Sabtu, 26 September 2026
16:18 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Gatot

Gatot

variasi makanan khas Indonesia

Infotaula de menjarGatot
250px-19._Gathot_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
penganan tradisional khas Jawa
Asal
WilayahDaerah Istimewa Yogyakarta
Jawa Tengah
Jawa Timur
Negara asalIndonesia
PembuatKabupaten Gunung Kidul
Keahlian memasakmasakan Indonesia Suntingan nilai di Wikidata
Rincian
JenisBersantap Suntingan nilai di Wikidata
Bahan utamasingkong Suntingan nilai di Wikidata

Gatot (gathot) adalah penganan kukus, dibuat dari gaplek yang disayat kecil-kecil memanjang kemudian direbus dan dicampur dengan gula, dimakan dengan parutan kelapa.[1]

Gatot merupakan penganan tradisional khas masyarakat Jawa yang populer di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penganan ini berasal dari Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.[2][3]

Sejarah

Gatot penganan tradisional Jawa asli Kabupaten Gunung Kidul terdokumentasi dalam Serat Centhini (Ensiklopedia Makanan Tradisional Jawa) yang diterbitkan pada abad ke-18M.[4][5]

Gatot biasanya dimakan dengan sayuran sebagai pengganti nasi. Penganan ini menjadi makanan yang sangat favorit bagi masyarakat Gunungkidul karena rasanya yang manis, lezat, dan gurih.[6]

Dalam Sejarah Nya, Gatot sering disajikan dalam acara adat dan memiliki nilai budaya yang tinggi. [7]

Sebagai bagian dari warisan kuliner Jawa, gatot tetap dipertahankan dan dilestarikan hingga kini.Banyak keluarga yang masih membuat gatot secara tradisional,meneruskan resep dan cara pembuatan dari generasi ke generasi. [8]

Proses pembuatan

Proses pembuatan gatot memakan waktu yang lumayan lama, dari proses fermentasi ketela dengan cara dijemur sampai muncul jamur hasil permentasi ini berupa geplek kemudian gaplek ini direndam selama dua malam sampai ketela tersebut kenyal, setelah itu ditiriskan, dicuci, dan diambil kulit arinya, kemudian dipotong-potong kecil-kecil dan direndam selama satu malam.[2] setelah direndam kemudian dikukus selama dua jam dan biasanya ditambahkan di tambahkan gula merah, garam, dan kelapa agar membuat makanannya terasa manis dan gurih. Agar lebih memperenak rasanya dan memperindah teksturnya ditambahkan dengan kelapa yang telah diparut.[2]

Kandungan

Gatot memiliki kandungan gizi yang sangat banyak yang tidak kalah dengan makan pokok lainnya seperti beras, tiwul, dan nasi jagung, kandungan asam amino atau protein dalam gatot lebih besar dibanding dengan bahan pembuatannya (kayu). Hal ini terjadi karena keberadaan jamur yang memproduksi protein dari bahan pati ubi kayu sehingga gatot merupakan suatu makan yang kaya akan gizi dan dapat di jadikan sebagai makan pokok penganti beras.[9]

Referensi

  1. ↑ "Gatot". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  2. 1 2 3 "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-12-22. Diakses tanggal 2016-01-03.
  3. ↑ "Resep Gatot dari Singkong Kering, Jajan Tradisional Khas Gunung Kidul". kompas.com. Kompas Cyber Media.
  4. ↑ "Revitalisasi dan Reaktualisasi Makanan Tradisional Jawa Dalam Serat Centhini" (PDF). staffnew.uny.ac.id. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses tanggal 29 Januari 2024.
  5. ↑ Ricklefs, M. C.,. ""Centhini, Serat", in: Encyclopaedia of Islam". referenceworks.brillonline.com. Encyclopedia of Islam. Diakses tanggal 29 Januari 2024.{{cite web}}: no-break space karakter dalam |title= pada posisi 23Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  6. ↑ "Gatot Singkong: Camilan khas Gunungkidul yang Unik dan Otentik". goodnewsfromindonesia.id. Goodnews from Indonesia.
  7. ↑ "Gatot dalam Sejarah dan Budaya: Makanan Olahan Singkong dengan Nilai Adat Tinggi". sejarahmakanan.com. Sejarah makanan.
  8. ↑ "Gatot: Makanan Warisan kuliner Jawa". warisankuliner.com. Warisan Kuliner.
  9. ↑ "GATOT, Makanan Olahan Singkong Selain TIwul". bahan-pangan.blogspot.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-29. Diakses tanggal 10 Oktober 2020.

Lihat pula

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan