Kamis, 24 September 2026
03:51 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Operasi Bertram

Operasi Bertram

Operasi Bertram
250px-IWM-HU-59574_Constructing_a_Dummy_Tank_1942.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah tank palsu
El Alamein di Egypt
El Alamein
El Alamein
Lokasi di Egypt
Lingkup operasiSeluruh Tentara Ke-delapan
LokasiEl Alamein, Mesir
30°50′N 28°57′E / 30.833°N 28.950°E / 30.833; 28.950
PerencanaDudley Clarke, Charles Richardson (strategi);
Geoffrey Barkas (taktik)
Tujuan
  1. Untuk menyembunyikan rencana penyerngan di wilayah utara[1]
  2. Untuk mengesankan bahwa pertempuran akan terjadi di wilayah selatan[1]
  3. Untuk meminimalisir kesiapan pertahanan musuh di wilayah utara[1]
  4. Untuk memperlihatkan serangan tidak akan terjadi dalam 2–3 hari[1]
TanggalSeptember – Oktober 1942
Dieksekusi olehDirektorat Komando Kamuflase Timur Tengah
HasilKejutan taktis sukses besar

Operasi Bertram merupakan operasi muslihat militer dalam Perang Dunia Kedua yang dilakukan oleh pasukan Sekutu di Mesir yang dipimpin oleh Bernard Montgomery beberapa bulan menjelang Pertempuran El Alamein Kedua pada tahun 1942. Operasi Bertram dirancang oleh Dudley Clarke untuk mengecoh Erwin Rommel mengenai waktu dan lokasi serangan Sekutu. Operasi ini terdiri dari penipuan fisik menggunakan model palsu dan kamuflase, yang dirancang dan dibuat oleh Direktorat Komando Kamuflase Timur Tengah Inggris yang dipimpin oleh Geoffrey Barkas. Operasi ini juga memakai tipuan elektromagnetik nama sandi "Operasi Canwell" menggunakan lalu lintas radio palsu. Semua ini direncanakan untuk membuat musuh percaya bahwa serangan itu akan mengambil tempat di selatan, jauh dari pantai, jalan dan kereta api, dan sekitar dua hari kemudian dari serangan yang sebenarnya.

330px-Map_of_Operation_Bertram.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta rencana Operasi Bertram.

Latar belakang

Dalam Perang Dunia II, pasukan Inggris dan sekutunya di bawah pimpinan Jenderal Bernard Montgomery terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Nazi di Afrika Utara. Peperangan yang didominasi oleh duel tank itu awalnya sempat dimenangkan oleh pasukan Nazi di bawah komando Marsekal Erwin Rommel. Meski jumlah tank Inggris lebih banyak, Nazi Jerman yang memiliki meriam penghancur tank Flak 88 sehingga lebih sering memenangkan pertempuran. Untuk menyelamatkan armada tanknya, Montgomery kemudian berusaha menyembunyikan tank-tank yang dimilikinya, dengan cara memberi kamuflase. Montgomery sadar, bagi Rommel jumlah tank musuh yang lebih besar bukan merupakan alasan untuk kalah. Pasalnya tank-tank musuh bisa dilumpuhkan melalui strategi tempur. Untuk melawan pasukan tank Rommel, Montgomery pun melancarkan operasi tipuan yang dinamakan Operasi Bertram.

Perencanaan

Lewat operasi ini, Montgomery membuat strategi agar kekuatan tempur pasukan Inggris, khususnya kekuatan lapis baja, tampak lemah dan dalam kondisi tidak siap perang. Menjelang dua hari Operation Bertram digelar, Montgomery sengaja menggelar tank-tank dan meriam palsu berbahan kanopi yang terbuat dari material lokal. Dengan tujuan agar mengesankan tank-tanknya tetap berada di tempat.

Posisi tank-tank dan meriam palsu yang tampak berkuatan satu divisi itu mengesankan pasukan Inggris akan menyerang dari arah selatan, tempat pertahanan Divisi Panzer ke-12 dan Divisi Lapis Baja ke-132 Ariete milik Italia berada. Padahal, rencana serbuan Montgomery akan dilaksanakan dari arah utara sedangkan Rommel akan yakin bahwa Montgomery akan menyerang dari arah sebaliknya.

Sementara itu, tank-tank yang asli yang telah dibungkus kanopi sehingga bentuknya mirip truk, diam-diam bergerak menuju utara dan siap menghantam kekuatan tempur Divisi Panzer ke-15 dan Divisi Lapis Baja ke-133 Littorio. Tak hanya tank yang dikamuflasekan sebagai truk, kendaraan lain seperti truk tangki bahan bakar dan logistik lainnya, seperti jalur pipa air, juga dikamuflasekan.

Eksekusi

330px-IWM-E-18461-Crusader-camouflaged-19421026.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tank yang dilapisi kanopi sehingga terlihat seperti truk biasa.

Malam menjelang Operasi Betram digelar, kanopi-kanopi pembungkus tank dilepas dan tank-tank asli yang didominasi oleh Sherman siap menggempur sasaran.

Serbuan besar-besaran, yang kemudian lebih dikenal sebagai "Operasi Lightfoot", dimulai pada 23 Oktober 1942, tepat pukul 21.25 waktu setempat, saat bulan sedang terang-terangnya.

Gempuran itu benar-benar mengejutkan pasukan Jerman. Namun, atas instruksi Rommel melalui komandan Afrika Koprs yang baru, Jeneral Ritter von Thomas, pasukan Jerman ternyata telah menyiapkan pertahanan maksimal.

Pada tahap pertama serbuan, sebanyak 800 pucuk meriam artileri Inggris menggelegar memecah suasana malam padang gurun yang semula tenang dan tenteram itu.

Dengan semangat menyala-nyala, pasukan infanteri bagian teknik dari Divisi ke-9 Australia, Divisi ke-2 Selandia Baru, dan Divisi ke-1 Afrika Selatan terus bergerak mendobrak pertahanan pasukan Nazi Jerman.

Setelah melalui pertempuran yang sangat sengit pasukan Nazi Jerman pun berhasil dihancurkan.

Catatan kaki

  1. 1 2 3 4 Barkas, 1952. hlm. 191.

Referensi

Buku
Situs web
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan