Minggu, 20 September 2026
12:26 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Keratuan Balaw

Keratuan Balaw
sekitar abad VII–VIII (tradisi lisan)–abad XVI–XVIII (disintegrasi)
StatusEntitas politik tradisional Lampung
Ibu kotaKawasan Balaw (Kedamaian, Bandar Lampung)
Bahasa umumBahasa Lampung, Melayu
Agama Animisme, Hindu-Siwa, kemudian Islam
PemerintahanMonarki adat
Ratu 
Sejarah 
 Pendirian oleh Raden Kunyanyan
sekitar abad VII–VIII (tradisi lisan)
 Kehancuran dan diaspora keturunan
abad XVI–XVIII (disintegrasi)
Sekarang bagian dari Indonesia

Keratuan Balaw adalah entitas politik tradisional masyarakat Lampung yang keberadaannya direkonstruksi melalui tradisi lisan serta temuan arkeologis di kawasan Kedamaian, Bandar Lampung. Dalam tradisi lokal, keratuan ini dipandang sebagai salah satu pusat kekuasaan tua di Lampung yang sezaman dengan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Tulang Bawang, dan Skala Brak, meskipun bukti tertulis eksternal masih sangat terbatas.[1]

Sejarah

Asal-usul

Menurut tradisi genealogis masyarakat Buai Kuning, Keratuan Balaw didirikan oleh Raden Kunyanyan bersama istrinya Putri Kuning dari wilayah Skala Brak. Setelah mendirikan kekuasaan, ia bergelar Ratu Sai Ngaji Saka.[1]

Pusat awal keratuan berada di Krui (muara Way Balaw), kemudian berpindah ke wilayah Kedamaian (Bandar Lampung). Lokasi ini memiliki karakter strategis karena diapit oleh Way Balaw dan Way Awi yang bermuara ke Way Lunik serta Teluk Lampung.

Genealogi

Tradisi lokal mencatat garis penguasa:

  • Ratu Mungkuk
  • Ratu Jang Kuna
  • Ratu Pujaran
  • Ratu Lengkara

Ratu Mungkuk dimakamkan di Balaw, sedangkan Ratu Lengkara dalam kepercayaan lokal mengalami ngahiyang dan meninggalkan petilasan.

Masa kejayaan

Pada abad ke-16, Keratuan Balaw disebut mencapai puncak kejayaan di bawah Ratu Lengkara. Tradisi menyebut adanya kegiatan canggot bara, yaitu pertemuan sosial budaya pada malam purnama yang diisi dengan tarian dan pantun.

Kehidupan yang makmur ini dalam tradisi lokal dikatakan dikenal hingga wilayah Semenanjung Malaka dan Patani.[1]

Konflik dan kehancuran

Kehancuran Keratuan Balaw diceritakan dalam beberapa versi tradisi:[1]

Versi Palembang

Keratuan diserang oleh kekuatan dari Palembang dengan taktik pengacauan pertahanan menggunakan tembakan meriam berisi logam dan benda berharga sehingga pertahanan bambu rusak dan memicu kekacauan.

250px-Map_of_Sumatra_1811_by_W._Marsden.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Sumatra (1811)

Versi Tulang Bawang

Dalam tradisi Tulang Bawang, tokoh Minak Patih Pejurit datang untuk mempersunting putri Balaw, yang kemudian memicu konflik antar pangeran dan pertempuran di muara Way Lunik.

Versi Banten

Tradisi lain mengaitkan Balaw dengan Kesultanan Banten, di mana penguasa Lampung disebut masuk Islam dan terlibat dalam ekspedisi melawan Pakuan Pajajaran.

Perbedaan versi ini menunjukkan keragaman tradisi historiografi lokal.

Diaspora

Setelah kehancuran, keturunan Balaw berpencar ke berbagai wilayah:

  • Way Sulan
  • Kalianda (Way Handak)
  • Katibung
  • Bandar Lampung

Pada abad ke-19, terjadi konsolidasi kembali yang melahirkan pemukiman Tiyuh Kedamaian.

Situs Arkeologi

Lokasi

Situs Keratuan Balaw terletak di Kedamaian, Bandar Lampung pada koordinat sekitar 5°25' LS dan 105°17' BT.

Kawasan ini diapit oleh Way Balaw dan Way Awi serta dikelilingi perbukitan seperti Gunung Camang dan Gunung Pemancar.[1]

250px-Bandar_Lampung.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bandar Lampung, Lampung

Temuan

Hasil survei dan ekskavasi menemukan berbagai tinggalan:

  • Tumulus
  • Makam keramat
  • Fragmen keramik asing
  • Tembikar
  • Manik-manik
  • Uang kepeng
  • Terak besi
  • Obsidian dan rijang
  • Batu pipisan dan gandik

Selain itu ditemukan batu besar yang diduga menhir atau dolmen, meskipun interpretasinya belum pasti.[1]

Interpretasi

Temuan arkeologis menunjukkan adanya:

  • Permukiman kompleks
  • Aktivitas ekonomi dan metalurgi
  • Jaringan perdagangan
  • Kemungkinan hunian lebih tua (berdasarkan temuan obsidian dan rijang)

Ekskavasi

Ekskavasi dilakukan dengan metode:

  • Selective excavation
  • Rescue excavation

Dibuka lima lubang uji (LU I–V) dengan temuan hingga kedalaman sekitar 79 cm. Konsentrasi artefak ditemukan pada lapisan tanah berwarna gelap yang mengindikasikan aktivitas manusia intensif.

Historiografi

Keratuan Balaw memiliki karakter historiografi:

  • Minim sumber tertulis eksternal
  • Dominasi tradisi lisan
  • Didukung bukti arkeologis

Karena itu, keberadaannya dikategorikan sebagai rekonstruksi sejarah berbasis tradisi lokal yang diperkuat data material.[1]

Kebudayaan

Keratuan Balaw menunjukkan lapisan budaya:

  • Animisme
  • Hindu-Siwa
  • Islam

Tradisi penting meliputi:

  • Canggot Bara
  • Sistem buai dan punyimbang
  • Tradisi ziarah makam keramat

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 Djubiantono, Tony; Siregar, Sondang Martini; Siswanto, Siswanto; Indriastuti, Kristantina; Triwurjani, Rr (2004-11). Budisantosa, Tri Marhaeni Sosiana (ed.). Jurnal Arkeologi Siddhayatra Vol.9 No.2 Tahun 2004 (dalam bahasa Inggris). Vol. 9. Palembang: Balai Arkeologi Palembang.{{cite book}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan