Kamis, 08 Oktober 2026
11:50 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya

Chairun Nissa

Bagikan:
Chairun Nissa
Lahir3 Desember 1984 (umur 41)
Jakarta, Indonesia
AlmamaterInstitut Kesenian Jakarta
PekerjaanSutradara
Dikenal karenaSutradara film

Chairun Nissa (lahir 3 Desember 1984) adalah sutradara film Indonesia.[1] lulusan Jurusan Penyutradaraan Institut Kesenian Jakarta. Ia akrab disapa dengan nama panggilan "Ilun".

Kehidupan awal

Chairun Nissa lahir dari keluarga perantau Minangkabau asal Silungkang, Sawahlunto, Sumatra Barat.

Karya dan Penghargaan

Debut perdananya di festival internasional lewat film fiksi Purnama di Pesisir atau Full Moon, yang merupakan film tugas akhirnya di Institut Kesenian Jakarta. Film ini mendapatkan Special Jury Mention dari Rome Independent Film Festival, Roma, Italia, dan telah diputar di beberapa festival internasional, antara lain Rotterdam International Film Festival, Belanda, serta Indonesian Film Festival di Melbourne dan Sydney, Australia.[1] Disusul sejumlah karya lainnya, seperti film Payung Hitam (Black Umbrella) yang diputar di Salaya Bangkok Film Festival, Thailand, dan di Flying Broom International Women's Festival, Turki.[2]; juga film Chocolate Comedy yang diputar pada ajang International Documentary Film Festival Amsterdam di Belanda.

Dalam film-filmnya, ia kerap mengangkat berbagai persoalan sosial, seperti tema korupsi dalam film Kita Versus Korupsi, Nol Rupiah, dan Cerita Kami yang terangkum dalam Film BPK; serta tema penggusuran lahan di tepi pantai dalam film Purnama di Pesisir.

Tahun 2013 ia menerima beasiswa John Darling Fellowship sehingga berkesempatan belajar antropologi visual di Australian National University. John Darling Fellowship didirikan oleh Sara Darling sebagai kenangan atas suaminya, John Darling, pembuat film dokumenter Australia yang mempersembahkan sebagian besar masa kariernya untuk Indonesia.[3] Pada 2017, dengan membawa proyek dokumenter musik yang sedang ia kembangkan, ia terpilih menjadi satu dari 12 sutradara dokumenter di dunia untuk belajar di American Film Showcase 2017 yang diselenggarakan atas kemitraan antara Biro Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Luar Negeri Amerika, University of Southern California Cinematic arts, dan Asosiasi Dokumenter International dan Film Independen Amerika.

Bersama Sastha Sunu, editor film senior yang juga ketua Indonesian Film Editors (INAFEd) dan Wini Angraeni mendirikan sebuah rumah produksi, PT Sinema Sedap Asia (Sedap Films) pada tahun 2015. Salah satu karyanya yang diproduksi Sedap Films adalah web series Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR), "OM PMR Belum Ada Judul".

Filmografi

Referensi

  1. 1 2 "Tempo.co". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-17. Diakses tanggal 2013-12-17.
  2. ↑ http://hot.detik.com/read/2013/12/11/143728/2438932/1059/1/indonesia-tempat-harta-karun-membuat-film-dokumenter
  3. ↑
  4. 1 2 http://hot.detik.com/read/2013/12/11/114854/2438676/1059/film-dokumenter-indonesia-jadi-sorotan-di-amsterdam
  5. ↑ http://www.beritasatu.com/nasional/161755-dapat-bantuan-usaid-bpk-ri-rilis-3-film-pendek.html
  6. ↑ http://hot.detik.com/read/2014/01/24/141057/2477226/1059/film-inerie-mengadopsi-keseharian-hingga-bahasa-warga-flores
  7. ↑ http://lakilakibaru.or.id/2015/05/masa-sih/[pranala nonaktif permanen]
  8. ↑ http://senggang.republika.co.id/berita/senggang/film/15/02/12/njnndj-kineforum-gelar-program-film-untuk-kota
  9. ↑ http://youthproactive.com/youth-programs/memanfaatkan-budaya-lokal-untuk-lawan-korupsi/
  10. ↑ http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160323201007-220-119381/mencari-potongan-yang-hilang-dari-lsf/
  11. ↑ https://www.harpersbazaar.co.id/articles/read/1/2020/9337/Mengenal-Tiga-Sosok-Di-Balik-Film-Semesta/
  12. ↑ https://www.asumsi.co/post/film-dokumenter-ibu-bumi-sorot-partisipasi-generasi-muda-petani-kendeng-melawan-pabrik-semen/

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan