Selasa, 29 September 2026
03:38 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Keegoisan

menempatkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang lain

Artikel ini bukan mengenai nafsu.
Wiktionary logo
Lihat entri egois di kamus bebas Wikikamus.

Keegoisan adalah hal yang mementingkan diri sendiri secara berlebihan tanpa mempedulikan orang lain.[1][2]

Keegoisan adalah hal yang mirip dengan egosentrisme serta lawan kata dari altruisme atau nirnafsi (menurut C. S. Lewis).[3]

Bagian dari seri tentang
Emosi
120px-Plutchik-wheel.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Etimologi

"Nafsi" adalah serapan dari bahasa Arab:نَفْسِي, translit. nafsi, har. 'diri sendiri'.[4] Kata ini berkerabat dan seakar dengan "nafsu", tetapi kemudian memiliki makna yang berbeda.[5]

Pandangan yang berbeda

Keterlibatan nafsi mengilhami pandangan yang berbeda dalam hal agama, filsafat, psikologi, ekonomi, dan sosiobiologi:

Yunani–Romawi

Aristoteles sepakat dengan kebanyakan rekan sebangsanya dalam mengutuk mereka yang hanya mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri; namun dia menyetujui orang yang berakal sehat yang berusaha mendapatkan bagian terbesar dari apa yang pantas mendapat pujian sosial.[6]

Seneca mengusulkan pengembangan diri dalam masyarakat yang lebih luas, yaitu kepedulian terhadap diri yang dia lawan dari nafsi belaka dalam tema yang kemudian diangkat oleh Foucault.[7]

Abad Pertengahan–Pencerahan

Nafsi dipandang dalam tradisi Kristen Barat sebagai kejahatan utama, sebagai akar dari tujuh dosa mematikan dalam bentuk kesombongan.[8]

Francis Bacon meneruskan tradisi tersebut ketika dia mencirikan "kebijaksanaan bagi diri manusia... seperti kebijaksanaan tikus".[9]

Modern dan sekarang

Dengan munculnya masyarakat komersial, Bernard Mandeville mengajukan paradoks bahwa kemajuan sosial dan ekonomi bergantung pada sifat buruk pribadi, perihal yang disebutnya sebagai kekotoran karena nafsi.[10]

Adam Smith dengan gagasan "tangan tak terlihat" melihat sistem ekonomi berguna dalam menyalurkan kepentingan nafsi ke tujuan yang lebih luas.[11] John Locke, bersama dengan Adam Smith, adalah tokoh kunci dalam liberalisme klasik awal:[12] sebuah ideologi yang memperjuangkan gagasan individualisme dan kebebasan negatif. Tema-tema inti ini pasti berhubungan dengan konsep nafsi. Misalnya, Locke mengupayakan masyarakat menerapkan "pemerintahan sendiri", sebuah pemikiran bahwa seseorang harus mengambil keputusannya sendiri.[13] Hak yang melekat ini akan memungkinkan individu untuk mengejar kepentingannya sendiri, daripada menanggung beban kewajiban altruistik.[14] Jadi, tidak seperti ideologi politik seperti sosialisme, Locke dan kaum liberal klasik lainnya percaya bahwa nafsi sudah tertanam dalam sifat manusia. Locke bisa dibilang membuka pintu bagi para pemikir selanjutnya seperti Ayn Rand untuk menyatakan nafsi sebagai kebajikan sosial dan akar kemajuan sosial.[15] berpendapat bahwa nafsi adalah suatu kebajikan.[16]

Seorang filsuf penganut Katolik Roma bernama Jacques Maritain menentang pandangan terakhir ini melalui sanggahan pemahaman Aristoteles yang menganggap pertanyaan mendasar politik sebagai pilihan antara altruisme dan nafsi adalah kesalahan mendasar dan merugikan negara-negara modern. Sebaliknya, kerja sama harus menjadi norma karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, sehingga setiap orang hanya dapat menemukan kebaikannya sepenuhnya melalui upaya untuk mencapai kebaikan masyarakat.[17]

Psikologi

Kurangnya empati telah dilihat sebagai salah satu akar dari nafsi, hingga manipulasi dingin yang dilakukan psikopati.[18]

Perbedaan antara penegasan diri dan nafsi telah menjadi lingkup perselisihan di mana klaim masing-masing pribadi ataupun masyarakat sering kali terjadi antara orang tua dan anak-anak[19] atau laki-laki dan perempuan.[20]

Psikoanalisis menyukai pengembangan kesadaran diri yang sejati, dan bahkan mungkin berbicara tentang nafsi yang sehat,[21] dibandingkan dengan penutupan diri[22] yang oleh Anna Freud sebut sebagai "penyerahan emosional".[23]

Kriminologi

Nafsi ditandai sebagai ciri utama dalam teori fenomenologis kriminalitas dalam lingkup kriminologi yang sering disebut sebagai model "Putaran Kriminal" (The Criminal Spin). Oleh karena itu, dalam sebagian besar perilaku kriminal, terdapat peningkatan sikap mementingkan diri sendiri, yang mewujudkan dirinya secara berbeda dalam berbagai keadaan dan dalam berbagai bentuk kriminalitas.[24]

Lihat pula

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ "Selfish" Diarsipkan 2014-10-19 di Wayback Machine., Merriam-Webster Dictionary, accessed on 23 August 2014
  2. ↑ Selfishness – meaning, reference.com, accessed on 23 April 2012
  3. ↑ C.S. Lewis, Surprised by Joy (1988) pp. 116–17
  4. ↑ ""nafsi" - KBBI Daring". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 6 September 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ ""nafsu" - KBBI Daring". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 6 September 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Aristotle, Ethics (1976) pp. 301–03
  7. ↑ G. Gutting ed., The Cambridge Companion to Foucault (2003) pp. 138–
  8. ↑ Dante, Purgatorio (1971) p. 65
  9. ↑ Francis Bacon, The Essays (1985) p. 131
  10. ↑ Mandeville, The Fable of the Bees (1970) pp. 81–83, 410
  11. ↑ M. Skousen, The Big Three in Economics (2007) p. 29
  12. ↑ Longley, Robert (29 Juni 2020). "What Is Classical Liberalism? Definition and Examples". ThoughtCo.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Uzgalis, William (1 Mei 2018). "John Locke". Stanford Encyclopedia of Philosophy.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Goodman, John C. "What Is Classical Liberalism?". Goodman Institute for Public Policy Research.
  15. ↑ P. L. Nevins (2010). The Politics of Selfishness pp. xii–xiii
  16. ↑ Rand, Ayn (1964). The virtue of selfishness : a new concept of egoism. Penguin. ISBN 0-451-16393-1. OCLC 123776818.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal
  17. ↑ Maritain, Jacques (1973). The Person and the Common Good. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press. ISBN 978-0268002046.
  18. ↑ D. Goleman, Emotional Intelligence (1996) pp. 104–10
  19. ↑ R. D. Laing, Self and Others (1969) pp. 142–43
  20. ↑ What is Selfish?
  21. ↑ N. Symington, Narcissism (1993) p. 8
  22. ↑ Terence Real, I Don't Want to Talk About It (1997) pp. 203–05
  23. ↑ Adam Phillips, On Flirtation (1994) p. 98
  24. ↑ Ronel, N. (2011). “Criminal behavior, criminal mind: Being caught in a criminal spin”. International Journal of Offender Therapy and Comparative Criminology, 55(8), 1208–33

Daftar pustaka

Pranala luar

Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Keegoisan.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan