Kamis, 24 September 2026
20:48 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Gemblak

Gemblak

tokoh dalam seni Reog Ponorogo

250px-Gemblak_Jathil_Reog_Ponorogo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang Gemblak menari Jathil Reog

Gemblak[1] (aksara Jawa: ꦒꦼꦩ꧀ꦧ꧀ꦭꦏ꧀) adalah mantan tokoh dari seni Reog dan berkaitan erat dengan warok. Gemblak adalah seorang anak laki-laki rupawan yang tinggal bersama dengan komunitas warok dalam jangka waktu 2 tahun.[2] Gemblak dipinang menggunakan hewan ternak sapi atau sawah garapan. Mahar itu diberikan ke keluarga gemblak, yang selanjutnya hidup bersama sang Warok mengikuti kelompok pertunjukan keliling di banyak tempat untuk meramaikan pementasan Reog.[3]

Warok dan Gemblak

Warok adalah sebutan lelaki yang punya sifat kesatria, berbudi pekerti luhur, dan memiliki wibawa tinggi di kalangan masyarakat. Pada awalnya warok digambarkan sebagai sosok pengolah kanuragan yang demi pencapaian ilmu dan kesaktiannya, mereka melakoni "puasa perempuan" alias tidak berhubungan dengan wanita, melainkan dengan anak laki-laki berumur 11–15 tahun yang acapkali disebut gemblakan.[3] Warok dapat menikah dengan seorang wanita sebagai istri mereka, tetapi mereka mungkin tetap memiliki gemblak. Hal ini menyebabkan hubungan Warok-Gemblakan mirip dengan tradisi perjantanan di Yunani kuno.

Siapa saja yang mengenal cara hidup tradisional di Ponorogo, tahu bahwa ada pria yang lebih tua yang disebut warok, tidak berhubungan seks dengan istri-istri mereka, tetapi berhubungan seks dengan anak laki-laki yang lebih muda.[4] Mungkin yang dilakukan warok dan gemblak adalah tindakan homoseksual, tetapi mereka tidak pernah mengidentifikasi diri mereka sebagai seorang homoseksual, tetapi mereka akan menyebutnya dengan istilah warok-gemblakan.[3][4][5]

Warok kaya yang mengontrak gemblak sering memanjakan gemblak dengan diberi masakan enak, diajak jalan-jalan, diberi perhiasandan tak segan-segan mengeluarkan uang untuk sekolah dan uang saku gemblak-nya.[5][6] Meskipun mendapat kesenangan, selama dikontrak gemblak harus mengabdi kepada warok-nya dan taat pada setiap nasihatnya. Meskipun gemblakan sering dianggap sebagai homoseksualitas, warok dan gemblak mempunyai hubungan melekat seperti ayah-anak pada soal pendidikan. Warok mengajari gemblak bagaimana hidup bijak dan santun, mengajari menari untuk pementasan Reog, dan menyekolahkannya.[5][7]

Kini praktik Warok-Gemblak ditentang oleh pemuka agama setempat melalui perlawanan moral publik. Karena hal itulah, kini pagelaran Reog Ponorogo jarang sekali menampilkan gemblak, anak laki-laki tampan sebagai penunggang kuda. Sekarang peran gemblakan diganti dengan Jathil, prajurit perempuan yang menunggangi kuda lumping.[8]

Era Sekarang

Dalam budaya literasi, kebudayaan Gemblak diungkapkan telah memudar pada dekade tahun 1990an dan dinyatakan sudah tidak ada memasuki tahun 2000an dikarenakan beberapa faktor, di antaranya :

  1. Adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar (SD), supaya anak-anak Indonesia terutama di Ponorogo dan sekitarnya mendapatkan pendidikan dan terhindar dari budaya gemblakan yang menyasar anak-anak.
  2. Semakin populernya penari Jathilan oleh perempuan sehingga menggeser penari Jathil oleh Gemblak, meskipun penari kuda kepang diluar Reog masih ditarikan oleh laki-laki.

Meski demikian, disebagian komunitas Reog di Ponorogo hingga tahun 2020 masih menggunakan pria atau gemblak saat pementasan tari Jatihaln pada Reog Ponorogo. Banyak waria menarikan Jathil menyebut dirinya sebagai gemblak, padahal Gemblak harus melalui beberapa proses. Wenas Sudirman Paju dan beberapa muridnya masih melestarikan Jathil laki-laki, meski tergerus oleh Jathil perempuan.

Budaya populer

Kisah warok dan gemblak diangkat ke dalam berbagai film,, seperti Warok Singo Kobra, Bathoro Katong Dan Reog Ponorogo, Kucumbu Tubuh Indahku.

Lihat pula

Referensi

  1. (Indonesia) Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia "Arti kata gemblak pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-03. Diakses tanggal 09 Januari 2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  2. Pebrianti, Charolin (13 Januari 2018). "Ini Cerita Miring Gemblak di Ponorogo". detikcom. detikNews. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-03-24. Diakses tanggal 09 Februari 2020.{{cite news}}: |author= and |last= ditentukan lebih dari satu kali; Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  3. 1 2 3 Muhammad Ishomuddin (23 April 2019). "Relasi Mistis dan Sensual Rumit Antara Warok-Gemblak di Ponorogo". vice.com. VICE. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-03-04. Diakses tanggal 09 Februari 2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  4. 1 2 "Talks on Reyog Ponorogo - Intersections : gender, history and culture in the Asian context". intersections.anu.edu.au. Perth, W.A: Murdoch University, School of Asian Studies. 02 Mei 1999. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-03-04. Diakses tanggal 09 Februari 2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  5. 1 2 3 "Misteri Kehidupan Malam Warok-Gemblak". jawapos.com. JawaPos.com. 19 September 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-02. Diakses tanggal 09 Februari 2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  6. Administrator (10 Oktober 1987). "Pengakuan seorang warok". Tempo.co. Tempo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-02. Diakses tanggal 09 Februari 2020.{{cite news}}: |author= and |last= ditentukan lebih dari satu kali; Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  7. Administrator (10 Oktober 1987). "Dari mata turun ke gemblak". Tempo.co. Tempo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-02. Diakses tanggal 09 Februari 2020.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  8. Asmoro 2013.

Bacaan lanjutan

Pranala luar

  • Definisi kamus gemblak di Wikikamus
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan