Kamis, 22 Oktober 2026
09:23 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama

Maha Tahu

Bagikan:
Artikel ini merupakan bagian dari seri
Teisme
icon PortalAgama

Maha Tahu adalah sifat yang menunjuk pada kepemilikan pengetahuan yang tertinggi dan menyeluruh. Dalam tradisi Hinduisme, Buddhisme, Sikhisme, serta agama-agama Abrahamik, kemahatahuan kerap dilekatkan pada sosok ilahi atau roh, entitas, maupun pribadi yang serba mengetahui. Dalam Jainisme, kemahatahuan dipandang sebagai kemampuan yang pada akhirnya dapat dicapai oleh setiap insan. Adapun dalam Buddhisme, terdapat ragam pandangan antar aliran mengenai hakikat dan cakupan kemahatahuan tersebut.

Etimologi

Kata kemahatahuan (omniscience) berasal dari bahasa Latin sciens (“mengetahui” atau “sadar”) dan awalan omni (“semua” atau “segala”), yang juga mengandung makna “melihat segala sesuatu”.[1]

Dalam agama

Buddhisme

Topik mengenai kemahatahuan telah menjadi bahan perdebatan luas dalam berbagai tradisi India, namun tidak ada yang membicarakannya dengan lebih mendalam selain kaum Buddhis. Setelah Dharmakirti menguraikan tentang apa yang dapat disebut sebagai pengetahuan yang sah, Śāntarakṣita beserta muridnya Kamalaśīla meneliti persoalan ini secara sistematis dalam karya agung Tattvasamgraha serta tafsirnya, Panjika. Argumen-argumen dalam teks tersebut dapat digolongkan secara garis besar menjadi empat bagian:

  • Penyangkalan bahwa pengetahuan, baik melalui persepsi, inferensi, maupun cara lain, dapat digunakan untuk menolak adanya kemahatahuan.
  • Penjelasan tentang kemungkinan kemahatahuan melalui pemahaman atas hakikat universal yang tanpa-aku dari segala sesuatu yang dapat diketahui, dengan menelaah makna ketidaktahuan serta sifat batin dan kesadaran.
  • Penjelasan mengenai kemahatahuan mutlak, di mana segala ciri individual (svalaksana) dapat dihadirkan bagi seorang yang maha tahu.
  • Penjelasan khusus tentang kemahatahuan non-eksklusif Sang Buddha Shakyamuni, di mana pengetahuan beliau sungguh tak terbatas, dan tidak ada dewa maupun makhluk lain yang mampu menyamai kemahatahuan sejati beliau.[2]

Kekristenan

Beberapa teolog Kristen modern berpendapat bahwa kemahatahuan Allah bersifat kodrati, bukan absolut, dan bahwa Allah memilih membatasi kemahatahuan-Nya demi menjaga kebebasan dan martabat makhluk ciptaan-Nya.[3] John Calvin, bersama sejumlah teolog abad ke-16 lainnya, menegaskan bahwa Allah sungguh Maha Tahu dalam arti yang mutlak. Namun, agar makhluk tetap dapat memilih secara bebas, ia menerima ajaran tentang predestinasi.[4]

Hinduisme

Dalam tradisi Bhakti dari Waisnavisme, di mana Wisnu dipuja sebagai Tuhan Tertinggi, Wisnu disifatkan memiliki berbagai kualitas luhur seperti kemahatahuan, energi, kekuatan, penguasaan, semangat, dan keagungan.[5]

Islam

Allah dalam Islam disifati dengan kemahatahuan mutlak. Allah mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seorang Muslim diwajibkan meyakini bahwa Allah sungguh Maha Tahu sebagaimana termaktub dalam salah satu enam rukun iman, yaitu:

  • Iman kepada takdir dan ketetapan ilahi.

Katakanlah (kepada mereka), "Apakah kamu akan memberi tahu Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Dipercaya bahwa manusia hanya dapat mengubah takdir mereka (seperti rezeki, kesehatan, amal, dan sejenisnya), namun tidak dapat mengubah ketetapan ilahi (seperti tanggal lahir, ajal, dan keluarga). Dengan demikian, kebebasan kehendak tetap terjaga.

Iman Bahá'í

Kemahatahuan merupakan salah satu sifat Tuhan, namun ia juga menjadi sifat yang menyingkapkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia:

Dengan cara yang serupa, seketika kata yang melambangkan sifat-Ku “Yang Maha Mengetahui” keluar dari mulut-Ku, setiap ciptaan, sesuai dengan kapasitas dan keterbatasannya, akan dianugerahi daya untuk menyingkap pengetahuan tentang ilmu-ilmu yang paling menakjubkan, dan diberi kekuatan untuk mewujudkannya seiring perjalanan waktu, atas perintah Dia Yang Mahaperkasa, Maha Tahu.

Jainisme

Artikel utama: Kevala jnana

Dalam Jainisme, kemahatahuan dipandang sebagai bentuk tertinggi dari persepsi. Seorang cendekia Jain berkata, "Perwujudan sempurna dari hakikat sejati jiwa, yang lahir setelah hancurnya seluruh tabir penghalang, itulah yang disebut kemahatahuan."[6]

Jainisme melihat pengetahuan tak terbatas sebagai kemampuan bawaan yang melekat pada setiap jiwa. Istilah Arihanta digunakan kaum Jain untuk menyebut manusia yang berhasil menaklukkan seluruh nafsu batin (seperti keterikatan, keserakahan, kesombongan, dan amarah) serta mencapai Kevala Jnana (pengetahuan tak terbatas). Mereka diyakini terbagi menjadi dua golongan:[7]

  1. Sāmānya kevali – makhluk Maha Tahu (Kevalin) yang berfokus pada pembebasan diri mereka sendiri.
  2. Tirthankara kevali – manusia yang mencapai kemahatahuan, lalu menuntun orang lain untuk meraih jalan yang sama.[7]

Kemahatahuan dan kehendak bebas

250px-Orozco_Mural_Omniciencia_1925_Azulejos.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Omniciencia, mural karya José Clemente Orozco

Pertanyaan apakah kemahatahuan—khususnya mengenai pilihan yang akan dibuat manusia—dapat selaras dengan kehendak bebas telah lama diperdebatkan para teolog dan filsuf. Argumen yang menyatakan bahwa pengetahuan Tuhan tentang masa depan tidak selaras dengan kehendak bebas dikenal sebagai fatalisme teologis. Pandangan ini menegaskan, jika manusia sungguh bebas memilih antara berbagai kemungkinan, maka Tuhan tidak mungkin mengetahui pilihan yang akan dibuatnya.[8]

Sebuah pertanyaan pun muncul: bila suatu entitas Maha Tahu mengetahui segalanya, bahkan keputusan dirinya sendiri di masa depan, apakah itu berarti ia kehilangan kebebasan untuk memilih? William Lane Craig menyatakan bahwa persoalan ini terbagi menjadi dua cabang:

  1. Jika Tuhan telah mengetahui sebelumnya bahwa suatu peristiwa E akan terjadi, apakah E itu mesti terjadi secara niscaya?[9]
  2. Jika suatu peristiwa E bersifat kontingen, bagaimana mungkin Tuhan tetap mengetahui sebelumnya akan terjadinya peristiwa itu?[10]

Namun, argumen semacam ini kerap jatuh pada kekeliruan logika yang dikenal sebagai sesat modal. Dapat ditunjukkan bahwa premis pertama dalam argumen-argumen semacam itu bersifat cacat.[11][12]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "Definition of Omniscience" (dalam bahasa Inggris).
  2. ↑ McClintock, Sara L. (2010). Omniscience and the Rhetoric of Reason. Wisdom Publications.
  3. ↑ John Polkinghorne, Science and Theology SPCK/Fortress Press, 1998. ISBN0-8006-3153-6
  4. ↑ Pike, Nelson (Januari 1965). "Divine Omniscience and Voluntary Action". The Philosophical Review. 74 (1). p. 30. doi:10.2307/2183529. JSTOR 2183529. S2CID 170519806.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Tapasyananda (1991). Bhakti Schools of Vedānta. Madras: Sri Ramakrishna Math. ISBN 978-81-7120-226-3.
  6. ↑ Mehta 1954, hlm. 99.
  7. 1 2 Sangave 2001, hlm. 16.
  8. ↑ "Ron Barnette, a Bright-OMNISCIENCE AND FREEDOM". Valdosta.edu. 1999-09-16. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-04-22. Diakses tanggal 2013-04-25.
  9. ↑ "Purtill on Fatalism and Truth". Faith and Philosophy: 229–234. 1990.
  10. ↑ Viney, Donald Wayne (Musim semi 1989). "Does Omniscience Imply Foreknowledge? Craig on Hartshorneby". Process Studies. 18 (1): 30–37. doi:10.5840/process198918130. S2CID 170638788. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-11-02. Diakses tanggal 5 Oktober 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ "Foreknowledge and Free Will". The Internet Encyclopedia of Philosophy. 12 Juni 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-30. Diakses tanggal 3 Mei 2018.{{cite encyclopedia}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Swartz, Norman (5 Maret 2011). "'The' Modal Fallacy". Simon Fraser University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-08-09. Diakses tanggal 3 Mei 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Sumber

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan