Senin, 21 September 2026
04:08 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Ijang

Ijang merupakan benteng bukit berpundak yang didirikan sebagai tempat tinggal oleh Suku Ivatan. Struktur ini didirikan di pucuk bukit serta tepiannya dan banyak tersebar di Kepulauan Batanes, Filipina.[1] Formasi batuan yang menjulang tinggi tersebut digunakan sebagai benteng atau tempat perlindungan masyarakat di sekitarnya terhadap musuh mereka.[2]

Latar belakang

Pada tahun 1994, Eusebio Dizon, wakil direktur Museum Nasional Filipina melakukan perjalanan ke Batanes dengan timnya untuk melakukan proyek arkeologis. Pada waktu proyek dijalankan, mereka menemukan bukit berbentuk segitiga di Savidung, sebuah kota di Munisipalitas Sabtang. Strkture tersebut dikenal sebagai Ijang.[3][2] Ijang dideskripsikan sebagai struktur mirip dengan kastel gusuku di Kepulauan Okinawa, Jepang. Keduanya dibangun di tempat yang agak tinggi serta memiliki artefak seperti keramik dari dinasti Song dan manik-manik Tiongkok yang berasal dari abad ke-11.[4] Diketahui bahwa Orang Ivatan awalnya tinggal di dalam ijang, yang dibangun seperti bukit berbenteng. Mereka juga diketahui meminum anggur tebu, yang dikenal sebagai palek. Di sekitar ijang, mereka umumnya melakukan transaksi dengan menggunakan emas dan melakukan pertanian sekaligus pembangunan perahu untuk pelayaran.

Fungsi

Artikel utama: Suku Ivatan

Berdasarkan sejarah dan tradisi lisan, Suku Ivatan pada awalnya terbagi menjadi klan-klan kecil yang tinggal tak jauh dari laut. Selama konflik antarklan, klan yang diserang akan menaiki puncak ijang untuk menyelamatkan diri. Dari atasnya, mereka dapat mempertahankan diri dengan melemparkan batu ke arah musuh. Puncak ijang saat ini masih dipenuhi batu, yang digunakan sebagai amunisi primitif masyarakat. Membangun tempat berlindung di atas ijang menjadi penting ketika pertempuran berlangsung lama. Ijang pertama kali dideskripsikan oleh Kapten William Dampier, seorang bajak laut Inggris, ketika ia mengunjungi Pulau Ivuhos pada tahun 1687. Saat ini, masih terdapat jejak-jejak tempat tinggal kuno tersebut, termasuk tiang-tiang batu yang berdiri atau tergeletak di tempat orang Ivatan meninggalkannya ketika mereka meninggalkan cara hidup pagan mereka dan beralih ke agama Kristen pada akhir abad ke-18.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. Bellwood, Peter; Dizon, Eusebio (2013), Bellwood, Peter; Dizon, Eusebio (ed.), "The Batanes Islands, Their First Observers, and Previous Archaeology", 4000 Years of Migration and Cultural Exchange, The Archaeology of the Batanes Islands, Northern Philippines, vol. 40, ANU Press, hlm. 1–8, ISBN 978-1-925021-27-1, JSTOR j.ctt5hgz91.6, diakses tanggal 2021-01-25{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  2. 1 2 3 Dizon, Eusebio Z.; Santiago, Rey A. (1996). "Archaeological Explorations in Batanes Province". Philippine Studies. 44 (4): 479–499. ISSN 0031-7837. JSTOR 42634196.
  3. "15 Most Intense Archaeological Discoveries in Philippine History". FilipiKnow. Diakses tanggal 17 Maret 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. Dizon, Eusebio (1997). "Archaeology of Batanes Province, Northern Philippines: The 1996-1997 Status Report".{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan