Senin, 21 September 2026
00:27 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Hans Kohn

Hans Kohn (15 September 1891 – 16 Maret 1971) adalah seorang filsuf dan sejarawan Amerika. Ia mempelopori studi akademis tentang nasionalisme, dan dianggap sebagai pakar dalam bidang tersebut.[1]

Hans lahir dari keluarga Yahudi berbahasa Jerman di Praha, Bohemia, yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Austria-Hongaria. Setelah lulus dari Gimnasium Jerman (sekolah menengah atas) setempat pada tahun 1909, ia belajar filsafat, ilmu politik, dan hukum di Universitas Charles-Ferdinand bagian Jerman di Praha.

Tak lama setelah lulus, pada akhir tahun 1914, Hans dipanggil ke Angkatan Darat Austria-Hongaria. Setelah pelatihan, ia dikirim ke Front Timur di Pegunungan Carpathia, menghadapi Angkatan Darat Kekaisaran Rusia. Ia ditangkap pada tahun 1915 dan dibawa oleh Rusia ke kamp penjara di Asia Tengah (sekarang Turkmenistan). Selama perang saudara setelah revolusi Bolshevik, Legiun Cekoslowakia yang pro-Barat datang ke Asia Tengah dan ia dibebaskan. Ia melakukan perjalanan lebih jauh ke timur (disebut oleh orang Ceko sebagai "Anabasis Siberia"), hingga singgah di Irkutsk. Situasi politik kemudian memungkinkannya untuk kembali ke Eropa, tiba pada tahun 1920. Hans kemudian tinggal di Paris, di mana ia menikahi Jetty Wahl pada tahun 1921.

Pasangan itu pindah ke London, tempat Kohn bekerja untuk organisasi-organisasi Zionis dan menulis artikel untuk surat kabar. Ia pindah ke Palestina pada tahun 1925. Dari sana, ia sering mengunjungi Amerika Serikat. Ia mulai menulis buku-buku yang membahas geopolitik dan nasionalisme pada masa itu. Pada tahun 1929, ia menulis surat pengunduran diri dari Keren HaYesod berjudul "Yudaisme Bukan Zionisme".[2][3] Setelah pembantaian Hebron tiga bulan sebelumnya, ia menulis surat berikut:[4]

"Saya merasa tidak bisa lagi menjadi pejabat tinggi di Organisasi Zionis… Kita berpura-pura menjadi korban yang tidak bersalah. Tentu saja, orang-orang Arab menyerang kita pada bulan Agustus [1929]. Karena mereka tidak memiliki tentara, mereka tidak dapat mematuhi aturan perang. Mereka melakukan semua tindakan biadab yang menjadi ciri khas pemberontakan kolonial. Namun, kita wajib menyelidiki akar penyebab pemberontakan ini. Kita telah berada di Palestina selama dua belas tahun [sejak dimulainya pendudukan Inggris] tanpa sekali pun berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan persetujuan penduduk asli melalui negosiasi. Kita hanya mengandalkan kekuatan militer Inggris Raya. Kita telah menetapkan tujuan-tujuan yang pada hakikatnya pasti akan berujung pada konflik dengan orang-orang Arab… selama dua belas tahun kita berpura-pura bahwa orang-orang Arab tidak ada dan merasa senang ketika kita tidak diingatkan akan keberadaan mereka."[5]

Referensi

  1. Wolf, K. (1976). Hans Kohn's Liberal Nationalism: The Historian as Prophet. Journal of the History of Ideas, 37(4), 651-672. doi:10.2307/2709029
  2. Buber, Martin; Mendes-Flohr, Paul R. (2005). A land of two peoples : Martin Buber on Jews and Arabs. Internet Archive. Chicago : University of Chicago Press. hlm. 97–100. ISBN 978-0-226-07802-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  3. Magid, Shaul (2014). "Butler Trouble: Zionism, Excommunication, and the Reception of Judith Butler's Work on Israel/Palestine". Studies in American Jewish Literature (1981-). 33 (2): 255. doi:10.5325/studamerjewilite.33.2.0237. ISSN 0271-9274. JSTOR 10.5325/studamerjewilite.33.2.0237. See his resignation letter from Keren Ha-Yesod in 1929, "Judaism is Not Zionism," printed in Buber, A Land of Two Peoples, 97–100
  4. Mimoun, Raphael. "Lessons from a disillusioned Zionist". Vashti Media. Diakses tanggal 6 November 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. "The massacre of Jews in 1929 Hebron is a microcosm of the conflict". Middle East Monitor. 2021-08-19. Diakses tanggal 2025-11-07.
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan