Minggu, 27 September 2026
20:31 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Cenderawasih

Cenderawasih

burung famili Paradisaeidae

Cenderawasih
Lesser_Bird_of_Paradise.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Jantan dewasa Cenderawasih Kuning-kecil,
Paradisaea minor
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Superfamili: Corvoidea
Famili: Paradisaeidae
Genera

13, lihat daftar dibawah

Artikel takson sembarang

Burung Cendrawasih adalah anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Cenderawasih biasanya ditemukan di Indonesia seperti di bagian Timur Papua, Papua Nugini, pulau-pulau selat Torres, dan Australia timur. Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. Ukuran burung Cenderawasih mulai dari Cenderawasih raja pada 50 gram dan 15 cm hingga kuakalame ekor-kuning pada 110 cm dan sagubega jambul-keriting dengan ukuran mencapai 430 gram.

Spesies

Genus Lycocorax

Genus Manucodia

Genus Phonygammus

Genus Paradigalla

Genus Astrapia

Genus Parotia

Genus Pteridophora

Genus Lophorina

Genus Ptiloris

Genus Epimachus

Genus Drepanornis

Genus Cicinnurus

Genus Semioptera

Genus Seleucidis

Genus Paradisaea

Sebelumnya dikelompokkan di sini

Hubungan dengan Manusia

250px-Paradisaea_apoda_-Bali_Bird_Park-6.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Burung cendrawasih di Bali Bird Park; Bali, Indonesia

Masyarakat di Papua sering kali memakai bulu cenderawasih dalam pakaian dan adat mereka, dan beberapa abad yang lalu bulu cendrawasiurungh banyak dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan topi wanita di Eropa. Perburuan untuk mendapat bulu dan perusakan habitat menyebabkan penurunan jumlah burung pada beberapa jenis ke tingkat terancam; perusakan habitat karena penebangan hutan sekarang merupakan ancaman utama.

Perburuan burung cenderawasih untuk diambil bulunya untuk perdagangan topi marak di akhir abad 19 dan awal abad 20 (Cribb 1997), tetapi sekarang burung-burung itu dilindungi dan perburuan hanya dibolehkan untuk kebutuhan perayaan dari suku setempat. Dalam hal Cenderawasih panji, disarankan mengambil dari rumah sarang burung Namdur. Tatkala Raja Mahendra dari Nepal naik takhta pada tahun 1955, ternyata bulu burung cenderawasih pada mahkota kerajaan Nepal perlu diganti. Karena larangan perburuan, penggantian akhirnya diperbolehkan dari kiriman yang disita oleh hukum Amerika Serikat.[2]

Burung cenderawasih dewasa digambarkan pada bendera Papua Nugini. David Attenborough telah menyatakan beberapa burung Cenderawasih sebagai jenis hewan favoritnya, mungkin dia menyukai Cenderawasih botak.

Mitos Cenderawasih di Papua

Sebagian warga Papua meyakini burung cenderawasih adalah jelmaan seorang anak laki-laki bernama kweiya. Awalnya, ada seorang perempuan dan anjingnya kelaparan di dalam hutan dan menemukan buah. Karena kelaparan, sang anjing memakan buah tersebut, secara tiba-tiba perut anjing tersebut membesar dan melahirkan anak. Begitu pula dengan sang wanita pemilik anjing tersebut. Lantas anak perempuan tersebut dinamakan Kweiya.[3]

Saat anak tersebut sudah besar, sang ibu menikah dengan duda yang sudah memiliki anak. Lambat laun, Kweiya disakiti oleh saudara tirinya. Karena itu, Kweiya memilih untuk menjadi burung dengan membuat sayap dari daun dan ekor dari sabut kelapa. Secara ajaib, Kweiya berubah menjadi burung dan bersarang di atas pohon. Kedua saudaranya yang menyakiti pun dikutuk dan berubah menjadi burung berwarna hitam pekat. Nama kedua saudara yang menyakiti tersebut adalah Pohak dan Nggein. Kedua burung hitam tersebut mengakui kesalahannya dan ingin meminta maaf ke Kweiya.[3]

Namun, saat mencari Kweiya di hutan Bomberay, sang burung berekor kuning (Kweiya) ditangkap oleh pemburu. Kedua burung yang berwarna hitam pekat tersebut menyerang pemburu tersebut dan berhasil melepaskan Kweiya. Maka seketika kedua saudara tirinya dimaafkan oleh Kweiya sebagai imbalan karena menyelamatkan nyawanya. Dan secara ajaib, ada beberapa warna cerah dari Kweiya yang luntur dan berpindah ke kedua burung hitam pekat tersebut. Maka jadilah ketiga burung tersebut memiliki aneka warna yang berbeda. Maka hingga saat ini, diyakini burung Cenderawasih berasal dari Kweiya. Cerita ini merupakan cerita dari Fakfak.[3]

Bacaan lanjutan

  • Cracraft, J. & Feinstein, J. (2000): What is not a bird of paradise? Molecular and morphological evidence places Macgregoria in the Meliphagidae and the Cnemophilinae near the base of the corvoid tree. Proc. R. Soc. B 267: 233-241.
  • Cribb, Robert (1997): Birds of paradise and environmental politics in colonial Indonesia, 1890-1931. In: Boomgaard, Peter; Columbijn, Freek & Henley, David(eds.): Paper landscapes: explorations in the environmental history of Indonesia: 379-408. KITLV Press, Leiden. ISBN 90-6718-124-2
  • Frith, Clifford B. & Beehler, Bruce M. (1998): The Birds of Paradise: Paradisaeidae. Oxford University Press. ISBN 0-19-854853-2
  • Mackay, Margaret D. (1990): The Egg of Wahnes' Parotia Parotia wahnesi (Paradisaeidae). Emu 90(4): 269.

Burung cendrawasih jantan memiliki warna yang indah

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Paradisaeidae.

Referensi

  1. 1 2 3 4 Cracraft, Joel; Feinstein, Julie (2000-02-07). "What is not a bird of paradise? Molecular and morphological evidence places Macgregoria in the Meliphagidae and the Cnemophilinae near the base of the corvoid tree". Proceedings of the Royal Society of London. Series B: Biological Sciences (dalam bahasa Inggris). 267 (1440): 233–241. doi:10.1098/rspb.2000.0992. ISSN 0962-8452. PMC 1690532. PMID 10714877.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  2. ↑ Boomgaard, Peter; Colombijn, Freek; Henley, David, ed. (1997). Paper landscapes: explorations in the environmental history of Indonesia. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-90-6718-124-2.
  3. 1 2 3 "Mulyadi" (2019). Etnografi Pembangunan Papua. Yogyakarta: Deepublish. ISBN 978-623-209-898-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Genera Corvides beserta kerabat punah mereka
Campephagidae
Cinclosomatidae
Eulacestomatidae
Falcunculidae
Mohouidae
Neosittidae
Oreoicidae
Oriolidae
Pachycephalidae
Paramythiidae
Psophodidae
Malaconotoidea
    • See below ↓
Corvoidea
    • See below ↓
Turnagra Campochaera sloetii
Aegithinidae
Artamidae
Artaminae
Craticinae
Peltopsinae
Machaerirhynchidae
Malaconotidae
Pityriasidae
Platysteiridae
Rhagologidae
Vangidae
Malaconotus monteiri Machaerirhynchus nigripectus
Corcoracidae
Corvidae
Dicruridae
Ifritidae
Laniidae
Melampittidae
Monarchidae
Monarchinae
Terpsiphoninae
Paradisaeidae
Platylophidae
Rhipiduridae
Lamproliinae
Rhipidurinae
Vireonidae
Paradisaea minor

Seleucidis melanoleuca Nucifraga caryocatactes

Corvus corax
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan