Mandy Marahimin | |
|---|---|
| Lahir | Amanda Marahimin |
| Kewarganegaraan | Indonesia |
| Pendidikan | Universitas Indonesia |
| Pekerjaan | Produser film, publisis film |
| Masa aktif | 1999–sekarang |
| Organisasi | Talamedia |
| Dikenal karena | Semesta (2018) Laut Memanggilku (2021) Air Mata Buaya (2024) |
| Penghargaan | Piala Citra Film Cerita Pendek Terbaik (2021) |
Mandy Marahimin, bernama lengkap Amanda Marahimin, adalah seorang produser film dan publisis film berkebangsaan Indonesia. Ia dikenal melalui keterlibatannya dalam produksi film fiksi dan film dokumenter, termasuk Cinta dari Wamena (2013), Semesta (2018), Laut Memanggilku (2021), One Big Sumba Family (2023), dan Air Mata Buaya (2024).[1][2][3]
Mandy merupakan salah satu pendiri rumah produksi Tanakhir Films, yang kemudian dikenal dengan nama Talamedia, bersama aktor Nicholas Saputra. Perusahaan yang berdiri pada 2013 tersebut bergerak dalam produksi film fiksi, film dokumenter, serta kerja sama produksi internasional.[4][1]
Pada 2021, film pendek Laut Memanggilku yang diproduserinya dan disutradarai Tumpal Tampubolon memenangkan Piala Citra untuk kategori Film Cerita Pendek Terbaik pada Festival Film Indonesia 2021. Film tersebut juga memperoleh Sonje Award untuk Film Pendek Asia Terbaik pada Festival Film Internasional Busan 2021.[5][6]
Selain berkarya sebagai produser, Mandy terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan perfilman. Ia pernah menjadi anggota juri BIFF Mecenat Award pada Festival Film Internasional Busan 2021 dan terpilih mengikuti Producers Under the Spotlight dalam Producers Network di Marché du Film, Cannes, pada 2024.[7][8]
Kehidupan awal dan pendidikan
Mandy Marahimin merupakan lulusan Universitas Indonesia dari bidang ilmu komunikasi. Sebelum bekerja secara profesional dalam industri film, ia memiliki ketertarikan terhadap kegiatan komunikasi dan jurnalistik.[9]
Ketertarikannya terhadap dunia perfilman berkembang ketika terlibat dalam kegiatan lokakarya produksi film yang diselenggarakan oleh Yayasan PopCorner Indonesia pada akhir dekade 1990-an. Melalui kegiatan tersebut, ia berkenalan dengan produser Mira Lesmana, yang kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan kariernya.[9]
Mandy memulai kariernya melalui bidang hubungan masyarakat dan publisitas film sebelum beralih ke manajemen produksi. Dalam wawancara dengan Media Indonesia, ia menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap penyusunan anggaran, perhitungan biaya, dan penjadwalan produksi mendorongnya memilih pekerjaan sebagai produser film.[1]
Karier
Awal karier di Miles Films
Mandy mulai bekerja dalam industri perfilman pada 1999. Ia terlibat dalam kegiatan lokakarya produksi film bersama Yayasan PopCorner Indonesia sebelum bergabung dalam sejumlah pekerjaan produksi di Miles Films, rumah produksi yang didirikan oleh Mira Lesmana.[9]
Pada awal kariernya, Mandy bekerja dalam bidang publisitas film, termasuk untuk Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa dengan Cinta? (2002). Ia juga terlibat dalam kegiatan publisitas dan koordinasi produksi sejumlah film lain, seperti Eliana, Eliana (2002), Gie (2005), dan Garasi (2006).[10]
Pada 2007, Mandy bekerja sebagai produser lini untuk film 3 Hari untuk Selamanya, yang disutradarai oleh Riri Riza. Ia kemudian melanjutkan kegiatan produksi dan manajemen perfilman, termasuk melalui keterlibatannya dalam film antologi horor Takut: Faces of Fear (2008).[2][10]
Pengalaman bekerja bersama Mira Lesmana memberikan Mandy pemahaman mengenai peran produser dalam mengelola sumber daya, menyusun anggaran, mengatur jadwal produksi, dan mendampingi sutradara selama proses kreatif. Ia menggambarkan produser sebagai pihak yang membantu menerjemahkan visi kreatif sutradara menjadi sebuah karya yang dapat diselesaikan dan disampaikan kepada penonton.[1]
Pengembangan pendanaan kreatif
Selain bekerja dalam produksi film, Mandy turut terlibat dalam pengembangan sistem pendanaan bagi kegiatan kreatif.
Pada 2012, ia menjadi salah satu pendiri Wujudkan.com, sebuah platform urun dana atau crowdfunding yang ditujukan untuk membantu pembiayaan proyek seni dan kegiatan kreatif di Indonesia.[11]
Melalui platform tersebut, para pembuat karya dapat mengajukan proyek untuk mendapatkan dukungan pendanaan dari masyarakat. Sistem ini memberikan kesempatan kepada individu untuk mendukung kegiatan kreatif secara langsung, termasuk produksi film dan karya seni lainnya.[11]
Pendirian Tanakhir Films dan Talamedia
Pada 2013, Mandy mendirikan rumah produksi Tanakhir Films bersama aktor Nicholas Saputra. Perusahaan tersebut kemudian dikenal dengan nama Talamedia.[1][4]
Salah satu proyek awal yang melibatkan Mandy sebagai produser adalah Cinta dari Wamena (2013), sebuah film drama yang disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo. Film tersebut mengangkat kisah persahabatan pemuda Papua serta persoalan sosial yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Film ini dirilis di bioskop Indonesia pada 13 Juni 2013.[12][2]
Melalui Tanakhir Films dan Talamedia, Mandy mengembangkan produksi film fiksi, dokumenter panjang, dan dokumenter pendek. Perusahaan tersebut juga terlibat dalam produksi bersama rumah produksi dari berbagai negara.[13]
Produksi film dokumenter Semesta
Mandy menjadi salah satu produser film dokumenter panjang Semesta (Islands of Faith), bersama Nicholas Saputra. Film yang disutradarai oleh Chairun Nissa tersebut mengangkat upaya masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia dalam menjaga lingkungan berdasarkan nilai agama, kepercayaan, dan kebudayaan setempat.[14]
Film ini mengikuti tujuh tokoh dari tujuh wilayah Indonesia yang menjalankan kegiatan pelestarian lingkungan melalui pendekatan berbeda. Lokasi pengambilan gambar mencakup wilayah di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.[14]
Semesta tercatat sebagai film produksi tahun 2018 dan memperoleh nominasi kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia 2018. Film tersebut juga diputar dalam SUNCINE International Environmental Film Festival di Barcelona pada 2019 sebelum dirilis di bioskop Indonesia pada 30 Januari 2020.[14][15]
Dalam proses produksi, Mandy bertugas sebagai produser untuk mengelola pelaksanaan proyek, termasuk koordinasi produksi dokumenter di berbagai wilayah. Film tersebut menjadi salah satu kegiatan produksi dokumenter panjang yang dikembangkan melalui Tanakhir Films.[1][15]
Laut Memanggilku dan Festival Film Indonesia 2021
Pada 2021, Mandy memproduseri film pendek Laut Memanggilku (The Sea Calls for Me) yang ditulis dan disutradarai oleh Tumpal Tampubolon. Film tersebut diproduksi melalui Tanakhir Films.[5]
Laut Memanggilku mengisahkan Sura, seorang anak yang hidup tanpa orang tua dan menemukan sebuah boneka di tepi pantai. Boneka tersebut menjadi sumber penghiburan bagi Sura ketika menghadapi kesendirian dan keterbatasan dalam hidupnya.[6]
Film ini memenangkan Sonje Award untuk kategori Film Pendek Asia Terbaik pada Festival Film Internasional Busan 2021. Pada November 2021, film tersebut juga memenangkan Piala Citra kategori Film Cerita Pendek Terbaik pada Festival Film Indonesia.[6][5]
Dalam daftar pemenang FFI 2021, nama Tumpal Tampubolon tercantum sebagai sutradara, sedangkan Mandy Marahimin tercatat sebagai produser film yang memenangkan kategori tersebut.[5]
Pada tahun yang sama, Mandy terpilih menjadi anggota juri BIFF Mecenat Award pada Festival Film Internasional Busan ke-26. Ia bertugas bersama sutradara Wang Nanfu dan seniman sekaligus sutradara Park Kyung-kun untuk menilai film dokumenter yang mengikuti kompetisi festival.[7]
One Big Sumba Family dan produksi internasional
Pada 2023, Mandy memproduseri film dokumenter panjang One Big Sumba Family bersama John Badalu. Film tersebut disutradarai oleh Tonny Trimarsanto dan mengikuti kehidupan sebuah keluarga besar di Sumba, Nusa Tenggara Timur.
One Big Sumba Family memperoleh nominasi kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia 2023.[16]
Mandy juga terlibat sebagai koproduser film drama Sweet Dreams (2023), yang disutradarai oleh sineas Belanda-Bosnia, Ena Sendijarević. Film tersebut merupakan produksi bersama sejumlah perusahaan dari Belanda, Swedia, Indonesia, dan Prancis.[17]
Sweet Dreams melakukan pemutaran perdana dalam kompetisi internasional pada Festival Film Locarno 2023. Film tersebut kemudian dipilih sebagai perwakilan Belanda untuk kategori Film Internasional Terbaik pada Academy Awards ke-96.[17]
Dalam produksi film komersial Indonesia, Mandy menjadi koproduser Petualangan Sherina 2 (2023), yang disutradarai Riri Riza dan diproduseri Mira Lesmana. Produksi film tersebut melibatkan Miles Films, BASE Entertainment, dan Talamedia.[4]
Air Mata Buaya dan Festival Film Internasional Toronto
Pada 2024, Mandy memproduseri Air Mata Buaya (Crocodile Tears), film panjang debut penyutradaraan Tumpal Tampubolon.
Film ini merupakan produksi bersama perusahaan dari Indonesia, Singapura, Prancis, dan Jerman, termasuk Talamedia, Giraffe Pictures, Acrobates Films, Poetik Film, dan 2Pilots Filmproduction.[3]
Air Mata Buaya dibintangi oleh Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani. Ceritanya berpusat pada seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya di sebuah penangkaran buaya dan menghadapi hubungan keluarga yang semakin rumit setelah ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan.[3]
Film tersebut melakukan pemutaran perdana dunia pada 9 September 2024 dalam program Centrepiece di Festival Film Internasional Toronto. Air Mata Buaya kemudian memperoleh lima nominasi dalam Festival Film Indonesia 2024, termasuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik.[3][18]
Kegiatan internasional pada 2024–2025
Pada Mei 2024, Mandy menjadi salah satu dari lima produser Indonesia yang terpilih dalam program Producers Under the Spotlight pada Producers Network, Marché du Film, yang diselenggarakan bersamaan dengan Festival Film Cannes.
Keempat produser Indonesia lainnya dalam program tersebut adalah Yulia Evina Bhara, Ifa Isfansyah, Gita Fara, dan Muhammad Zaidy.[8]
Pada 2025, Mandy menjadi koproduser film dokumenter Queer as Punk, yang disutradarai oleh sineas Malaysia, Yihwen Chen. Film tersebut diproduksi oleh Locke Films bersama Talamedia.
Dokumenter ini mengikuti perjalanan kelompok musik punk Malaysia bernama Shh...Diam! serta kehidupan para anggotanya dalam menghadapi persoalan identitas dan penerimaan sosial.[19]
Queer as Punk melakukan pemutaran perdana dunia pada Februari 2025 dalam program Forum di Festival Film Internasional Berlin ke-75. Kredit produksi festival mencantumkan Mandy Marahimin sebagai koproduser.[19]
Kegiatan pengembangan perfilman
Selain kegiatan produksi, Mandy terlibat dalam berbagai program pengembangan industri film dan pendidikan dokumenter.
Ia pernah mengikuti Rotterdam Lab, sebuah program pengembangan produser yang berkaitan dengan Festival Film Internasional Rotterdam, serta Berlinale Talents, program pengembangan profesional yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival Film Internasional Berlin.[13]
Mandy juga pernah menjalankan tugas sebagai direktur sementara di In-Docs dan direktur penjangkauan untuk program Good Pitch Southeast Asia serta Good Pitch Indonesia. Kedua program tersebut berfokus pada pengembangan film dokumenter dan perluasan jejaring kerja sama antara pembuat film dengan berbagai pemangku kepentingan.[20]
Dalam diskusi Documentary Production Series pada Festival Film Dokumenter 2020, Mandy membahas peran produser dalam pengembangan film dokumenter. Ia menekankan pentingnya kemampuan mengelola produksi, mendampingi sutradara, serta membantu mewujudkan gagasan kreatif menjadi karya yang dapat diakses oleh masyarakat.[1]
Filmografi
Berikut adalah filmografi pilihan Mandy Marahimin berdasarkan katalog film, arsip festival, dan sumber pemberitaan. Peran produksi dicantumkan sesuai dengan kredit masing-masing film.
Film panjang dan dokumenter
| Tahun | Judul film | Peran | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 2000 | Petualangan Sherina | Publisis | Produksi Miles Films.[10] |
| 2002 | Ada Apa dengan Cinta? | Publisis | Produksi Miles Films.[10] |
| 2002 | Eliana, Eliana | Publisis dan koordinator festival | [10] |
| 2005 | Gie | Koordinator produksi dan publisis | [10] |
| 2006 | Garasi | Publisis | [10] |
| 2007 | 3 Hari untuk Selamanya | Produser lini | Sutradara Riri Riza.[10] |
| 2008 | Takut: Faces of Fear | Produser lini | Segmen Titisan Naya.[2] |
| 2008 | Tarzan ke Kota | Produser | [2] |
| 2013 | Cinta dari Wamena | Produser | [2] |
| 2016 | Ada Apa dengan Cinta? 2 | Produser pendamping | [2] |
| 2018 | Kulari ke Pantai | Produser eksekutif | [2] |
| 2018 | Semesta | Produser | Dokumenter; rilis bioskop 2020.[14] |
| 2019 | Keluarga Cemara | Produser eksekutif | [2] |
| 2019 | Bebas | Produser eksekutif | [21] |
| 2020 | Abracadabra | Produser eksekutif | Tahun berdasarkan rilis bioskop.[2] |
| 2021 | Sobat Ambyar | Produser eksekutif | [2] |
| 2023 | One Big Sumba Family | Produser | Bersama John Badalu.[16] |
| 2023 | Sweet Dreams | Koproduser | Koproduksi internasional.[17] |
| 2023 | Petualangan Sherina 2 | Koproduser | [4] |
| 2024 | Air Mata Buaya | Produser | Pemutaran perdana di Toronto 2024.[3] |
| 2025 | Queer as Punk | Koproduser | Dokumenter; Berlinale Forum 2025.[19] |
Film pendek dan produksi dokumenter lainnya
| Tahun | Judul film | Peran | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 2016 | Save Our Forest Giants | Produser | Dokumenter pendek.[13] |
| 2017 | A Man with 12 Wives | Produser | Dokumenter yang diproduksi bersama NHK Jepang.[13] |
| 2019 | The Woven Path: Perempuan Tana Humba | Produser | Dokumenter.[13] |
| 2021 | Laut Memanggilku | Produser | Pemenang Piala Citra Film Cerita Pendek Terbaik FFI 2021.[5] |
Penghargaan dan nominasi
Berikut adalah sejumlah penghargaan dan nominasi yang berkaitan dengan film-film yang diproduseri Mandy Marahimin. Penghargaan untuk karya film dibedakan dari penunjukan profesionalnya sebagai anggota juri atau peserta program industri.
| Tahun | Ajang | Kategori | Karya | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| 2018 | Festival Film Indonesia 2018 | Film Dokumenter Panjang Terbaik | Semesta | Nominasi[14] |
| 2021 | Festival Film Internasional Busan | Sonje Award – Film Pendek Asia Terbaik | Laut Memanggilku | Menang[6] |
| 2021 | Festival Film Indonesia 2021 | Film Cerita Pendek Terbaik | Menang[5] | |
| 2023 | Festival Film Indonesia 2023 | Film Dokumenter Panjang Terbaik | One Big Sumba Family | Nominasi[16] |
| 2024 | Festival Film Indonesia 2024 | Film Cerita Panjang Terbaik | Air Mata Buaya | Nominasi[18] |
Kegiatan profesional internasional
| Tahun | Kegiatan | Peran |
|---|---|---|
| 2021 | Festival Film Internasional Busan ke-26 | Anggota juri BIFF Mecenat Award[7] |
| 2024 | Producers Network, Marché du Film, Cannes | Peserta Producers Under the Spotlight[8] |
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 Fathurrozak (1 Desember 2020). "Mandy Marahimin Berawal dari Suka Berhitung". Media Indonesia. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Mandy Marahimin". FilmIndonesia. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 5 "Crocodile Tears". Cineuropa (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 "Petualangan Sherina 2, Sadam dan Sherina Bertemu di Hutan Hujan Tropis". Kompas.com. 14 Juni 2022. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 5 6 "Daftar pemenang Piala Citra di FFI 2021". ANTARA News. 10 November 2021. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 Prasetyo, Nadine Azahra (9 Desember 2021). "Sinopsis Laut Memanggilku, Film Indonesia yang Meraih Penghargaan di BIFF". Kompas.com. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 "Jury Members for the Kim Jiseok, BIFF Mecenat, and Sonje Awards". Busan International Film Festival (dalam bahasa Inggris). 24 Agustus 2021. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 Marandita, Fenny (21 Mei 2024). "Indonesia Turut Serta Dalam Cannes Film Festival". Harper's Bazaar Indonesia. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 Widya, Arintha (8 April 2024). "Perjalanan Karier Produser Film Mandy Marahimin, Awalnya Ingin Jadi Jurnalis". Parapuan. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 Dewabrata, Wisnu (20 Oktober 2021). "Mandy Marahimin Suka Mengurusi Manajerial Film". Kompas. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Throwing it to the crowd". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). 11 April 2012. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Cinta dari Wamena Mulai Tayang 13 Juni". Republika. 7 Juni 2013. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 5 "Semesta // Island of Faith". Kineforum. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 5 "Semesta". Indonesian Film Center. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Film Semesta, Kisah Lilin-Lilin Penerang yang Menjaga Indonesia". Aksara Institute. 22 Februari 2020. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 "Pengumuman Daftar Nominasi Festival Film Indonesia 2023". Festival Film Indonesia. 2023. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 "ACE Project Spotlight: Sweet Dreams". ACE Producers (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Crocodile Tears". Lembaga Sensor Film. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 "Queer as Punk". Berlin International Film Festival (dalam bahasa Inggris). 2025. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- ↑ "IDOCLAB 2023 Program Book" (PDF). IDOCLAB. Forum Film Dokumenter. 2023. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- ↑ "Bebas". FilmIndonesia. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
Pranala luar
- Mandy Marahimin di FilmIndonesia
- Mandy Marahimin di IMDb
- Talamedia, rumah produksi yang didirikan Mandy Marahimin dan Nicholas Saputra