| Data klinis | |
|---|---|
| MedlinePlus | a605015 |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum |
|
| Data farmakokinetika | |
| Pengikatan protein | protein plasma |
| Metabolisme | hati |
| Ekskresi | feses, urin |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS |
|
| PubChem CID | |
| IUPHAR/BPS | |
| DrugBank |
|
| ChemSpider |
|
| UNII | |
| KEGG |
|
| ChEBI | |
| ChEMBL | |
| NIAID ChemDB | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.000.575 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C19H12O6 |
| Massa molar | 336,30 g·mol−1 |
| Model 3D (JSmol) | |
| |
| |
| | |
Dikumarol adalah obat antikoagulan alami yang menguras simpanan vitamin K (mirip dengan warfarin, obat yang terinspirasi oleh dikumarol). Obat ini juga digunakan dalam eksperimen biokimia sebagai penghambat reduktase.
Dikumarol adalah zat kimia alami yang berasal dari gabungan tumbuhan dan fungi. Obat ini merupakan turunan kumarin, zat yang rasanya pahit tetapi berbau manis yang dibuat oleh tumbuhan yang tidak memengaruhi koagulasi, tetapi (secara klasik) diubah dalam pakan berkapang atau silase oleh sejumlah spesies fungi, menjadi dikumarol aktif. Dikumarol memengaruhi koagulasi, dan ditemukan dalam gagaton sweet clover basah yang berkapang, sebagai penyebab penyakit pendarahan alami pada sapi.[1] Lihat warfarin untuk sejarah penemuan yang lebih rinci.
Dikumarol diidentifikasi pada tahun 1940, dan menjadi prototipe kelas obat antikoagulan 4-hidroksikumarin. Dikumarol sendiri untuk waktu yang singkat digunakan sebagai obat antikoagulan, tetapi sejak pertengahan 1950-an telah digantikan oleh turunannya yang lebih sederhana, yakni warfarin dan obat 4-hidroksikumarin lainnya.
Dikumarol diberikan secara oral, dan bekerja dalam waktu dua hari.
Sejarah
Dikumarol diisolasi oleh laboratorium Karl Link di University of Wisconsin, enam tahun setelah seorang petani membawa seekor sapi mati dan sekaleng susu berisi darah yang tidak menggumpal ke stasiun penyuluhan pertanian di universitas tersebut. Sapi tersebut mati karena pendarahan internal setelah memakan gagaton sweet clover yang berkapang; wabah kematian semacam itu mulai terjadi pada tahun 1920-an selama Depresi Besar karena petani tidak mampu menyia-nyiakan jerami yang sudah rusak. Pekerjaan Link mengarah pada pengembangan racun tikus warfarin dan kemudian pada antikoagulan yang masih digunakan secara klinis hingga saat ini.[2]
Kegunaan
Dikumarol digunakan bersama dengan heparin untuk pengobatan trombosis vena dalam. Tidak seperti heparin, golongan obat ini dapat digunakan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Mekanisme kerja
Seperti semua obat golongan 4-hidroksikumarin, obat ini merupakan penghambat kompetitif vitamin K epoksida reduktase, enzim yang mendaur ulang vitamin K, sehingga menyebabkan penipisan vitamin K aktif dalam darah. Hal ini mencegah pembentukan bentuk aktif protrombin dan beberapa enzim koagulan lainnya. Senyawa-senyawa ini bukan antagonis Vitamin K secara langsung—seperti dalam penggunaan farmasi—tetapi justru mendorong penipisan vitamin K dalam jaringan tubuh yang memungkinkan mekanisme kerja vitamin K sebagai obat ampuh untuk toksisitas dikumarol. Mekanisme kerja Vitamin K beserta toksisitas dikumarol diukur dengan tes darah waktu protrombin (PT).
Overdosis
Overdosis dapat menyebabkan perdarahan yang tidak terkontrol dan terkadang berakibat fatal.[3]
Referensi
- ↑ Kresge N, Simoni RD, Hill RL (Februari 2005). "Hemorrhagic sweet clover disease, dicumarol, and warfarin: the work of Karl Paul Link". Journal of Biological Chemistry. 280 (8): e6–e7. doi:10.1016/S0021-9258(19)62862-0.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wardrop D, Keeling D (Juni 2008). "The story of the discovery of heparin and warfarin". British Journal of Haematology. 141 (6): 757–763. doi:10.1111/j.1365-2141.2008.07119.x. PMID 18355382.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Duff IF, Shull WH (Maret 1949). "Fatal hemorrhage in dicumarol poisoning; with report of necropsy". Journal of the American Medical Association. 139 (12): 762–766. doi:10.1001/jama.1949.02900290008003. PMID 18112552.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bacaan lebih lanjut
Artikel ini sudah memiliki referensi, tetapi tidak disertai kutipan yang cukup. Anda dapat membantu mengembangkan artikel ini dengan menambahkan lebih banyak kutipan pada teks artikel. (September 2011) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
- Cullen JJ, Hinkhouse MM, Grady M, Gaut AW, Liu J, Zhang YP, et al. (September 2003). "Dicumarol inhibition of NADPH:quinone oxidoreductase induces growth inhibition of pancreatic cancer via a superoxide-mediated mechanism". Cancer Research. 63 (17): 5513–5520. PMID 14500388.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Mironov AA, Colanzi A, Polishchuk RS, Beznoussenko GV, Mironov AA, Fusella A, et al. (Juli 2004). "Dicumarol, an inhibitor of ADP-ribosylation of CtBP3/BARS, fragments golgi non-compact tubular zones and inhibits intra-golgi transport". European Journal of Cell Biology. 83 (6): 263–279. doi:10.1078/0171-9335-00377. PMID 15511084.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Abdelmohsen K, Stuhlmann D, Daubrawa F, Klotz LO (Februari 2005). "Dicumarol is a potent reversible inhibitor of gap junctional intercellular communication". Archives of Biochemistry and Biophysics. 434 (2): 241–247. doi:10.1016/j.abb.2004.11.002. PMID 15639223.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Thanos CG, Liu Z, Reineke J, Edwards E, Mathiowitz E (Juli 2003). "Improving relative bioavailability of dicumarol by reducing particle size and adding the adhesive poly(fumaric-co-sebacic) anhydride". Pharmaceutical Research. 20 (7): 1093–1100. doi:10.1023/A:1024474609667. PMID 12880296. S2CID 448086.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)]