Jumat, 06 November 2026
14:03 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Gembili

Gembili

Bagikan:
Gembili
250px-Dioscorea_esculenta_001.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monokotil
Ordo: Dioscoreales
Famili: Dioscoreaceae
Genus: Dioscorea
Spesies:
D. esculenta
Nama binomial
Dioscorea esculenta

Gembili (Dioscorea esculenta L., suku gadung-gadungan atau Dioscoreaceae) merupakan tanaman umbi-umbian yang sekarang sudah sulit dijumpai di pasar. Penanamannya masih cukup luas di pedesaan walaupun juga makin terancam kelestariannya. Gembili menghasilkan umbi yang dapat dimakan. Umbi biasanya direbus dan bertekstur kenyal. Umbi gembili serupa dengan umbi gembolo, tetapi berukuran lebih kecil.[1][2][3]

250px-Lesser_yam.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Tumbuhan gembili merambat dan rambatannya berputar ke arah kanan (searah jarum jam jika dilihat dari atas). Batangnya agak berduri.

Gembili dianggap sebagai tumbuhan berpotensi besar pada masa depan. Berbagai penelitian untuk melestarikan keragaman hayati dan pengolahan umbinya (dibuat menjadi etanol atau minuman beralkohol) telah dilakukan.

Nama "gembili" juga dipakai dalam salah satu tokoh komik strip "Panji Koming", yaitu isteri sahabatnya: "Ni Dyah Woro Gembili".

Dalam bahasa Inggris gembili dikenal sebagai lesser yam.

Pengolahan

Gembili adalah jenis umbi-umbian tradisional yang serbaguna dan dapat diolah menjadi berbagai macam masakan, baik sebagai camilan sederhana maupun hidangan utama.

Gembili Kukus/Rebus adalah cara yang paling umum dan sederhana untuk menikmati gembili. Gembili yang dikukus atau direbus memiliki tekstur yang gembur dan rasa gurih alami. Biasanya disajikan sebagai camilan sehat. Setelah direbus hingga matang, gembili juga bisa dipotong-potong dan digoreng untuk mendapatkan tekstur luar yang renyah. Cara tradisional lainnya adalah dengan membakar gembili hingga matang.

Selain disajikan secara sederhana, gembili juga dapat diolah menjadi berbagai makanan lain, antara lain: Timus Gembili:, Tepung Gembili, Bahan Campuran Sayuran, Pengganti Nasi, Kolak bubur nangka Gembili. Saat mengukus, pastikan prosesnya sekitar 30-45 menit dan jangan terlalu sering membuka tutup panci agar uap panas stabil dan gembili matang merata serta tidak keras. Dengan beragam cara pengolahan ini, gembili dapat menjadi pilihan makanan yang sehat dan lezat, serta membantu diversifikasi pangan lokal.

Perkembangbiakan dan budidaya gembili

Gembili berkembang biak secara vegetatif melalui umbi batang. Untuk menanamnya, umbi gembili yang sudah memiliki tunas ditanam di dalam tanah dan akan tumbuh menjadi tumbuhan baru. Bisa juga langsung menanam potongan umbinya. Tanam umbi gembili yang sehat dan memiliki minimal dua tunas untuk memastikan pertumbuhan yang lebih kuat. Dari umbi yang ditanam, tunas akan tumbuh dan berkembang menjadi tanaman gembili baru. Umbi batang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan yang dapat digunakan untuk membentuk tumbuhan baru.

Untuk menanam gembili, siapkan umbi yang bertunas, buat lubang tanam sedalam sekitar 5 cm, masukkan umbi dengan tunas menghadap ke atas, lalu tutup kembali dengan tanah. Pastikan tanah gembur dan subur, serta siapkan rambatan karena tanaman gembili merambat. Siapkan lahan yang gembur dan subur. Olah tanah lalu buat guludan atau bedengan dengan jarak tanam yang sesuai, misalnya 90 cm x 90 cm untuk guludan. Gunakan umbi gembili yang sudah bertunas minimal dua tunas. Buat lubang tanam di bedengan atau guludan dengan kedalaman sekitar 5 cm. Letakkan bibit umbi di dalam lubang dengan posisi tunas menghadap ke atas. Tutup kembali lubang dengan tanah, lalu tekan perlahan untuk memadatkan tanah di sekitar bibit. Gunakan mulsa dari jerami atau rumput kering untuk membantu mengendalikan gulma dan menjaga kelembaban tanah. Siapkan rambatan atau penyangga karena batang gembili merambat. Siram secara teratur, minimal seminggu sekali. Pemupukan: Lakukan pemupukan jika diperlukan untuk mendukung pertumbuhan umbi. Panen dapat dilakukan setelah tanaman berumur 6–9 bulan, ditandai dengan daun yang mulai menguning. 

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Dioscorea esculenta.

Referensi

  1. ↑ "Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill". Plants of the World Online. The Trustees of the Royal Botanic Gardens, Kew. n.d. Diakses tanggal Juli 6, 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill". Catalogue of Life. Species 2000. n.d. Diakses tanggal Juli 6, 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Andres, C.; AdeOluwa, O.O.; Bhullar, G.S. (2016). "Yam (Dioscorea spp.)". Dalam Thomas, Brian; Murphy, Denis J.; Murray, Brian G. (ed.). Encyclopedia of Applied Plant Sciences (Edisi 2nd). Academic Press. hlm. 435–441. ISBN 978-0-12-394807-6.


Ikon rintisan

Artikel bertopik tumbuhan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan