Minggu, 20 September 2026
15:49 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Kimia lingkungan

Bagian dari sebuah seri tentang
Ilmu pengetahuan
Model Bohr bergaya dari atom litium
Umum
Cabang
Dalam masyarakat

Kimia lingkungan adalah studi ilmiah terhadap fenomena kimia dan biokimia yang terjadi di alam. Bidang ilmu ini dapat didefinisikan sebagai studi terhadap sumber, reaksi, transpor, efek, dan nasib zat kimia di lingkungan udara, tanah, dan air; serta efek aktivitas manusia terhadapnya. Kimia lingkungan adalah ilmu antardisiplin yang memasukkan ilmu kimia atmosfer, akuatik, dan tanah, dan juga sangat bergantung dengan kimia analitik, ilmu lingkungan, dan bidang-bidang ilmu lainnya.[1]

Kimia lingkungan pertama kali mempelajari bagaimana cara kerja lingkungan yang tak terkontaminasi, zat kimia apa dan berapa konsentrasi yang ada secara alami, dan apa efeknya. Tanpa hal ini, mustahil untuk mempelajari secara akurat efek manusia terhadap lingkungan dengan pelepasan zat kimia.

Latar belakang

Selama tahun 1950 hingga 1960-an, sektor industri, pertanian, maupun rumah tangga mulai menggunakan bahan-bahan kimia dalam jumlah besar, termasuk penggunaan pestisida, produk pembersih, karet sintesis, poliester, deterjen, dan bahan kimia lainnya. Ketika itu muncul ilmu kimia lingkungan yang mempelajari bagaimana bahan-bahan kimia tersebut dapat memengaruhi kualitas udara, air, maupun tanah.[2]

Pada tahun 1970-an para ahli kimia lingkungan mulai mempelajari tentang efek klorofluorokarbon terhadap lapisan ozon stratosfer. Klorofluorokarbon atau CFC tersebut terdiri dari senyawa kimia yaitu klor, fluor, dan karbon yang dapat berasal dari produk jadi seperti AC, kulkas, dan lain-lain.[3][4] Kemudian sejak 1 Januari 1989 berdasarkan Protokol Montreal yang telah diratifikasi oleh 196 negara penggunaan dan produksi industri CFC dilarang karena memiliki dampat buruk terhadap penipisan lapisan ozon.[5]

Sejak tahun 1970-an, kimia lingkungan mulai berkembang dan mencakup bidang studi senyawa kimia air, tanah, sistem biologis, dan bidang ilmu terkait lainnya.

Kontaminasi dan polusi

250px-DARK_CLOUDS_OF_FACTORY_SMOKE_OBSCURE_CLARK_AVENUE_BRIDGE_-_NARA_-_550179.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Polusi udara di Amerika Serikat pada tahun 1973
250px-Alfred_Palmer_Smokestacks.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pencemaran udara yang diakibatkan oleh produksi senjata pada tahun 1942 di Alabama

Kontaminasi dan pencemaran sama-sama mengacu pada keberadaan bahan kimia di lingkungan, tetapi sebenarnya dua hal tersebut memiliki perbedaan. Kontaminasi terjadi ketika ada satu atau lebih bahan kimia yang memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dari biasanya di lingkungan sekitarnya, tetapi hal tersebut tidak menyebabkan kerusakan yang parah terhadap biologis atau ekologis.[6][7] Sedangkan, pencemaran terjadi apabila bahan-bahan kimia memiliki konsentrasi yang tinggi sehingga dapat menyebabkan kerusakan organisme di lingkungan sekitarnya. Pencemaran tersebut dapat menyebabkan toksisitas dan perubahan ekologi, tetapi kontaminasi tidak menyebabkan kerusakan pada lingkungan sekitarnya.[8][9]

Gas sulfur dioksida dan ozon merupakan bahan kimia yang biasanya menyebabkan terjadinya polusi, selain itu berbagai jenis pestisida, unsur-unsur seperti arsenik, merkuri, nikel, selenium, atau tembaga juga dapat memicu terjadinya polusi. Selain itu, konsentrasi nutrisi yang besar seperti fosfat dan nitrat juga dapat memicu terjadinya eutrofikasi.[10] Eutrofikasi yaitu masalah lingkungan hidup atau pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrien atau limbah fosfat (PO43-) dalam jumlah besar pada ekosistem air.[11] Akan tetapi, kimia analitik modern yang ada saat ini sudah memungkinkan untuk mencari tahu atau melacak jejak kontaminasi bahan-bahan kimia yang berpotensi beracun untuk lingkungan.[1]

Penerapan dalam kehidupan

  • Digunakan dalam mengembangkan metode dan prosedur untuk mengurangi kontaminan atau bahan-bahan kimia di udara, sehingga kualitas udara dapat menjadi lebih bersih.[12]
  • Digunakan untuk meminimalisir penggunaan bahan-bahan kimia dalam sektor manufaktur.[13]
  • Kimia lingkungan mempelajari faktor-faktor atau risiko dari berbagai bahan kimia secara komprehensif untuk mencari tahu solusi dalam permasalahan lingkungan.
  • Digunakan dalam meneliti dan mengembangkan metode, alat, dan teknik untuk mengurangi pembuangan bahan-bahan kimia atau limbah ke lingkungan yang dapat berbahaya dan berisiko merusak lingkungan. Sehingga dapat membantu tumbuhan dan hewan terhindar dari bahan kimia yang mematikan.[13]

Metode analisis yang dipublikasikan

Metode uji peninjauan sejawat telah diterbitkan oleh lembaga pemerintah dan organisasi penelitian swasta.[14][15] Metode publikasi yang disetujui harus digunakan saat pengujian untuk menunjukkan kepatuhan dengan persyaratan peraturan.[16]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 "Environmental Chemistry | Encyclopedia.com". www.encyclopedia.com. Diakses tanggal 2020-09-28.
  2. "Environmental chemistry". Ballotpedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-09-29.
  3. "What Are the Sources of CFCs?". Sciencing (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-09-29.
  4. US Department of Commerce, NOAA. "NOAA Global Monitoring Laboratory - Halocarbons and other Atmospheric Trace Species". www.esrl.noaa.gov (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-09-29.
  5. McGrath, Matt (2016-10-15). "Deal reached on HFC greenhouse gases". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2020-09-29.
  6. Donovan, Robert P. (2001-03-14). Contamination-Free Manufacturing for Semiconductors and Other Precision Products (dalam bahasa Inggris). CRC Press. hlm. 1–3. ISBN 978-0-8247-0380-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. Ramstorp, Matts (2008-07-11). Introduction to Contamination Control and Cleanroom Technology (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 20–26. ISBN 978-3-527-61313-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. Chapman, Peter M. (2007-05-01). "Determining when contamination is pollution — Weight of evidence determinations for sediments and effluents". Environment International. Environmental contaminants and their effects: Links between environmental chemistry and toxicology (dalam bahasa Inggris). 33 (4): 492–501. doi:10.1016/j.envint.2006.09.001. ISSN 0160-4120.
  9. "pollution | Definition, History, & Facts". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-09-28.
  10. "What is eutrophication? Causes, effects and control". Eniscuola. 2016-11-03. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-02. Diakses tanggal 2020-09-28.
  11. Ngatia, Lucy; Taylor, Robert (2018-11-05). "Phosphorus Eutrophication and Mitigation Strategies". Phosphorus - Recovery and Recycling (dalam bahasa Inggris). doi:10.5772/intechopen.79173.
  12. "Environment". Royal Society of Chemistry (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2020-09-28.
  13. 1 2 "Importance of Environmental Chemistry". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-10-18. Diakses tanggal 27 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. "2008 CFR Title 40, Volume 22". web.archive.org. 2012-03-01. Diarsipkan dari versi asli pada 2012-03-01. Diakses tanggal 2020-10-01.
  15. US EPA, OLEM (2015-10-08). "The SW-846 Compendium". US EPA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-10-01.
  16. "Standard Methods". web.archive.org. 2016-02-11. Diarsipkan dari versi asli pada 2016-02-11. Diakses tanggal 2020-10-01.

Pranala luar

Cabang ilmu kimia
Analitik
Teoritik
Fisik
Anorganik
Organik
Biokimia
Antardisiplin
Lihat pula
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan