Minggu, 18 Oktober 2026
10:46 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Konten seksual dalam film

seks dalam film arus utama

Bagikan:

Konten seksual telah ditemukan dalam film sejak masa awal industri, dan penyajian aspek seksualitas dalam film, khususnya seksualitas manusia, telah menjadi kontroversi sejak perkembangan media tersebut. Film yang menampilkan atau menyiratkan perilaku seksual telah dikritik oleh kelompok agama atau dilarang serta disensor oleh pemerintah, meskipun sikap terhadap hal ini telah berubah secara signifikan sepanjang waktu dan lingkungan sosial yang lebih permisif berkembang di beberapa bagian dunia, terutama di Eropa, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru. Di negara-negara dengan sistem klasifikasi usia film, film yang memuat adegan seks eksplisit biasanya menerima klasifikasi terbatas. Ketelanjangan dalam film dapat dianggap sebagai seksual maupun non-seksual.

Film erotis biasanya adalah film yang memiliki kualitas erotis, yang berarti dapat membangkitkan perasaan seksual,[1] meskipun maksud yang dinyatakan atau disiratkan oleh pembuat film adalah untuk menimbulkan perenungan filosofis mengenai estetika hasrat seksual, sensualitas, dan cinta romantis.

Terminologi

Seks dalam film dapat dibedakan dari film seks, yang biasanya merujuk pada film seks pornografi dan kadang pada film pendidikan seks. Hal ini juga harus dibedakan dari ketelanjangan dalam film, meskipun ketelanjangan dapat ditampilkan dalam konteks seksual. Sebagai contoh, ketelanjangan dalam konteks naturisme biasanya dianggap non-seksual. Beberapa orang membedakan antara "seks yang berlebihan" dan adegan seks yang ditampilkan sebagai bagian integral dari alur cerita film atau sebagai bagian dari pengembangan karakter.

Adegan seks merupakan ciri utama film pornografi. Dalam film softcore, seksualitas ditampilkan kurang eksplisit. Film erotis bersifat menyiratkan seksualitas, tetapi tidak harus memuat ketelanjangan.

Sejarah

The Kiss (1896) memuat apa yang dianggap sebagai adegan seks pertama dalam film, yang memicu kemarahan besar dari penonton, tokoh masyarakat, dan pemimpin agama, karena dianggap sangat mengejutkan, cabut dan sepenuhnya tidak bermoral.

Adegan cinta, baik erotis maupun tidak, telah hadir dalam film sejak era bisu dalam sinematografi. Film yang memuat adegan seks atau erotis dapat ditemukan dalam berbagai genre dan subgenre, dengan genre yang memiliki komponen seksual atau erotis biasanya menyertakan istilah "erotis" dalam deskripsinya – seperti drama erotis, triler erotis, komedi seks, film perjalanan menuju kedewasaan, drama romantis, dan lainnya. Film pornografi, di sisi lain, adalah film seks yang biasanya tidak mengklaim nilai artistik, tetapi dimaksudkan untuk membangkitkan gairah seksual pada penonton dan karenanya terutama ditujukan bagi "penonton dewasa", yakni orang dewasa. Beberapa aktor dan aktris terkenal di negara-negara Barat pernah tampil dalam adegan telanjang atau setengah telanjang, atau berpakaian dan berperilaku dengan cara yang dianggap provokatif secara seksual menurut standar kontemporer pada suatu masa dalam karier mereka. Salah satu contoh terkenal adalah aktris Amerika Marilyn Monroe, yang pada awal kariernya di industri film tampil dalam film pendek eksplisit seksual (tidak pernah diedarkan luas kepada publik) sebelum kemudian berperan dalam film yang tidak mengharuskannya menampilkan aktivitas seksual, melainkan hanya berpose sebagai perempuan yang dianggap menarik secara seksual. Citra dirinya kemudian menjadi ikon budaya populer Amerika.[butuh rujukan]

Selama Masa Keemasan Pornografi antara 1969 dan 1984, sejumlah film pornografi Amerika ditayangkan di bioskop dan mendapat perhatian relatif positif dari kritikus film maupun masyarakat umum.[2][3] Pada awal 1980-an, munculnya video rumahan secara bertahap mengakhiri era ketika orang pergi ke bioskop untuk menonton pornografi.[4]

Produksi

Artikel utama: Klausul ketelanjangan

Untuk meminimalkan risiko dan konflik, serta karena seorang aktor dapat merasa rentan saat melakukan adegan seks, dibuatlah perjanjian yang menjelaskan syarat dan batasan adegan telanjang dan penampilan sebelum proses pengambilan gambar dimulai. Perjanjian ini dapat merinci setiap adegan seks secara khusus, termasuk detail adegan dan kondisi studio saat adegan tersebut diambil, apakah pemeran pengganti tubuh boleh digunakan, sejauh mana ketelanjangan aktor ditampilkan, serta informasi mengenai busana.[5] Suatu perjanjian dapat menetapkan bahwa hanya orang-orang yang terkait dengan adegan atau materi yang boleh tetap berada di lokasi saat adegan intim sedang direkam, serta membatasi penggunaan rekaman film atau foto dari adegan tersebut dalam promosi film.[6] Perjanjian juga dapat menjelaskan konsekuensi jika aktor setuju untuk berpartisipasi dalam adegan yang melibatkan ketelanjangan, tetapi kemudian berubah pikiran.

Untuk menangani keselamatan fisik dan psikologis para aktor yang terlibat dalam adegan seks, didirikan organisasi nirlaba bernama Intimacy Directors International (IDI).[7] Menurut IDI, organisasi ini menyediakan seorang koordinator intimasi yang bekerja bersama aktor dan melakukan hal-hal berikut:

  1. Bekerja secara profesional dengan aktor untuk menetapkan aturan ketika mereka terlibat dalam adegan seks, termasuk seks simulasi, ketelanjangan, dan adegan intim.
  2. Menjadi penghubung antara aktor dan produser.
  3. Mengarahkan adegan yang mengandung seks simulasi, ketelanjangan, dan keintiman fisik.
  4. Mendukung aktor serta menjadi advokat bagi mereka.

Perusahaan produksi dapat mempekerjakan seorang koordinator intimasi dalam situasi berikut:

  • jika seorang aktor membutuhkan bantuan dalam menghadapi materi yang sensitif.
  • jika sutradara membutuhkan bantuan untuk mengarahkan adegan seks.
  • jika perusahaan produksi ingin membuat aturan khusus agar para aktor merasa lebih aman.

Sejak tahun 2010-an, produksi film dan televisi semakin banyak menggunakan koordinator intimasi untuk memastikan kesejahteraan aktor yang berpartisipasi dalam adegan seks serta membantu mencegah pelecehan dan pelanggaran terhadap persetujuan.[8]

Referensi

  1. ↑ "Eroticism". Merriam-Webster. Diakses tanggal 2011-08-07.
  2. ↑ Paasonen, Susanna; Saarenmaa, Laura (2007-07-19). The Golden Age of Porn: Nostalgia and History in Cinema (PDF). Diakses tanggal 2017-04-30.
  3. ↑ DeLamater, John; Plante, Rebecca F., ed. (2015-06-19). Handbook of the Sociology of Sexualities. Springer. hlm. 416. ISBN 9783319173412. Diakses tanggal 2017-04-30.
  4. ↑ Nitke Barbara, dalam "American Ecstasy: The Photography of Barbara Nitke and The Golden Age of Pornography". AtomicLegdropZine.wordpress.com/. Februari 4, 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-27. Diakses tanggal 2014-06-13.
  5. ↑ Woods, Robert (2021). Everyday Law for Actors (Edisi 1st). Blue Ridge Summit: Applause Books. hlm. 42–45. ISBN 978-1493059102.
  6. ↑ Tally, Margaret J. (2021). The limits of #Metoo in Hollywood: gender and power in the entertainment industry. Jefferson, North Carolina: McFarland & Company, Inc., Publishers. hlm. 26. ISBN 978-1476684956.
  7. ↑ "Our Organization". intimacydirection (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-11-20.
  8. ↑ Martinelli, Marissa (2018-10-29). "HBO Will Use "Intimacy Coordinators" for All of Its Sex Scenes". Slate Magazine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-10-29.

Bacaan lebih lanjut

  • Andrews, David (2006) Soft in the Middle: the contemporary softcore feature in its contexts. Ohio State University Press, ISBN9780814210222
  • Brusendorff, Ove & Henningsen, Poul (1960) Erotica for the Millions. Los Angeles: the Book Mart
  • Durgnat, Raymond (1966) Eros in the Cinema. London: Calder & Boyars
  • Jahraus, Oliver & Neuhaus, Stefan (2003) Der erotische Film: Zur medialen Codierung von Ästhetik, Sexualität und Gewalt. Königshausen & Neumann, ISBN3826025822
  • Keesey, Douglas; Duncan, Paul (ed.) (2005) Erotic Cinema. Cologne: Taschen ISBN3-8228-2546-8
  • Kyrou, Ado (1957) Amour-Érotisme au Cinéma. Le Terrain Vague
  • --do.-- (1963) Le Surréalisme au Cinéma. Le Terrain Vague
  • Lo Duca (1958, 1960, 1962) L'Érotisme au Cinéma. 3 vols. Paris: Pauvert
  • McDonagh, Maitland (1996) The Fifty Most Erotic Films of All Time: from "Pandora's Box" to "Basic Instinct". New York: Carol Publishing Group ISBN0-8065-1697-6
  • Stevenson, Jack (2010) Scandinavian Blue: The Erotic Cinema of Sweden and Denmark in the 1960s and 1970s ISBN978-0786444885
  • Tohill, Cathal & Tombs, Pete (1994) Immoral Tales: sex and horror cinema in Europe, 1956-1984. London: Primitive Press ISBN0-9524141-0-4
  • Tyler, Parker (1969) Sex Psyche Etcetera in the Film. Horizon Books
    • --do.--(1971) --do.-- (Pelican Book A1302.) Harmondsworth: Penguin Books ISBN0-14-021302-3
  • Walker, Alexander (1966) The Celluloid Sacrifice. London: Michael Joseph
    • --do.--(1968) Sex in the Movies: the celluloid sacrifice. (Pelican Book A989.) Harmondsworth: Penguin Books
  • Williams, Linda (2005) The Erotic Thriller in Contemporary Cinema. Edinburgh University Press, ISBN9780748611485

Pranala luar

Menurut gaya
Menurut topik
Menurut demografi
Menurut format,
teknik/teknologi,
pendekatan,
atau produksi
Ikon rintisan

Artikel bertopik film ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan