Senin, 21 September 2026
03:01 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Kedhaton

Kedhaton (atau sering dieja Kadhaton) adalah bagian inti, paling privat, dan paling sakral di dalam tata ruang arsitektur sebuah keraton (istana) kerajaan di Jawa, tempat bertahtanya raja beserta keluarga intinya.[1]

Jika keraton merujuk pada keseluruhan kompleks istana secara luas (termasuk alun-alun, benteng, dan fasilitas pemerintahan), maka kedhaton merujuk secara spesifik pada kompleks perumahan (inner sanctum) tempat sultan atau susuhunan menjalani kehidupan sehari-harinya.

Etimologi

Secara etimologis, kata kedhaton berasal dari kata dasar dalam bahasa Jawa kuno (dan bahasa Melayu kuno), yakni datu (atau ratu) yang berarti pemimpin atau raja.[2] Mendapat awalan ke- dan akhiran -an, sehingga membentuk kata ke-datu-an (kedhaton) yang secara harfiah berarti "tempat kedudukan datu/raja".

Konsep ini sebangun dengan kata ke-ratu-an (keraton), namun dalam perkembangannya, istilah kedhaton mengalami spesifikasi makna menjadi area yang lebih eksklusif dan tertutup dari akses publik.

Arsitektur dan Tata Ruang

Dalam konsep kosmologi Jawa, keraton dibangun berdasarkan garis imajiner (sumbu filosofis) yang menghubungkan elemen alam. Kedhaton diletakkan tepat di tengah-tengah sebagai pusat poros makrokosmos (dunia).

Lingkungan kedhaton dikelilingi oleh tembok tinggi yang disebut cepurik. Area ini sangat dijaga ketat dan memiliki beberapa bangunan utama, antara lain:[3]

  • Prabayeksa: Bangunan pusaka tempat disimpannya senjata dan benda-benda kebesaran kerajaan.
  • Bangsal Kencana: Tempat raja mengadakan pertemuan khusus atau upacara sakral internal keluarga.
  • Keputren: Kompleks tempat tinggal khusus bagi para putri raja dan permaisuri.

Hanya abdi dalem tertentu, kerabat dekat, dan keluarga inti yang diperbolehkan memasuki area kedhaton.

Makna Filosofis dalam Salaki Rabi

Di luar konteks kerajaan, istilah kedhaton juga sering digunakan dalam literatur pewayangan dan filosofi Pernikahan adat Jawa (Salaki Rabi). Terdapat sebuah konsep yang disebut Wahyu Kedhaton, yakni sebuah anugerah atau mandat ilahiah yang diberikan kepada seseorang untuk memimpin sebuah wilayah atau keluarga.[4]

Dalam institusi pernikahan Jawa, sepasang pengantin yang sedang dirias dan dipersandingkan di pelaminan diperlakukan layaknya "Raja dan Ratu Sehari". Rumah tangga yang kelak mereka bangun dianalogikan sebagai sebuah kedhaton baru.

Oleh karena itu, seorang suami sebagai kepala keluarga dituntut untuk memiliki wibawa dan kebijaksanaan layaknya raja yang memimpin kedhaton-nya, sementara istri menjadi permaisuri yang mengatur tata krama, keharmonisan, dan tata laksana kehidupan di dalam "istana" keluarga mereka.

Lihat pula

Referensi

  1. Koentjaraningrat (1994). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Bausastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters.
  3. Bratawijaya, Thomas Wiyasa (1990). Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  4. Endraswara, Suwardi (2006). Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan