Sabtu, 07 November 2026
14:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Ijang

Bagikan:

Ijang merupakan benteng bukit berpundak yang didirikan sebagai tempat tinggal oleh Suku Ivatan. Struktur ini didirikan di pucuk bukit serta tepiannya dan banyak tersebar di Kepulauan Batanes, Filipina.[1] Formasi batuan yang menjulang tinggi tersebut digunakan sebagai benteng atau tempat perlindungan masyarakat di sekitarnya terhadap musuh mereka.[2]

Latar belakang

Pada tahun 1994, Eusebio Dizon, wakil direktur Museum Nasional Filipina melakukan perjalanan ke Batanes dengan timnya untuk melakukan proyek arkeologis. Pada waktu proyek dijalankan, mereka menemukan bukit berbentuk segitiga di Savidung, sebuah kota di Munisipalitas Sabtang. Strkture tersebut dikenal sebagai Ijang.[3][2] Ijang dideskripsikan sebagai struktur mirip dengan kastel gusuku di Kepulauan Okinawa, Jepang. Keduanya dibangun di tempat yang agak tinggi serta memiliki artefak seperti keramik dari dinasti Song dan manik-manik Tiongkok yang berasal dari abad ke-11.[4] Diketahui bahwa Orang Ivatan awalnya tinggal di dalam ijang, yang dibangun seperti bukit berbenteng. Mereka juga diketahui meminum anggur tebu, yang dikenal sebagai palek. Di sekitar ijang, mereka umumnya melakukan transaksi dengan menggunakan emas dan melakukan pertanian sekaligus pembangunan perahu untuk pelayaran.

Fungsi

Artikel utama: Suku Ivatan

Berdasarkan sejarah dan tradisi lisan, Suku Ivatan pada awalnya terbagi menjadi klan-klan kecil yang tinggal tak jauh dari laut. Selama konflik antarklan, klan yang diserang akan menaiki puncak ijang untuk menyelamatkan diri. Dari atasnya, mereka dapat mempertahankan diri dengan melemparkan batu ke arah musuh. Puncak ijang saat ini masih dipenuhi batu, yang digunakan sebagai amunisi primitif masyarakat. Membangun tempat berlindung di atas ijang menjadi penting ketika pertempuran berlangsung lama. Ijang pertama kali dideskripsikan oleh Kapten William Dampier, seorang bajak laut Inggris, ketika ia mengunjungi Pulau Ivuhos pada tahun 1687. Saat ini, masih terdapat jejak-jejak tempat tinggal kuno tersebut, termasuk tiang-tiang batu yang berdiri atau tergeletak di tempat orang Ivatan meninggalkannya ketika mereka meninggalkan cara hidup pagan mereka dan beralih ke agama Kristen pada akhir abad ke-18.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Bellwood, Peter; Dizon, Eusebio (2013), Bellwood, Peter; Dizon, Eusebio (ed.), "The Batanes Islands, Their First Observers, and Previous Archaeology", 4000 Years of Migration and Cultural Exchange, The Archaeology of the Batanes Islands, Northern Philippines, vol. 40, ANU Press, hlm. 1–8, ISBN 978-1-925021-27-1, JSTOR j.ctt5hgz91.6, diakses tanggal 2021-01-25{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  2. 1 2 3 Dizon, Eusebio Z.; Santiago, Rey A. (1996). "Archaeological Explorations in Batanes Province". Philippine Studies. 44 (4): 479–499. ISSN 0031-7837. JSTOR 42634196.
  3. ↑ "15 Most Intense Archaeological Discoveries in Philippine History". FilipiKnow. Diakses tanggal 17 Maret 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Dizon, Eusebio (1997). "Archaeology of Batanes Province, Northern Philippines: The 1996-1997 Status Report".{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan