Jumat, 02 Oktober 2026
13:29 WIB
TERKINI
Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
Muhammad I Tapar

Muhammad I Tapar

Bagikan:
Muhammad I Tapar
محمد اول تاپار
Sultan
Shahanshah
330px-Investiture_scene_of_Muhammad_I_Tapar.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cuplikan Muhammad I Tapar, dari buku abad ke-14 Jami' al-tawarikh
Sultan Kekaisaran Seljuk
Berkuasa1105–1118
PendahuluMalik Syah II
PenerusMahmud II (di Irak dan barat Iran)
Ahmad Sanjar (di Khurasan dan Transoxiana)
Lahir21 Januari 1082
Meninggal1118 (umur 35–36)
Baghdad
AyahMalik Syah I
IbuTajuddin Safariyya Khatun
Pasangan
  • Gawhar Khatun
  • Qutlugh Khatun
  • Nistandar Jahan Khatun
Keturunan
WangsaWangsa Seljuk
AgamaIslam Sunni

Abu Shuja Ghiyath al-Dunya wa'l-Din Muhammad ibn Malik-Syah (bahasa Persia:ابو شجاع غیث الدنیا و الدین محمد بن مالک شاه, translit. Abū Shujāʿ Ghiyāth al-Dunyā wa ’l-Dīn Muḥammad ibn Malik-Šāh; 1082 – 1118), yang lebih dikenal sebagai Muhammad I Tapar (محمد اول تاپار), adalah sultan Kekaisaran Seljuk dari 1105 sampai 1118.[1] Ia adalah putra dari Malik Syah I (m. 1072–1092). Dalam bahasa Turki, Tapar artinya "ia yang menerima, menemukan".

Kepemimpinan

Muhammad lahir pada tanggal 20 Januari 1082.[2][3] Ia menggantikan keponakannya sendiri, Malik Syah II, sebagai Sultan Seljuk di Baghdad, dan secara teoritis menjadi pemimpin dari keseluruhan dinasti. sekalipun secara de facto pemimpin politik sebenarnya adalah Ahmad Sanjar di Khorasan. Ia kemungkinan beraliansi dengan Ridwan dari Aleppo dalam Pertempuran Sungai Khabur melawan Kilij Arslan I, Sultan Rüm, pada tahun 1107. Pada pertempuran ini Arslan kalah dan terbunuh.

Setelah berkonflik dengan saudara tirinya, Berkyaruq, ia diberi gelak malik dan kekuasaan atas Provinsi Armenia dan Azerbaijan. Tidak puas dengan hadiah ini, ia memberontak lagi, tapi kemudian terpaksa mundur ke Armenia. Tahun 1104, Berkyaruq sakit dan kelelahan dengan perang yang terus-menerus. Ia akhirnya sepakat membagi kesultanan bersama Muhammad I Tapar. Setelah Berkyaruq meninggal pada 1105, ia naik menjadi Sultan.[1]

Pada tahun 1106, Muhammad menaklukkan benteng penganut Syiah Ismaili di Shahdiz, dan memerintahkan penguasa Dinasti Bavandiyah, Shahriyar IV untuk membantunya melawan Ismailis. Shahriyar, yang marah dengan permintaan ini, memutuskan menolak. [4]Setelahnya, ia mengirim pasukan yang dipimpin Amir Chavli, yang berusaha menangkap Sari, tapi secara tak terduga malah dikalahkan pasukan Shahriyar dan anaknya, Qarin III. Muhammad kemudian mengirim surat, yang meminta Shahriyar untuk mengirim salah satu anaknya ke istana Seljuk di Isfahan.[5] Shahriyar mengirim Ali I, yang berhasil membuat Muhammad begitu kagum, sehingga meminta Ali menikahi putrinya. Ali menolak dan menawarkan kesempatan itu kepada saudaranya, yang juga putera mahkota Dinasti Bacandiyah, Qarin III. Qarin III menyetujui permintaan itu. [citation needed]

Pada tahun 1106/1107, Ahmad bin Nizam al-Mulk, anak dari wazir terkenal Nizam al-Mulk , berangkat ke istana Muhammad I Tapar, untuk menyampaikan keluhan atas raisnya, Hamadan. Setibanya di istana, Muhammad I malah mengangkatnya menjadi wazir, menggantikan Sa'd al-Mulk Abu'l-Mahasen Abi, yang baru saja dihukum mati atas tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Penunjukan ini lebih karena reputasi ayahnya. Ia kemudian diberikan berbagai gelar yang dulu diterima ayahnya, Qewam al-din, Sadr al-Islam, dan Nizam al-Mulk).[citation needed]

Muhammad I, dengan nasihat dari Ahmad, kemudian berusaha menguasai Irak. Mereka mengalahkan dan membunuh penguasa Dinasti Mazyadiyah, Sayf al-dawla Sadaqa ibn Mansur, yang menyandang gelar "Raja Orang-Orang Arab". Pada tahun 1109, Muhammad I mengirim Ahmad dan Chavli Saqavu untuk mencaplok benteng Ismaili di Alamut dan Ostavand, namun mereka gagal dan memutuskan mundur.[6] Ahmad kemudian digantikan Khatir al-Mulk Abu Mansur Maybudi sebagai wazir Kekaisaran Seljuk. Menurut Ali ibn al-Athir, Ahmad pensiun dan menjalani kehidupan pribadi yang tenang di Baghda. Sementara menurut, Anushirvan ibn Khalid, Muhammad I memenjarakan Ahmad selama sepuluh tahun.[7]

Muhammad I meninggal pada tahu 18 April 1118[2] dan digantikan Mahmud II, sekalipun setelahnya sebenarnya kepemiminan Seljuk ada di tangan Sanjar.

Warisan

Ia menjadi penguasa Seljuk terakhir yang memiliki kekuasaan mutlak atas daerah barat dari wilayahnya.[8]Setelahnya, kekuasaan Seljuk secara efektif memudar. Menurut Anushirvan ibn Khalid:

"Dalam kekuasaan Muhammad, kerajaan berada dalam persatuan dan aman dari serangan musuh, tapi begitu anaknya Mahmud naik tahta, kerajaan pecah dan hancur. Kekuasaan terbagi-bagi dan hanya disisakan sumber daya seadanya. ."[8]

Muhammad secara positif diulas oleh banyak sejarawan kontemporer. Menurut Imad ad-Din al-Isfahani, Muhammad adalah "sosok sempurna dari Dinasti Seljuk dan memiliki kecakapan yang luar biasa."[9]

Kampanye Muhammad yang luar biasa, menginspirasi Iranshah, untuk membuat epik Persia, Bahman-nama, mitologi Iran yang menceritakan perang terus-menerus antara Kay Bahman dan keluarga Rostam. Karya ini sekaligus ditulis sebagai nasihat untuk mengatasi masalah sosial politik pada masa itu.[10]

Kebijakan agama

Ia dikenal keras terhadap kaum Syiah dan pendukung Sunni yang taat. Ia secara aktif memperkuat bidang agama dan menindas inovasi dan tindakan yang dianggap bid'ah, terutama yang dipraktikkan Syiah Ismaili. Karena itu, ia diberi gelar Mujahid atau Pejuang Suci, karena jasanya memperkuat pengaruh agama. Kekuasaannya diwarnai tindakan pembasmian kelompok yang mempraktikkan bid'ah, yang pada masa itu marak. Sejarah mencatatnya sangat akrab dengan kalangan ulama.

Selain dukungan kepada ulama, ia juga memperkuat ekonomi dan hukum. Ia menghapuskan pajak yang dianggap tidak sesuai dengan syariat. Ini memperlihatkan kepatuhannya kepada ajaran Islam, karena benar-benar mengikuti apa yang digariskan oleh Islam. Secara keseluruhan, kekuasaan Muhammad I Tapar diingat atas keadilan, ketaatan pribadi, dan dan dedikasinya dalam mendukung ajaran Sunni.[11]

Kehidupan pribadi

Salah satu istrinya adalah Gawhar Khatun, putrid ari Isma'il, anak dari Yaquti.[12] Ia dibunuh pada tahun 1118, atas perintah Muhammad sebelum meninggal, untuk mencegah saudaranya, Sanjar, untuk menikahinya.[13] Istri lainnya adalah Qutlugh Khatun.[14], Shah Khatun Safiya (Ibu dari Seljuk-Syah),[15] Nisandar Jahan (dikenal juga dengan nama Sarjhan Khatun, [16][17][18] [19] ibu dari Sultan Ghiyath ad-Din Mas'ud[20] dan Fatimah Khatun.[12] Setelah kematiannya, Mengubars, Gubernur Irak menikahinya.[21][22] Anak mereka, Fatimah menikahi Kalifah Abbasiyah Al-Muqtafi pada tahun 1137,[23] dan meninggal September 1147.[24] anak lainnya menikahi Arslan Shah I, anak dari Kirman Shah, dan cucu dari Qavurt.[12]

Referensi

  1. 1 2 Aizid, Rizem (Juni 2023). Selayang Pandang Dinasti Seljuk. Yogyakarta: DIVA Press. hlm. 48. ISBN 978-623-189-221-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2
  3. ↑ Bosworth 1993, hlm. 408.
  4. ↑ Bosworth 1968, hlm. 28.
  5. ↑ Madelung 1984, hlm. 747–753.
  6. ↑ Bosworth 1968, hlm. 118.
  7. ↑ Bosworth 1984, hlm. 642–643.
  8. 1 2 Bosworth 2010, hlm. 61.
  9. ↑ Peacock 2015, hlm. 80.
  10. ↑ Askari 2016, hlm. 33.
  11. ↑ Lange, Christian (2012-10-03). Seljuqs: Politics, Society and Culture (dalam bahasa Inggris). Edinburgh University Press. hlm. 39–56. ISBN 978-0-7486-7572-2.
  12. 1 2 3 Lambton, A.K.S. (1988). Continuity and Change in Medieval Persia. Bibliotheca Persica. Bibliotheca Persica. hlm. 35, 260, 268 n. 71. ISBN 978-0-88706-133-2.
  13. ↑ Basan, O.A. (2010). The Great Seljuqs: A History. Routledge Studies in the History of Iran and Turkey. Taylor & Francis. hlm. 185. ISBN 978-1-136-95393-4.
  14. ↑ Bosworth, E. (2013). The History of the Seljuq Turks: The Saljuq-nama of Zahir al-Din Nishpuri. Taylor & Francis. hlm. 78. ISBN 978-1-136-75258-2.
  15. ↑ Tetley, G.E. (2008). The Ghaznavid and Seljuk Turks: Poetry as a Source for Iranian History. Routledge Studies in the History of Iran and Turkey. Taylor & Francis. hlm. 292. ISBN 978-1-134-08438-8.
  16. ↑ Türk Dünyası Araştırmaları Vakfı (2008). Türk dünyası araştırmaları - Issue 173. Türk Dünyası Araştırmaları Vakfı. hlm. 123.
  17. ↑ Ege Üniversitesi. Edebiyat Fakültesi; Ege Üniversitesi. Tarih Bölümü (2013). Tarih incelemeleri dergisi - Volume 28. Ege Üniversitesi Edebiyat Fakültesi. hlm. 197.
  18. ↑ Lugal, N.; Iqbal, M. (1943). Ahbâr üd-devlet is-Selçukiyye. Türk Tarih Kurumu yayınlarından. Türk Tarih Kurumu Basımevi. hlm. 74.
  19. ↑ Güney, Alime Okumuş (2020-12-29). "Orta Asya Türk-İslâm devletlerinde evlilikler ve evlilik gelenekleri". Sosyal Bilimler Enstitüsü. hlm. 44. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-13. Diakses tanggal 2024-01-13.
  20. ↑ Türk Dünyası Araştırmaları Vakfı (2008). Türk dünyası araştırmaları - Issue 173. Türk Dünyası Araştırmaları Vakfı. hlm. 123.
  21. ↑ Ege Üniversitesi. Edebiyat Fakültesi; Ege Üniversitesi. Tarih Bölümü (2013). Tarih incelemeleri dergisi - Volume 28. Ege Üniversitesi Edebiyat Fakültesi. hlm. 197.
  22. ↑ Lugal, N.; Iqbal, M. (1943). Ahbâr üd-devlet is-Selçukiyye. Türk Tarih Kurumu yayınlarından. Türk Tarih Kurumu Basımevi. hlm. 74.
  23. ↑ Hanne, Eric J. (2007). Putting the Caliph in His Place: Power, Authority, and the Late Abbasid Caliphate. Fairleigh Dickinson University Press. hlm. 170. ISBN 978-0-8386-4113-2.
  24. ↑ al-Athīr, ʻIzz al-Dīn Ibn; Richards, Donaod Sidney (2006). The Chronicle of Ibn Al-Athīr for the Crusading Period from Al-Kāmil Fīʼl-taʼrīkh: The years 541-589. Crusade texts in translation. Ashgate. hlm. 16. ISBN 978-0-7546-4078-3.

Sumber

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan