Nizam al-Mulk | |
|---|---|
| Wazir Kesultanan Seljuk | |
| Masa jabatan 29 November 1064 –14 Oktober 1092 | |
| Monarch | Alp Arslan, Malik Syah I |
| Pendahulu | Al-Kunduri |
| Pengganti | Taj al-Mulk Abu'l Ghana'im |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 10 April 1018 |
| Meninggal | 14 Oktober 1092 (umur 74) |
| Suami/istri | Seorang putri Bagrationi |
| Anak | Ahmad bin Nizham al-Mulk Shams al-Mulk Uthman Abulfath Fakhr al-Malik Mu'ayyid al-Mulk Jamal al-Mulk Fakhr al-Mulk Izz al-Mulk Imad al-Mulk Abu'l-Kasim Safiyya |
Nizham al-Mulk (bahasa Arab:نظام الملك, lahir 10 April 1018 – wafat 14 Oktober 1092), adalah seorang wazir atau perdana menteri Kesultanan Seljuk dan cendekiawan keturunan Persia.[1][2] Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ishaq bin al-Abbas at-Thusi (أبو علي الحسين بن علي بن إسحاق بن العباس الطوسي). Ia menjabat wazir (perdana menteri) pada masa pemerintahan Alp Arslan dan Malik Syah I. Pada masa Nizham al-Mulk inilah aliran Asy'ariyah (Sunni) menjadi kuat berkembang karena dijadikan aliran resmi negara, dan keilmuan Al-Ghazali mendapat dukungan penuh darinya.[3] Ia memegang kekuasaan selama 20 tahun semenjak meninggalnya Alp Arslan pada tahun 1072.[4]
Pada masanya menjabat sebagai wazir, Dinasti Seljuk meraih masa keemasan. Ia makin terkenal dengan jasa membangun Universitas Nizhamiyah[5] dan Madrasah Hanafiyah.[6]
Latar belakang
Sumber penamaan
Dua hari setelah kelahirannya, ibunya bermimpi bertemu dengan perempuan yang memiliki martabat dan kursi kekuasan dengan Alquran di sisinya, menggendong seorang anak. Saat bertanya, perempuan itu diperkenalkan sebagai Fatima az-Zahra, anak nabi. Ia memberi salam penghormatan dan memberi jarak sebagai penghormatan. Saat perempuan itu melihat dirinya, ia diizinkan mendekat, meminta bayinya, dan disusui oleh perempuan tersebut. Perempuan tersebut bertanya siapa namanya. Begitu tahu bahwa anak itu belum punya nama dan nama bapaknya adalah Ali Hasan, perempuan itu berkata, ia berkata "Beri ia nama Hasan, seperti nama anakku, karena nama bapaknya juga Ali. Paginya ibunya bangun dan memberi nama anaknya nama tersebut.[7]
Awal kehidupan
Abu Ali Hasan lahir 10 April 1018, di desa kecil bernama Radkan, dekat Tus, di Iran Iran, di lingkungan keluarga dehqan.[8][9][10][11] Saat tumbuh, ia belajar fikih Shafi dan belajar di sekolah teologi Ashari. .[12] Ayahnya Ali ibn Ishak pejabat keuangan yang melayani Dinasti Ghaznavids.[13] Hanya saja, saat Seljuk Turki mengalahkan Dinasti Ghaznavids di Pertempuran Dandanagan pada tahun 1040, dan mengasai Khurasan , ayahnya lari ke Ghazni. Hasan mengikuti jejak ayahnya dan di sana pertama kali menjadi pegawai pemerintahan. Ia menetap di Ghazni selama tiga tahun, meninggalkan kekuasaan Dinasti Ghaznavid dan akhirnya melayani penguasa Seljuk.[13]
Pengabdian kepada Seljuk
Ia dikenal karena mengabdi kepada tiga Sultan dari Dinasti Seljuk sekaligus, yaitu Tughril, Alp Arslan, dan Malik Shah I.[14] Sayangnya ia kemudian difitnah dengan cerita palsu dan disingkirkan, menjelang naiknya Mahmud II.
Di bawah Tughril dan Alp Arslan
Sekitar tahun 1043, Abu Ali Hasan berhenti melayani Dinasti Ghaznavids dan mengabdi kepada Seljuk Turki. Ia menjadi kepala adiminstrator keseluruhan Provinsi Kgorasan pada tahun 1059[15] Saat Tughril meninggal tanpa anak di Ray, ia digantikan oleh keponakannya, Suleiman, yang kemudian ditentang oleh Alp Arslan. Keduanya adalah anak dari saudara Tughril, Chaghri. Sepupunya, Kutalmish, yang dengan setia menjadi bagian dari kampanye ini dan menjadi pendukung pemberontakan Yinal, ikut serta mengklaim tahta. Arslan, dengan bantuan Abu Ali Hasan, mengalahkan Kutalmish dan naik tahta pada 27 April 1064.
Setelah Alp Arslan mengkonsolidasikan kekuasaan sebagai pemimpin Seljuk, ia menunjuk Abu Ali Hasan sabagai wazir, dan terus bertahan sampai periode Malik-Shah I (1072–1092). Abu Ali Hasan "Nizam al-Mulk" ("Penata Kekuasaan").[16]
Alp Arslan bergantung kepada kekuatan militer, sementara pengaturan dalam negeri diatur oleh Nizam al-Mulk, yang juga membangun organisasi administratif hingga masa Malik-Shah I. Sistem iqtā' (fiefs), yang diduduki oleh para Pangeran Seljuk, dibangun untuk memberi dukungan kepada pasukan dan membangun kekuatan agrikultur. Ini memungkinkan kekuatan nomaden Turki untuk mengambil sumber daya dari rakyat Iran dan budaya lainnya yang dikuasai oleh Selju. Ini memungkinkan pasukan Alp Arslan berdiri secara mandiri tanpa harus membebani upeti kepada wilayah yang baru saja ditaklukkan untuk membayar pasukannya. Ia tidak hanya mendapat makanan berlimpah, tapi juga pajak cukup banyak dari pedagang ke kas negara untuk membiayai perang yang tak berkesudahan.
Nizam mendampingi berbagai kampanye militer dan perjalanan Alp Arslan, kecuali beberapa perjalanan kecil. Pada Februari/Maret 1064, bersama anaknya, Malik-Shah I dan Nizam al-Mulk, Alp Arslan menyeran Armenia Bizantiu, dan mereka berhasil mencaplok Ani. Beberapa penguasa kecil mengakui kekuasaan Seljuk, pada saat meneruskan perjalanan ke Kaukasia, hingga mencapai Georgia. Bagrat IV, penguasa Georgia membuat perjanjian damai dengan Alp Arslan dengan menikahkan keponakannya dengan Alp Arslan.[17][18]
Nizam juga mengadakan ekspedisinya sendiri dan menguasai istana Estakhr dari Kepala Suku Fadluya, Shabankara pada tahun 1067, dan ekspedisi lain ke Fars. Keberhasilan penaklukan ini meningkatkan reputasinya.[15] Pada tanggal 26 Agustus 1071, pada Pertempuran Manzikert. ia tidak turut serta karena dikirim ke Persia untuk mengawal konvoi.
Di bawah Malik-Shah I

Setelah pembunuhan Alp Arslan pada tahun 1072, Malik-Shah I berhadapan dengan pamannya, Kavurt. Pada bulan Januari 1074, pasukan mereka bertemu di dekat Hamadan. Pasukan Kavurt terdiri dari unsur-unsur tradisional Turkmen dari tentara Alp Arslan, sementara pasukan Malik terdiri dari para ghulam serta kontingen pasukan Kurdi dan Arab. Akibat pembelotan warga Turkmen ke pasukan Malik, Kavurt berhasil dikalahkan dan, meskipun Malik sempat mempertimbangkan untuk memberinya pengampunan, ia kemudian diracun, yang diduga atas perintah Nizam al-Mulk.[19]
Di bawah bimbingan luar biasa dari Nizam, pasukan Seljuk berhasil menahan laju Dinasti Ghaznavid di Khorasan. Mereka juga mendesak mundur Dinasti Fatimiyah di Suriah, mengalahkan para pengklaim takhta Seljuk lainnya, menginvasi Georgia dan memperkecil perannya menjadi sekadar negara pembayar upeti, memaksa para gubernur regional untuk tunduk, serta menjaga para Khalifah Abbasiyah dalam posisi tidak berdaya.
Nizam al-Mulk meninggalkan jejak besar dalam organisasi lembaga-lembaga pemerintahan Seljuk, yang karenanya ia mendapatkan gelar Nizam al-Mulk yang berarti "Penata Kekuasaan." Ia menjembatani jurang politik di antara Abbasiyah, Seljuk, dan berbagai rival mereka seperti Fatimiyah. Militer Seljuk sangat tercampur dari berbagai etnis, termasuk Turki, Armenia, Yunani, Arab, dan Slavia. Namun, Nizam lebih menyukai prajurit-prajurit Iran, seperti orang-orang Dailamite, Khorasani, dan Shabankara. Ia juga menyukai prajurit non-Iran seperti orang-orang Georgia.[[20]
Pada tahun 1081/1082, Ibn Bahmanyar, salah satu dari sekian banyak musuh Nizam, berusaha meracuninya, namun gagal dan dibuat buta oleh Nizam. Setelah pembutaan Ibn Bahmanyar, para musuh Nizam membuat cerita-cerita palsu mengenai dirinya dan putranya. Hal ini sangat memicu kemarahan putra Nizam, Jamal al-Mulk, yang kemudian mencabut lidah Ja'farak, salah satu dalang penyebar cerita palsu tersebut. Malik Shah tidak memiliki kekuasaan untuk memediasi peristiwa itu, melainkan justru menyuruh orang untuk meracuni Jamal.[20]
Kematian
Tahun 1091, sebuah kelompok Qarmatians membungi hanguskan Basra, sementara pendukung Isma'ilis di bawah Hassan-i Sabbah merebut benteng Alamut, melancarkan pemberontakan. Selanjutnya, pergantian kekuasaan menjadi rumit dan berbelit dengan kematian dua anak tertua Sultan, Dawud (pada tahun 1082) dan Ahmad (1088) Keduanya anak dari Puteri Kara-Khanid, Terken Khatun. Ia memiliki anak lainnya, Mahmud I (lahir 1087) yang ingin ia jadikan penerus, sementara Nizam dan kebanyakan pasukan Seljuk lebih mendukung Berkyaruq,[20] anak tertua Malik-Shah's yang masih hidup dan memang menjadi Pangeran Seljuk. Terken Khatun beraliansi dengan Taj al-Mulk Abu'l Ghana'im untuk menyingkirkan Nizam. Taj bahkan menuduh Nizam korupsi. Hanya saja ia tak berani menyingkirkan Nizam secara langsung[21] Nizam mengepung Alamut, tapi kemudian terpaksa mundur. later besieged Alamut, but was forced to withdraw.
Tahun 1092, Nizam, sebelum kematiannya, mengetahui bahwa musuh berkonspirasi melawannya, membuat pidato terkenal di kalangan kerajaan:[20]
Katakan kepada Sultan, jika Anda belum menyadari bahwa saya adalah setara dengan Anda dalam urusan pemerintahan, maka ketahuilah bahwa Anda hanya berhasil mencapai kekuasaan ini melalui kepemimpinan dan pertimbangan politik saya. Tidakkah beliau ingat ketika ayahnya terbunuh, dan saya yang mengambil tanggung jawab untuk mengelola urusan negara serta menghancurkan para pemberontak yang memproklamasikan perlawanan, baik dari keluarganya sendiri maupun dari tempat lain? Katakan padanya bahwa kestabilan mahkota kerajaan itu terikat erat dengan tempat tinta wazir ini, dan bahwa keselarasan antara dua kepentingan inilah yang menjadi sarana untuk mencapai segala tujuan yang dicita-citakan serta penyebab utama dari segala keberhasilan yang diraih. Jika pernah sekalipun saya menutup tempat tinta ini, kekuasaan kerajaan itu akan runtuh.
Nizam al-Mulk kemudian dibunih saat bergerak dari Isfahan menuju Baghdad pada 10 Ramadan 485 H. (14 Oktober 1092). Naskah mainstream menyatakan ia ditusuk oleh perampok dari kalangan Assasin, yang dikirim Hassan-i Sabbah, di dekat Nahavand, saat ia sedang ditandu. Pembunuhnya menyamari sebagai seorang sufi.[22]
Orang-orang menangkap dan membunuh pembunuh Nizham itu pada tahun 485 H / 1092 M di dekat Nahawand (7 tahun sebelum pecah Perang Salib). Kata terakhir yang terucap dari mulut Nizham adalah, “Jangan kalian bunuh pembunuhku. Aku telah memaafkannya. Tiada Tuhan selain Allah.”[23]
Peran
Dia seorang yang cerdas, penguasa, pakar, religius, terhormat, dan pemimpin majlis ulama gira'ah dan ulama fikih. Dia membangun banyak sekolah (madrasah) terkenal di Baghdad, Naisabur, dan Thus. Dia sangat menjunjung tinggi ilmu. Dia sangat dekat dengan para siswa, mendiktekan hadits dan mempunyai reputasi luar biasa. Ayahnya termasuk pemimpin Baihaq. Dia tumbuh dan belajar ilmu Nahwu, menulis dan membuat syair. Dia mengabdi di Ghaznah dan seiring dengan berubahnya zaman, dia diangkat menjadi menteri pada masa pemerintahan Sultan Alp Arsalan dan putranya Malik Syah.[23] Ia juga membendung ekspansi kekuatan Dinasti Fatimiyah di wilayah Suriah.
Ibnu Khallikan berkata, “Nizham Al Mulk menghadap Khalifah Al Muqtadi Billah dan dia pun menyambutnya seraya berkata, “Wahai Hasan, Allah telah meridhaimu sebagaimana Amirul Mukminin meridhaimu'.” Hal ini karena Nizham membantu tetap pertahankan posisi kekhalifahan Abbasiyah dari gempuran kekuatan syiah dari berbagai arah.
Sebuah pendapat mengatakan, “Nizham selalu dalam keadaan mempunyai wudhu, selama mempunyai wudhu dia selalu melakukan shalat sunnah, senantiasa berpuasa hari Senin dan Kamis, memperbarui gedung di Khawarizm, Thus dan Bimaristana dengan biaya lima puluh dinar. Dia juga membangun sekolah di Marwa, Harah, Balkh, Bashrah dan Ashfahan. Dia adalah orang yang murah hati, baik, penuh semangat dan dikenal patuh kepada orang-orang shalih. Sebuah pendapat mengatakan bahwa dia bersedekah sebanyak seratus dinar setiap hari.[23]
Menjelang akhir hayat Nizham mengepung benteng Alamut di wilayah Iran yang dikenal dengan aliran Hasyasyin (asal kata Assasin dalam bahasa Inggris), yang merupakan aliran syiah kebatinan dengan prajurit pembunuh rahasianya. Namun Nizham gagal dan kembali ke Baghdad.
Referensi
- ↑ Gustave E. Von Grunebaum, Katherine Watson, Classical Islam: A History, 600 A.D. to 1258 A.D., Translated by Katherine Watson Published by Aldine Transaction, 2005. page 155
- ↑ Holt, P. M.; Ann K. S. Lambton; Bernard Lewis (1977). The Cambridge History of Islam Volume 1. Cambridge University Press. hlm. 150.
- ↑ Panji Masyarakat. Yayasan Nurul Islam. 1997. hlm. 160-161.
- ↑ Gibb, H. A. R. (1960–1985). The Encyclopedia of Islam, vol. 8. Leiden: Brill. hlm. 70.
- ↑ "Mengenal Universitas Nizamiyah, Episentrum Kejayaan Peradaban..." Langit7.id. Diakses tanggal 2026-08-24.
- ↑ Nurul Fajriah, Firmansayah, Holisoh, Shoheh, Rumbang Sirojudin (2026-01-01). "Kontribusi Madrasah Nizamiyah dalam Perkembangan Pendidikan Islam Klasik dan Pengaruhnya terhadap Dunia Modern". JURNAL MU’ALLIM. 8. doi:10.35891.
{{cite journal}}: Periksa nilai|doi=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) - ↑ Maḥbūbah, ʻAbd al-Hādī Muḥammad Riḍā (1999). Niẓām al-Mulk: al-Ḥasan ibn ʻAlī ibn Isḥāq al-Ṭūsī, 408-485 H, kabīr al-wuzarāʼ fī al-ummah al-Islāmīyah: dirāsah tārīkhīyah fī sīratihi wa-ahamm aʻmālihi khilāla istīzārih (Edisi al-Ṭabʻah 1). al-Qāhirah: al-Dār al-Miṣrīyah al-Lubnānīyah. ISBN 978-977-270-477-4.
- ↑ Tafazzoli 1994, hlm. 223–226.
- ↑ "NIẒĀM AL-MULK". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-04.
- ↑ Grousset, René, ed. (1970). "The Turks and Islam to the Thirteenth Century". The Empire of the Steppes: A History of Central Asia. Rutgers University Press. hlm. 153 ff.
- ↑ Fossier, Airlie (1997). "Marsack". The Cambridge illustrated history of the Middle Ages. Cambridge University Press. hlm. 159.
- ↑
- 1 2 Bowen & Bosworth 1995, hlm. 69. sfn error: tanpa target: CITEREFBowenBosworth1995 (bantuan)
- ↑ Aizid, Rizem (Juni 2023). Selayang Pandang Dinasti Seljuk. Yogyakarta: DIVA Press. ISBN 978-623-189-221-8.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Bosworth 1968, hlm. 57.
- ↑ Foltz, Richard (2015). Iran in World History (New Oxford World History). Oxford University Press. hlm. 64. ISBN 978-0199335497. In Iran, the Seljuks established their capital at Esfahan, where they built important monuments such as the congregational mosque which remains functional today. Their prime minister, Hasan of Tus (known as Nezam ol-Molk, or Orderer of the Realm), set up a system of seminaries, called nizamiyyas, and also reformed the army and the tax system
- ↑ Bosworth 1968, hlm. 62-65.
- ↑ Bosworth 1984, hlm. 642–643.
- ↑ Bosworth, C. E. (1978). "Kawurd". Dalam van Donzel, E.; Lewis, B.; Pellat, Ch. & Bosworth, C. E. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume IV: Iran–Kha (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. hlm. 807. OCLC 758278456.
- 1 2 3 4 Bosworth 1968, hlm. 68–80.
- ↑ Bowen & Bosworth 1995, hlm. 72. sfn error: tanpa target: CITEREFBowenBosworth1995 (bantuan)
- ↑ Lewis, Bernard (5 Agustus 2008). The Assassins. Basic Books. hlm. 39–40. ISBN 978-0-7867-2455-0.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Dzahabi, Imam (2008). Ringkasan Siyar Alam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. hlm. 19–20. ISBN 978-602-8067-38-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Bahan bacaan
- C.E., Bosworth (2012). "Niẓām al-Mulk". Leiden and New York: BRILL. ISBN 9789004161214 http://referenceworks.brillonline.com/entries/encyclopaedia-of-islam-2/nizam-al-mulk-SIM_5942?s.num=0&s.f.s2_parent=s.f.book.encyclopaedia-of-islam-2&s.q=Nizam+al-Mulk.
{{cite encyclopedia}}:|title=tidak ada atau kosong - Tafazzoli, Ahmad (1994). "DEHQĀN". Encyclopaedia Iranica, Vol. VII, Fasc. 2 and Vol. VII, Fasc. 3. Ahmad Tafazzoli. hlm. 223–226.
- Bosworth, C. E. (1968). "The Political and Dynastic History of the Iranian World (A.D. 1000–1217)". Dalam Frye, R. N. (ed.). The Cambridge History of Iran, Volume 5: The Saljuq and Mongol periods. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 1–202. ISBN 0-521-06936-X.
- Bosworth, C. Edmund (1984). "AḤMAD B. NEẒĀM-AL-MOLK". Encyclopaedia Iranica, Vol. I, Fasc. 6. London et al.: C. Edmund Bosworth. hlm. 642–643.
- Nizam, al-Mulk (2002). The Book of Government Or Rules for Kings: The Siyar Al Muluk Or Siyasat-nama of Nizam Al-Mulk. Nizam al-Mulk. hlm. 1–264. ISBN 0700712283.
Pranala luar
- The story behind the assassination
- Gokmen Durmus Pranala usang diarsipkan 2013-11-13 di archive.today — Upenn Master's Thesis on Turkish Wisdom
- More Photos, Tishineh