Senin, 21 September 2026
03:26 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Gembili

Gembili

Gembili
250px-Dioscorea_esculenta_001.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monokotil
Ordo: Dioscoreales
Famili: Dioscoreaceae
Genus: Dioscorea
Spesies:
D. esculenta
Nama binomial
Dioscorea esculenta

Gembili (Dioscorea esculenta L., suku gadung-gadungan atau Dioscoreaceae) merupakan tanaman umbi-umbian yang sekarang sudah sulit dijumpai di pasar. Penanamannya masih cukup luas di pedesaan walaupun juga makin terancam kelestariannya. Gembili menghasilkan umbi yang dapat dimakan. Umbi biasanya direbus dan bertekstur kenyal. Umbi gembili serupa dengan umbi gembolo, tetapi berukuran lebih kecil.[1][2][3]

250px-Lesser_yam.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Tumbuhan gembili merambat dan rambatannya berputar ke arah kanan (searah jarum jam jika dilihat dari atas). Batangnya agak berduri.

Gembili dianggap sebagai tumbuhan berpotensi besar pada masa depan. Berbagai penelitian untuk melestarikan keragaman hayati dan pengolahan umbinya (dibuat menjadi etanol atau minuman beralkohol) telah dilakukan.

Nama "gembili" juga dipakai dalam salah satu tokoh komik strip "Panji Koming", yaitu isteri sahabatnya: "Ni Dyah Woro Gembili".

Dalam bahasa Inggris gembili dikenal sebagai lesser yam.

Pengolahan

Gembili adalah jenis umbi-umbian tradisional yang serbaguna dan dapat diolah menjadi berbagai macam masakan, baik sebagai camilan sederhana maupun hidangan utama.

Gembili Kukus/Rebus adalah cara yang paling umum dan sederhana untuk menikmati gembili. Gembili yang dikukus atau direbus memiliki tekstur yang gembur dan rasa gurih alami. Biasanya disajikan sebagai camilan sehat. Setelah direbus hingga matang, gembili juga bisa dipotong-potong dan digoreng untuk mendapatkan tekstur luar yang renyah. Cara tradisional lainnya adalah dengan membakar gembili hingga matang.

Selain disajikan secara sederhana, gembili juga dapat diolah menjadi berbagai makanan lain, antara lain: Timus Gembili:, Tepung Gembili, Bahan Campuran Sayuran, Pengganti Nasi, Kolak bubur nangka Gembili. Saat mengukus, pastikan prosesnya sekitar 30-45 menit dan jangan terlalu sering membuka tutup panci agar uap panas stabil dan gembili matang merata serta tidak keras. Dengan beragam cara pengolahan ini, gembili dapat menjadi pilihan makanan yang sehat dan lezat, serta membantu diversifikasi pangan lokal.

Perkembangbiakan dan budidaya gembili

Gembili berkembang biak secara vegetatif melalui umbi batang. Untuk menanamnya, umbi gembili yang sudah memiliki tunas ditanam di dalam tanah dan akan tumbuh menjadi tumbuhan baru. Bisa juga langsung menanam potongan umbinya. Tanam umbi gembili yang sehat dan memiliki minimal dua tunas untuk memastikan pertumbuhan yang lebih kuat. Dari umbi yang ditanam, tunas akan tumbuh dan berkembang menjadi tanaman gembili baru. Umbi batang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan yang dapat digunakan untuk membentuk tumbuhan baru.

Untuk menanam gembili, siapkan umbi yang bertunas, buat lubang tanam sedalam sekitar 5 cm, masukkan umbi dengan tunas menghadap ke atas, lalu tutup kembali dengan tanah. Pastikan tanah gembur dan subur, serta siapkan rambatan karena tanaman gembili merambat. Siapkan lahan yang gembur dan subur. Olah tanah lalu buat guludan atau bedengan dengan jarak tanam yang sesuai, misalnya 90 cm x 90 cm untuk guludan. Gunakan umbi gembili yang sudah bertunas minimal dua tunas. Buat lubang tanam di bedengan atau guludan dengan kedalaman sekitar 5 cm. Letakkan bibit umbi di dalam lubang dengan posisi tunas menghadap ke atas. Tutup kembali lubang dengan tanah, lalu tekan perlahan untuk memadatkan tanah di sekitar bibit. Gunakan mulsa dari jerami atau rumput kering untuk membantu mengendalikan gulma dan menjaga kelembaban tanah. Siapkan rambatan atau penyangga karena batang gembili merambat. Siram secara teratur, minimal seminggu sekali. Pemupukan: Lakukan pemupukan jika diperlukan untuk mendukung pertumbuhan umbi. Panen dapat dilakukan setelah tanaman berumur 6–9 bulan, ditandai dengan daun yang mulai menguning. 

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Dioscorea esculenta.

Referensi

  1. "Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill". Plants of the World Online. The Trustees of the Royal Botanic Gardens, Kew. n.d. Diakses tanggal Juli 6, 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill". Catalogue of Life. Species 2000. n.d. Diakses tanggal Juli 6, 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. Andres, C.; AdeOluwa, O.O.; Bhullar, G.S. (2016). "Yam (Dioscorea spp.)". Dalam Thomas, Brian; Murphy, Denis J.; Murray, Brian G. (ed.). Encyclopedia of Applied Plant Sciences (Edisi 2nd). Academic Press. hlm. 435–441. ISBN 978-0-12-394807-6.


Ikon rintisan

Artikel bertopik tumbuhan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan