Minggu, 20 September 2026
17:14 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Kurva Laffer

Kurva Laffer

250px-LafferCurve.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kurva Laffer

Di bidang ekonomi, kurva Laffer menunjukkan hubungan antara tarif pajak dan tingkat pendapatan pemerintah. Para pendukung kurva Laffer mengklaim bahwa kurva ini menggambarkan konsep dari elastisitas penghasilan kena pajak dimana, penghasilan kena pajak berubah sesuai dengan perubahan tarif pajak.

Kurva Laffer mengemukakan bahwa pajak penghasilan tidak akan naik pada tarif pajak ekstrem 0% dan 100% dan harus ada setidaknya satu tarif yang memaksimalkan pajak pendapatan pemerintah. Kurva Laffer ini biasanya direpresentasikan dalam bentuk sebuah grafik yang dimulai pada 0% pajak dengan nol pendapatan, naik ke tingkat maksimum pendapatan dengan tarif pajak menengah, dan kemudian jatuh kembali ke nol pendapatan dengan tarif pajak sebesar 100%. Bentuk kurva ini tidak pasti dan masih dalam perdebatan.[1]

Salah satu implikasi dari kurva Laffer adalah bahwa peningkatan tarif pajak yang melampaui titik tertentu akan menjadi kontra-produktif dalam meningkatkan penerimaan pajak. Hipotetis kurva Laffer yang diberikan untuk setiap ekonomi hanya dapat diperkirakan dan perkiraan tersebut bersifat kontroversial. New Palgrave Dictionary of Economics melaporkan bahwa perkiraan pendapatan-memaksimalkan tarif pajak bervariasi secara luas, dengan kisaran sekitar 70%.[2] Umumnya, para ekonom menemukan sedikit dukungan untuk mengklaim bahwa pemotongan pajak dari tarif saat ini meningkatkan pendapatan pajak atau kebanyakan pajak berada di sisi kurva Laffer di mana pemotongan tambahan bisa meningkatkan pendapatan pemerintah.[3][4][5][6][7]

Meskipun ekonom Arthur Laffer tidak mengklaim telah menemukan konsep kurva Laffer, kurva ini dipopulerkan di Amerika Serikat oleh pembuat kebijakan yang mengikuti pertemuan sore Ford dengan para pejabat Pemerintahan Dick Cheney dan Donald Rumsfeld pada tahun 1974, di mana dalam melaporkan ia mensketsa kurva pada serbet untuk menggambarkan argumennya.[8] istilah "kurva Laffer" dilontarkan oleh Yudas Wanniski, yang juga hadir pada pertemuan tersebut. Konsep dasar kurva ini bukanlah konsep yang baru; Laffer sendiri mencatatan konsep terdahulu dalam tulisan-tulisan dari abad ke-14, yakni dari seorang filsuf sosial Ibnu Khaldun.

Catatan

  1. Irvin B. Tucker (2010), Survey of Economics, Cengage Learning, hlm. 341, ISBN 978-1-4390-4054-6
  2. Fullerton, Don (2008). "Laffer curve". Dalam Durlauf, Steven N.; Blume, Lawrence E. (ed.). The New Palgrave Dictionary of Economics (Edisi 2nd). hlm. 839. doi:10.1057/9780230226203.0922. ISBN 978-0-333-78676-5.
  3. Feige, Edgar L.; McGee, Robert (1982). "Supply Side Economics and the Unobserved Economy: The Dutch Laffer Curve". [Economisch Statistische Berichten]. 67 (November).
  4. Feige, Edgar L.; McGee, Robert (1982). "The Unobserved Economy and the UK Laffer Curve". 3 (1). The Journal of Economic Affairs: 36-42.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  5. Feige, Edgar L.; McGee, Robert (1983). "Sweden's Laffer Curve:Taxation and the Unobserved Economy". The Scandinavian Journal of Economics. 85 (4): 499-519.
  6. Trabandt, Mathias; Uhlig, Harald (2011). "The Laffer Curve Revisited". Journal of Monetary Economics. 58 (4): 305–27. doi:10.1016/j.jmoneco.2011.07.003.
  7. Pecorino, Paul (1995). "Tax rates and tax revenues in a model of growth through human capital accumulation". Journal of Monetary Economics. 36 (3): 527. doi:10.1016/0304-3932(95)01224-9.
  8. "To Donald Rumsfeld". Polyconomics.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-05-03. Diakses tanggal 2012-12-13.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan