Tonny Trimarsanto | |
|---|---|
| Lahir | 21 Oktober 1970 (umur 56) |
| Kewarganegaraan | Indonesia |
| Pendidikan | Universitas Sebelas Maret |
| Pekerjaan | Sutradara film dokumenter, produser film, fasilitator pelatihan film |
| Masa aktif | 1993–sekarang |
| Dikenal karena | Serambi, Bulu Mata, Under the Moonlight |
| Penghargaan | Piala Citra Film Dokumenter Panjang Terbaik (2017 dan 2024) |
| Situs web | trimarsantofilms.com |
Tonny Trimarsanto (lahir 21 Oktober 1970) adalah seorang sutradara film, produser film, dan fasilitator pelatihan film dokumenter berkebangsaan Indonesia. Ia dikenal melalui sejumlah film dokumenter yang mengangkat persoalan sosial, kebudayaan, kehidupan kelompok minoritas, serta pengalaman masyarakat yang berada di luar perhatian arus utama.[1][2] Tanggal kelahirannya tercatat dalam profil Indonesian Film Center.[3]
Tonny merupakan salah satu sutradara film dokumenter Serambi (2005), yang terpilih untuk diputar dalam program Un Certain Regard pada Festival Film Cannes 2006.[4] Dua film dokumenter panjang yang disutradarainya, Bulu Mata (2016) dan Under the Moonlight (Nur) (2023), masing-masing memenangkan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia 2017 dan Festival Film Indonesia 2024.[5][6]
Selain berkarya sebagai sineas, Tonny merupakan pendiri Rumah Dokumenter, sebuah komunitas yang bergerak dalam produksi, pendidikan, dan pengembangan jejaring film dokumenter di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.[7]
Kehidupan awal dan pendidikan
Tonny Trimarsanto memiliki latar belakang pendidikan ilmu politik di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Ketertarikannya terhadap film berkembang melalui keterlibatannya dalam kegiatan kesenian dan kebudayaan di Surakarta, termasuk menonton pemutaran film di Taman Budaya Jawa Tengah.[7][1]
Selama masa kuliah, ia juga aktif dalam kegiatan pers mahasiswa dan penulisan. Aktivitas tersebut membawanya mengenal sejumlah pekerja seni dan perfilman, termasuk sutradara Garin Nugroho, yang kemudian melibatkannya dalam kegiatan produksi film.[1]
Selain mempelajari ilmu politik, profil Tonny yang diterbitkan Festival Film Dokumenter menyebutkan bahwa ia menyelesaikan pendidikan magister di bidang film.[8]
Karier
Awal karier di bidang perfilman
Tonny mulai bekerja dalam industri perfilman pada dekade 1990-an. Ia terlibat dalam kegiatan penelitian visual dan penataan artistik untuk sejumlah film karya Garin Nugroho. Pengalamannya mencakup produksi film fiksi dan iklan sebelum kemudian memusatkan perhatian pada film dokumenter sekitar tahun 2000.[1][7]
Dalam film Daun di Atas Bantal, ia tercatat sebagai salah satu penata artistik bersama Ong Hari Wahyu dan Roedjito. Ia juga memiliki kredit penata artistik dalam film Puisi Tak Terkuburkan yang disutradarai Garin Nugroho.[9][10]
Setelah beberapa tahun bekerja dalam film fiksi, Tonny memilih mengembangkan karya dokumenter. Dalam wawancara dengan Kompas, ia menjelaskan bahwa film dokumenter memberikan kesempatan untuk bertemu berbagai komunitas, mengamati kehidupan masyarakat, dan mengeksplorasi pengalaman manusia yang beragam.[1]
Perkembangan film dokumenter dan Serambi
Salah satu karya dokumenter awal Tonny adalah Gerabah Plastik (2002), yang memenangkan penghargaan film terbaik pada penyelenggaraan pertama Festival Film Dokumenter di Indonesia. Film berikutnya, The Dream Land, juga memperoleh pengakuan dalam festival film lingkungan internasional di Jepang.[3][11]
Pada 2005, Tonny menjadi salah satu sutradara Serambi, sebuah film dokumenter yang mengisahkan kehidupan masyarakat Aceh setelah gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004. Film tersebut disutradarai bersama Garin Nugroho, Viva Westi, dan Lianto Luseno. Serambi masuk dalam seleksi Un Certain Regard pada Festival Film Cannes 2006.[4]
Keterlibatan dalam Serambi menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan karya dokumenter Tonny di festival film internasional. Film tersebut memperlihatkan kehidupan masyarakat yang berusaha membangun kembali kehidupan mereka setelah bencana.[4]
Renita, Renita dan Mangga Golek Matang di Pohon
Pada 2007, Tonny menyutradarai film pendek dokumenter Renita, Renita, yang mengangkat pengalaman seorang perempuan transgender menghadapi penolakan keluarga dan diskriminasi sosial.
Film tersebut memenangkan kategori Film Pendek Asia Tenggara Terbaik dalam penyelenggaraan kesembilan Cinemanila International Film Festival pada 2007.[3][12]
Tonny kembali mengangkat kisah Renita dalam film Mangga Golek Matang di Pohon (The Mangoes, 2012). Film ini mengikuti kehidupan Renita di Jakarta dan perjalanannya menghadapi persoalan identitas serta hubungan dengan keluarga. Dokumenter tersebut diputar dalam International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) pada 2013.[13]
Bulu Mata dan Piala Citra 2017
Pada 2016, Tonny menyutradarai film dokumenter Bulu Mata (Eye Lashes), yang merekam kehidupan komunitas transgender di Kabupaten Bireuen, Aceh. Dokumenter tersebut menyoroti persoalan penerimaan sosial, identitas, mata pencaharian, dan diskriminasi yang dihadapi para subjeknya.[14]
Produksi Bulu Mata melibatkan Rumah Dokumenter dan organisasi Suara Kita. Proses pembuatannya kemudian menjadi subjek penelitian akademik mengenai manajemen produksi film dokumenter, termasuk tahap praproduksi, produksi, dan pascaproduksi.[15]
Film ini memenangkan Piala Citra kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia 2017.[5] Karya tersebut juga menjadi bagian dari pembahasan publik mengenai representasi kelompok transgender dan ruang ekspresi mereka dalam masyarakat.[2]
Karya dokumenter pada dekade 2020-an
Pada 2021, film pendek dokumenter Tonny berjudul Pada Suatu Hari Nanti (Someday) masuk dalam seleksi European Film Festival Integration You and Me di Polandia. Film tersebut kemudian memperoleh nominasi dalam Melbourne Short Film Festival 2022.[7]
Tonny juga menyutradarai One Big Sumba Family (2022), sebuah film dokumenter mengenai kehidupan keluarga besar MD Raya di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Film tersebut mengikuti dinamika keluarga, hubungan antaranggota keluarga, serta persoalan sosial dan tradisi dalam kehidupan masyarakat setempat.[16]
One Big Sumba Family memperoleh nominasi kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia 2023.[17]
Pada 2023, Tonny menyutradarai Under the Moonlight (Nur), film dokumenter yang berfokus pada kehidupan komunitas transpuan di Pondok Pesantren Al-Fatah, Yogyakarta. Film tersebut ditayangkan perdana secara internasional melalui program Luminous dalam IDFA 2023.[18]
Under the Moonlight (Nur) memenangkan Piala Citra kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia 2024. Film ini disutradarai oleh Tonny dan diproduseri oleh Es Damayanti, Tonny Trimarsanto, serta John Badalu.[6]
Pada tahun yang sama, Tonny menyutradarai Smong, film dokumenter tentang perjalanan penyintas tsunami Aceh dalam menghadapi trauma dan proses pemulihan. Film ini ditayangkan perdana dalam program Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2024.[19]
Rumah Dokumenter
Tonny Trimarsanto mendirikan Rumah Dokumenter di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada 2002. Komunitas ini bergerak dalam bidang produksi, pendidikan, pendampingan, dan pengembangan jaringan film dokumenter.[7]
Rumah Dokumenter menjadi tempat belajar bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin mengenal proses pembuatan film dokumenter. Kegiatan yang dikembangkan meliputi lokakarya, pendampingan produksi, pengembangan gagasan cerita, serta pengenalan metode dokumentasi audiovisual.[20]
Dalam wawancara dengan Festival Film Dokumenter pada 2021, Tonny menjelaskan bahwa peserta pelatihan didorong untuk mengembangkan gagasan film dari pengalaman dan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. Ia juga menekankan peran pendidik serta komunitas dalam mendukung perkembangan produksi film dokumenter di kalangan pelajar.[20]
Selain mengelola Rumah Dokumenter, Tonny terlibat dalam pengembangan jejaring dokumenteris di Indonesia, termasuk melalui Asosiasi Dokumenteris Nusantara. Aktivitas tersebut dibahas dalam wawancara yang diterbitkan jurnal IMAJI pada 2021.[21]
Pendekatan penyutradaraan
Karya dokumenter Tonny banyak menggunakan pendekatan observasional yang berfokus pada kehidupan dan pengalaman subjek. Dalam wawancara dengan Kompas, ia menjelaskan bahwa proses penyutradaraannya memberikan ruang bagi peristiwa di lapangan untuk berkembang tanpa terlalu banyak pengarahan terhadap subjek film.[1]
Pendekatan tersebut tampak dalam sejumlah karyanya yang mengangkat kehidupan kelompok minoritas dan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Persoalan identitas gender, diskriminasi, hubungan keluarga, serta pengalaman sosial menjadi tema yang berulang dalam film-filmnya.[2][13]
Proses kreatif Tonny juga menjadi objek penelitian akademik. Sebuah artikel dalam Sense: Journal of Film and Television Studies pada 2024 menelaah penyutradaraan dokumenter performatif Sungai. Penelitian tersebut membahas penggunaan subjektivitas, eksplorasi visual, serta fleksibilitas dalam pengembangan struktur dokumenter.[22]
Filmografi
Film dokumenter
Berikut adalah sejumlah karya dokumenter yang disutradarai Tonny Trimarsanto. Daftar ini merupakan filmografi pilihan berdasarkan arsip festival, katalog film, dan sumber publikasi yang tersedia.
| Tahun | Judul | Judul internasional / keterangan | Peran |
|---|---|---|---|
| 2002 | Gerabah Plastik | The Plastic Pottery | Sutradara[3] |
| 2003 | The Dream Land | Dokumenter | Sutradara[3] |
| 2005 | Serambi | Dokumenter pascatsunami Aceh | Sutradara bersama[4] |
| 2007 | Renita, Renita | Film dokumenter pendek | Sutradara[12] |
| 2010 | Di Ujung Jalan | The Road | Sutradara[12] |
| 2012 | Mangga Golek Matang di Pohon | The Mangoes | Sutradara[13] |
| 2016 | Bulu Mata | Eye Lashes | Sutradara dan penata kamera[14] |
| 2021 | Pada Suatu Hari Nanti | Someday | Sutradara[7] |
| 2022 | One Big Sumba Family | Dokumenter kehidupan keluarga di Sumba | Sutradara[16] |
| 2023 | Under the Moonlight (Nur) | Dokumenter kehidupan komunitas transpuan di Yogyakarta | Sutradara, produser, dan penata kamera[18][6] |
| 2024 | Smong | Dokumenter penyintas tsunami Aceh | Sutradara[19] |
Film fiksi dan produksi lainnya
| Tahun | Judul | Peran |
|---|---|---|
| 1997 | Daun di Atas Bantal | Penata artistik[9] |
| 1999 | Puisi Tak Terkuburkan | Penata artistik[10] |
Penghargaan dan nominasi
Berikut adalah sejumlah penghargaan serta nominasi yang berkaitan dengan karya-karya Tonny Trimarsanto.
| Tahun | Festival atau ajang | Kategori / pengakuan | Karya | Hasil |
|---|---|---|---|---|
| 2002 | Festival Film Dokumenter | Film Terbaik | Gerabah Plastik | Menang[3] |
| 2006 | Festival Film Cannes | Seleksi Un Certain Regard | Serambi | Seleksi resmi[4] |
| 2007 | Cinemanila International Film Festival | Film Pendek Asia Tenggara Terbaik | Renita, Renita | Menang[3] |
| 2017 | Festival Film Indonesia 2017 | Film Dokumenter Panjang Terbaik | Bulu Mata | Menang[5] |
| 2022 | Melbourne Short Film Festival | Dokumenter Pendek Terbaik | Pada Suatu Hari Nanti | Nominasi[7] |
| 2023 | Festival Film Indonesia 2023 | Film Dokumenter Panjang Terbaik | One Big Sumba Family | Nominasi[17] |
| 2024 | Festival Film Indonesia 2024 | Film Dokumenter Panjang Terbaik | Under the Moonlight (Nur) | Menang[6] |
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 Gandhawangi, Sekar (29 Desember 2023). "Tonny Trimarsanto Berdialog lewat Film". Kompas. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 Irfani, Faisal (21 November 2017). ""Di Pasar, Mereka Diteriaki 'Potong Saja Kemaluanmu!'"". Tirto.id. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 "Tonny Trimarsanto". Indonesian Film Center. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 5 "Serambi". Festival de Cannes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 "Festival Film Indonesia 2017". Festival Film Indonesia. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 "Under The Moonlight (Nur)". Festival Film Indonesia. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Mengenal Mas Tonny, Sineas Dokumenter Asal Klaten yang Mendunia". detikJateng. 18 Februari 2022. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- ↑ "Tonny Trimarsanto". Film Dokumenter. Forum Film Dokumenter. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Daun di Atas Bantal". Indonesian Film Center. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Puisi Tak Terkuburkan". Indonesian Film Center. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- ↑ "Special Program: First Time Public Screening Bulu Mata (Eye Lashes)". Minikino. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 "Tonny Trimarsanto". DAFilms (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 3 "The Mangoes". International Documentary Film Festival Amsterdam (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Eye Lashes (Bulu Mata)". Film Dokumenter. Forum Film Dokumenter. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- ↑ "Model Manajamen Produksi Film Dokumenter 'Bulu Mata' Karya Tonny Trimarsanto". Film Dokumenter. Forum Film Dokumenter. 1 April 2020. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "One Big Sumba Family". Festival Film Dokumenter. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Komite Festival Film Indonesia umumkan nominasi FFI 2023". ANTARA News. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Under the Moonlight". International Documentary Film Festival Amsterdam (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Smong". Jogja-NETPAC Asian Film Festival (dalam bahasa Inggris). 2024. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- 1 2 "Wawancara bersama Tonny Trimarsanto". Festival Film Dokumenter. 2021. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- ↑ "Wawancara: Tonny Trimarsanto". IMAJI. 12 (3). Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta: 182–194. 2021. doi:10.52290/i.v12i3.60. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.
- ↑ Salsabil, Syifa Ghaits Nabila; Aji, Titus Soepono (2024). "Proses Kreatif Penyutradaraan Dokumenter Performatif Film "Sungai" Oleh Tonny Trimarsanto". Sense: Journal of Film and Television Studies. 7 (2). doi:10.24821/sense.v7i2.13875. Diakses tanggal 10 Oktober 2026.