Jumat, 30 Oktober 2026
19:12 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Mahmud II (Sultan Seljuk)

Mahmud II (Sultan Seljuk)

Bagikan:
Mahmud II
مغیث الدنیا و الدین محمود دوم بن محمد تپر بن مالک شاه
250px-Coin_struck_under_Mughith_al-Din_Mahmud_II%2C_citing_governor_Inanch_Yabghu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Koin dinar emas pada masa Mahmud II, dengan tulisan mengenai Gubernur Inanch Yabghu. dibuat di peleburan Rudhravar mint, dengan tahun cetak 1125/6.
Berkuasa18 April 1118 – 11 September 1131
PendahuluMuhammad I
PenerusDawud
WaliAhmad Sanjar
(1118–1131)
Lahirca 1098 atau 1104
Meninggal11 September 1131 (pada usia sekitar 33 atau 27)
AyahMuhammad I Tapar
PermaisuriTemplat:Unbulletedlist
KeturunanTemplat:Unbulletedlist
AgamaSunni Islam

Mughith al-Dunya wa'l-Din Mahmud bin Muhammad (lahir sekitar 1104, meninggal 11 September 1131) dikenal juga sebagai Mahmud II adalah Sultan Seljuk dari Irak pada kurun waktu 1118–1131 setelah ayahnya, Muhammad I Tapar meninggal[1] Pada saat naik tahta, usianya baru 14 tahun dan berkuasa atas wilayah Irak dan Persia.

Biography

Pada saat baru naik tahta, vassalnya, Raja Garshasp II, yang merupakan favorit dari Muhammad, merasa jijik dengan sosok Mahmud II. Fitnah soal dirinya menyebar dan menyebabkan ia kehilangan kepercayaan diri. Ia mengirim pasukan ke Yazd, untuk menangkap dan memenjarakan Garshasp, sekaligus menghadiahkan Yazd kepada Juru Minum Kerajaan. Garshasp, berhasil melarikan diri dan kemudian kembali ke Yazd, untuk meminta perlindungan dari rival Mahmud II, Ahmad Sanjar. Istri Garshasp adalah saudara Ahmad.

Garshasp mendesak Ahmad untuk menginvasi wilayah Mahmud II di Persia Tengah, dan memberinya informasi caranya. Ahmad Sanjar sendiri sudah sejak lama berambisi menyatukan Seljuk Raya di bawah satu Sultan, sejak mangkatnya Malik Syah. Mahmud II berupaya menyenangkan hati pamannya dengan upeti 200.000 dinar, disertai penyerahan wilayah Mazandaran, tapi gagal. [2]

Dengan alasan keponakannya masih terlalu muda dan hasutan wazirnya, Ahmad Sajar bergerak ke barat, sampai akhirnya pada September 1118, ia dan lima raja lainnya bertemu dengan Mahmud di Saveh (lima raja ini adalah Garshasp, emir Sistan dan Khwarasm, dan dua lainnya yang tidak dikenal.[1][2] Sanjar hampir saja kaliah, karena tidak mengenal medan dan suplai air yang dikuasai Mahmud II. Pada saat-saat akhir, 18 pasukan gajah Sanjar, berhasil menakuti kavaleri Mahmud II, sehingga keadaan berbalik.[2]

Sanjar terus menyerang ke arah Baghdad. Ia kemudian malah menikahkan putrinya dengan Mahmud dengan salah satu putrinya, sehingga secara praktis malah menjadikan Mahmud II salah satu pewaris tahta..[1] Namun, kemenangan yang tidak mutlak itu menyadarkan Sanjar betapa gentingnya posisinya. Karena kalah jumlah dan tidak mendapat dukungan setempat, ia mengembalikan semua wilayah kepada Mahmud—kecuali Rayy—serta memulihkan kekuasaan Garshasp II,,[3] sebelum akhirnya kembali ke timur. [2]

Adik Mahmud II, Mas'ud, memberontak pada tahun 1120, tapi perang saudara berakhir tahun berikutnya dengan campur tangan dari atabeg Mosul, Aqsunqur al-Bursuqi, dan Mas'ud diampuni. Pada tahun 1126 al-Bursuqi dibunuh assasin, dicurigai atas perintah Mas'ud. Pada tahun 1127, ia Anushirvan ibn Khalid wabagai wazir, namun dipecat lagi tahun berikutnya. Pada tahun 1129, Mahumd mengakui kekuasaan Imaduddin Zanki, yang telah membantunya dalam melawan pemberontakan yang dipimpin al-Mustarshid, kalifah Baghdad, di Syiria dan Irak Utara. Mahmud sendiri memerintah dari Isfahan, sementara kepemimpinan militer Shihna yang dimilikinya berada di Baghdad, kecuali untuk beberapa pertempuran melawan Kalifah Baghdad 1126 yang ia pimpin sendiri.[4]

Mahmud meningggal pada tanggal 11 September 1131.[5] Kematiannya menyebabkan perang saudara antara anak-anaknyanya, Dawud, Mas'ud, Suleiman-Shah, dan Toghrul II. Anak lainnya, Alp Arslan ibn Mahmud menjadi penguasa Mosulwas di bawah perlindungan atabeg Zanki.

Kehidupan pribadi

Pada tahun 1116, ia dijodohkan dengan sepupunya Mah-i Mulk Khatun, putri dari Sultan Ahmad Sanjar.[6] Pernikahan ini terjadi tahun 1119.[7] Mas kawinnya digambarkan begitu mewah, didatangkan dari Khurasan kepada Mahmud II di Irak. Mereka memiliki dua anak.[8] Tahun 1121, kebakaran menghanguskan istana yang dibangun Mujahid al-Din untuk Mahmud. Akibatnya, harta Mah-i-Mulk banyak yang musnh, mulai dari perhiasan, ornamen, perabotan, hingga pakaian. Ia meninggal tahun 1122, [9] diikuti permitnaan dari Sanjar untuk mengembalikan emas dan perhiasan yang pernah diberikan, tapi Mahmud menolak mengembalikan perhiasan-perhiasan itu. .[10][8]

Tahun 1124,[11] Sanjar mengirim putrinya yang lain, Amir Sitti Khatun, untuk menjadi istri Mahmud selanjutnya. Mereka memiliki putri, Gawhar Nasab Khatun[7] danp putra, Malik-Shah III.[12] Ia memiliki pengaruh sangat besar atas kekuasaan Mahmud II, dan mendukung Mazyadid Dubays bin Sadaqa.[13][14] Tahun 1129, wazir Abul-Qasim al-Anasabadhi, yang dulu pernah ditahan oleh Mahmud II, lalu dibebaskan Sanjar, dijadikan wazir oleh Sanjar.[15] Amir Sitti Khatun meninggal tahun 1129. Setelahnya posisi Dubay meredup.[9]

Istri lainnya adalah Ata Khatun, putri dari Garshasp II, anak dari Ali ibn Faramurz dan Arslan Khatun, putri dari Chaghri Beg. Mereka memiliki anak Ala al-Daula Ata Khan.[7] Istri lainnya, ibu dari Alp Arslan ibn Mahmud meninggal saat tinggal di Aq Sunqur al-Bursuqi.[16] Menurut Ann Lambton, Zahida Khatun, istri dari Atabeg Boz-aba mungkin saja mengandung anak lainnya bernama Muhammad.[17] Salah satu dari selirnya, adalah ibu dari putrinya, Turkan Khatun, yang kemudian menikah dengan Sulaiman Shah, salah satu cucu dari Qavurt.[7] Putri lainnya adalah Zinat Khatun[18] dan Zumurrud Khatun.[19] Anak-anaknya yang lain adalah Dawud,[20] Malik-Shah III,[21] Muhammad II,[22] Alp Arslan, Farrukh Shah[23] dan Ala al-Daula Ata Khan.[24]

Referensi

  1. 1 2 3 Bosworth 1968, hlm. 120.
  2. 1 2 3 4 Peacock 2015, hlm. 90.
  3. ↑ Bosworth 1983, hlm. 328–329.
  4. ↑ ALPTEKIN, COJKUN (1972). The Reign of Zangi (PDF). University of London. hlm. 33–44.
  5. ↑ Bosworth 2000, hlm. 100.
  6. ↑ Tetley, G.E. (2008). The Ghaznavid and Seljuk Turks: Poetry as a Source for Iranian History. Routledge Studies in the History of Iran and Turkey. Taylor & Francis. hlm. 186. ISBN 978-1-134-08439-5.
  7. 1 2 3 4 Lambton 1988, hlm. 259–261.
  8. 1 2 Nasr, S.H.; Leaman, O. (2013). History of Islamic Philosophy. Routledge History of World Philosophies. Taylor & Francis. hlm. 377. ISBN 978-1-136-78044-8.
  9. 1 2 Richards 2010, hlm. 241, 276.
  10. ↑ Papan-Matin, F. (2010). Beyond Death: The Mystical Teachings of ʿAyn al-Quḍāt al-Hamadhānī. Islamic History and Civilization. Brill. hlm. 35. ISBN 978-90-474-2759-9.
  11. ↑ Dabashi, H. (1999). Truth and Narrative: The Untimely Thoughts of ʻAyn Al-Quḍāt Al-Hamadhānī. Curzon. hlm. 529. ISBN 978-0-7007-1002-7.
  12. ↑ Bosworth 2000, hlm. 121.
  13. ↑ El-Azhari 2016, hlm. 40.
  14. ↑ Peacock 2015, hlm. 157.
  15. ↑ Richards 2010, hlm. 274.
  16. ↑ El-Azhari 2016, hlm. 219.
  17. ↑ Lambton 1988, hlm. 271.
  18. ↑ Lambton 1988, hlm. 131.
  19. ↑ Nashat, G.; Beck, L. (2003). Women in Iran from the Rise of Islam to 1800. University of Illinois Press. hlm. 111. ISBN 978-0-252-07121-8.
  20. ↑ Bosworth, C.E. (2007). Historic Cities of the Islamic World. EI Reference Guides. Brill. hlm. 488. ISBN 978-90-474-2383-6.
  21. ↑ al-Athīr, I.D.I.; Richards, D.S. (2006). The Chronicle of Ibn Al-Athīr for the Crusading Period from Al-Kāmil Fīʼl-taʼrīkh: The years 541-589. Crusade texts in translation. Ashgate. hlm. 100. ISBN 978-0-7546-4078-3.
  22. ↑ Bosworth 2000, hlm. 125.
  23. ↑ Phillips, J.; Hoch, M. (2001). The Second Crusade: Scope and Consequences. Manchester University Press. hlm. 115. ISBN 978-0-7190-5711-3.
  24. ↑ Lambton 1988, hlm. 261.

Sumber

  • Bosworth, C. E. (1968). "The Political and Dynastic History of the Iranian World (A.D. 1000–1217)". Dalam Frye, R. N. (ed.). The Cambridge History of Iran, Volume 5: The Saljuq and Mongol periods. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 1–202. ISBN 0-521-06936-X.
  • Bosworth, E. (2000). The History of the Seljuq Turks: The Saljuq-nama of Zahir al-Din Nishpuri. Taylor & Francis. ISBN 978-1-136-75257-5.
  • Bosworth, C. Edmund (1983). "ABŪ KĀLĪJĀR GARŠĀSP (II)". Encyclopaedia Iranica, Vol. I, Fasc. 3. London et al.: C. Edmund Bosworth. hlm. 328–329.
  • El-Azhari, T. (2016). Zengi and the Muslim Response to the Crusades: The politics of Jihad. Routledge Studies in the History of Iran and Turkey. Taylor & Francis. hlm. 219. ISBN 978-1-317-58938-9.
  • Lambton, A.K.S. (1988). Continuity and Change in Medieval Persia. Bibliotheca Persica. Bibliotheca Persica. hlm. 259–61. ISBN 978-0-88706-133-2.
  • Richards, D.S. (2010). The Chronicle of Ibn Al-Athir for the Crusading Period from Al-Kamil fi'l-Ta'rikh.: The Years 491-541/1097-1146 the Coming of the Franks and the Muslim Response. Crusade texts in translation. Ashgate. hlm. 241, 276. ISBN 978-0-7546-6950-0.
  • Peacock, A.C.S. (2015). Great Seljuk Empire. The Edinburgh History of the Islamic Empires EUP. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-9807-3.
Didahului oleh:
Muhammad I Tapar
Sultan of the Seljuk Empire
1118–1131
Diteruskan oleh:
Civil war

Templat:Seljuk dynasty

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan