Senin, 21 September 2026
03:26 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Digwijaya

Digwijaya (penaklukan) atau Digjaya, (sanskerta : दिग्विजय; Dig : "Arah" dan Wijaya : "Kemenangan"), di India kuno awalnya merupakan istilah bahasa Sansekerta yang berarti penaklukan empat penjuru dunia, dalam konteks militer atau moral. Pada abad pertengahan, istilah ini merujuk pada penaklukan agama oleh para pendiri tradisi Hindu utama, yaitu Madhwa, Sankara, Chaitanya, dan Wallabha .[1]

Penaklukan militer dan moral

Digwijaya sebagai penaklukan militer sering disebutkan dalam sejarah dan mitologi India, misalnya, digwijaya Bharata Cakrawartin. Diikuti oleh ritual yang menegaskan rahmat ilahi dan otoritas kekaisaran sang penakluk.[2] Dengan penaklukannya, Cakrawartin menyatukan India sebagai "kekaisaran moral" yang diperintah oleh tatanan yang lebih tinggi.[3] Digha Nikaya Buddha (Bab 26.6-7) , juga berbicara tentang seorang raja pemutar roda ( Cakrawartin ), yang menyebarkan Dharma di empat penjuru di bawah kekuasaannya.

Catatan


Sumber

  • Bader, Jonathan (2001), Conquest of the Four Quarters. TYraditional Accounts of the Life of Shankara, Australian National University
  • Clark, Matthew (2006), The Daśanāmī-Saṃnyāsīs: The Integration of Ascetic Lineages into an Order, BRILL
  • Goodding, Robert A. (2013), "A Theologian in a South Indian Kingdom: The Historical Context of the Jivanmuktiviveka of Vidyaranya", dalam Lindquist, Steven E. (ed.), Religion and Identity in South Asia and Beyond: Essays in Honor of Patrick Olivelle, Anthem Press
  • Isayeva, Natalia (1993). Shankara and Indian Philosophy. Albany: State University of New York Press (SUNY). ISBN 0-7914-1282-2.
  • Nowicka, Olga (2016), "Conquering the World, Subduing the Minds: Śaṅkara's digvijaya in the Local Context", Cracow Indological Studies, 18 (18): 145–166, doi:10.12797/CIS.18.2016.18.07
  • Raveh, Daniel (2016), Sūtras, Stories and Yoga Philosophy: Narrative and Transfiguration, Routledge
  • Simmons, Caleb (2019), Devotional Sovereignty: Kingship and Religion in India, Oxford University Press
  1. Raveh 2016.
  2. Simmons 2019, hlm. 229.
  3. John E. Cort, Open Boundaries: Jain Communities and Cultures in Indian History, p.98
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan