangeran" atau "pangeran muda", sementara kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh menjelaskan Poteu Cut kurang lebih sebagai panggilan kehormatan kepada seorang tuan atau anak bangsawan yang disayangi.[5][4]
Karena makam Meurah Pupok merupakan salah satu makam tua yang paling dikenal di kawasan tersebut, nama Peutjut kemudian melekat pada hamparan tanah di sekitarnya. Peta-peta militer Belanda juga menggunakan nama Kotta Peutjoet untuk kawasan tersebut.[5]
Dalam berbagai sumber modern terdapat beberapa variasi ejaan:
- Kerkhof Peutjut;
- Kerkhoff Peutjut;
- Kerkhof Peutjoet;
- Kerkhoff Poetjoet;
- Kerkhof Peucut;
- Kerkhoff Poucut; dan
- Peutjut atau Peutjoet.
Sejarah
Makam Poteu Cut
Jauh sebelum kedatangan Belanda, kawasan Peutjut telah digunakan sebagai tempat pemakaman.
Tokoh terpenting yang dimakamkan di sana adalah Meurah Pupok, putra Sultan Iskandar Muda. Ia dikenal pula dengan sebutan Poteu Cut, Pocut, atau Peutjut.[5]
Menurut tradisi historiografi Aceh, Meurah Pupok dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya setelah dituduh melakukan pelanggaran hukum terhadap seorang perempuan yang telah bersuami. Kisah tersebut kemudian dihubungkan dengan ungkapan terkenal yang dinisbatkan kepada Sultan Iskandar Muda:
- Mate aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita.
yang kurang lebih berarti bahwa kehilangan seorang anak masih dapat diketahui makamnya, sedangkan apabila adat atau hukum hilang akan sulit dicari kembali.[6]
Detail mengenai bentuk hukuman dan peristiwa yang melatarbelakanginya berbeda-beda dalam tradisi dan sumber kemudian, sehingga tidak seluruh unsur cerita tersebut dapat dipastikan berdasarkan sumber sezaman.
Menurut tradisi lokal yang dikutip BPNB Aceh, makam Meurah Pupok kemudian ditata kembali pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin Tajul Alam.[5]
Keberadaan makam Poteu Cut menyebabkan kawasan tersebut tetap dikenal sebagai Peutjut bahkan setelah pemerintah kolonial Belanda menggunakannya sebagai pemakaman militer.
Awal pemakaman militer
Perang Aceh dimulai setelah Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh pada Maret 1873.
Ekspedisi pertama Belanda menghasilkan korban besar, termasuk Panglima Ekspedisi Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, yang ditembak mati di dekat Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.
Korban perang Belanda pada awalnya dimakamkan di beberapa lokasi, termasuk kawasan Peunayong dan sekitar muara Krueng Aceh. Pertambahan jumlah korban kemudian mendorong perlunya sebuah pekuburan militer yang lebih besar dan permanen.[5]
Stichting Peutjut-Fonds mencatat bahwa sejak 1874 korban dari pihak Belanda mulai dimakamkan di tempat yang dikenal sebagai Peutjut.[2]
Sumber lain menyebut pemerintah Hindia Belanda mengambil alih dan mengembangkan kawasan tersebut sebagai kompleks pemakaman sekitar 1880.[3] Kajian BPNB Aceh menyebut Peutjut mulai digunakan secara permanen sebagai pekuburan KNIL pada sekitar awal 1880-an.[5]
Perbedaan tersebut dapat dijelaskan oleh kemungkinan bahwa penguburan telah dilakukan sejak 1873–1874, sedangkan pengorganisasian Peutjut sebagai pemakaman militer permanen berlangsung kemudian.
Nisan dengan tanggal kematian paling awal yang ditemukan dalam kompleks berasal dari seorang anggota Angkatan Laut Belanda yang meninggal karena kolera pada 27 Desember 1873.[3]
Perang Aceh
Kerkhof Peutjut berkembang seiring berlangsungnya perang antara pemerintah kolonial Belanda dan masyarakat Aceh.
Korban yang dimakamkan di sana berasal dari berbagai pertempuran di Aceh Besar, Pidie, pantai utara, pantai barat, pantai timur, serta wilayah pedalaman Aceh.
Penelitian Sudirman mengidentifikasi kelompok-kelompok makam berdasarkan tempat dan tahun kematian, antara lain korban:
- Ekspedisi Aceh 1873–1874;
- pertempuran di Lambhuk;
- Lueng Bata;
- Aron;
- Ulee Kareng–Pango;
- Lambaro;
- Samalanga;
- Simpang Ulim;
- Krueng Kale;
- Rigaih;
- Idi;
- Sigli;
- Seunagan;
- Lhong;
- Bakongan; dan
- berbagai operasi dalam wilayah Atjeh en Onderhoorigheden hingga dekade 1920-an.[3]
Nama terakhir pada sejumlah daftar gerbang berasal dari korban pada dekade 1930-an.
Stichting Peutjut-Fonds memperkirakan sekitar 2.200 anggota militer akhirnya dimakamkan di Peutjut. Selain itu terdapat beberapa ratus warga sipil.[2]
Jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan korban di pihak kolonial selama Perang Aceh. Stichting Peutjut-Fonds memperkirakan setidaknya sekitar 12.000 anggota militer dan sekitar 25.000 pekerja paksa meninggal di pihak pemerintahan kolonial selama keseluruhan perang, sedangkan korban di pihak Aceh diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa.[2]
Komposisi makam
Kerkhof Peutjut bukan semata-mata pemakaman bagi orang Belanda.
KNIL merupakan tentara kolonial multietnis yang terdiri atas prajurit Eropa dan prajurit yang direkrut dari berbagai daerah di Hindia Belanda.
Di Peutjut terdapat makam anggota KNIL yang berasal dari:
- Belanda dan negara-negara Eropa lainnya;
- Ambon;
- Jawa;
- Manado dan Minahasa; dan
- berbagai kelompok pribumi Hindia Belanda lainnya.[3]
Pada sejumlah daftar makam digunakan kode yang menunjukkan asal pasukan. Prajurit Eropa ditandai dengan huruf E, prajurit Ambon dengan Amb, sedangkan sejumlah prajurit pribumi lain menggunakan tanda I atau singkatan yang berkaitan dengan satuan militernya.[3]
Di antara orang yang dimakamkan terdapat anggota:
- infanteri KNIL;
- artileri;
- Angkatan Laut Kerajaan Belanda;
- Korps Marechaussee;
- dokter militer;
- pendeta dan rohaniwan; dan
- pegawai sipil serta anggota keluarga personel militer.[3]
Sekitar 35 anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda dan sedikitnya 118 perwira tercatat dalam inventarisasi makam.[3]
Kompleks ini juga memiliki makam warga sipil dari berbagai latar agama dan etnis. Sejumlah makam Yahudi terdapat di salah satu bagian pekuburan. Setelah tsunami 2004, sekitar 24 makam Yahudi masih dapat diidentifikasi.[7]
Gerbang kehormatan
Salah satu bagian paling khas dari Kerkhof Peutjut adalah gerbang kehormatan (bahasa Belanda:erepoort) yang dibangun pada 1893.[3][2]
Gerbang berbentuk melengkung tersebut dibuat dari batu bata dengan panel-panel marmer pada kedua sisinya.
Pada bagian atas gerbang terdapat tulisan:
- Aan onze kameraden, gevallen op het veld van eer.
yang berarti kurang lebih "Kepada kawan-kawan kami yang gugur di medan kehormatan".
Pesan serupa ditampilkan pula dalam beberapa bahasa dan aksara yang digunakan di Hindia Belanda, termasuk Melayu/Arab dan aksara Jawa.[3]
Pada panel-panel marmer gerbang tertulis ribuan nama anggota militer yang dimakamkan di Peutjut beserta lokasi atau tahun kematian mereka.
Daftar tersebut sekaligus menjadi dokumentasi geografis Perang Aceh karena mencatat berbagai tempat pertempuran di seluruh Aceh.
Monumen
Selain makam individual, terdapat sejumlah monumen besar yang memperingati perwira atau kelompok militer tertentu.
Panduan Stichting Peutjut-Fonds mencatat sepuluh monumen utama di dalam kompleks:[8]
- Monumen Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler;
- Monumen Korps Marechaussee;
- Monumen Letnan Kolonel J.J. Roeps;
- Monumen Kapten F. Darlang;
- Monumen Letnan Kolonel W.B.J.A. Scheepens;
- Monumen Kapten M.J.J.B.H. Campioni;
- Monumen Letnan H.M. Vis;
- Monumen Kapten G.J.A. Webb;
- Monumen Mayor Jenderal Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel; dan
- Monumen Gubernur A. van Aken.
Monumen Marsose
Sebuah monumen khusus memperingati anggota Korps Marechaussee, pasukan kolonial yang dibentuk untuk melaksanakan operasi bergerak melawan gerilyawan Aceh.
Monumen tersebut didirikan pada 1930, bertepatan dengan sekitar empat puluh tahun pembentukan korps, dan dibiayai antara lain oleh para pengusaha perkebunan Belanda di Sumatra Timur dan wilayah pantai timur.[3]
Korps Marechaussee memainkan peranan penting dalam fase perang kolonial yang ditandai operasi-operasi pengejaran hingga pedalaman Aceh. Banyak anggotanya, baik yang berasal dari Eropa maupun dari Jawa, Ambon dan daerah lain, kemudian dimakamkan di Peutjut.
Johan Harmen Rudolf Köhler
Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, pemimpin Ekspedisi Aceh Pertama tahun 1873, merupakan salah satu tokoh paling terkenal yang makamnya terdapat di Peutjut.
Köhler ditembak mati dalam pertempuran di halaman Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.
Jenazahnya pada mulanya dibawa ke Batavia dan dimakamkan di kompleks pemakaman Tanah Abang, yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti.[3]
Lebih dari satu abad kemudian, atas kesepakatan pemerintah daerah Aceh dan pihak Belanda, jenazah Köhler dipindahkan kembali ke Aceh.
Pada 19 Mei 1978, sisa jasadnya dimakamkan kembali di Kerkhof Peutjut melalui sebuah upacara militer.[3]
Monumen Köhler kemudian menjadi salah satu bangunan utama di bagian tengah kompleks.
J.L.J.H. Pel
Mayor Jenderal Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel merupakan komandan militer Belanda di Aceh pada fase awal perang.
Pel lahir pada 10 Januari 1823 dan meninggal pada 24 Februari 1876 ketika memimpin operasi di Aceh.[3]
Monumen makamnya merupakan salah satu monumen terbesar di Kerkhof Peutjut.
W.B.J.A. Scheepens
Letnan Kolonel W.B.J.A. Scheepens merupakan salah seorang perwira kolonial terkenal dalam Perang Aceh.
Ia pernah memimpin berbagai operasi militer dan turut serta dalam Ekspedisi Tanah Gayo, Alas, dan Batak tahun 1904.
Pada Oktober 1913, ketika menjabat dalam pemerintahan kolonial di Aceh Utara, Scheepens diserang dengan rencong oleh Teuku Bentara Titeu ketika berlangsung suatu sidang. Ia meninggal akibat luka yang dideritanya dan kemudian dimakamkan di Peutjut.[8]
Monumen Scheepens termasuk salah satu bangunan makam utama di kompleks tersebut.
J.J.P. Weijerman
Letnan J.J.P. Weijerman sering disebut sebagai salah seorang perwira awal yang dimakamkan di Peutjut.
Terdapat perbedaan sumber mengenai tahun kematiannya. Sejumlah sumber lama mencatat 20 Oktober 1883, sedangkan sumber lain menyebut 20 Oktober 1893. Ia dilaporkan tewas dalam pertempuran di kawasan antara Tungkop dan Krueng Kale.[5]
Perbedaan tersebut juga menjadi salah satu sebab tidak seragamnya keterangan mengenai tahun tepat Peutjut mulai berfungsi sebagai pemakaman militer permanen.
Makam Meurah Pupok
Di antara ribuan makam kolonial terdapat sebuah kompleks kecil yang berbeda, yaitu makam Meurah Pupok/Poteu Cut.
Makam tersebut dibatasi tersendiri dan secara tradisional diperlakukan sebagai makam Islam.
Keberadaannya menunjukkan bahwa kawasan Peutjut telah digunakan sebagai tempat pemakaman sebelum pembentukan kompleks militer Belanda.[5]
Nama pemakaman kolonial itu sendiri kemudian mengambil nama tempat yang telah lama dikenal sebagai Peutjut.
Makna terhadap sejarah Perang Aceh
Jumlah makam di Peutjut memperlihatkan besarnya korban yang dialami pemerintah kolonial selama perang.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh menyebut Peutjut sebagai satu-satunya kompleks pemakaman khusus militer kolonial yang masih bertahan dalam skala demikian di Indonesia, dan sebagai bukti material dari kerasnya perlawanan masyarakat Aceh terhadap ekspansi kolonial.[9]
Stichting Peutjut-Fonds menyebut sekitar 2.200 makam militer di kompleks tersebut hanya merupakan sebagian kecil dari korban keseluruhan Perang Aceh dan menyebut Peutjut sebagai peninggalan fisik terbesar dari perang tersebut.[2]
Karena itu, situs ini dapat dibaca dari dua perspektif yang saling berkaitan: sebagai tempat pemakaman dan memorial bagi orang-orang yang berada di pihak kolonial Belanda, serta sebagai bukti material mengenai skala dan lamanya perlawanan masyarakat Aceh terhadap penaklukan kolonial.
Masa pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Aceh pada 1942, pemeliharaan Kerkhof terhenti.
Sejumlah unsur logam di kompleks dibongkar untuk kepentingan perang Jepang, termasuk pagar besi. Patung-patung perunggu yang terdapat di Peutjut juga terancam dilebur.[10]
Menurut riwayat yang dihimpun Stichting Peutjut-Fonds, beberapa patung disembunyikan oleh penduduk Kutaraja agar tidak dilebur oleh Jepang.
Sejak periode tersebut pula sebagian dokumentasi mengenai jumlah tepat kuburan hilang sehingga jumlah makam yang masih bertahan tidak selalu sama dengan jumlah nama historis yang tercatat.[3]
Setelah kemerdekaan Indonesia
Setelah berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda, kompleks Peutjut tidak lagi berfungsi sebagai pemakaman militer kolonial aktif.
Dalam beberapa dekade berikutnya kondisinya semakin memburuk. Banyak makam rusak, tumbuh-tumbuhan memenuhi kawasan, dan sebagian lahan digunakan warga sebagai jalan pintas atau tempat menggembalakan hewan.[11]
Meskipun demikian, makam tersebut tetap dipertahankan oleh masyarakat dan pemerintah Aceh.
Arsip Nationaal Archief Belanda menunjukkan bahwa pada awal 1970-an pemerintah Belanda masih melakukan korespondensi mengenai makam-makam Belanda di Peutjut dan pemeliharaan pemakaman Belanda di Indonesia.[12]
Stichting Peutjut-Fonds
Pada 1970, pensiunan kolonel KNIL J.H.J. Brendgen kembali mengunjungi Aceh setelah puluhan tahun.
Brendgen, yang pada masa mudanya pernah bertugas di Korps Marechaussee di Aceh, menemukan kondisi Peutjut sangat terbengkalai. Banyak makam telah rusak dan kawasan tersebut digunakan sebagai tempat menggembala kambing dan ayam.[11]
Ia kemudian menjalin kerja sama dengan pejabat dan tokoh Aceh untuk menyelamatkan kompleks.
Usaha tersebut menghasilkan pendirian Stichting Peutjut-Fonds atau Yayasan Dana Peutjut pada 29 Januari 1976 di Belanda.[11][3]
Tujuan utama yayasan adalah:
- menghimpun dana untuk pemugaran makam;
- merawat monumen-monumen bersejarah;
- memelihara gerbang kehormatan;
- mendokumentasikan nama-nama orang yang dimakamkan; dan
- menjaga Peutjut sebagai warisan sejarah hubungan Aceh dan Belanda.
Dalam pelaksanaannya, yayasan bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga kebudayaan Aceh, serta penjaga kompleks dari masyarakat setempat.
Tsunami 2004
Kerkhof Peutjut mengalami kerusakan berat akibat tsunami 26 Desember 2004.
Gelombang membawa lumpur, pohon, kendaraan dan berbagai puing ke dalam kompleks. Pagar dan banyak nisan rusak, sementara puluhan tanda makam hilang atau berpindah dari posisi semula.[13]
Sebuah laporan mengenai Peutjut menyebut lumpur tsunami menutupi kompleks hingga lebih dari setengah meter di beberapa bagian.[10]
Setelah bencana, Stichting Peutjut-Fonds menyusun program pemugaran bersama mitra di Aceh.
Pada fase pertama antara 2005 dan 2008, biaya pemugaran mencapai sekitar €192.742. Dana digunakan terutama untuk memulihkan gerbang kehormatan, makam-makam utama, monumen dan infrastruktur kompleks.[13]
Setelah itu sedikitnya 150 makam dan monumen khusus kembali dipugar, sementara perawatan bertahap terus dilakukan.[13]
Cagar budaya
Kerkhof Peutjut ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Banda Aceh Nomor 616 Tahun 2021 tanggal 29 November 2021.[1]
Registrasi cagar budaya mencatat luas situs sekitar 3,25 hektare.[1]
Angka tersebut berbeda sedikit dari keterangan populer yang sering menyebut luas kompleks sekitar 3,5 hektare. Perbedaan kemungkinan berasal dari metode pengukuran dan batas kawasan yang digunakan dalam sumber berbeda.
Data cagar budaya Pemerintah Aceh mencatat keterlibatan Yayasan Peutjut serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dalam kepemilikan atau pelestarian kompleks.[1]
Pemeliharaan juga tetap didukung Stichting Peutjut-Fonds. Pada 2026 yayasan tersebut masih melaksanakan pekerjaan pemugaran dan menyatakan bahwa pemeliharaan rutin di Banda Aceh membutuhkan kerja sama lebih lanjut dengan pemerintah daerah dan lembaga pelestarian.[14]
Pariwisata dan pendidikan sejarah
Saat ini Kerkhof Peutjut menjadi salah satu objek wisata sejarah di Banda Aceh.
Lokasinya berdekatan dengan Museum Tsunami Aceh, Blang Padang, Museum Aceh, Peutjut, Gunongan, dan Masjid Raya Baiturrahman, sehingga berada dalam salah satu kawasan dengan konsentrasi situs sejarah terbesar di pusat kota.
Kompleks tersebut juga digunakan sebagai lokasi pendidikan sejarah.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh dan Stichting Peutjut-Fonds pernah menyelenggarakan kegiatan Aceh Looking Back di lokasi tersebut pada 18 Oktober 2016 untuk memperkenalkan sejarah Perang Aceh melalui makam, foto dan dokumen kolonial.[15]
Sekolah-sekolah di Banda Aceh juga menggunakan kompleks tersebut sebagai tempat pembelajaran sejarah lapangan.[16]
Tokoh yang dimakamkan
Beberapa tokoh kolonial yang dimakamkan atau memiliki monumen di Kerkhof Peutjut antara lain:
- Johan Harmen Rudolf Köhler (1818–1873), Mayor Jenderal dan pemimpin Ekspedisi Aceh Pertama;
- Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel (1823–1876), Mayor Jenderal dan komandan pasukan kolonial di Aceh;
- W.B.J.A. Scheepens (1868–1913), Letnan Kolonel KNIL;
- J.J.P. Weijerman, perwira KNIL;
- F. Darlang, perwira KNIL;
- M.J.J.B.H. Campioni, perwira KNIL;
- H.M. Vis, perwira KNIL;
- G.J.A. Webb, perwira KNIL;
- Ch.E. Schmid, kapten Korps Marechaussee;
- J. Paris, kapten Korps Marechaussee;
- T.J. Jorritsma, dokter militer;
- Is. Thenu, pendeta tentara; dan
- Meurah Pupok/Poteu Cut, putra Sultan Iskandar Muda yang telah dimakamkan di kawasan itu sebelum pembentukan pemakaman kolonial.
Nilai historis
Kerkhof Peutjut memiliki posisi yang tidak biasa dalam memori sejarah Aceh dan Belanda.
Bagi pihak Belanda, kompleks tersebut dibangun sebagai tempat pemakaman dan peringatan bagi tentara serta warga kolonial yang meninggal dalam perang.
Bagi masyarakat Aceh, ribuan makam tersebut sekaligus menjadi bukti material mengenai besarnya korban yang ditimbulkan oleh perlawanan terhadap penaklukan kolonial.
Karena itu, situs tersebut tidak hanya mencerminkan memori orang yang dimakamkan di dalamnya, tetapi juga sejarah panjang kekerasan kolonial, perang gerilya, ekspansi Hindia Belanda dan perlawanan masyarakat Aceh.
Sudirman menyimpulkan bahwa Kerkhof merupakan salah satu sumber material utama untuk membaca kedahsyatan Perang Aceh karena informasi pada batu nisan dan monumennya dapat dihubungkan dengan lokasi, waktu dan peristiwa-peristiwa perang.[3]
Stichting Peutjut-Fonds juga memandang kompleks tersebut sebagai penghubung sejarah bersama Aceh dan Belanda serta salah satu monumen utama dari perang yang berlangsung sejak akhir abad ke-19 hingga menjelang pendudukan Jepang.[2]
Galeri
- Pekuburan Peutjut
- Gerbang kehormatan
- Makam-makam di dalam kompleks
Lihat pula
- Perang Aceh
- Johan Harmen Rudolf Köhler
- Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel
- W.B.J.A. Scheepens
- Korps Marechaussee te Voet
- Meurah Pupok
- Blang Padang
- Museum Tsunami Aceh
- Museum Taman Prasasti
- Sejarah Banda Aceh
Referensi
- 1 2 3 4 5 "Komplek Kuburan Kerkhoff". Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Historie". Stichting Peutjut-Fonds. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Sudirman (2017). "Kompleks Makam Kerkof di Banda Aceh, Cermin Kedahsyatan Perang Aceh (Suatu Tinjauan Sejarah)". Purbawidya. 6 (2): 91–104. doi:10.24164/pw.v6i2.211.
- 1 2 Simanjuntak, Hotli (20 Maret 2012). "Kerkhoff Poucut Cemetery, testifying to the Aceh War". The Jakarta Post. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Hamdani, Nasrul (2017). Peutjoet (Kerkhof): Dahulu, Kini dan Nanti. Seri Informasi Sejarah. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh. ISBN 9786029457667.
- ↑ "Situs Meurah Pupok Si Putra Kesayangan". Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Banda Aceh. 1 Januari 2018. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Implementasi kurikulum merdeka, puluhan siswa belajar di kuburan Belanda". ANTARA News Aceh. 22 September 2022. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Bezoekersgids Militaire Erebegraafplaats Peutjut" (PDF). Stichting Peutjut-Fonds. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Aceh Looking Back". Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh. 25 Oktober 2016. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Op Peutjut ligt de geschiedenis van de Atjeh-oorlog". IsGeschiedenis. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 "Geschiedenis". Stichting Peutjut-Fonds. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Inventaris van het archief van de Nederlandse Ambassade in Indonesië, 1962–1974". Nationaal Archief. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 "Beleidsvisie Stichting Peutjut-Fonds" (PDF). Stichting Peutjut-Fonds. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Nieuwsbrief april 2026". Stichting Peutjut-Fonds. April 2026. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Aceh Looking Back". Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh. 25 Oktober 2016. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Implementasi kurikulum merdeka, puluhan siswa belajar di kuburan Belanda". ANTARA News Aceh. 22 September 2022. Diakses tanggal 9 September 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bacaan lebih lanjut
- Hamdani, Nasrul (2017). Peutjoet (Kerkhof): Dahulu, Kini dan Nanti. Seri Informasi Sejarah. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh. ISBN 9786029457667.
- Sudirman (2017). "Kompleks Makam Kerkof di Banda Aceh, Cermin Kedahsyatan Perang Aceh (Suatu Tinjauan Sejarah)". Purbawidya. 6 (2): 91–104. doi:10.24164/pw.v6i2.211.
- Bezoekersgids Militaire Erebegraafplaats Peutjut. Stichting Peutjut-Fonds.
- van 't Veer, Paul (1969). De Atjeh-oorlog. Amsterdam: De Arbeiderspers.
