Minggu, 20 September 2026
16:40 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Bangsa Mongol

kelompok etnik yang berasal dari Mongolia dan wilayah sekitarnya

Bangsa Mongol hidup dalam kabilah-kabilah kecil. Kesamaan di antara suku-sukunya dilihat dari kesamaan bahasa, dialek dan nasab. Sedangkan perbedaan di antara suku-sukunya dilihat dari cara bertahan hidup. Bangsa Mongol pernah membentuk kekaisaran besar yaitu Kekaisaran Mongol pada abad ke-13 M. Bangsa Mongol sering disamakan atau dibedakan dengan bangsa Tatar oleh para sejarawan.

Pemukiman

Leluhur bangsa Mongol hidup dalam kabilah-kabilah yang disebut Amuk. Amuk terbentuk dari anggota yang berjumlah sedikit. Di dalam Amuk terdapat pembagian menjadi cabang kabilah atau kelompok beradasarkan hubungan sosial dari para anggotanya.[1]

Hubungan kesukuan

Persamaan kesukuan

Suku-suku bangsa Mongol biasanya membentuk persatuan antarsuku. Persatuan ini yang kemudian membentuk suku-suku besar. Pembentukannya dilakukan dengan asimilasi antara suku-suku yang masih memiliki hubungan nasab. Bentuk persatuan yang umum terwujud adalah federal. Selain itu, suku-suku bangsa Mongol juga membentuk persatuan dari kesamaan bahasa dan dialek.[1]

Perbedaan kesukuan

Perbedaan di antara suku-suku bangsa Mongol teramati dari keterampilan hidup mereka. Terdapat dua kelompok suku berdasarkan keterampilannya, yaitu suku penggembala dan suku pemburu. Suku penggembala menggembalakan ternak mereka di padang rumput dan sabana. Sedangkan suku pemburu melakukan perburuan di dalam hutan dan semak belukar.[1]

Masa Kekaisaran Mongol

Pada tahun 1206 M, bangsa Mongol di Asia Tengah membentuk Kekaisaran Mongol. Pendirinya adalah Jenghis Khan. Wilayah kekuasaanya meliputi sebagian besar daratan Eurasia. Bagian timurnya meliputi Tiongkok dan bagian baratnya meliputi wilayah kekhalifahan islam.[2]

Kemiripan dengan bangsa lain

Para pakar sejarah Arab berpendapat bahwa bangsa Mongol disamakan dengan bangsa Tatar. Kesamaan ini ditinjau berdasarkan peperangan-peperangan yang mereka lakukan. Pendapat ini didukung oleh pakar sejarah muslim Arab dan pakar sejarah Eropa Klasik.[3]

Sementara itu, para orientalis Eropa membedakan antara bangsa Tatar dan bangsa Mongol. Mereka mendasarkan pendapat mereka kepada tulisan-tulisan dari seorang sejarawan Persia bernama Rasyiduddin Al-Wazir. Tulisan ini yang utama adalah buku Jami' At-Tarikh (Sejarah Lengkap). Pendapat ini juga didukung oleh orientalis dengan karya tulis ilmiah berbahasa Mongol. Tulisan yang mendukungnya berjudul At-Tarikh As-Sirri li Al-Mongol (Sejarah Rahasia Mongol).[3]

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Zaghrut 2022, hlm. 110.
  2. Qoyum, A., dkk. (2021). Sakti, A., Hidayat, S. E., dan Samidi, S. (ed.). Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia. hlm. 16. ISBN 978-602-60042-8-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 Zaghrut 2022, hlm. 112.

Daftar pustaka

  • Zaghrut, Fathi (April 2022). Artawijaya (ed.). Tragedi-Tragedi Besar dalam Sejarah Islam. Diterjemahkan oleh Irham, Masturi. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-979-592-978-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan