Minggu, 20 September 2026
16:16 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Distrik Negara

Distrik Negara

Untuk kegunaan lain, lihat Negara (disambiguasi).

Kabupaten Hulu Sungai Selatan

250px-Lokasi_Kalimantan_Selatan_Kabupaten_Hulu_Sungai_Selatan.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Districtshoofd_met_vrouw_in_Negara_Borneo_TMnr_10001682.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang Kiai Kepala Distrik Negara beserta isterinya pada tahun 1915.
250px-Manuscript_map_of_the_Banjarmasin_region.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Zuid en Ooster Afdeeling van Borneo, Distrik Negara no. VIII
250px-Wilayah-distrik-negara.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah Distrik Negara (warna biru) yang sekarang terbagi menjadi tiga kecamatan Daha Utara, Daha Barat, dan Daha Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Riviergezicht_met_moskee_TMnr_10016657.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah masjid beratap tumpang talu dan Rumah Baanjung di Negara pada zaman Belanda.
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Kinderen_op_de_markt_van_Negara_Zuid-Kalimantan_TMnr_10002514.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anak perempuan (si Diyang) memakai gelang kaki dan mengenakan Baju Kubaya Basawiwi berwarna putih dan anak lelaki (si Utuh) juga mengenakan stelan baju dan celana berwarna putih di distrik Negara.
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Negara_het_marktvolk_heeft_zijn_prauwen_gemeerd_TMnr_10010475.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pasar di Negara.

Distrik Negara atau Nagara Daha[1] adalah bekas distrik (kedemangan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Amandit dan Negara pada zaman kolonial Hindia Belanda dahulu. Distrik Negara merupakan salah satu daerah Kesultanan Banjar yang terletak di sekitar pertengahan Daerah Aliran sungai Negara.[2]

Tahun Districtshoofd Panghoeloe
1861 Kiai Ngabehi Djaksa Nagara[1] -
1862 Kiai Sech[3][4] Hadji Djidin
1863 Kiai Soeta Samie[5][6] 1. Hadji Djahidin[5]

2. Hadji Abdul Hasan[6]

1870 Kjahi Hadji Sahaboe'd-din[7][8] Hadji Abdoe'l-hasan[7][8]
1899 Kiai Osman[9]
  • 1898: Kiai Djaja Kesoema Negara[10]
  • 1906 : Anang Besar bin Anang Ketjil Mantri Negara[11]

Dewasa ini wilayah distrik ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Suku Banjar yang mendiami wilayah bekas distrik ini disebut Orang Nagara atau puak Nagara Daha. Di wilayah Negara ini semuanya merupakan perkampungan suku Banjar dan tidak terdapat perkampungan suku Dayak.

Sejarah

Kerajaan Negara Daha

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin, wilayah distrik ini dahulu merupakan pusat pemerintahan keraton Kerajaan Negara Daha setelah dipindah dari Amuntai (Kerajaan Negara Dipa/Kuripan).

Raja-raja Negara Daha pada abad ke-15:[12]

  1. Raden Sakar Sungsang/Raden Sari Kaburungan/Ki Mas Lalana bergelar Maharaja Sari Kaburungan[13] atau Panji Agung Rama Nata putera dari Putri Kalungsu/Putri Kabu Waringin, ratu terakhir Negara Dipa.
  2. Raden Sukarama bergelar Maharaja Sukarama, kakek dari Sultan Suriansyah (Sultan Banjar I).[13][14]
  3. Raden Paksa bergelar Pangeran Mangkubumi, kemudian bergelar Maharaja Mangkubumi.[13]
  4. Raden Panjang bergelar Pangeran Tumenggung. Pangeran ini tidak memiliki gelar Maharaja[13]

Pada awal abad ke-16, dari Negara Daha, keraton kemudian dipindah ke Banjarmasin dengan nama Kesultanan Banjarmasin karena Urang Nagara mengalami kekalahan. Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin, sebanyak 40 Urang Nagara telah tertawan dan diberikan kepada pasukan Demak sebagai ganti tentara Demak yang gugur dalam peperangan pada tahun 1526 tersebut. Urang Nagara tersebut kemudian menetap di Demak dan desa Tadunan.[13] Pada waktu inilah kali pertama Urang Nagara migrasi keluar Tanah Banjar. Pada waktu Hikayat Banjar ditulis belum dikenal adanya sebutan bangsa atau suku Banjar, tetapi masih disebut dengan nama asal kampungnya masing-masing. Jika berziarah ke kompleks pemakaman Sultan Demak Raden Patah yang terletak di samping Masjid Agung Demak, maka juri kunci masih dapat menunjukkan makam orang-orang asal Kalimantan yang dimakamkan di sana.

Menurut Hikayat Lambung Mangkurat yang disebut juga Hikayat Banjar versi II, ketika keraton telah dipindah ke Banjarmasin oleh Sultan Suriansyah, maka Urang Nagara yang mengalami kekalahan dalam perang tersebut dilarang memegang jabatan dalam pemerintahan kesultanan dan gelar kebangsawanan mereka diturunkan menjadi gelar bangsawan yang levelnya setingkat lebih rendah yaitu Andin dibanding gelar Gusti bagi keturunan Sultan Suriansyah. Bangsawan Nagara Daha inilah yang menjadi nenek moyang andin-andin di daerah Danau Salak, Alai Ulu dan kawasan Barito.

Perang Banjar-Negara Daha menyebabkan pengungsian penduduk yang mendiami Batangbanyu Negara Daha ke Daerah Aliran Sungai Batang Alai dan Sungai Amandit. Sebagian yang tertangkap dibawa ke Banjarmasin dan dikirim ke Demak dan Tedunan (Jepara) dan sebagian lagi ada pula yang melarikan diri ke hulu sungai Barito. Pada tahun 1526 Raja Demak yang diduga adalah Sultan Trenggana alias Tung Ka lo[15][16] telah megirimkan seribu pasukan untuk membantu Pangeran Samudera untuk berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung penguasa Kerajaan Negara Daha terakhir. Kemenangan diraih oleh Pangeran Samudera sebagai Sultan Banjarmasin I, sedangkan Pangeran Tumenggung diizinkan menetap di pedalaman yaitu distrik Alai dengan seribu penduduk.[13]

Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan:[13]

Maka lari segala rakyat Pangeran Tumanggung itu, mudiklah segala rakyat Pangeran Samudera itu. Yang cucuk (panglima) perang itu Patih Balit. Maka yang memarakan rakyat itu Patih Masih. Maka datang rakyat Pangeran Samudera itu di hilir negeri Negara Daha itu, maka orang Negara Daha itu bahindar berkukuh dalam batang Hamandit dan dalam batang Alai, bertalutuk dan cerucuk dan garugul di muara-simpang Alai dan Hamandit itu. Maka rakyat Pangeran Samudera itu tiada beroleh bermara itu, sukarlah karena sungai kipit, bermandak di muara-hulak Negara Daha itu.

Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan:[13]

Sudah kemudian daripada itu Pangeran Samudera berkata pada Pangeran Tumanggung itu: "Hendak hilir. Namun, Aria Taranggana kaula bawa, serta sekalian orang dalam negeri Negara Daha ini. Adapun andika tinggal; segala orang di dalam batang Hamandit, di dalam batang Alai ini kaula aturkan itu." Kata Pangeran Tumanggung : "Aku menerima kasih tuan itu." Sudah itu maka Pangeran Samudera hilir itu, orang Negara Daha itu habis dibawa. Hanya ditinggal akan tunggu negeri itu; besar kecil, laki-laki dan perempuan, orang seribu itu. Pangeran Tumanggung pindah dalam batang Alai.[13]

Orang Nagara dipindah ke Demak

Orang Nagara ditawan dan dibawa ke Demak dan Tedunan (Jepara). Sungai Tedunan merupakan batas pemisah antara kawasan pesisir kilen (barat) dan kawasan pesisir wetan (timur) di kerajaan di Jawa.

Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan pula:[13]

Maka Pangeran Samudera itu, sudah tetap kerajaannya di Banjarmasih itu, maka masuk Islam. Diislamkan oleh Penghulu Demak itu. Maka waktu itu ada orang negeri Arab datang, maka dinamainya Pangeran Samudera itu Sultan Suryanullah. Banyak tiada tersebut. Maka Penghulu Demak dengan Menteri Demak itu disuruh Sultan Suryanullah kembali. Maka orang Demak yang mati berperang ada dua puluh itu, disilih laki-laki dan perempuan yang dapat [dari] menangkap, tertangkap tatkala berperang itu, orang empat puluh. Maka Penghulu Demak dan Menteri Demak serta segala kaumnya sama dipersalin. Yang terlebih dipersalinnya itu penghulunya, karena itu yang mengislamkan. Serta persembah Sultan Suryanullah emas seribu tahil, intan dua puluh biji, lilin dua puluh pikul, pekat seribu galung, damar seribu kindai, tetudung seribu buah, tikar seribu kodi, kajang seribu bidang. Sudah itu maka orang Demak itu kembali. Itulah maka sampai sekarang ini di Demak dan Tadunan itu ada asalnya anak-beranak cucu-bercucu itu asal orang Nagara itu; tiada lagi tersebut. Sudah itu maka orang Sebangau, orang Mendawai, orang Sampit, orang Pembuang, orang Kota Waringin, orang Sukadana, orang Lawai, orang Sambas sekaliannya itu dipersalin sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim barat sekaliannya negeri itu datang mahanjurkan upetinya, musim timur kembali itu. Dan orang Takisung, orang Tambangan Laut, orang Kintap, orang Hasam-Hasam, orang Laut-Pulau, orang Pamukan, orang Paser, orang Kutai, orang Berau, orang Karasikan, sekaliannya itu dipersalin, sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim timur datang sekaliannya negeri itu mahanjurkan upetinya, musim barat kembali.[13]

Setelah ditaklukan Kesultanan Banjar, daerah ini disebut Lalawangan Nagara pernah dimiliki sebagai tanah apanage (tanah badatu) atau kepala Lalawangan, diantaranya yaitu

  1. Pangeran Suria Negara (1680). Dia adik Sultan Suria Angsa dari Banjar[17]
  2. Raja atau Sultan Negara(1680) berkedudukan di Kota Martapura.[18]
  3. Raja Bicara (mangkubumi) dari Negara: Pangarang Purba Negarree (1713) pemilik apanase daerah Negara (Daha). Dia adik Sultan Tahmidullah 1 (1713)[19][20][21][22]
  4. Raden Jayanegara (1745). Dia adik ipar Panembahan Kusuma Dilaga.[23]
  5. Pangeran Mas Dipati (1751). Dia sepupu Sultan Sepuh.[24]

Referensi

  1. 1 2 (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1861). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. Vol. 34. Lands Drukkery. hlm. 133.
  2. Radermacher, Jacob Cornelis Matthieu (1826). Beschryving van het eiland Borneo, voor zoo verre het zelve, tot nu toe, bekend is (dalam bahasa Belanda) (Edisi 3). Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. hlm. 46.
  3. (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1862). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. Vol. 35. Lands Drukkery. hlm. 136.
  4. (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1862). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. Vol. 36. Lands Drukkery. hlm. 140.
  5. 1 2 (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1863). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. Vol. 37. Lands Drukkery. hlm. 147.
  6. 1 2 (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1868). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. Vol. 41. Lands Drukkery. hlm. 138.
  7. 1 2 (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1870). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. Vol. 43. Lands Drukkery. hlm. 180.
  8. 1 2 (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1871). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar. Vol. 44. Lands Drukkery. hlm. 197.
  9. Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Depdikbud, Jakarta, 1986.
  10. Regeerings-almanak voor Nederlandsch-Indie (dalam bahasa Belanda). Vol. 2. Dutch East Indies. 1898. hlm. 231.
  11. Regeerings-almanak voor Nederlandsch-Indie (dalam bahasa Belanda). Vol. 2. Dutch East Indies. 1906. hlm. 242.
  12. (Inggris) "Regnal Chronologies Southeast Asia: the Islands". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-01-27. Diakses tanggal 2016-10-16.
  13. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 (Melayu)Johannes Jacobus Ras, Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh, Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia 1990.
  14. (Belanda) Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (1857). "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkundem". 6 (3): 223.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  15. (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 70. ISBN 9798451163.ISBN 978-979-8451-16-4
  16. (Belanda) Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde (1857). "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkundem". 6 (3): 236.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  17. (Inggris) George Bryan Souza, The Survival of Empire: Portuguese Trade and Society in China and the South China Sea 1630-1754, Cambridge University Press, 2004, ISBN 0-521-53135-7, 9780521531351
  18. (Inggris) Cook, James (1790). A collection of voyages round the world: performed by royal authrity. Containing a complete historical account of Captain Cook's first, second, third and last voyages, undertaken for making new discoveries, &c. ... Printed for A. Millar, W. Law, and R. Cater. hlm. 1095.
  19. (Inggris) Beeckman, Daniel (1718). A Voyage to and from the Island of Borneo, in the East-Indies: With a Description of the Said Island : Giving an Account of the Inhabitants, Their Manners, Customs, Religion, Product, Chief Ports, and Trade : Together with the Re-establishment of the English Trade There, An. 1714, After Our Factory Had Been Destroyed by the Banjareens Some Years Before. Vol. 11. T. Warner at the Black Boy, and J. Batley at the Dove, in Pater-noster-Row. hlm. 54.
  20. (Inggris) Pinkerton, John (1812). A general collection of the best and most interesting voyages and travels in all parts of the world: many of which are now first translated into English : digested on a new plan. Vol. 11. Longman. hlm. 112.
  21. https://britishlibrary.typepad.co.uk/asian-and-african/2015/08/early-malay-trading-permits-from-borneo.html
  22. https://blogs.bl.uk/asian-and-african/2015/08/early-malay-trading-permits-from-borneo.html
  23. "Salinan arsip" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-01-18. Diakses tanggal 2014-02-17.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan