Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu. Cari sumber: "Interjeksi" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR |
Interjeksi atau kata seru adalah kata yang mengungkapkan perasaan dan maksud seseorang, misalnya ah dan aduh, atau melambangkan tiruan bunyi, misalnya meong. Bentuk ini biasanya tak dapat diberi afiks dan tidak memiliki dukungan sintaksis dengan bentuk lain. Secara struktural, interjeksi tidak mempunyai jalinan dengan unsur kalimat lain. Oleh karena itu, pengetikan setelah kata interjeksi harus dibubuhi koma[1]
Interjeksi berdasarkan perasaan yang diungkapkan terbagi menjadi 10:[2]
- Interjeksi Harapan; insyaallah
- Interjeksi Kekaguman dan Kepuasan; aduhai, amboi, asyik
- Interjeksi Kekesalan; sialan, buset
- Interjeksi keheranan; aduh, loh, duilah, eh, ah
- Interjeksi kekagetan; astaga, astaghfirullah, masyaallah
- Interjeksi kejijikan; bah, cih, idih, ih, cis
- Interjeksi ajakan; ayo, mari
- Interjeksi kesyukuran; alhamdulillah, syukur
- Interjeksi panggilan; hai, halo, eh, he
- Interjeksi simpulan; nah
Dari beberapa contoh interjeksi, berdasarkan asalnya terbagi menjadi 2 macam, yaitu Interjeksi asli dan serapan.
Referensi
- ↑ [Salinan] SK tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembahan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek. 2021. hlm. 33.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Moeliono, Anton M., dkk. (2016). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Keempat). Jakarta. hlm. 400.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pranala luar
Artikel bertopik bahasa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |