Selasa, 29 September 2026
13:31 WIB
TERKINI
Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan

Pantun

Jenis puisi lama yang berasal dari Nusantara

Bagikan:
Pantun
NegaraIndonesia, Malaysia
Referensi01613
KawasanAsia dan Pasifik
Sejarah Inskripsi
Inskripsi2020

Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal di Nusantara. Kata "Pantun" berasal dari kata patuntun dalam Bahasa Minangkabau yang memiliki arti "penuntun".[1] Pantun memiliki nama lain dalam bahasa-bahasa daerah, dalam bahasa Jawa, pantun dikenal dengan parikan, dalam bahasa Sunda pantun disebut paparikan dan dalam bahasa Batak, pantun dikenal dengan sebutan umpasa.[2] Lazimnya, pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), tiap larik terdiri atas 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b ataupun a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b atau a-b-b-a).[3] Sebagai salah satu bentuk karya sastra lama, Pantun pada mulanya hanya merupakan sastra lisan. Kini banyak dijumpai juga pantun yang tertulis dalam berbagai buku dan sumber literasi lainnya. Ciri lain dari sebuah pantun adalah pantun tidak memberi nama penggubahnya (anonim). Hal ini dikarenakan penyebaran pantun dilakukan secara lisan.[4]

Tradisi

Indonesia memiliki kekayaan seni verbal yang sangat beranekaragam. Sebuah tradisi yang umumnya tidak tertulis berupa ucapan yang ekspresif, dan sering kali memiliki isi jenaka yang disebut "pantun" adalah seni tradisi yang dapat dijumpai secara umum di sebagian besar daerah Melayu di seluruh kepulauan Indonesia. Beberapa pertunjukan "pantun" bersifat narasi; Misalnya, tradisi "kentrung" di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menggunakan struktur "pantun" untuk menceritakan kisah-kisah sejarah keagamaan atau sejarah lokal dengan iringan genderang. Pada hakikatnya, sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia membentuk pondasi dasar pertunjukan genre campuran yang kompleks, seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatera Barat, yang mencampur antara seni musik, seni tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang spektakuler.[5]

Peran pantun

Lazimnya, seni dapat menjadi sarana alternatif bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman mereka.[6] Pantun bekerja karena motivasi yang serupa. Melalui pendayagunaan unsur-unsur linguistik seperti metafora, ritme, atau citraan yang 'hidup', pantun menyandang posisi retorik untuk memperkuat efektivitas penyampaian pesan dalam masyarakat.[7] Praktik ini dapat dilihat dalam tiga aspek utama dalam kehidupan masyarakat: pendidikan (seperti tunjuk ajar), komunikasi (seperti saat rapat adat dan perkawinan), dan hiburan (seperti berkelakar tatkala di ladang atau saat acara berbalas pantun).[8]

Seiring dengan perkembangan teknologi, fungsi varian bentuk tradisi lisan dalam masyarakat cenderung mengalami pergeseran. Fungsi pantun dalam masyarakat Melayu Riau, misalnya, telah mengalami penyempitan dari era klasik ke era digital. Pada era klasik, pantun punya banyak fungsi: sebagai sarana komunikasi sehari-hari, digunakan dalam prosesi pernikahan adat, untuk menyampaikan perasaan kasih sayang, punya fungsi didaktik (memberi nasihat atau pendidikan moral), fungsi hiburan, dan fungsi kamal (berkaitan dengan nilai kesempurnaan atau etika budaya). Pada era digital, ruang hidup pantun pelan-pelan mengisut, terutama hanya digunakan sebagai pembuka atau penutup pidato dalam acara-acara formal seperti pernikahan adat atau pertunjukan seni.[9]

Sementara itu, dalam kebudayaan Minangkabau, pantun digunakan dalam berbagai acara adat. Misalnya dalam acara manjapuik marapulai (menjemput mempelai pria), batagak gala (upacara penobatan gelar), batagak penghulu (upacara penobatan penghulu), atau dalam pidato upacara adat lainnya.[10]

Kedekatan nilai sosial dan pantun bahkan bermula dari filosofi pantun itu sendiri. Adat berpantun, pantang melantun adalah filosofi yang melekat pada pantun. Peribahasa tersebut mengisyaratkan bahwa pantun lekat dengan nilai-nilai sosial dan bukan semata imajinasi.[11] Semangat hakikat pantun menjadi penuntun pada pantun. Penjelasan tersebut meneguhkan fungsi pantun sebagai penjaga dan media kebudayaan untuk memperkenalkan dan menjaga nilai-nilai masyarakat.[12]

Struktur Pantun

Dalam pantun, setiap baitnya terdiri atas empat baris, dengan dua baris pertama sebagai sampiran (pembayang) dan dua baris terakhir sebagai isi (maksud).[13] Struktur pantun ini sangat bergantung pada pola bunyi be-rima. Konsekuensinya, dua baris pertama kerap ditata untuk menyiapkan pola bunyi terlebih dahulu.

Gambaran dalam sampiran (misalnya tentang alam, buah, burung, sungai, dll.) sering kali tidak benar-benar menjadi ilustrasi langsung dari isi pantun.[14] Baca pantun ini.

Anjing menyalak di-tepi kota,
Hendak di-adang rusa sa-kawan;
Kalau sampai niat-nya kita,
Ku-bayar kaul puasa sa-bulan.

Bagian sampiran menyajikan sebuah situasi perihal anjing dan rusa, sementara bagian isi menyatakan sebuah janji atau tekad. Tidak ada hubungan makna yang langsung antara keduanya. Artinya, dua baris pertama pantun tidak selalu dimaksudkan untuk menjelaskan bagian isi secara semantik. Fungsi utamanya adalah membangun irama yang akan mengikat dua baris berikutnya. Mengacu pada konteks ini, sampiran berguna untuk menyiapkan pendengar menerima pesan yang disampaikan pada bagian isi.[15]

Kajian pantun lain malah berpendapat sebaliknya. Memang ada pantun yang tidak punya hubungan antara kedua pasang barisnya, tapi pantun yang baik justru punya hubungan itu. Sering kali gambaran suatu alam atau peristiwa pada sampiran menawarkan semacam hiasan makna yang membangkitkan renungan atau perasaan untuk bagian isi.[16] Kecenderungan ini berakar pada hubungan erat masyarakat Melayu dengan alam. Masyarakat Melayu tradisional memanfaatkan sumber daya alam laksana medium untuk menyampaikan pesan kepada anggota masyarakat.[17] Baca pantun ini.

Burung gagak terbang sekawan,
Hinggap di punggur kayu meranti;
Kalau hendak mencari kawan,
Pilih yang jujur dan baik hati.

Bagian sampiran menerangkan burung gagak yang terbang bersama dan hinggap pada pohon. Gambaran ini secara tidak langsung mengarahkan pikiran pada tema pergaulan atau kebersamaan. Lantas, tema dalam sampiran dipertegas pada dua baris terakhir, yaitu nasihat memilih teman yang jujur dan baik hati. Berangkat dari paparan ini, sampiran pantun dapat menjadi pengantar makna menuju isi pantun. Sampiran sering menghadirkan gambaran alam yang mengantarkan pembaca atau pendengar menuju gagasan filosofis yang terdapat pada isi pantun itu sendiri.[18]

Bagian isi adalah pusat makna pantun. Pada bagian ini biasanya disampaikan suatu pikiran, nasihat, perasaan, atau kebenaran secara singkat dan indah. Karena bentuknya pendek dan sering memakai perumpamaan, dua baris ini mirip dengan bentuk ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, atau kiasan. Ada dua kemungkinan hubungan antara pantun dan ungkapan tradisional. Pertama, peribahasa atau pepatah mungkin sudah ada lebih dahulu, lalu orang menambahkan sampiran supaya ungkapan itu lebih mudah diingat atau dilagukan dalam bentuk pantun. Kedua, sepasang baris isi pantun yang indah dan tepat bisa menjadi populer, lalu lama-kelamaan berubah menjadi peribahasa atau pepatah.[19]

Struktur pantun bergantung pada keteraturan bunyi antara sampiran dan isi. Meskipun pantun klasik dikenal dengan struktur empat baris per bait, pola rima a-b-a-b, dan 8–12 suku kata per baris, ternyata terdapat variasi dalam jumlah baris, yang memunculkan variasi rima baru. Misalnya, ada pantun 6, 8, 10, dan 14 baris, dengan pola rima masing-masing (seperti abc abc, abcd abcd, dan seterusnya).[20]

Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh

Jenis-jenis pantun

Pantun Adat

Pantun adat adalah pantun yang berisi tentang hal-hal berbau adat dan budaya.

Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pusaka.
Nan kurik kundi
nan merah saga
nan baik budi
nan indah basa.
Engku haji berbaju jubah
ke rimba membawa parang
meski harta melimpah ruah
budi juga dipandang orang.
Jati berukir bunga lada
berukir sampai ke tiangnya
ninik dan mamak kini tiada
kini kami kan gantinya.
Parut kelapa di kilang minyak
peras santan atas jerami
dari ninik turun ke mamak
dari mamak turun ke kami.
Kilang tebu kilang minyak
kilang nan sama di api kan
dari nenek turun ke mamak
pusaka jadi digantikan.
Besarlah air sungai petai
batang pegaga 'rang patahkan
bukannya saya cerdik pandai
pusaka kata saya sembahkan.

Pantun Agama

Pantun agama adalah pantun yang berisi nasihat kehidupan berdasarkan pemahaman agama.

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

Pantun Budi

Pantun jenis ini memberikan nasihat agar diri dan pendengarnya selalu berlaku baik dalam kehidupan.

Ayam jantan si ayam jalak
Jaguh Siantan nama diberi
Rezeki tidak saya tolak
Musuh tidak saya cari
Itik betina beranak pinak
Air meluap di sungai lusi
Ilmu bermanfaat Atau tidak
Semua tergantung akhlaq budi

Pantun orang muda - pantun dagang

Pantun jenis ini adalah pantun yang menceritakan nasib anak muda yang yang mengadu nasib (dagang) di rantau, jauh dari keluarga[21].

Tudung saji hanyut terapung
hanyut terapung di air sungai
niat hati nak pulang kampung
apa daya tangan tak sampai.
Orang memukat ikan tamban
mati tenggiri kena tuba
selagi nyawa di kandung badan
mati dan kaya belum kucoba.
Ke kebun menebang sagu
sagu ditebang Syamsir Alam
nasib tuan sudahlah tentu
untung kami Allahualam.
Dari Malak ke negeri Pahang
singgah ke kedai beli kuini
saya ini dagang menumpang
mengharap belas orang yang di sini.
Banyak orang duduk di lapau
minum kopi berlarut malam
kami ini dagang merantau
belum tentu tempat diam.
Gadang-gadang kayu di rimba
sikeduduk degung berdegung
kadang-kadang hatiku iba
setiap saat duduk termenung.
Wangi daunnya ruku-ruku
untuk menggulai ikan belalang
sungguh malang nasib diriku
ayam terpaut disambar elang.
Pukul gendang kulit biawak
sedikit tidak berentum lagi
hendak kemana untung kubawa
sedikit tidak beruntung lagi.

Pantun Jenaka

Pantun Jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung. Dengan pantun jenaka, diharapkan suasana akan menjadi semakin riang dan gembira.

Di mana kuang hendak bertelur
Di atas lata di rongga batu
Di mana tuan hendak tidur
Di atas dada di rongga susu

Pantun Kepahlawanan

Pantun kepahlawanan adalah pantun yang isinya berhubungan dengan semangat kepahlawanan.

Adakah perisai bertali rambut
Rambut dipintal akan cemara
Adakah misai tahu takut
Kami pun muda lagi perkasa

Pantun Percintaan

Pantun percintaan berisi ungkapan hati seseorang akan perasannya terhadap orang lain, yaitu orang yang sedang ada dalam hatinya. Sering pula pantun ini berisi candaan terhadap orang yang dimabuk cinta.

Coba-coba menanam mumbang,
Moga-moga tumbuh kelapa
Coba-coba bertanam sayang,
Moga-moga menjadi cinta.
Telah lama tidak ke rimba,
ke rimba menanam padi
telah lama kita bersua,
apakah masih kasih di hati.
Banyaklah ikan yang tertangkap,
seekor saja ikan beledang
maulah abang hendak berucap,
takut cinta ditolak orang.
Belah-belah si kayu jati,
lebat buahnya kelapa puan
sudah lama pendam di hati,
hendak kenalan dengan puan.

Pantun Peribahasa

Pantun peribahasa menggunakan berbagai pepatah, idiom, maupun peribahasa dalam penyampaian maksudnya. Oleh karena itu, kata-kata yang disampaikan tidak dapat diartikan secara harfiah.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Pantun Perpisahan

Pantun jenis ini mengungkapkan rasa kehilangan si penutur pantun akibat ditinggalkan orang yang disayanginya. Bisa juga pantunnya berisi tentang harapan agar si penutur dan si pendengar bisa bertemu kembali.

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Biar jauh di negeri satu
Hilang di mata di hati jangan

Pantun Teka-teki

Pantun teka-teki, sesuai namanya, memberikan teka-teki bagi si pendengar untuk diselesaikan. Petunjuk yang diberikan dalam pantun teka-teki sering kali terkesan tidak harfiah.

Tugal padi jangan bertangguh
Kunyit kebun siapa galinya?
Kalau tuan cerdik sungguh
Langit tergantung mana talinya?

Pantun Bersaudara Bangsa Serumpun

Sesuai namanya, pantun ini adalah pantun yang sering digunakan di negara-negara serumpun di ASEAN yaitu Brunei, Malaysia, dan Indonesia[21].

Sikeduduk di dalam semak
ambil kayunya pemukul genta
assalamualaikum kepada sanak,
kami berpantun membuka cerita.
Buah ara masak dibantun
dibantun dengan penggalan kayu
Wahai saudara dengarlah pantun
pantun pusaka rumpun melayu.
Orang minang berbaju satin
hendak berlayar ke singapura
kita pererat hubungan batin
antara rakyat tiga negara.
Ranum paria di balik pagar
kesumba banyak di atas peti
maklum pantun kami belajar
kami budak belum mengerti.
Pulau pandan jauh di tengah
di balik pulau angsa dua
hancur badan dikandung tanah
saudara jauh terkenang jua.
Tun Tuah pergi berperang
membawa keris tidaklah lupa
meski jauh di rantau orang
saudara di sebrang tidaklah lupa.
Kena di apun ikan hiu
tinggi bukit si rama-rama
kita serumpun bangsa Melayu
marilah hidup rukun bersama

Pantun Kilat

Dari buku [21], kita bisa menyimpulkan pantun kilat adalah pantun yang lebih sedikit jumlah kata di setiap sampiran dan isinya. Dengan jumlah kata yang lebih sedikit daripada pantun jenis lain, maka makna yang dikandung oleh pantun jenis ini lebih dangkal daripada pantun jenis lainnya. Silahkan simak beberapa pantun kilat di bawah ini:

Kayu lurus
dalam semak
mengaku kurus
banyak lemak.
Oto atak
roda tiga
nasi masak
kanda tiba.

Referensi

  1. ↑ "Pantun Sebagai Teks Nyanyian di Minangkawer".
  2. ↑ Putri, Arum Sutrisni. "Pantun: Definisi, Ciri, Jenis dan Contohnya". Kompas.com. Diakses tanggal 4 Desember 2020.{{cite news}}: |author= and |last= ditentukan lebih dari satu kali
  3. ↑ Shadily, Hassan (1984). Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ictiar Baru - Van Hoeve & Elsevier Publishing Projects. hlm. 2546–2547.
  4. ↑ Abdul Hasim (2016). "Menelusuri Nilai-Nilai Karakter Dalam Pantun". Pedagogia. 14 (3): 401. ISSN 1693-5276.{{cite journal}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=
  5. ↑ "Pantun". Brittanica.com. Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 19 Desember 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Zaidel, D. W. (2020). The Arts and Human Symbolic Cognition: Art is for Social Communication. In A. Abraham (Ed.), The Cambridge Handbook of the Imagination (pp. 593–607) chapter, Cambridge: Cambridge University Press.
  7. ↑ Br Siallagan, P. S., & Harahap, R. (2025). Empowering Education Through Pantun: A Stylistic Approach to Motivation and Meaning. Journal of Aceh Studies, 2(2), 237–246. https://doi.org/10.63924/joas.v2i2.130
  8. ↑ Evawarni & Swastiwi, A. W. (2008). Pantun Melayu: Masa Silam dan Masa Kini. Tanjungpinang: Perpustakaan Direktorat Jendral Kebudayaan.
  9. ↑ Nur, H., Suwandi, S., & Wardani, N. E. (2024). Pantun in the classical and Digital Malay Era: A phenomenological study. Research Journal in Advanced Humanities, 5(1). https://doi.org/10.58256/fytw0v24
  10. ↑ Fandi, Leo; Agustina, Agustina; Nurizzati, Nurizzati (2012). "Struktur dan Fungsi Pantun Minangkabau dalam Masyarakat Pasa Lamo, Pulau Punjung, Dharmasraya". Pendidikan Bahasa Indonesia (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 278–286. doi:10.24036/318-019883. ISSN 2302-3503.
  11. ↑ Noriah Taslim. "Pantun dan Psikodinamika Kelisanan". Diarsipkan dari versi asli pada 2007-05-07. Diakses tanggal 2018-02-08.
  12. ↑ Effendy, T. (2005). Pantun Nasehat. Penerbit: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu Bekerjasamsa. Yogyakarta: Penerbit Adicita Karya Nusa.
  13. ↑ Evawarni & Swastiwi, A. W. (2008). Pantun Melayu: Masa Silam dan Masa Kini. Tanjungpinang: Perpustakaan Direktorat Jendral Kebudayaan.
  14. ↑ Overbeck, H. (1922). The Malay Pantun. Journal of The Straits Branch of The Royal Asiatic Society, 4–28.
  15. ↑ Alisjahbana, S. T. (1952). Puisi Lama. Jakarta: Pustaka Rakjat N.V.
  16. ↑ Hooykaas, C. (1937). Over Malaische Literatuur. Leyden: E.J. Brill.
  17. ↑ Sujud, A., Azmi, A., & Affendi, N. R. N. M. (2022). Nature As A Symbol of Malay Thinking. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences. 12(7), 620– 627. http://dx.doi.org/10.6007/IJARBSS/v12-i7/13151
  18. ↑ Andayani, R. (2024). Ekspresi Estetik Bangsa Indonesia dalam Tutur Pantun. Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 8(2), 560–573. https://doi.org/10.31002/transformatika.v8i2.1548
  19. ↑ Alisjahbana, S. T. (1952). Puisi Lama. Jakarta: Pustaka Rakjat N.V.
  20. ↑ Purwanto, W. E. (2024). Rhyme Variations of Malay Pantun. Jurnal Tradisi Lisan Nusantara, 4(2), 108–121. https://doi.org/10.51817/jtln.v4i2.1266
  21. 1 2 3 Rizal, Yose (2008). Pantun serumpun Puisi asli anak negeri Nusantara edisi persaudaraan bangsa serumpun Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia. Jakarta: Bintang Indonesia. hlm. 61.{{cite book}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 50Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Lihat juga

Pranala luar

Wiktionary logo
Lihat entri pantun di kamus bebas Wikikamus.
  • (Inggris) Pantun - UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity - 2020
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan