Selasa, 20 Oktober 2026
12:40 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Pertempuran Teluk Leyte

Pertempuran Teluk Leyte

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Artikel ini berisi tentang pertempuran angkatan laut. Untuk invasi ke pulaunya, lihat Pertempuran Leyte.
Pertempuran Teluk Leyte
Bagian dari Pertempuran Filipina (1944–45) di Perang Pasifik Perang Dunia II
330px-USS_Princeton_%28CVL-23%29_burning_on_24_October_1944_%2880-G-287970%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kapal induk ringan Princeton terbakar, di sebelah timur Luzon, pada tanggal 24 Oktober 1944
Tanggal23–26 Oktober 1944
Lokasi
Teluk Leyte, Filipina
10°22′12″N 125°21′18″E / 10.370°N 125.355°E / 10.370; 125.355
Hasil Kemenangan Sekutu
Pihak yang terlibat
 Jepang
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Kekuatan
Total ~300 kapal[1]
8 armada kapal induk
8 kapal induk ringan
18 kapal induk kawal
12 kapal tempur
24 kapal penjelajah
166 kapal perusak dan kapal perusak kawal
Banyak PT boat, kapal selam, dan armada cadangan
Sekitar 1,500 pesawat
67+ kapal
1 armada kapal induk
3 kapal induk ringan
9 kapal tempur
14 kapal penjelajah berat
6 kapal penjelajah ringan
35+ kapal perusak
300+ pesawat[2]
Korban jiwa dan kerugian
~3,000 korban;
1 kapal induk ringan,
2 kapal induk kawal,
2 kapal perusak,
1 kapal perusak kawal
200+ pesawat
~12,500 tewas;
1 armada induk,
3 kapal induk kawal
3 kapal tempur,
10 kapal penjelajah,
11 kapal perusak tenggelam
~300 pesawat[3]
Pertempuran utama ditebalkan

Luzon

Visayas

Mindanao

Operasi angkatan laut

Pertempuran Teluk Leyte, (Filipino: Labanan sa golpo ng Leyte; Japanese: レイテ沖海戦, romaji: Reite oki Kaisen) dikenal juga sebagai Pertempuran Laut Filipina Kedua, adalah pertempuran laut terbesar di Perang Dunia II dan, menurut beberapa kriteria, mungkin pertempuran angkatan laut terbesar dalam sejarah[4][5] yang melibatkan lebih dari 200.000 personel angkatan laut.

Pertempuran ini terjadi di perairan Teluk Leyte, dekat pulau Filipina Leyte, Samar dan Luzon, dari 23–26 Oktober 1944. Pertempuran ini terjadi antara persekutuan pasukan Amerika dan Australia dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sekaligus menjadi bagian dari Invasi Leyte yang bertujuan untuk mengisolasi Jepang dari seluruh negara jajahannya di Asia Tenggara, di mana pada saat itu merupakan sumber vital dari industri dan suplai minyak.

Saat pertempuran berlangsung, Jepang hanya memiliki sedikit armada utama (Kapal Induk dan Kapal Tempur) dibandingkan Armada Kapal Induk yang dimiliki oleh Armada Persekutuan di Pasifik yang menujukkan betapa besarnya perbedaan kekuatan pada saat itu dalam perang.

Pertempuran tersebut terdiri dari empat pertempuran yang terpisah: Pertempuran Laut Sibuyan, Pertempuran Selat Surigao, Pertempuran Tanjung Engaño dan Pertempuran Samar, serta aksi lainnya.[6]

Peristiwa tersebut merupakan pertempuran pertama di mana pesawat Jepang melakukan serangan kamikaze secara terorganisir, dan pertempuran ini adalah pertempuran laut terakhir yang melibatkan Kapal Tempur dalam sejarah.[7][8] Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menderita kerugian besar dan tidak pernah berlayar dengan kekuatan yang sebanding setelah nya, karena sisa nya terdampar di galangan selama sisa perang karena kekurangan bahan bakar dan hal itulah yang menyebabkan Sekutu berhasil dalam operasi Invasi Leyte.

Latar Belakang

Kampanye yang dilakukan Armada Sekutu di Bulan Agustus 1942 hingga Awal tahun 1944 menyebabkan Jepang menarik pasukannya dari banyak pangkalan di pulau-pulau bagian Utara dan Tengah samudera Pasifik, sembari mengisolasi banyak pangkalan mereka yang lain seperti Pulau Solomon, Kepulauan Bismarck, Pulau Admiralty, Papua Nugini, Kepulauan Marshall, dan Pulau Wake

Pada Bulan Juni 1944, serangkaian Pendaratan Amfibi oleh Amerika Serikat yang dibantu oleh Gugus Tugas Kapal Cepat Armada Kelima berhasil menduduki sebagian besar Kepulauan Mariana ( mengitari Rota ). Pendaratan ini berhasil menembus Strategi Jepang, Pertahanan Cincin Dalam dan memberikan Amerika pangkalan udara yang mana pengebom jarak jauh Boeing B-29 Superfortress bisa menyerang Kepulauan Jepang.


Jepang melakukan serangan balik pada Pertempuran Laut Filipina. Angkatan Laut Amerika Serikat menghacurkan 3 Kapal Induk Jepang, merusak beberapa kapal dan menembak jatuh sekitar 600 pesawat tempur Jepang, sehingga menyisakan Angkatan Laut Jepang kekuatan udara untuk Kapal Induk dan sedikit pilot senior. Walau demikian, banyak kekuatan udara basis darat Jepang telah berkumpul di Filipina dianggap berbahaya apabila dilewati oleh banyak perwira tinggi di luar Kepala Staf Gabungan, termasuk Laksamana Chester Nimitz.

Referensi

Catatan

  1. ↑ History of United States Naval Operations in World War II' by S.E. Morison- Volume XII 'Leyte' (Little, Brown & Co., Boston, 1963)
  2. ↑ Thomas, Evan (2006). Sea of Thunder. New York, NY: Simon & Schuster. hlm. 209–210. ISBN 978-0-7432-5221-8.
  3. ↑ Thomas, Evan (2006). Sea of Thunder. New York, NY: Simon & Schuster. hlm. 322. ISBN 978-0-7432-5221-8.
  4. ↑ Woodward, C. Vann (1947). The Battle for Leyte Gulf. New York: Macmillan.
  5. ↑ "The Largest Naval Battles in Military History: A Closer Look at the Largest and Most Influential Naval Battles in World History". Military History. Norwich University. Diakses tanggal 7 Maret 2015.
  6. ↑ "Battle of Leyte Gulf". World War 2 Facts. Diakses tanggal 17 Januari 2014.
  7. ↑ Fuller, John F. C. (1956). The Decisive Battles of the Western World. Vol. III. London: Eyre & Spottiswoode.
  8. ↑ Morison, Samuel E. (1956). "Leyte, June 1944 – January 1945". History of United States Naval Operations in World War II. Vol. XII. Boston: Little & Brown.

Daftar pustaka

Media audio/visual

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Battle of Leyte Gulf.

10°22′14″N 125°21′20″E / 10.3706°N 125.3556°E / 10.3706; 125.3556

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan