Minggu, 08 November 2026
10:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Nyai

Nyai

Bagikan:
lossy-page1-250px-Studioportret_van_de_heer_Van_der_Velden_met_zijn_dochter_Johanna_van_der_Velden_en_zijn_echtgenote_of_njai_te_Bandoeng%2C_KITLV_178697.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang pria Belanda bernama Van der Velden bersama nyai dan anak perempuan mereka.

Nyai adalah sebutan umum di Jawa Barat, khususnya bagi wanita dewasa. Di sisi lain, kata ini memiliki konotasi lain pada zaman kolonial. Dalam bahasa Jawa, kata nyai mulanya berarti "saudara perempuan",[1] namun istilah tersebut kemudian memiliki makna yang lebih spesifik.[2][3] Penulis Rob Nieuwenhuys menggambarkan posisi nyai sebagai sosok yang selalu subordinat, berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pendamping pria kulit putih, sebelum ia menjadi selirnya.[4]

Seorang nyai berada dalam posisi yang tinggi secara ekonomis, tetapi rendah secara moral. Secara ekonomis, mereka berada di atas rata-rata perempuan pribumi yang bukan bangsawan. Para nyai mengenakan kain songket bersulam benang emas dan perak, mengenakan tusuk konde roos, peniti intan, dan giwang yang terbuat dari berlian.

Nyai juga berarti isteri (nyonya) dari Kyai (gelar ulama di Jawa), misalnya Nyai Ahmad Dahlan. Namun, Kiai di Kalimantan merupakan gelar menteri kerajaan dan gelar kepala distrik (Lalawangan) yang bukan keturunan bangsawan (Tutus Raja), sedangkan Nyai berarti gelar untuk wanita terhormat yang bukan keturunan bangsawan, misalnya Nyai Undang, Nyai Siti Diang Lawai, Nyai Ratu Komalasari. Ratu Komalasari adalah permaisuri Sultan Adam dari Kesultanan Banjar, penambahan gelar Nyai di depan gelar 'Ratu' menunjukkan bahwa dia bukan berasal dari kalangan bangsawan.

Nyai dalam Sastra

Di sejumlah karya sastra yang terbit pada masa kolonialisme, seorang nyai selalu digambarkan sebagai sosok perempuan yang suka serong, bodoh, dan suka mencuri harta tuannya. Cerita Nyai Dasima yang dikarang G. Francis misalnya. Dasima, perempuan dari Kampung Koeripan menjadi nyai Tuan Edward W. Ia sangat dicintai dan dimanjakan layaknya istri yang sah. Namun, Dasima yang rupanya elok ternyata bukan perempuan yang bisa dipercaya. Ia serong dengan Baba Samioen dari Kampung Pedjambon.

Cerita Nyai Dasima di atas memiliki kesamaan dengan cerita Si Tjonat karangan F.D.J. Pangemanann, yang anehnya adalah pengarang pribumi. Adalah Saipa, nyai Tuan Opmeijer, asal Desa Tjirenang yang sangat elok dan muda belia. Sebelum menjadi nyai Tuan Opmeijer, Saipa dijual Kaenoen, abahnya, kepada Tjengkao seharga F 40 dan kemudian dijual lagi seharga dua ratus rupiah. Selama menjadi nyai, Saipa sangat dicintai tuannya. Namun, Nyai Saipa berbuat serong dengan si Tjonat, jongos di rumahnya. Bahkan, Saipa memilih kabur bersama si Tjonat setelah terlebih dahulu mencuri uang, perhiasan, dan barang tuannya.

Oleh Pramoedya Ananta Toer, cerita tentang seorang nyai diangkat lewat tokoh Nyai Ontosoroh dalam roman Bumi Manusia. Pram menggambarkan, Ontosoroh tidak sekadar nyai yang hanya menjadi objek seksual dan prestise sosial tuan kolonial. Nyai Ontosoroh menghadirkan dirinya tidak lagi sekadar gundik, piaraan, dan pajangan tuannya. Begitu pun tabiat suka serong yang dilekatkan pada nyai dibantah Ontosoroh, ia tidak genit saat menerima tamu lelaki. Ontosoroh menjelmakan dirinya menjadi sosok nyai yang berbeda. Ia merupakan harmonisasi dari paras dan rupa Timur yang elok dengan keuletan, keberanian, dan kepintaran seorang perempuan Eropa. Di titik inilah Ontosoroh menjelmakan dirinya sebagai bagian dari politik narasi kebangsaan. Ia hadir, mengiringi sekaligus mengambil bagian di dalam pergulatan kebangsaan sepanjang awal sampai pertengahan abad ke-19, masa awal kebangkitan nasional.

Cerita tentang seorang nyai diangkat juga dalam Cerita Nyai Sarikem (1900), Nyai Isah (1903), Nyai Permana (1912), Nyai Roro Kidul, Nyai Ridwan (2017)

Referensi

  1. ↑ Jacobs, Hans; Roelands, Jan (1970). Indisch ABC (dalam bahasa Dutch). Arbeiderspers. hlm. 103.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ↑ Indische letteren: documentatieblad van de Werkgroep Indisch-Nederlandse Letterkunde (dalam bahasa Dutch). Werkgroep Indisch-Nederlandse Letterkunde. 2001. hlm. 135.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  3. ↑ Indisch letterland: verhalen uit twee eeuwen Nederlands- Indische literatuur (dalam bahasa Dutch). Sijthoff. 1987. hlm. 6. ISBN 9789021838014.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  4. ↑ Berg, Joop van den (1992). Soebatten, sarongs en sinjo's: Indische woorden in het Nederlands (dalam bahasa Dutch). BZZTôH. hlm. 62. ISBN 9789062915590.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)

Pranala luar

120px-Flag_map_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan